in

Review Novel Urban Thriller: Playing Victim Karya Eva Sri Rahayu

Novel Urban Thriller: Playing Victim merupakan salah satu novel dari total delapan novel Lini Urban Thriller milik Noura Publishing. Terdapat tiga penulis novel salam lini Urban Thriller yang diterbitkan oleh Noura Publishing ini, yaitu Eva Sri Rahayu yang menulis novel Playing Victim, Jacq penulis Every Wrong Thing, dan Vie Asano penulis Suicide Knot. Nama Urban Thriller sendiri merupakan genre turunan dari genre thriller.

Mengenai apa makna dari Urban Thriller, Eva Sri Rahayu memaparkan bahwa itu merupakan anak dari genre thriller yang lebih serupa dengan psychological thriller. Eva Sri Rahayu menjelaskan, jika genre thriller itu dalam kisahnya pasti ada korban dan kejadian pembunuhan yang diperlihatkan secara sangat jelas. Namun, jika psychological thriller itu lebih mengarah ke teroe secara psikologi, yang mana tak mengharuskan para tokoh cerita dan kematian di dalam kisah diceritakan secara jelas. Jacq juga mengemukakan pendapatnya, bahwa hal yang membedakan urban thriller dengan kisah thriller biasa, yaitu kisah ini dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lini Urban Thriller milik Noura Publishing terbentuk di tahun 2019. Novel Playing Victim ini sendiri berhasil diterbitkan pada bulan Juni 2019 oleh Penerbit Mizan Media Utama. Sebelum berhasil diterbitkan menjadi sebuah novel fisik, kisah Playing Victim pada mulanya dipublikasi dalam bentuk digital di Wattpad Noura Publishing yang bernama @nourapublishing.

Novel Playing Victim diterbitkan dengan total 400 halaman. Sesuai dengan judulnya, ini adalah kisah terkait berpura-pura menjadi korban, viral, serta musuh tersingkirkan. Kisah ini berpusat pada tiga orang yang saling bersahabat, dan mereka menikmati ketenaran serta hanyut di dalamnya. Hal yang ada di dalam pikiran mereka, yakni mereka hanya perlu mengunggah sesuatu di media sosial mereka supaya bisa mendapatkan simpati netizen.

Intensitas permainan mereka semakin tidak terbendung. Mereka pun menjadi korban kekerasan, dibuntuti oleh penguntit, sampai disiksa oleh orang tua sendiri. Mereka selalu memerankan skenario dan ketika plot mencapai klimaks, mereka menyadari satu hal, yaitu netizen menyukai dan mau sesuatu yang dramatis. Sebuah akhir yang tragis. Supaya bisa menjadi yang terbaik, apakah mereka berani menghalalkan semua cara? Meskipun itu sampai mengorbankan nyawa sendiri?

Ini adalah kisah kelam yang terkait dengan kecanduan media sosial dan anxiety disorder. Kedua hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita, dan marak ditemukan di mana-mana. Apakah Grameds sudah penasaran akan kisah ini? Sebelum mendapatkan novel Playing Victim ini, yuk persiapkan diri terlebih dahulu dengan membaca artikel ini sampai selesai!

Profil Eva Sri Rahayu – Penulis Novel Urban Thriller: Playing Victim

Sumber gambar: goodreads.com

Eva Sri Rahayu adalah lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Teknologi Pendidikan. Eva Sri Rahayu adalah pendiri Komunitas Twins Universe bersama dengan kembarannya. Komunitas ini didirikan dengan tujuan untuk mengampanyekan psikologi anak kembar. Salah satu bentuk kampanye yang telah dilakukan Komunitas Twins Universe, yaitu membuat web series yang berjudul “TwiRies the Series”. Web series ini dipublikasikan di YouTube.

Selain menjadi pendiri komunitas, nama Eva Sri Rahayu juga dikenal sebagai seorang penulis. Sejumlah karya Eva yang telah berhasil diterbitkan, yakni I’m Not an Underdog (2006), Dunia Trisa: Pergilah Kemana Mimpi Membawamu (2011), Parade Para Monster (2017), TwiRies the Freaky Twins Diaries (2014), Love Puzzle (2013), Playing Victim (2019), dan Voice from the Past (2019).

