in

Review Novel Air Mata Saudaraku Karya S. Mara Gd

Air Mata Saudaraku – Hai, Grameds! Ingatkah kamu tentang tragedi kerusuhan Mei pada tahun 1998 lalu? Pada saat itu banyak masyarakat Indonesia yang merasa dirugikan akibat kerusuhan tersebut. Bagaimana tidak, warga-warga yang tidak bersalah pun menjadi sasaran empuk, apalagi bagi mereka yang memiliki keturunan peranakan Tionghoa.

Salah satu novel yang memiliki latar waktu kerusuhan Mei 1998 adalah novel “Air Mata Saudaraku” karya S. Mara Gd. Novel ini menceritakan tentang Hasan Tandoyo yang harus menemukan ibunya mati dan adiknya yang mengalami trauma hebat akibat diperkosa oleh beberapa orang.

S. Mara Gd mulai menulis novel pertamanya yang berjudul Misteri Dian yang Padam pada tahun 1984. Berawal dari pekerjaannya menerjemahkan novel-novel Agatha Christie, ia lantas berani untuk menerbitkan karyanya sendiri. Tokoh yang diciptakan dalam novel pertamanya adalah Kosasih dan sahabatnya yang memiliki latar belakang hitam, Gozali.

Sejak saat itu S. Mara Gd menjadi penulis produktif. Novel-novelnya tentang petualangan dua serangkai, Kosasih dan Gozali dalam melacak para kriminal terus mengalir. Kepiawaiannya dalam memadukan logika, humor, dan bahasa sehari-hari membuat novel-novel karya S. Mara Gd menjadi menarik.

Salah satu novelnya yang lain adalah “Air Mata Saudaraku” yang mengingatkan pembaca tentang kengerian tragedi 1998. Cerita yang akan menjadi pelajaran berharga untuk kita, novel tersebut berkisah tentang kerusuhan, penjarahan, pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran etnis Tionghoa di Medan, Jakarta, Surabaya, dan lain-lain.

Agar kamu semakin penasaran dengan isi novel ini, yuk disimak terlebih dahulu sinopsis dan review singkatnya sebagai gambaran cerita novel “Air Mata Saudaraku” karya S. Mara Gd.

Sinopsis Novel Air Mata Saudaraku

Air Mata Saudaraku adalah sebuah novel yang memiliki setting waktu pada kerusuhan Mei 1998 yang menjadi salah satu sejarah kelam yang terjadi di Indonesia, khususnya bagi masyarakat etnis Tionghoa. Karena pada saat itu masyarakat etnis Tionghoa mengalami tindakan yang tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh non-etnis Tionghoa.

Air Mata Saudaraku adalah sebuah novel yang dimulai saat Mei 1988. Siapa pun yang mengalaminya tak ada yang bisa melupakan kengerian dan kaos yang terjadi saat itu. Bagi yang berhasil lolos dengan selamat, insiden itu akan selalu terpatri dalam memori yang terdalam bersama semua luka dan kenangan akan orang-orang tercinta yang menjadi korban.

Di antara mereka, ada satu nama yang tak akan pernah lepas dari bayangan tragedi tersebut, Hasan Tandoyo. Seorang pengusaha muda yang pada saat itu kembali ke rumahnya yang porak-poranda hanya untuk menemukan ibu tercintanya sudah mati dibunuh oleh para perusuh yang menjarah rukonya. Namun, penderitaan Hasan tak berhenti di situ saja. Adik bungsunya juga mengalami trauma yang mendalam akibat diperkosa oleh beberapa orang.

Bayangkanlah, bagaimana rasanya berada di posisi Hasan Tandoyo? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu adalah dia? Bagaimana jika yang kehilangan nyawanya adalah ibumu, dan yang mengalami pelecehan adalah saudaramu? Mungkin sejauh ini belum pernah terpikirkan, namun inilah waktu yang tepat untuk merenungkan hal tersebut.

Dalam menghadapi tragedi yang mengerikan dan pahit seperti itu, sulit untuk menemukan jawaban yang pasti. Setiap orang akan bereaksi berbeda-beda terhadap pengalaman traumatis semacam itu. Bagi Hasan, duka yang dalam pasti akan selalu menguasainya, dan mungkin ada saat-saat di mana keputusasaan dan amarah menguasai pikirannya. Namun, mungkin ada harapan dan tekad di dalam dirinya untuk bangkit kembali.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Mungkin, di tengah kegelapan dan keputusasaan, Hasan akan mencari dukungan dari keluarga dan teman-teman yang masih ada. Ia mungkin akan mencoba menyalurkan kesedihan dan kemarahan menjadi motivasi untuk membangun kembali hidupnya, untuk memastikan bahwa perjuangan ibunya dan penderitaan adiknya tidak sia-sia.

Hasan bisa menjadi suara kekuatan masyarakat untuk berubah. Tidak ada jawaban yang sempurna atau benar dalam situasi semacam ini. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda dalam menghadapi trauma dan kesulitan hidup, apalagi jika berada di posisi Hasan.

Lalu, bagaimana jalan cerita dari novel Air Mata Saudaraku? Apakah Hasan bisa berdamai dengan rasa traumanya?

 

Review Novel Air Mata Saudaraku

Pros & Cons

Pros
  • Novel ini menjadi jembatan untuk kita mengingat tentang tragedi kerusuhan Mei 1988.
  • Buku ini menawarkan banyak pesan moral, khususnya menyoal diskriminasi antar ras.
Cons
  • Dialog yang terlalu panjang dan terkesan tidak natural.

Kelebihan Novel Air Mata Saudaraku

Mengingat tragedi kerusuhan Mei 1998, akan membuat siapa saja merasa getir dan merinding. Konflik yang terjadi hanya karena perbedaan ras telah menyebabkan kelompok masyarakat tertentu menjadi korban serangan yang kejam.

