in

Review Buku Kisah Seorang Pedagang Darah

Kisah Seorang Pedagang Darah atau Chronicle of a Blood Merchant adalah sebuah novel karya penulis asal Tiongkok bernama Yu Hua. Novel ini terbit pertama kali tahun 1995 dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo tahun 2022. Novel ini merupakan karya ketiga Yu Hua setelah Cries in the Dizzle dan To Live.

Novel ini menjadi salah satu karya sastra terkenal di Cina. Kisah Seorang Pedagang Darah bercerita mengenai seorang pekerja pabrik sutra bernama Xu Sanguan yang sudah menjual darahnya selama bertahun-tahun. Hal itu dilakukan Xu Sanguan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Novel ini mencerminkan sejarah Cina tahun 1940-an hingga 1980-an.

Berdasarkan rating pembaca di Goodreads, Kisah Seorang Pedagang Darah mendapat nilai 4.08 dari 5 dan sudah dibaca oleh 594 pembaca. Jika kita lihat ulasan-ulasan dari pembaca, kita akan mengetahui betapa gelap dan rumitnya kisah Xu Sanguan dalam novel ini.

Grameds, artikel ini akan mengulas mengenai novel Kisah Seorang Pedagang Darah. Yuk, simak ulasannya ini sampai selesai, ya.

Mengenal Yu Hua, Penulis Buku Kisah Seorang Pedagang Darah

Sumber: wikipedia

Yu Hua adalah seorang penulis asal Tiongkok yang terkenal dengan karya-karyanya yang menyentuh hati. Lahir pada 3 April 1960 di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Yu Hua merupakan anak dari seorang dokter. Pada awalnya, dia bercita-cita menjadi seorang dokter seperti Ayahnya, namun kecintaannya pada sastra dan dunia tulis-menulis membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang penulis.

Yu Hua telah menulis beberapa karya yang sangat terkenal di Tiongkok maupun dunia. Beberapa karyanya yang paling terkenal antara lain adalah Brothers, The Seventh Day, dan To Live. Brothers adalah sebuah novel yang menceritakan kisah dua bersaudara yang tumbuh besar di era Revolusi Kebudayaan Tiongkok. Novel ini mendapatkan banyak penghargaan dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

The Seventh Day adalah sebuah novel yang menceritakan tentang seorang pria yang bangun dari koma, dia mencoba mencari tahu siapa dirinya dan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Sedangkan To Live adalah sebuah novel yang menceritakan kisah keluarga Xu yang hidup di era Republik Rakyat Tiongkok.

Yu Hua telah menerbitkan sekitar enam kumpulan cerita pendek, lima novel, dan tiga kumpulan esai. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, mulai dari bahasa Inggris, Spanyol, Perancis, jerman, Rusia, Portugis, Belanda, Indonesia, dan masih banyak lagi.

Tulisan-tulisan karya Yu Hua terinspirasi dari revolusi kebudayaan dan tema sejarah rakyat Tiongkok. Karya Yu Hua identik dengan kisah tradisional dengan alur cerita psikologis dan menggambarkan disintegrasi budaya. Isi ceritanya sering berlatar kota-kota kecil selama periode sejarah Tiongkok, perang saudara atau revolusi kebudayaan, serta kehidupan masyarakat Tiongkok pasca pemerintahan ketua Mao.

Yu hua juga terkenal dengan gaya tulisannya yang mendeskripsikan tentang kekejaman, kematian, dan kekerasan yang brutal. Hampir seluruh karyanya bertemakan keadaan buruk masyarakat kelas bawah di Tiongkok, seperti dalam novelnya yang berjudul Chronicle of a Blood Merchant atau Kisah Seorang Pedagang Darah.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Karya-karya Yu Hua telah banyak memberikan pengaruh bagi sastra Tiongkok maupun dunia. Dia dianggap sebagai salah satu penulis terbaik di Tiongkok saat ini dan telah menerima banyak penghargaan atas karyanya. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya antara lain Penghargaan Sastra Lu Xun, Penghargaan Sastra Mao Dun, dan Penghargaan Sastra Man Asia. Karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa juga telah mendapat banyak penggemar di seluruh dunia.

Sinopsis Buku Kisah Seorang Pedagang Darah

 

Judul Buku : Kisah Seorang Pedagang Darah

Penulis Buku : Yu Hua

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 288

Mengisahkan perjuangan hidup Xu Sanguan yang berasal dari desa kecil untuk bertahan hidup di kota. Kisah dimulai saat Xu Sanguan ikut serta menjual darahnya bersama dua orang tetangga pamannya dan sejak itu dia mengandalkan darahnya untuk dijual demi mempertahankan hidup.

Sebagai pemuda yang bekerja di pemintalan ulat sutera, Xu Sanguan jatuh cinta pada Lin Fenfang. Bahkan Xu Sanguan rela memberikan kepompong yang sehat pada Lin Fenfang agar dia mudah mengurai kepompong suteranya. Namun, takdir berkata lain, Xu Sanguan akhirnya menikah dengan gadis penggoreng cakwe bernama Xu Yulan. Kemudian, Xu Sanguan menjual darahnya untuk dijadikan modal menikah.

Pernikahan antara Xu Sanguan dan Xu Yulan berjalan dengan lancar, kini mereka sudah dikaruniai tiga orang anak, yaitu Xu Yile, Xu Erle, dan Xu Sanle. Mereka telah bersama selama 9 tahun, tapi masalah mulai muncul ketika para tetangganya bergunjing mengenai wajah Xu Yile yang tidak mirip dengan Xu Sanguan. Anak pertamanya itu justru lebih mirip dengan mantan pacar istrinya yang bernama He Xiaoyong.

Xu Sanguan berniat untuk mengembalikan Xu Yile kepada He Xiaoyong. Namun, He Xiaoyong menolaknya dan menyangkal jika Xu Yile adalah anaknya. Apalagi, He Xiaoyong kini sudah memiliki keluarga. Upaya untuk meminta tanggung jawab kepada He Xiaoyong pun gagal.

Masalah lain muncul ketika Xu Yile berkelahi dengan anak Fang si Tukang Besi. Yile mencederai anak tersebut hingga membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Xu Sanguan kembali menjual darahnya untuk membayar pengobatan anak Fang si Tukang Besi.

Keisengan Xu Sanguan muncul saat Lin Fenfang, mantan pacarnya jatuh sakit dan dia mengunjunginya. Xu Sanguan nekat untuk meniduri Lin Fenfang. Setelah kejadian itu, Xu Sanguan menjadi sangat perhatian kepada Lin Fenfang, bahkan dia rela menjual darahnya untuk membelikan makanan bergizi untuk mantan pacarnya tersebut. Namun, pemberian yang berlebihan itu membuat suami Fenfang curiga dan menimbulkan masalah lain bagi Sanguan dan Yulan.

Review Buku Kisah Seorang Pedagang Darah

Kisah Seorang Pedagang Darah karya Yu Hua bercerita mengenai Xu Sanguan yang berjuang untuk mencari nafkah di tengah-tengah kesulitan hidup di Cina tahun 1980-an. Dia memutuskan untuk menjadi pedagang darah sebagai cara untuk memperoleh uang. Namun, bisnis pedagang darah tidak semudah yang dibayangkannya.

Dia harus bekerja keras dan menghadapi banyak rintangan, termasuk risiko kesehatan dan masalah hukum. Selain itu, dia juga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk istri dan anak-anaknya.

Selama perjalanan hidupnya, Xu Sanguan mengalami banyak hal. Dia berjuang untuk mengatasi kegagalan dan kehilangan, serta menghadapi penolakan dari masyarakat yang tidak menghargai profesi pedagang darah. Namun, dia terus berusaha untuk bertahan hidup dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Bahkan Xu Sanguan berani menantang sistem dan membela hak-haknya sebagai pedagang darah.

Novel Kisah Seorang Pedagang Darah berhasil memunculkan karakter yang kompleks dan realistis. Tidak ada karakter yang digambarkan secara hitam putih, semuanya memiliki sisi buruk dan baik yang membuat cerita terasa lebih membumi. Salah satu hal menarik dalam novel ini adalah mengenai praktik menjual darah pada masa itu.

Meskipun memiliki nilai yang sangat tinggi, tapi terpaksa harus dilakukan dengan menyuap petugas darah. Hal tersebut menjadi simbolisasi yang unik. Menjual darah seolah seperti menjual leluhur, menjual saripati kehidupan, atau menjual tenaga.

Praktik menjual darah ini juga harus dilakukan dengan hati-hati. Sebab, jika terlalu sering dan jaraknya kurang dari tiga bulan, akan berbahaya bagi tubuh. Hal itu juga diingatkan oleh paman dan sepupu Xu Sanguan dalam novel ini.

Selain itu, Kisah Seorang Pedagang Darah juga berhasil menggambarkan masa-masa sulit pada era revolusi kebudayaan. Semua barang dan tanah pribadi menjadi milik negara, rakyat hanya diberikan delusi kenikmatan selama setahun. Namun, tahun-tahun berikutnya menjadi seperti neraka dan banyak yang menderita kelaparan.

Secara keseluruhan, Kisah Seorang Pedagang Darah menjadi novel yang menarik untuk dibaca. Cerita tentang pengorbanan dan kehangatan keluarga berhasil digambarkan dengan baik di dalam novel ini. Bagi yang ingin membaca cerita yang tidak hanya sekedar menghibur, tapi juga memberikan wawasan tentang masa lalu atau sejarah, maka novel ini dapat menjadi pilihan yang tepat.

 

Kelebihan dan Kekurangan Buku Kisah Seorang Pedagang Darah

Pros & Cons

Pros
  • Karakter masing-masing tokoh jelas dan kuat.
  • Berisi sejarah mengenai kehidupan masyarakat Cina pada masa Revolusi Kebudayaan.
  • Gaya penulisan Yu Hua detail, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami isi ceritanya.
Cons
  • Sebagai novel terjemahan, bahasa yang digunakan terbilang cukup tinggi.

 

Karakter Xu Sanguan diceritakan dengan sangat baik oleh Yu Hua. Dia adalah seorang pria yang kuat dan memiliki semangat juang yang tinggi. Meskipun hidupnya penuh dengan kesulitan, dia tetap berusaha untuk bertahan hidup dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. dia juga memiliki rasa keadilan yang tinggi dan berani berbicara terus terang tentang masalah yang dihadapinya.

Selain Xu Sanguan, terdapat beberapa karakter lain dalam buku ini yang juga menarik perhatian. Ada istri Xu Sanguan yang setia dan berusaha membantu suaminya dalam situasi apapun. Ada juga anak-anak Xu Sanguan yang berjuang untuk menghadapi hidup yang sulit, dan akhirnya menjadi orang yang sukses.

Kisah Seorang Pedagang Darah memiliki beberapa tema yang menarik. Salah satunya adalah tema tentang perjuangan hidup. Buku ini menggambarkan betapa sulitnya hidup di Cina pada tahun 1980-an dan cara seseorang yang berjuang untuk bertahan hidup pada masa itu. Tema lainnya adalah tentang keadilan sosial, Yu Hua menampilkan cara masyarakat yang hanya menghargai profesi tertentu dan mengabaikan orang-orang yang kurang beruntung.

Gaya penulisan Yu Hua sangat menarik, novel Kisah Seorang Pedagang Darah memperlihatkan keindahan sastra. Yu Hua menggunakan gambaran yang sangat detail dalam menggambarkan karakter dan situasi dalam novel ini. Hal tersebut membuat pembaca merasa seolah-olah menjadi bagian dari kisah yang diceritakan.

Untuk beberapa pembaca, khususnya pembaca pemula akan sulit membaca novel ini, karena Kisah Seorang Pedagang Darah menggunakan bahasa yang cukup tinggi. Namun, hal itu menjadi maklum karena novel ini merupakan novel terjemahan.

Penutup

Kisah Seorang Pedagang Darah karya Yu Hua adalah novel yang sangat menarik dan layak untuk dibaca. Novel ini menggambarkan betapa sulitnya hidup di Cinta masa Revolusi Kebudayaan tahun 1940-an hingga 1980-an. Karakter-karakter pada novel ini sangat kuat dan tema-tema yang diangkat relevan dengan keadaan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Grameds, itulah ulasan singkat mengenai novel Kisah Seorang Pedagang Darah karya Yu Hua. Apabila Grameds penasaran dengan keseluruhan cerita dari Xu Sanguan dan keluarganya, Grameds dapat membaca dan membeli novel ini di Gramedia.com.

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Dwi Puji Lestari

Sumber Artikel

  • Buku Kisah Seorang Pedagang Darah karya Yu Hua
  • https://ebooks.gramedia.com/id/buku/kisah-seorang-pedagang-darah-chronicle-of-a-blood-merchant-2
  • Goodreads: Kisah Seorang Pedagang Darah karya Yu Hua
  • https://www.goodreads.com/book/show/34907875-kisah-seorang-pedagang-darah—chronicle-of-a-blood-merchant
  • Profil Yu Hua
  • https://en-m-wikipedia-org.translate.goog/wiki/Yu_Hua?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sc

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy