in

Review Novel The Woman in Cabin 10 Karya Ruth Ware

The Woman in Cabin 10 merupakan karya dari seorang penulis ternama, Ruth Ware. Novel The Woman in Cabin 10 dipublikasi di Indonesia oleh Sinar Star Book pada bulan Januari 2017. The Woman in Cabin 10 merupakan novel karya Ruth Ware yang masih bergenre horror, sama seperti In a Dark, Dark Wood. Kisah novel ini memiliki latar di lautan.

Novel dengan total 352 halaman ini memuat kisah yang penuh luka dan memikat. Kisah ini mungkin akan mengingatkan anda kepada karya Agatha Christie. Ini adalah kisah Lo Blacklock, seorang jurnalis yang menulis untuk majalah perjalanan dan baru saja diberi tugas seumur hidup untuk menjalani satu minggu di sebuah kapal pesiar mewah yang hanya memiliki sedikit kabin. Langitnya yang cerah, air yang tenang, dan tamu-tamu terpilih, kapal pesiar eksklusif, itu dia gambaran tempat memulai pelayaran di Laut Utara yang indah.

Pada awalnya, masa tinggal Lo berjalan dengan menyenangkan. Namun, seiring berjalannya waktu, angin dingin mulai menerpa meja, langit kelabu berjatuhan, dan Lo menyaksikan suatu hal yang hanya bisa ia gambarkan sebagai mimpi buruk yang paling gelap dan menakutkan. Seorang wanita dilempar ke tengah laut. Apa masalahnya? Semua penumpang tetap diperhitungkan, dan dengan demikian, kapal berlayar seolah-olah tak ada yang terjadi.

Terlepas dari upaya putus asa Lo untuk menyampaikan bahwa sesuatu atau seseorang telah melakukan hal yang sangat buruk. Dengan banyak hal yang mengejutkan, twist yang menggelitik, dan setting yang mampu membuat anda merasa ikut tidak nyaman dan sangat indah, Ruth Ware menawarkan kisah yang tegang dan intens, yang dirangkum dalam novel ini.

Kisah yang menegangkan ini dijamin mampu membuat pembaca yang paling yakin sekalipun merasa gelisah. Gelisah lama setelah halaman terakhir dibalik. Novel The Woman in Cabin 10 ini telah diakui kualitasnya dengan masuk ke dalam nominasi Goodreads Choice Awards Best Mystery & Thriller 2016 dan Book of the Year Finalist selected by Book of the Month (2016). Kisah ini juga telah diklaim oleh CBS yang telah memperoleh hak untuk mengadaptasi kisah ini menjadi film, yang diproduksi bersama Gotham Group, dan skenarionya ditulis oleh Hillary Seitz.

Profil Ruth Ware – Penulis Novel The Woman in Cabin 10

Ruth Ware

Sumber: Goodreads.com

Ruth Ware lahir pada tahun 1977 dan dibesarkan di Lewes. Ia lahir dengan nama asli Ruth Warburton. Ruth Ware adalah seorang penulis thriller kriminal psikologis Inggris. Ruth Ware belajar Bahasa Inggris di Universitas Manchester, di mana dia mengembangkan ketertarikan pada teks-teks Inggris Kuno dan Inggris Tengah.

Sebelum memulai karir sebagai penulis, Ruth Ware pernah bekerja sebagai pelayan, penjual buku, dan humas. Ruth Ware juga pernah tinggal di Paris dan mengajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Ruth Ware kini tinggal di dekat Brighton. Novel-novel karyanya, yakni In a Dark, Dark Wood (2015), The Woman in Cabin 10 (2016), The Lying Game (2017), The Death of Mrs Westaway (2018), The Turn of the Key (2019), dan One By Satu (2020). Baik In a Dark, Dark Wood dan The Woman in Cabin 10 berhasil masuk ke dalam daftar sepuluh buku terlaris Sunday Times dan The New York Times di Inggris.

Dalam karyanya yang bergenre kriminal, gaya penulisan Ruth Ware sering dibandingkan dengan Agatha Christie. Ruth Ware telah mengakui bahwa dirinya secara tak sadar dipengaruhi oleh Christie dan novelis misteri lainnya pada waktu itu. Protagonis Ruth Ware biasanya adalah wanita biasa yang menemukan diri mereka dalam situasi berbahaya yang melibatkan kejahatan.

Ruth Ware dan Christie sama-sama memilih setting dan situasi yang menumbuhkan rasa takut, yang mendorong karakter mereka menjadi paranoia dan seringkali mereka bereaksi keras sebagai hasilnya. Lingkungan ini menciptakan rasa terisolasi untuk terjadinya peristiwa. Setting yang dibuat Ruth Ware memainkan peran kunci dalam menggambar pembaca dan sama pentingnya dan terintegrasi dengan ceritanya sebagai karakter.

Sebelum memulai karir menulisnya sebagai Ruth Ware, dia sebelumnya sudah menulis lima novel fantasi dewasa muda dengan nama alias Ruth Warburton, yang semuanya diterbitkan oleh Hodder’s Children Books. Kelima novel itu, yakni A Witch Alone (2013), A Witch in Winter (2013), A Witch in Love (2013), Witch Finder (2014), dan Witch Hunt (2014). Tiga buku Ruth Ware telah dipilih untuk diadaptasi menjadi film layar lebar.

Kisah In a Dark, Dark Wood (2015) telah dimiliki hak filmnya oleh New Line Cinema. Standar Pasifik Reese Witherspoon direncanakan untuk memproduksi film ini. Kisah The Woman in Cabin 10 (2016)telah diklaim oleh CBS yang telah memperoleh hak untuk mengadaptasi kisah ini menjadi film, yang diproduksi bersama Gotham Group, dan skenarionya ditulis oleh Hillary Seitz. Lalu, untuk novel The Lying Game (2017), Entertainment One sudah memperoleh hak untuk menyiarkannya di televisi.

Sinopsis Novel The Woman in Cabin 10

Pros & Cons

Pros
  • Premis cerita yang unik dengan mengisahkan misteri yang terkait perasaan dan kebenaran yang dialami tokoh utama.
  • Karakter tokoh utama yang unik, karena menyebalkan tetapi membuat penasaran.
  • Gaya bercerita Ruth Ware yang sangat mengalir dan deskripsi latar suasana sangat baik.
  • Adanya twist di akhir cerita.
Cons
  • Terdapat deskripsi kisah yang berulang.
  • Tempo alur cerita di bagian awal lambat.

Laura Blacklock atau yang akrab dipanggil Lo Blacklock adalah seorang jurnalis kelas bawah yang bekerja di sebuah majalah wisata bernama Velocity. Beberapa hari lagi, Lo harus pergi berlayar perdana di kapal pesiar mewah bernama “Aurora”, untuk melaksanakan tugas, yakni meliput tentang pelayaran tersebut. Ia mendapatkan tugas ini, karena menggantikan atasannya yang tak bisa hadir.

Tugas ini menjadi sangat penting, karena bagaikan batu loncatan bagi karir Lo. Maka dari itu Lo tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Namun, sayangnya, beberapa hari sebelum pergi berlayar, rumah Lo dirampok. Kejadian ini membuat Lo terluka secara fisik dan juga mental.

Lo sampai harus mengonsumsi sejumlah obat-obatan untuk membantunya tetap tenang atau tidur. Keadaan semakin memburuk dengan dirinya yang berubah menjadi kecanduan alkohol, sering mendapat serangan panik, dan mengalami klaustrofobia. Walau begitu, Lo tetap memutuskan untuk tetap ikut dalam pelayaran “Aurora”.

“Aurora” adalah sebuah kapal pesiar mewah yang kecil, tetapi memiliki fasilitas yang lengkap sekali. Kapal itu memiliki sejumlah 10 kabin, dan Lo menempati kabin nomor 9 yang bersebelahan dengan kabin 10. Lo awalnya sangat menikmati perjalanan ini, apalagi dia dapat bertemu dengan banyak orang penting yang juga diundang untuk menikmati pelayaran perdana “Aurora”. Pada suatu malam, Lo sedang siap-siap untuk hadir di pertemuan para tamu kapal.

Akibat dirinya tak memiliki maskara untuk menunjang penampilannya, Lo akhirnya memutuskan untuk mencoba meminjam maskara ke orang yang ada di kabin 10. Tingkah laku wanita yang ada di kabin tersebut sangat mencurigakan, seakan dirinya terkejut dengan kehadiran Lo di depan pintunya. Ia pun akhirnya memberikan maskara itu kepada Lo dan berpesan supaya Lo tak perlu mengembalikannya.

Lo tak mau ambil pusing dengan kejadian yang baru ia alami tersebut. Beberapa hari kemudian, saat tengah malam, Lo mendengar suara pintu balkon kabin 10 digeser, menandakan pintu itu dibuka secara perlahan. Setelah itu, terdengar suara seperti benda berat yang tercebur ke air. Setiap kabin dibatasi oleh kaca yang buram dan tebal di bagian balkon.

Ketika Lo keluar menuju balkon kabinnya, ia melihat terdapat noda merah seperti bekas darah yang tergores di kaca tersebut. Lo panik saat menyadari bahwa mungkin saja si pembunuh itu masih ada di kamar sebelah. Ia kemudian dengan cepat masuk kembali ke dalam kabinnya dan mengunci semua pintu kabin. Ia juga menelpon pramugari kabin dan melaporkan kejadian tersebut.

Setelah diperiksa, ternyata kabin sebelah itu tidak berpenghuni. Kabin 10 itu kosong dari awal Aurora berlayar. Tak ada yang pernah terdaftar untuk menempati kabin tersebut. Kabin itu juga tertata rapi layaknya belum ada yang pernah tinggal di sana. Lo minum cukup banyak malam itu, yang membuat kru kapal tak percaya kepada perkataannya dan menganggapnya hanya mabuk saja.

Namun, pada akhirnya kru kapal bersedia membantu Lo untuk mencari informasi. Hasil pencarian itu nihil, wanita di kabin 10 itu juga bukan staff kapal atau siapapun yang terdaftar menjadi penumpang di dalam kapal. Lebih sial lagi, maskara yang menjadi bukti kehadiran wanita itu juga hilang. Lo yakni bahwa ada seseorang yang berusaha menyembunyikan kesaksian Lo pasti sudah mencurinya.

Pencarian Lo mengenai apa yang sebenarnya dis lihat malam itu menjadi sulit, tak ada lagi yang percaya kepadanya. Ditambah lagi, Lo memiliki riwayat penyakit mental dan ketergantungannya kepada alkohol dan berbagai obat. Maka itu, Lo dianggap hanya berhalusinasi saja.

Lo pun memulai penyelidikannya sendiri, yang tentunya membuat dirinya menemui berbagai rintangan. Lo menjadi tak mempercayai siapapun. Ia tak percaya kepada kru kapal, para tamu lain, bahkan dirinya sendiri. Apakah benar yang dikatakan orang lain bahwa dirinya hanya berhalusinasi? Apakah benar terjadi pembunuhan pada malam itu? Jika ya, siapa pembunuhnya? Kemana wanita di kabin 10 itu menghilang?

Kelebihan Novel The Woman in Cabin 10

Kelebihan novel The Woman in Cabin 10 ini terletak pada ide ceritanya yang sangat menarik. Novel thriller psikologis ini tidak seperti thriller yang melibatkan pemecahan kasus menggunakan logika. Novel ini lebih banyak mengisahkan misteri yang terkait erat dengan perasaan dan kebenaran yang dialami oleh Lo.

Kemudian, Ruth Ware berhasil membangun tokoh utama yang unik. Karakter utamanya novel ini dapat menarik perhatian, tetapi dengan cara yang berbeda. Karakter tokoh utama ini kerap membuat pembaca merasa sebal, tetapi juga menjadi terus penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya.

Kemudian, gaya bercerita Ruth Ware juga sangat mengalir. Ruth Ware mampu membuat latar suasana yang menegangkan di setiap babaknya. Narasinya mudah untuk dimengerti dan ia membuat konflik kisah dari awal cerita dan memberikan solusinya di bagian paling akhir cerita. Pada bagian menjelang akhir cerita, Ruth Ware juga memberikan twist dengan menyajikan konflik lain yang juga berhasil menyatu dengan konflik lain. Hal ini membuat kisah ini menjadi semakin menegangkan.

Secara keseluruhan, novel The Woman in Cabin 10 ini sangat unik. Ini adalah kisah pembunuhan yang aneh, misterius, dan pastinya akan membuat anda bertanya-tanya. Banyak pembaca yang tidak dapat menebak siapa yang dibunuh dan siapa yang membunuh sampai akhir cerita.

Kekurangan Novel The Woman in Cabin 10

Kekurangan novel The Woman in Cabin 10 ini terletak pada bagian yang memuat deskripsi tentang rasa panik, klaustrofobia, dan masalah kesehatan mental lain yang dialami tokoh utama diulang beberapa kali. Hal ini memberikan kesan repetitif bagi sebagian pembaca. Selain itu, tempo alur novel ini juga dinilai lambat, yang memberikan kesan cerita seperti diulur-ulur. Namun, ketika mulai menyentuh pertengahan cerita, tempo alur sudah mulai cepat sampa pada bagian akhir cerita.

Pesan Moral Novel The Woman in Cabin 10

Melalui kisah The Woman in Cabin 10 ini, kita dapat belajar untuk tidak melibatkan diri dengan sesuatu yang negatif seperti hal-hal yang membuat kecanduan. Seperti Lo yang terlibat dengan alkohol dan obat-obatan. Hal ini membawa dampak yang buruk bagi dirinya secara internal dari dalam diri sendiri, juga dari pihak eksternal atau orang lain.

Melalui kisah ini juga, kita dapat belajar untuk tidak percaya sepenuhnya kepada orang lain. Hal ini bukan untuk menaruh curiga akibat pemikiran negatif, tetapi untuk melindungi diri sendiri dari rasa kecewa dan hal lain. Selain itu, kita juga terkadang belum bisa percaya kepada diri sendiri.

Sekian artikel ulasan novel The Woman in Cabin 10 karya Ruth Ware. Bagi kalian yang penasaran akan siapa sosok yang sebenarnya ditemui oleh Lo malam itu, dan apa yang sebenarnya terjadi, kalian bisa mendapatkan novel ini hanya di Gramedia.com.

Rating: 3,73

Written by Gabriel