Akibatnya, masyarakat etnis Tionghoa cenderung mencari keamanan dengan mengelompokkan diri bersama sesama ras mereka. Ini bukanlah tindakan eksklusif, melainkan upaya mereka untuk menciptakan rasa nyaman dan keamanan dalam berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang serupa.

Trauma yang masih tertanam dalam benak masyarakat etnis Tionghoa setelah peristiwa itu menjadi salah satu faktor penyebabnya. Mereka tidak bermaksud untuk membedakan diri, tetapi lebih memilih untuk bersama-sama dengan mereka yang memiliki pengalaman serupa.

Hal yang sama dapat dialami oleh orang-orang dari suku atau ras yang berbeda, seperti orang Sunda yang lebih nyaman berinteraksi dengan orang Sunda, dan demikian pula dengan kelompok-kelompok lainnya.

Melalui buku akan menjadi sarana untuk mengingat kembali tragedi kerusuhan Mei 1998. Seperti yang ditulis oleh S. Mara Gd dalam novel “Air Mata Saudaraku,” memperlihatkan kisah tragis yang menimpa keluarga Tandoyo, yang merupakan keturunan Tionghoa. Hasan harus menghadapi kehilangan ibu dan trauma berat yang dialami sang adik sebagai akibat dari peristiwa tersebut.

Melalui buku ini, kita diingatkan tentang pentingnya saling menghormati dan menghargai keberagaman. Hanya dengan menerima dan menghormati pihak lain sebagaimana adanya, keharmonisan dalam masyarakat dapat tercipta. Bukankah kita semua masih mampu hidup berdampingan tanpa masalah, meskipun memiliki identitas yang berbeda? Indonesia sendiri sebagai negara yang kaya akan keberagaman seharusnya menjadi bukti bahwa itu adalah mungkin.

Kekurangan Novel Air Mata Saudaraku

Selain kelebihan yang dimiliki, novel Air Mata Saudaraku juga memiliki kekurangan yang perlu diperhatikan. Salah satu kekurangannya adalah dialog-dialog dalam novel ini terkadang terlalu panjang dan terkesan tidak natural.

Dialog yang terlalu panjang terkadang bisa membuat pembaca merasa bosan atau kehilangan minat dalam mengikuti alur cerita. Kesan yang diberikan bisa menjadi monoton dan terasa seperti “membaca” dialog yang berlarut-larut tanpa adanya perkembangan.

Selain itu, dialog yang terlalu panjang dan terkesan tidak natural juga dapat mengurangi keaslian dan realisme dalam novel. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung berkomunikasi dengan kalimat yang lebih singkat dan padat.

Penutup

Sebagai kesimpulan, novel “Air Mata Saudaraku” adalah sebuah novel yang layak masuk jajaran buku untuk dibaca. Karena melalui novel ini kita bisa belajar banyak hal dan merasakan empati terhadap masyarakat etnis Tionghoa akibat kerusuhan Mei 1998 lalu.

Melalui novel ini juga telah terbentuk kekuatan peran individu dalam mengubah masa depan, meskipun tragedi Mei 1998 meninggalkan luka yang dalam, peristiwa tersebut juga menginspirasi banyak orang untuk bergerak dan membawa perubahan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa penting sekiranya kita menghargai perbedaan-perbedaan yang ada serta penting untuk memahami sejarah agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Novel ini bisa menjadi refleksi dan pembelajaran dari tragedi 1998 agar masyarakat mau bergerak maju untuk mencegak konflik dan mambangun peradaban yang lebih adil dan harmonis.

Penulis: Melani Wulandari

Sumber: Berbagai sumber

Rekomendasi Novel

Pulang Karya Leila S. Chudori

 

Pulang karya Leila S. Chudori adalah sebuah novel yang menceritakan tentang peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di Indonesia. Novel ini bercerita tentang drama keluarga, persahabatan, cinta, sekaligus pengkhianatan yang berlatar di berbagai peristiwa penting di Indonesia.

Novel ini menyoroti tokoh bernama Dimas Suryo, seorang eksil politik yang berada langsung saat gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris. Novel ini juga lebih fokus pada bagaimana dampak jangka panjang yang dirasakan oleh para keluarga korban yang harus meninggalkan Indonesia untuk hidup di luar negeri.

Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekedar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya.

Bersama Sedara Alam, putera Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

Notasi Karya Morra Quarto

 

Notasi merupakan novel yang menceritakan tentang kisah cinta dua insan yang berlatar belakang pada 1998 tentang kebobrokan orde baru yang membuat mahasiswa UGM turun tangan dan tergerak untuk menurunkan rezim Soeharto. Termasuk Nino, seorang mahasiswa teknik mesin dan Naila yang merupakan mahasiswa kedokteran.

Demonstrasi yang dilakukan tersebut pecah di Yogyakarta. Masalah muncul ketika ada salah satu mahasiswa yang mengkritik pemerintah melalui karya tulis di event kampus sehingga terjadilah penembakan. Penyerbuan kampus sudah tidak aneh lagi, ada mahasiswa yang tewas, dan ada mahasiswa yang hilang. Mahasiswa hilang itu salah satunya adalah Nino.

Laut Bercerita

 

Buku Laut Bercerita menceritakan terkait perilaku kekejaman dan kebengisan yang dirasakan oleh kelompok aktivis mahasiswa di masa Orde Baru. Tidak hanya itu, novel ini pun merenungkan kembali akan hilangnya tiga belas aktivis, bahkan sampai saat ini belum juga ada yang mendapatkan petunjuknya. Buku ini juga bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, dan sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makam anaknya.

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy