in

Review Buku Sumur Karya Eka Kurniawan

Review Buku Sumur Karya Eka Kurniawan – adalah cerita pendek karya Eka Kurniawan, penulis asal Indonesia yang berhasil menjadi nomine Man Booker International Prize 2016 dan peraih Prince Claus Laureate 2018. Cerita pendek ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Penguin Books pada 2020, yang masuk ke antologi Tales of Two Planets dengan judul “The Well”. Eka Kurniawan mengatakan bahwa Sumur merupakan cerpen panjang kedua yang dia tulis, dengan total hampir 5000 kata.

Format “cerpen panjang” ini tampaknya akan menjadi pilihan yang lebih menarik baginya untuk menulis cerpen di masa depan. Sebab, format ini membuat kesan yang lebih rileks dan memberi ruang yang lapang. Cerpen ini telah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada bulan Juni 2021. Buku ini hanya memiliki total 60 halaman

Sumur menyajikan kisah menyayat hati sepasang kekasih, Toyib dan Siti. Hubungan mereka digagalkan oleh krisis iklim dan konflik air, yang telah mengganggu tatanan sosial desa mereka. Satu per satu orang pergi meninggalkan kampung itu. Bila tidak pindah ke tempat lain dan memaksa untuk menetap di sana, mereka harus pergi ke kota untuk mencari pekerjaan.

Bagi mereka yang masih tinggal di sana, mereka harus bertarung untuk memperoleh air untuk bertahan dari hari ke hari. Sekaran, satu-satunya sumber air yang dapat mereka andalkan hanya sebuah sumur yang berlokasi di lembah. Sumur itu merupakan satu-satunya sumber yang mengeluarkan air. Tidak ada yang mengira bahwa sumur itu juga yang akan menjadi saksi bisu dari kisah cinta dan tragedi yang terjadi di sana.

Walaupun sangat singkat, kisah ini mampu memberikan pukulan ke hati yang sentimental, dan meninggalkan rasa sakit yang bertahan lama bagi pembaca yang menyelesaikan bukunya. Eka Kurniawan mengatakan bahwa buku ini diterbitkan secara terbatas, yakni hanya dicetak sebanyak 2000 eksemplar. Buku Sumur akan dicetak satu kali saja, sehingga suatu saat akan menjadi buku yang langka.

Hal ini dikatakan bukan untuk taktik pemasaran semata, tetapi Eka Kurniawan menginginkan untuk menyajikan buku itu kepada mereka yang benar-benar ingin membaca atau memilikinya. Eka mengatakan dia menggunakan cerita itu untuk menulis tentang perubahan iklim dalam bahasa yang sederhana.

review buku sumur karya eka kurniawan

Beruntung sekali bagi Anda yang ingin mendapatkan buku Sumur karya Eka Kurniawan ini, karena masih tersedia di Gramedia.com. Supaya Anda lebih mengetahui gambaran tentang cerpen panjang ini, yuk baca artikel ulasan ini tentang Review Buku Sumur Karya Eka Kurniawan sampai selesai!

Profil Eka Kurniawan – Penulis Buku Sumur

review buku sumur karya eka kurniawan
goodnewsfromindonesia.com.

Eka Kurniawan adalah seorang penulis pria berusia 47 tahun, yang lahir di Kota Tasikmalaya, pada tanggal 28 November 1975. Eka Kurniawan menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan mengambil Fakultas Filsafat. Eka Kurniawan berhasil lulus menyandang gelar sebagai Sarjana Filsafat pada tahun 1999.

Eka Kurniawan sudah menekuni dunia kepenulisan sejak dirinya masih menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat dia mulai kuliah, Eka semakin menekuninya dan mulai melahirkan sejumlah karya tulis. Salah satu karya cerita pendek buatan Eka yang juga menjadi cerita pendek pertamanya yang berhasil dimuat di media, yakni media Barnes Yogyakarta berjudul “Hikayat Si Orang Gila”.

Skripsi Eka Kurniawan juga berhasil diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Yayasan Aksara Indonesia pada tahun 1999. Skripsi Eka itu berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Dari situ, Eka Kurniawan dijuluki sebagai The Next Pramoedya Ananta Toer.

Pada tahun 2000, Eka kembali menuliskan karya cerita pendek yang berjudul “Corat-Coret di Toilet”, yang berhasil diterbitkan oleh penerbit yang sama, yang menerbitkan skripsinya, yakni Yayasan Aksara Indonesia.

Selain cerita pendek, Eka Kurniawan juga merambah untuk menulis sebuah novel. Novel karya pertamanya yang berjudul “Cinta Itu Luka” berhasil diterbitkan oleh Penerbit Jendela pada tahun 2002. Novel ini berhasil menarik perhatian masyarakat luas, bahkan hingga mencapai kancah internasional.

Novel “Cinta Itu Luka” berhasil menjadi novel best-seller yang diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa, dan sukses meraih berbagai penghargaan. Beberapa penghargaan itu, yakni World Readers 2016, Prince Clause Awards 2018, dan 100 buku terbaik versi The New York Times.

Kemudian, novel kedua Eka Kurniawan berjudul “Lelaki Harimau” berhasil diterbitkan pada tahun 2004. Novel ini diterjemahkan ke Bahasa Inggris, dengan judul “Man Tiger”. Novel Lelaki Harimau ini juga meraih kesuksesan dengan meraih penghargaan The Man Booker International Prize pada tahun 2016.

Novel lain karya Eka Kurniawan yang juga meraih kesuksesan adalah novelnya yang berjudul “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Novel ini berhasil diadaptasi menjadi film layar lebar yang mencuri perhatian penonton skala internasional dengan diputar sebanyak empat kali dalam Festival Film Internasional Locarno dan mendapat komentar positif dari para penikmat dan kritikus film.

Selanjutnya, novel karya Eka yang berjudul “O” dengan sinopsis “Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut”, berhasil masuk ke dalam daftar 5 besar penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, kategori prosa, pada tahun 2021.

Kualitas seluruh karya Eka Kurniawan memang tidak perlu diragukan lagi dengan banyaknya bukti berupa sejumlah penghargaan nasional maupun internasional yang telah diterimanya. Namun, ada beberapa kontroversi juga terkait dengan karya Eka, karena Eka menggunakan gaya bahasa yang blak-blakan, berani, dan vulgar dalam beberapa karyanya.

Sinopsis dan Review Buku Sumur Karya Eka Kurniawan

review buku sumur karya eka kurniawan

Pros & Cons
Pros Cons
  • Menyajikan kisah yang sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam.
  • Konflik yang diangkat dalam buku ini menarik.
  • Kisah ini mampu menyentuh sisi emosional pembaca dan menyayat hati.
  • Tampilan visual buku ini sangat menarik, dengan dilengkapi ilustrasi.
  • Kisah ini dinilai terlalu singkat, padahal berpotensi untuk bisa menjadi lebih utuh jika diperpanjang sedikit.

Ini adalah kisah cinta dua sejoli, Toyib dan Siti. Sejak masih belia Toyib sudah menyimpan rasa kepada Siti. Seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta, Toyib juga melakukan berbagai usaha untuk menarik hati Siti. Contohnya, seperti mengajaknya pergi dan pulang sekolah bersama. Selain itu, ia juga sempat memberikan hadiah anak ayam untuk dipelihara Siti, yang kemudian bisa disembelih saat malam Lebaran.

Keluarga Toyib dan Siti juga berhubungan dekat. Suatu ketika, kampung mereka dilanda kekeringan. Bencana yang tidak diinginkan itu mulai menjadi bagian hidup masyarakat desa. Suatu hari, akibat bencana kekeringan itu, terjadi hal yang membuat keluarga Toyib dan keluarga Siti saling menjaga jarak.

Toyib kini tidak bisa lagi leluasa bertemu Siti. Sementara, Siti juga tidak berusaha untuk menemui Toyib. Hubungan keduanya pun menjadi jauh akibat keadaan. Keluarga mereka juga tidak berani ikut campur pada kelanjutan kisah mereka.

Di kampung mereka, terdapat sebuah sumur yang berlokasi di lembah. Sumur ini menjadi satu-satunya harapan bagi warga kampung untuk memenuhi kebutuhan mereka. Walaupun harus menggali sepanjang 20 meter dan tidak mendapatkan air yang banyak, tetapi lebih baik dibandingkan tidak mendapatkan apa-apa.

Di sumur tersebut, warga desa tanpa sengaja sering bertemu saat mengambil air. Begitu juga dengan Toyib dan Siti. Pertemuan pertama mereka di sana disusul dengan beberapa kali pertemuan lagi di sana. Mereka berdua seperti menggantikan waktu yang sudah mereka lewati.

Namun, takdir seperti mempermainkan kisah cinta kedua sejoli tersebut. Saat hubungan keluarga mereka juga mulai membaik, masalah perut demi menyambung kehidupan menjadi alasan perpisahan mereka untuk yang kedua kali.

Lagi-lagi, sumur mempertemukan keduanya. Keduanya seperti saling memiliki selama berada di sumur itu. Waktu seperti berhenti di sana, memberikan kesempatan bagi cerita cinta keduanya. Ketika meninggalkan sumur, berarti cerita cinta mereka berakhir untuk hari itu. Hingga bertemu hari esok, keduanya kembali bertemu di sumur untuk menuliskan kisah cinta mereka satu hari lagi.

Walaupun keluarga dan warga kampung banyak yang mengetahui kebiasaan keduanya menghabiskan waktu di sumur, tidak ada seorang pun yang mengomentari atau memberikan peringatan tentang status keduanya. Entah mereka merasa kasihan dengan kisah cinta keduanya, atau masalah kehidupan yang sangat berat membuat mereka bersikap masa bodoh dengan lingkungan sekitar, selama tidak mengganggu kehidupan mereka.

Kelebihan Buku Sumur

Sebagai salah satu karya yang ditulis Eka Kurniawan, tentunya kualitas ceria Sumur ini tak perlu diragukan lagi. Kisah Sumur ini sangat sederhana, dan temanya tidak memberikan kesan yang baru. Namun, layaknya karya Eka Kurniawan yang lain, kisah ini memiliki makna yang mendalam.

Para pembaca memuji bagaimana cara Eka menyajikan pemaknaan dari air dan sumur sebagai simbol. Secara umum, air digambarkan sebagai lambang kehidupan, kemakmuran, keberkahan, dan kesuburan. Maka itu, air menjadi sumber kehidupan bagi mereka yang memanfaatkan keberadaannya.

Kemudian, sumur dimaknai sebagai tempat bertemunya beberapa mata air. Dalam cerpen ini, sumur digambarkan sebagai tempat pertemuan Toyib dan Siti setelah beberapa tahun tak bertegur sapa. Sumur di sini tak hanya menjadi latar kisah saja, tetapi juga menjadi pusat dari konflik.

Eka Kurniawan juga mengangkat konflik yang menarik. Ia menggambarkan tentang kemiskinan yang melanda daerah pedesaan, serta keadaan yang tak berujung, yang menjebak kaum miskin. Ditambah lagi oleh masalah iklim. Kisah yang sangat sederhana dan singkat ini mampu menyayat hati dan menyentuh sisi emosional pembaca.

Kemudian, tampilan visual buku ini juga dipuji. Sampul buku ini yang didesain oleh Umar Setiawan menggambarkan sebuah sumur yang berada di sebuah daerah kering dan tandus. Sumur tersebut diapit oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. Perempuan itu terlihat membawa ember, dan laki-laki dengan tangan kosong. Mereka berdiri berseberangan sisi sumur. Sampul ini sangat cantik mampu menggambarkan keseluruhan kisah ini.

Secara keseluruhan, kisah Sumur ini memiliki daya hipnotis yang sama dengan karya-karya Eka Kurniawan lainnya. Cerita ini singkat, tetapi pembaca tidak akan mudah melupakan maknanya. Cara mengemasnya, tampilan visual, dan pemasaran buku ini sangat menarik. Membaca cerpen ini mampu memberikan pengalaman yang menarik bagi pembaca.

Kekurangan Buku Sumur

Selain kelebihan, buku Sumur ini juga memiliki kekurangan. Sejumlah pembaca merasa bahwa kisah ini terlalu singkat, padahal sangat berpotensi untuk sedikit diperpanjang, supaya menjadi lebih utuh dan kuat untuk menyampaikan pesan.

Pesan Moral Buku Sumur

Melalui kisah ini, kita kembali diingatkan bahwa dampak dari perubahan iklim bukan hanya memengaruhi manusia secara fisik, tetapi juga secara psikis. Perubahan iklim dapat memberikan masalah yang sangat besar pada kehidupan manusia. Maka dari itu, kita hendaknya senantiasa menjaga lingkungan sekitar kita.

Jika tidak bisa menjaga, setidaknya jangan merusaknya. Dari kisah ini juga kita dapat belajar untuk mensyukuri segala sesuatu. Termasuk hal-hal kecil seperti air. Menjadi sebuah keberuntungan bagi kita yang masih dapat menikmati air yang berlimpah. Sebab, di luar sana banyak yang mendambakan kehadiran air hanya untuk bertahan hidup.

Itu dia Grameds ulasan review buku Sumur karya Eka Kurniawan. Menarik sekali ya cerpen panjang ini. Bagi kalian yang penasaran, yuk langsung saja dapatkan buku ini hanya di Gramedia.com. Perlu diingat, buku ini hanya diterbitkan sekali saja, jadi jangan sampai kehabisan!

Rating: 3.88

Written by Gabriel