in

Review Novel Kastel Terpencil di dalam Cermin

Kastel Terpencil di dalam Cermin – Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya mendapat keajaiban untuk merasakan tinggal di dunia cermin? Bukan, bukan dunia kebalikannya, tetapi dunia di mana kamu bisa bersembunyi dari tekanan hidup dan menemukan sebuah portal rahasia untuk kamu bisa melarikan diri dari kenyataan.

“Kastel Terpencil di dalam Cermin” adalah novel yang menawarkan cerita fantasi tentang dunia fantasi yang ada dibalik cermin kamarmu! Novel ini ditulis oleh Mizuki Tsujimura, seorang penulis asal Jepang. Di dalam novel ini kamu tidak hanya akan menemukan dunia ajaib bersama sebuah kastel terpencil, tetapi juga kamu akan menemukan isu-isu sosial seputar remaja yang santer terjadi di Jepang.

Pada tahun 2017, Mizuki Tsujimura, lewa novel “Kastel Terpencil di dalam Cermin” berhasil menempati peringkat 1 dalam Davinci’s Magazine Book of The Year dan memenangkan hadiah utama King’s Brunch Book. Tahun 2018, novel ini memenangkan predikat sebagai penjualan terbaik dan meraih penghargaan Japan Bookseller’s Award.

Tidak heran memang, Mizuki Tsujimura memang terkenal sebagai seorang penulis Jepang yang memiliki spesialisasi pada genre misteri, ia bahkan menulis buku anak sampai buku dewasa. “Kastel Terpencil di dalam Cermin” sendiri adalah novel yang membahas tentang sekolah, pertemanan, hubungan anak dan orang tua, hubungan murid dan guru, kesehatan mental, perundungan, kekerasan seksual, dan lainnya yang dikemas dengan gabungan fantasi.

Novel ini bahkan mendapatkan apresiasi dari dunia internasional yang kemudian berhasil diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, yang salah satunya adalah bahasa Indonesia lewat penerbitan Poplar Publishing. Menariknya, novel dengan ketebalan 495 halaman ini sudah diadaptasi ke dalam versi komik dan kabar baiknya akan dirilis dalam format anime.

Jadi, tunggu apalagi Grameds? Yuk, segera dapatkan bukunya untuk ikut menjelajahi dunia kehidupan Kastel Terpencil di dalam Cermin! Agar kamu semakin penasaran, mari disimak terlebih dahulu review singkat ini.

Tentang Kastel Terpencil yang Ada di dalam Cermin

Kastel Terpencil di dalam Cermin adalah sebuah novel fantasi karya penulis asal Jepang yang bernama Mizuki Tsujimura, novel ini menceritakan tentang Kokoro yang merasa terasing dan terusir di dalam kelasnya sendiri.

Kokoro sering merasa terpuruk hingga ia tidak mau pergi ke sekolah dan mengurung diri di rumahnya. Suatu hari tanpa angin tanpa hujan, cermin yang ada di rumah Kokoro tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang terang benderang, Kokoro sangat terkejut ketika mendapati ada dunia lain dibalik cermin miliknya. Kokoro lantas memasuki dunia itu dan ia dihadapkan pada sebuah bangunan yang benebuntuk kastel.

Kehidupan Kokoro mendadak berubah ketika ia memasuki dunia itu, ada perasaan takjub, heran, ngeri, dan penasaran bercampur menjadi satu. Kokoro kemudian masuk lebih jauh ke dalam dunia dibalik cermin itu. Bangunan di dalamnya dipenuhi dengan banyak tangga berliku dengan lampu gantung yang kerlap-kerlip memantulkan cahaya.

Kejutan lainnya, Kokoro bukanlah menjadi anak satu-satunya yang ada di dunia itu. Ada enam orang anak lainnya yang sama-sama kebingungan seperti Kokoro. Semua anak itu sebaya dengan Kokoro, ada Rion, Aki, Fuka, Masamune, Subaro, dan Ureshino.

Ketujuh anak itu lebih memilih untuk pergi ke dunia dibalik cermin daripada harus pergi ke sekolah, mereka memilih untuk bersembunyi dalam kegelapan kamarnya karena di dunia luar mereka merasa ketakutan untuk menghadapi keluarga dan kawan-kawannya. Cermin itu hidup dan menjelma sebuah portal masuk dunia lain, dunia yang menawarkan tempat pelarian dari kehidupan nyata yang penuh dengan tekanan.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Mereka kemudian saling mengenal satu sama lain. Belum sampai pertanyaan mereka terjawab, kejutan lain menanti mereka di depan mata. Tiba-tiba muncul seorang gadis bertopeng serigala atau Wolf Queen yang tak lain adalah penunggu kastel terpencil di dalam cermin itu, Wolf Queen kemudian menjelaskan kenapa dan apa yang diinginkan atas kehadiran tujuh anak itu di dalam dunia cermin.