Sinopsis Novel Urban Thriller: Playing Victim

Pros & Cons

Pros
  • Premis kisah yang relevan dan dekat dengan kehidupan di masa ini, yakni tentang kecanduan media sosial dan anxiety disorder.
  • Kisah ini memberikan edukasi terkait bahaya kecanduan media sosial.
  • Gaya penulisan yang sangat mengalir dan narasi yang rapi.
  • Karakterisasi tokoh yang mampu menarik simpati pembaca.
  • Menyajikan perkembangan karakter yang baik.
  • Menyajikan misteri yang membuat penasaran akan kelanjutan kisah.
Cons
  • Tempo alur cerita si bagian awal cerita hingga pertengahan cukup lambat.
  • Tokoh pendukung kurang digali, padahal memiliki peran yang penting.

Novel Playing Victim ini akan menyajikan kisah anak-anak sekolah yang masih remaja, yang terjebak pada kejadian aneh. Pada awalnya, mereka semua cuma ingin bermain-main dalam ranah media sosial. Mereka memiliki tujuan untuk terus menambah jumlah pengikut mereka di media sosial. Cara mereka untuk mencapai tujuannya itu adalah dengan melakukan berbagai hal aneh supaya sensasional dan masuk trending topic.

Namun, segalanya segera menjadi tragedi saat permainan tersebut berubah menjadi semakin brutal dan aneh. Berpura-pura menjadi korban, itu dia yang dilakukan tiga orang yang bersahabat sahabat demi menyingkirkan musuh mereka. Mereka bertiga saling mendongkrak popularitas satu sama lain di media sosial. Video tindak kekerasan yang mereka rencanakan, yang ceritanya menimpa mereka menjadi viral.

Mereka menikmati ketenaran, lalu malah hanyut di dalamnya. Mereka kecanduan media sosial untuk mendapatkan simpati dari netizen. Intensitas permainan mereka semakin tidak terbendung, tidak memiliki batasan yang jelas, dan mulai berbahaya. Nyawa mereka kini menjadi taruhan. Netizen menyukai dan menginginkan sesuatu yang dramatis.

Pengikut media sosial mereka sangat menikmati drama kekerasan tersebut. Ketika itulah mereka menyadari satu hal, apakah benar bahwa mereka bukan korban? Apakah benar semua ini hanya sekadar drama? Ini adalah sebuah akhir yang tragis.

Kelebihan Novel Urban Thriller: Playing Victim

Sebagai salah satu buku yang berhasil dipajang di jajaran rak best seller, novel Urban Thriller: Playing Victim ini memiliki sejumlah kelebihan. Kelebihan yang pertama, yakni dari kisah yang disajikan pada novel ini, yang mengangkat isu tentang kecanduan media sosial dan anxiety disorder. Premis novel ini sangat relevan dan dekat dengan kehidupan di masa ini yang sangat akrab dengan media sosial.

Hal ini menjadi sebuah kelebihan, di mana pembaca dapat merasa relate dengan kisah ini, karena mereka dapat menemukan kisah ini relevan dengan kehidupan atau masalah yang kerap ditemukannya. Selain itu, kisah ini juga tentunya memberikan edukasi terkait bahaya kecanduan media sosial. Eva Sri Rahayu menyelipkan pesan moral melalui kisah yang cukup kelam ini.

Kemudian, kelebihan selanjutnya adalah dari gaya penulisan Eva Sri Rahayu yang dinilai sangat mengalir. Para pembaca dapat menikmati novel yang termasuk tebal dan rapat tulisannya ini. Narasi yang dituliskan Eva Sri Rahayu dinilai sangat rapi, segala formula sebab dan akibatnya bisa diterima secara logis, sehingga pembaca juga dapat ikut larut ke dalam cerita ini. Hal ini juga didukung dengan ukuran tulisan yang dinilai cukup besar, sehingga pembaca dapat lebih mudah untuk membaca novel ini.

Karakterisasi dalam kisah Playing Victim ini dinilai sangat baik. Ketiga karakter utama pada kisah ini dinilai memiliki rasa yang kuat dan diolah dengan baik. Ketiga tokoh utama, Isvara, Afreen, dan Calya, masing-masing dari mereka diberikan plot yang menarik, sehingga membuat pembaca menjadi terikat dengan mereka. Ketika karakter itu memiliki hal-hal yang dapat membuat pembaca simpati dan tak hanya sekadar karakter orang yang kecanduan media sosial.

Eva Sri Rahayu juga dianggap berhasil dalam menyajikan perkembangan karakter para tokoh dalam novel ini. Karakter dalam cerita ini benar-benar tumbuh, dari yang membawa bibit luka dari masa kecil, kemudian bibit itu tumbuh subur akibat tuntutan sosial dalam dalam proses pencarian jati diri mereka. Lalu, mereka kerap memberi makan ego yang ada dalam diri mereka, yakni selalu merasa ingin dilihat dan diakui secara personal, kadang juga ingin lebih menonjol daripada sahabatnya yang lain. Sampai akhirnya, mereka menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah.

Sebagaimana novel yang bergenre urban thriller, tentunya kisah ini menyajikan sejumlah misteri yang mengerikan. Pembaca dapat merasakan tensi ketegangan yang telah dibangun dari awal cerita, dan intensitasnya terus menguat hingga akhir cerita. Segala misteri yang ada dalam kisah ini ditulis dengan baik dan mampu membuat pembaca merasa penasaran. Eva Sri Rahayu berhasil mempertahankan keterikatan pembaca dari awal cerita sampai akhir cerita.

Kekurangan Novel Urban Thriller: Playing Victim

Selain kelebihan, novel Urban Thriller: Playing Victim ini juga memiliki kekurangan. Kekurangan pada novel ini terletak pada tempo alur pada bagian awal kisah hingga pertengahan yang dinilai cukup lambat. Hal ini menyebabkan sejumlah pembaca merasa bosan, tetapi tempo alur semakin cepat dari pertengahan hingga akhir cerita. Jadi, pembaca diharapkan dapat menikmati awal kisah tersebut.

Selain itu, kekurangan lain terdapat pada sisi tokoh pendukungnya. Pembaca merasa bahwa tokoh pendukung dalam kisah ini bisa digali secara lebih dalam lagi, misalnya dengan menceritakan latar belakangnya. Secara khusus pada tokoh pendukung yang memiliki peran penting dalam cerita ini.

Pesan Moral Novel Urban Thriller: Playing Victim

Dari kisah ini, kita dapat menyadari bahwa banyak orang yang berlomba-lomba untuk mempromosikan dirinya atau produk miliknya di media sosial demi mendapatkan perhatian atau bahkan untuk mendapatkan uang. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan hal ini jika memang dilakukan dengan cara yang benar. Namun, hal ini dapat menjadi sebuah masalah ketika pengguna media sosial mulai terobsesi dengan jumlah followers, likes, dan kepopuleran, seperti yang terjadi kepada ketiga tokoh utama dalam novel ini.

Pada masa yang modern ini, di mana media sosial menjadi suatu media utama yang menopang hampir seluruh bidang dalam kehidupan, memang kepopuleran di dunia maya dapat memabukan. Media sosial mampu membuat orang-orang melakukan segala cara untuk tetap eksis dan mendapatkan pengakuan, termasuk untuk melakukan hal yang ada di luar akal sehat atau hati nuraninya. Kita hendaknya harus sadar, bahwa kita adalah manusia yang memiliki akal sehat, kita yang menciptakan media sosial, maka itu kita seharusnya dapat mengendalikannya, bukan sebaliknya.

Maka dari itu, hendaknya kita berhenti untuk mengejar pengakuan di media sosial. Kita menjalani hidup di dunia nyata, bukan di dunia maya. Kita tidak butuh persetujuan mereka yang hidup di dunia maya untuk menjalani kehidupan kita. Selalu ingat akan makna dari dunia maya sendiri yang berarti dunia palsu.

Kisah ini juga menyadarkan kita bahwa kebanyakan dari kita selalu berada dalam lingkaran kompetisi sejak masih kecil. Kita selalu berusaha untuk menjadi lebih daripada orang lain dengan iming-iming hadiah, prestasi, atau gelar. Menjadi kompetitif adalah baik, karena berarti kita mau terus belajar. Namun, hal ini juga dapat menjadi buruk ketika pola pikir kita menjadi tak pernah menganggap diri kita cukup atau puas dengan pencapaian diri sendiri.

Dari kisah ini, kita juga dapat belajar bahwa sahabat yang benar-benar baik tidak membenarkan kesalahan yang diperbuat sahabatnya. Sahabat yang baik seharusnya mengingatkan kita untuk melakukan hal yang baik. Mengingatkan kita ketika kita berbuat salah, karena sahabat yang baik pasti ingin mendorong sahabatnya menjadi pribadi yang baik.

Nah, itu dia Grameds ulasan novel Urban Thriller: Playing Victim karya Eva Sri Rahayu. Penasaran akan apa yang rela dilakukan ketiga sahabat itu untuk meraih kepopuleran? Apakah mereka akan melakukan hal yang nekat? Daripada penasaran, yuk langsung saja dapatkan novel ini hanya di Gramedia.com. Selamat membaca!

Rating: 3.86

Written by Gabriel