Wolf Queen kemudian memberikan ketujuh anak itu tantangan dan bagi siapa saja yang berhasil menyelesaikan tantangan itu maka permintaan mereka akan dikabulkan. Kokoro dan keenam anak itu juga diberi peraturan untuk meninggalkan kastel tepat sebelum pukul lima sore jika mereka ingin kembali hidup-hidup.

Tantangan itu adalah menemukan sebuah kunci yang tersembunyi di seluruh tempat di dalam kastel. Siapa saja yang menemukannya bisa meminta apapun, dan saat momen itu tiba, maka kastel akan hilang tanpa jejak beserta seluruh kenangan petualangan yang mereka alami.

Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kehidupan tujuh anak tersebut pada kastel terpencil di dalam cermin? Siapakah sebenarnya Wolf Queen yang mengundang mereka?

 

Review Novel Kastel Terpencil di Dalam Cermin 

Pros & Cons

Pros
  • Kastel Terpencil di dalam Cermin adalah sebuah novel yang mengangkat isu tentang masalah pada anak-anak.
  • Novel ini menyuguhkan kisah fantasi, scifi, dan psikologi.
Cons
  • Pada awal cerita, gaya narasi Tsujimura terkesan lambat dan membosankan.

 

Kelebihan Novel Kastel Terpencil di dalam Cermin Karya Mizuki Tsujimura

Kastel Terpencil di dalam Cermin karya Mizuki Tsujimura adalah sebuah cerita yang sangat menarik. Ketujuh anak yang digambarkan di dalam novel adalah gambaran Tsujimura yang berani mengangkat isu sosial seputar anak-anak.

Melalui novel ini, kita akan mendapati kisah yang tidak hanya menceritakan dunia fantasi dan kehidupan sebuah kastel terpencil di dalam cermin, justru hal yang paling menariknya ada pada ketujuh anak yang tiba-tiba masuk ke dunia cermin.

Penggambaran karakter Kokoro misalnya, lewat Kokoro –Tsujimura ingin menyampaikan bahwa perisakan pada anak-anak masih selalu ada dan itu sangat berdampak pada psikologi anak. Kokoro menjadi anak yang pemurung dan bahkan sampai enggan pergi ke sekolah.

Karena begitu besar trauma yang dirasakan oleh Kokoro sampai merasakan sakit perut dan tidak enak enak, suatu gejala yang mengarah pada psikosomatis. Hal yang terjadi pada Kokoro perlahan akan dibuka oleh penulis seiring dengan berjalannya alur cerita.

Tidak seperti Kokoro yang dirisak, keenam anak yang lainnya justru memiliki masalahnya masing-masing. Ada yang justru orang tuanya yang mengeluarkan si anak dari sekolah karena menganggap sekolah itu hanya buang-buang waktu dan tidak ada manfaatnya. Masalah ketujuh anak di dalam novel ini semuanya berkaitan dengan kesehatan mental.

“Kastel Terpencil di dalam Cermin” banyak mengangkat isu sosial tentang anak, terutama tentang perisakan, isu parenting, serta kepercayaan diri pada anak yang dikemas lewat fantasi dan scifi. Alur cerita itulah yang menjadi daya tarik novel ini, Tsujimura paham betul rasanya bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan kegembiraan, sementara ketujuh anak ini memiliki masalah psikologi masing-masing yang seringnya tidak menjadi prioritas dan bahkan sering diabaikan.

Penggambaran karakter yang memorable serta mudah dipahami menjadi kelebihan lain yang dimiliki buku ini, Kokoro yang menjadi tokoh utama mendeskripsikan anak-anak lain yang ditemuinya di dalam cermin cukup singkat dan tidak menghilangkan stand out mereka dengan keunikannya masing-masing.

Selain itu, penggambaran latarnya pun sangat dijelaskan dengan detail sehingga pembaca bisa benar-benar membayangkan kehidupan di kastel terpencil di dalam cermin itu seperti apa. Kastel tersebut dideskripsikan dengan jelas, adanya tangga, kamar-kamar, dapur, ruang bermasa, hingga jam besar dengan pendulum yang bergoyang. Semuanya digambarkan dengan sangat rinci.

Kekurangan Novel Kastel Terpencil di dalam Cermin Karya Mizuki Tsujimura

Selain kelebihan, novel ini juga memiliki kekurangan. Pada awal cerita, gaya narasi Tsujimura terkesan lambat dan membosankan, Kororo dan keenam anak lainnya terasa tidak melakukan apa-apa dengan kebingungan mereka, beberapa pembaca justru menunggu misi atau pengungkapan misteri apa yang akan mereka lakukan ketika tiba-tiba dihadapkan pada dunia dibalik cermin.

Penutup

“Kastel Terpencil di dalam Cermin” karya Mizuki Tsujimura adalah sebuah novel yang relate dengan kehidupan orang banyak dengan satu episode kehidupan di dalam lingkungan sekolah. Ide yang dituangkan oleh Tsujimura ini sangat segar. Di bagian akhir di halaman buku ini ditegaskan oleh Tsujimura sendiri bahwa kisah Kokoro dan keenam anak lainnya adalah penggambaran dunia pendidikan di Jepang, kesehatan mental para siswanya, jumlah anak didik yang drop out, kasus perisakan serta kekerasan, disfungsi keluarga, dan lain-lain.

Mengingat kondisi yang dipaparkan oleh Tsujimura, hal itu tidak hanya terjadi di Jepang saja. Sebab masalah-masalah yang disebutkan di atas pun seringkali masih terjadi di Indonesia sehingga novel ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan para orang tua sekaligus.

Jika kamu sedang mencari novel fantasi, science fiction, dan gabungan dengan genre psikologis novel ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Tokoh-tokohnya yang terasa hidup, tema cerita dengan pengangkatan isu sosial yang bisa kamu ambil pelajarannya, juga ada plot twist di akhir yang layak ditunggu.

Kisah di dalam novel ini memiliki ending tertutup dengan pesan yang mendalam tentang harapan dan masa-masa sulit yang sebenarnya bisa terlewati dengan saling membantu. Yuk, dapatkan segera bukunya di gramedia.com.

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Melani Wulandari 

Sumber: Berbagai Sumber

Rekomendasi Buku Terkait

Young Adult: Pulau Sae (Shima Wa Bokura To)

 

Pulau Sae – Shima Wa Bokura To bercerita mengenai empat sekawan yaitu Akari, Kinuka, Genki, dan Arata serta keseharian mereka di Pulau Sae, sebuah pulau terpencil di tengah Laut Seto. Mizuki Tsujimura membagi cerita dalam novel ini ke dalam empat buah bab besar yang masing-masing babnya mengambil sudut pandang dari masing-masing tokoh.

Setiap bab memiliki konflik yang berakar dari lingkungan di sekitar tokoh-tokoh tersebut. Sebagai contoh, dalam bab yang memfokuskan sudut pandang Akari, konflik yang disuguhkan Mizuki-sensei adalah ketakutan Akari mengenai Genki yang sebenarnya bukan merupakan penduduk asli Pulau Sae.

Akari merasa Genki sebenarnya membenci pulau tempat tinggal mereka karena masa lalu keluarga Genki yang hancur akibat kepindahan mereka dari Tokyo ke Pulau Sae.

True Mothers

 

Kisah berawal dengan sepasang suami istri yang berusaha menjalani kehidupannya. Walaupun sang suami sedang menderita kelainan pada organ vitalnya. Namun, mereka tetap bangkit dan terus melakukan perawatan.

Sang suami menderita kelainan yang bernama aspermia. Kelainan ini merupakan gangguan seorang pria yang tidak bisa mengeluarkan air mani. Bahkan pria juga tidak bisa mengeluarkan sperma.

Padahal mereka bisa ejakulasi, namun tetap saja ada kesulitannya. Dalam kelainan ini, seorang pria tetap bisa merasakan orgasme. Sungguh malang nasib pasangan suami istri ini.

Satoko dan suaminya terus berdoa dan berusaha agar bisa sembuh dari kelainan ini. Hingga sekarang mereka berdua belum mendapatkan momongan. Inilah yang membuat mereka sedih dan cemas.

Akhirnya mereka berdua memikirkan matang-matang terkait iklan yang ada pada televisi itu. Dengan mengadopsi anak, mereka bisa senang dan menyembuhkan derita lara selama ini. Mereka juga bisa membuktikan pada tetangga yang sudah memaki dan mencacinya karena tidak mempunyai anak.

Namun, masalah muncul setelah enam tahun usai serah terima. Ibu kandung dari Asato yang bernama Hikaru datang menemui Satoko dan suaminya. Hikaru meminta anak itu untuk kembali bersamanya.

Bagaimana kisah selanjutnya?

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy