in

Review Buku Jalan Panjang untuk Pulang Karya Agustinus Wibowo

Jalan Panjang untuk Pulang merupakan buku yang ditulis oleh Agustinus Wibowo, penulis yang namanya sudah tak asing lagi di Indonesia. Karya-karya Agustinus Wibowo dikenal selalu mengemukakan tentang perjalanan dan kepulangan. Sebagian besar karyanya selalu mengajak pembaca untuk turut mencari identitas dirinya sendiri. Pencarian akan apa makna dari “rumah” yang dilakukan dengan perjalanan. Buku Jalan Panjang Untuk Pulang diterbitkan pada bulan Januari 2021 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Jalan Panjang untuk Pulang

Dalam buku dengan total 472 halaman ini, Agustinus kembali mengisahkan tentang sejumlah tempat yang pernah dikunjunginya. Tempat-tempat tersebut bukan destinasi wisata yang indah, nyaman, dan tenang, melainkan sebaliknya. Tempat-tempat yang dikunjunginya itu seringkali berlokasi di perbatasan, di daerah yang dipenuhi konflik berlapis, yang masyarakatnya juga masih berupaya mencari atau mempertahankan identitasnya.

Melalui tempat-tempat tersebut, pembaca dapat mendapatkan refleksi yang sesuai dengan kegelisahan yang mungkin dialami. Selain itu, bacaan ini mungkin akan memunculkan sejumlah pertanyaan yang memenuhi isi benak pembaca, dan akan terus relevan dari masa ke masa. Pertanyaan yang terkait dengan identitas diri. Pertanyaan seperti inilah yang justru semakin kuat di tengah dunia yang semakin dipenuhi globalisasi.

Jalan Panjang untuk Pulang meruoakan kumpulan cerita dan narasi tentang berbagai daerag yang pernah disinggahi Agustinus. Tempat-tempat yang akan mengajak pembaca untuk mengalami berbagai macam dimensi perjalanan. Mulai dari perjalanan fisik sampai perjalanan spiritual. Mulai dari melihat dunia luar sampai pulang ke dalam diri sendiri. Mulai dari pencarian sampai akhirnya menemukan makna yang hakiki.

Profil Agustinus Wibowo – Penulis Buku Jalan Panjang untuk Pulang

Sumber gambar: agustinuswibowo.com

Agustinus Wibowo merupakan pria kelahiran 8 Agustus 1981. Agustinus Wibowo merupakan seorang penulis dan fotografer perjalanan asal Indonesia. Setelah ia berhasil lulus kuliah dari bidang Ilmu Komputer di Universitas Tsinghua Beijing, pada tahun 2005, Agustinus memulai perjalanannya mengelilingi benua Asia melalui jalur darat.

Dimulai sejak tanggal 31 Juli 2005 dari China, Agustinus melintasi negara-negara yang ada di Asia Tengah dan Asia Selatan. Agustinus sempat menetap selama 3 tahun di Afganistan untuk bekerja sebagai jurnalis foto. Agustinus mencari uang untuk membiayai perjalanannya yang jauh itu secara mandiri.

Ia bahkan sampai rela berhenti di suatu negara untuk bekerja, jika tabungannya untuk melakukan perjalanan sudah mulai habis. Agustinus bekerja dengan mengirimkan artikel ke berbagai media lokal atau internasional, dan menjadi jurnalis foto di media. Selain itu, Agustinus juga membuat catatan perjalanannya ke berbagai negara untuk dikirimkan ke media.

Catatan petualangan Agustinus sempat dimuat sebagai rubrik reguler bertajuk “Petualang” di Kompas.com. Catatan perjalanan itu memiliki kisah yang menarik, sehingga kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku pertama Agustinus berjudul Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2010, dan menjadi buku pionir di Indonesia yang menuliskan narasi perjalanan dengan gaya nonfiksi kreatif.

Buku ini menjadi titik awal yang memulai karir Agustinus sebagai seorang penulis. Setelah sukses dengan buku pertamanya, Agustinus kembali menerbitkan buku keduanya yang berjudul Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah, yang diterbitkan pada tahun 2011. Setelah itu, Agustinus masih melanjutkan menulis dengan menerbitkan buku ketiganya yang berjudul Titik Nol: Sebuah Makna Perjalanan pada tahun 2013.

Buku Titik Nol ini merupakan sebuah catatan perjalanan dengan gaya penulisan yang orisinil, dan dipadukan dengan memoar. Buku keempat yang ditulis Agustinus berjudul Jalan Panjang Untuk Pulang, yang berhasil diterbitkan pada tahun 2016. Agustinus sebagai seorang penulis telah diakui dalam lingkup internasional, karena ia berhasil menjadi salah satu tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair.

Agustinus sangat lihai dalam menulis, karena ia memiliki kemampuan berbahasa dan berkomunikasi dengan penduduk asal negeri yang dikunjunginya. Agustinus diketahui menguasai banyak bahasa, seperti Bahasa Indonesia, Mandarin, Inggris, ia juga pernah belajar Bahasa Jepang, Rusia, Prancis, dan Jerman saat berada di bangku sekolah. Ia juga pernah belajar secara mandiri untuk mempelajari Bahasa Farsi, Bahasa Urdu, Bahasa Kirgiz, Bahasa Tajik, Bahasa Uzbek, Bahasa Kazakh, Bahasa Turki, Bahasa Mongol, dan Bahasa Tok Pisin.

Sinopsis Buku Jalan Panjang untuk Pulang

 

Jalan Panjang untuk Pulang

Pros & Cons

Pros
  • Gaya tulisan Agustinus Wibowo sangat khas dengan menggunakan berbagai sudut pandang
  • Tulisan berdasarkan pengalaman nyata yang telah dilaluinya
  • Seluruh narasi yang dituliskan Agustinus Wibowo dalam buku ini dinilai sangat bermakna, bersifat reflektif, dan meninggalkan kesan.
Cons
  • Kekurangan buku Jalan Panjang untuk Pulang terletak pada isi cerita yang dinilai kurang relevan dengan sejumlah pembaca
  • Kisah yang dituliskan pada buku ini memang merupakan kisah pribadi Agustinus Wibowo, maka dari itu, buku ini bersifat cukup personal

Apa jadinya jika suasana Kota Beijing pada abad ke-21 masih dipenuhi konflik Revolusi Kebudayaan, dan jika tuan rumah Olimpiade 2008 ini menjadi surga Maois? Anda mungkin akan melihat gedung kantor pusat China Central Television (CCTV) yang futuristik itu akan dipuja oleh sangat banyak kamerad yang berpawai fan menyuarakan slogan sepanjang jalan. Atau, para pekerja kantoran bekerja dengan gembira dengan komputer di mejanya masing-masing, bersama dengan petugas kebersihan yang tersenyum, dikelilingi barisan pengunjung kelas pekerja yang seluruhnya ekspresinya penuh kebahagiaan sembari melambaikan bendera merah.

Seluruh imajinasi ini terlihat dalam sejumlah lukisan hasil karya para seniman propaganda Korea Utara. Ide dan pengerjaan proyek itu berasal dari pasangan ekspatriat Inggris di Beijing, yakni Nick Bonner and Dominic Johnson-Hill. Salah satu dari mereka membuat biro tur yang berfokus pada perjalanan ke Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) atau lebih dikenal sebagai Korea Utara. Pasangan ekspatriat ini menunjukkan beberapa foto kehidupan sehari-hari di Beijing kepada para seniman dari negara yang terisolasi itu, lalu meminta mereka untuk melukiskan kehidupan di kota modern yang belum pernah mereka kunjungi.

Salah satu lukisan itu menggamvarkan gedung kantor pusat CCTV yang bentuknya seperti pelintiran aneh. Gedung itu bahkan sampai dijuluki “Celana Raksasa” oleh masyarakat Cina. Gedung CCTV itu dikelilingi sawah yang subur dan menjanjikan panen yang makmur. Gedung raksasa itu seperti memancarkan cahaya gemilang, dan kita dapat melihat jejak dari tiga pesawat yang berbelok menuju ke arah matahari terbenam. Di latar depan, para petani Cina sedang bersorak gembira bersama bersama para anggota Tentara Merah seperti sedang merayakan surga sosialis.

Di lukisan lain yang menunjukkan gambaran Kota Beijing, kita juga dapat melihat pada latar belakang, ada barisan pabrik yang menghasilkan asap pekat ke langit jingga. Ini merupakan impian Korea Utara akan modernisasi dan industrialisasi, tetapi tentunya tak akan dirayakan oleh warga Beijing dengan wajah senang, karena mereka sudah merana dalam kehidupan sehari-hari dengan kabut asap polusi yang mengepung kota mereka. Satu lukisan lain yang menarik, yakni para Tentara Merah yang pipinya merah mengenakan seragam ala Mao yang sudah ketinggalan zaman sedang menyanyi penuh keceriaan di dalam ruang karaoke.

Beberapa lukisan ini membangkitkan diskusi dan kecaman di kalangan warganet Cina mengenai negara tetangga mereka yang dianggap eksentrik itu. Betapa bodoh dan absurdnya lukisan-lukisan tersebut! Betapa jauhnya mereka dari kenyataan! Namu, kita tak dapat sepenuhnya menyalahkan para seniman Korea Utara itu, karena mereka perlu memenuhi tenggat waktu yang singkat sekali untuk menyelesaikan tugas menggambar tempat yang sama sekali tak pernah mereka kunjungi.

Mereka hanya dapat menggambarkan Beijing berdasarkan imajinasi dalam benak mereka.

Jika kita mengamati secada lebih dalam, elemen-elemen dalam lukisan tersebut semuanya nyata. Bangunan-bangunan tersebut benar ada, karaoke itu juga ada, bahkan para turis asing dengan yang menggantung kamera di leher dan barisan parade Tentara Merah itu juga nyata. Namun, mengapa kombinasi dari semua itu menghasilkan nuansa yang aneh dan mengerikan?

Mengunjungi suatu tempat itu tak menjamin bahwa kita telah benar-benar memahami inti dari tempat-tempat itu. Ada banyak esensi dari budaya, masyarakatnya yang kompleks, impian dan ketakutan yang ada di dalam pikiran orang-orangnya. Kenyataannya, Barcelona tidak selalu keren, Hong Kong juga bukannya hanya mengenai modernitas, Nepal juga bukan menonjol karena kotor, dan Thailand tak bisa direduksi hanya ke kulinernya yang enak. Tanpa memahami benar tentang esensi suatu tempat, kita juga sangat mungkin telah membuat gambaran yang keliru mengenai tempat-tempat tersebut.

Hal ini juga menyebabkan kita memberikan gambaran yang keliru kepada orang yang lain. Kehidupan tanpa perjalanan itu bagaikan katak yang hidup dalam sebuah tempurung. Namun, perjalanan tanpa memahami “oh” dari tempat-tempat itu juga tak jauh lebih baik. Orang Cina sering berkata bahwa orang yang berjalan lima puluh langkah menertawakan mereka yang berjalan seratus langkah.

Tak peduli anda jalan lima puluh langkah maupun seratus langkah, tetap saja anda sudah jalan. Jadi, alih-alih menertawakan lukisan yang dibuat oleh para seniman Korea Utara, lebih baik kita introspeksi diri terlebih dahulu. Pertanyakan kembali apakah lukisan-lukisan imajinatif yang sudah kita buat mengenai dunia di sekeliling kita itu sudah tepat dan sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Kelebihan Buku Jalan Panjang untuk Pulang

 

Jalan Panjang untuk Pulang

Bagi anda yang sudah pernah membaca karya Agustinus Wibowo, tentunya sudah mengetahui bahwa gaya penulisannya tak perlu diragukan lagi. Gaya tulisan Agustinus Wibowo sangat khas dengan menggunakan berbagai sudut pandang. Melalui karyanya, pembaca diajak untuk menelusuri setiap sudut ruang dan waktu melalui narasi. Gaya penulisan dan penggunaan sudut pandang ini mampu membuat pembaca merasa ikut melakukan perjalanan bersama Agustinus Wibowo.

Kemudian, ciri khas Agustinus Wibowo yang lain adalah selalu menulis berdasarkan pengalaman nyata yang telah dilaluinya. Hal ini mengindikasi bahwa ia melakukan observasi dengan sangat detail, ia juga rajin untuk mencatat dan melakukan riset, kemudian ia mampu merangkumnya ke dalam narasi-narasi. Seluruh narasi yang dituliskan Agustinus Wibowo dalam buku ini dinilai sangat bermakna, bersifat reflektif, dan meninggalkan kesan.

Buku Jalan Panjang untuk Pulang ini banyak memberikan pelajaran kepada pembaca. Terutama pelajaran mengenai arti kemanusiaan, dan apa itu arti pulang yang sesungguhnya. Buku ini juga memuat pesan tentang perdamaian bagi seluruh manusia.

Kekurangan Buku Jalan Panjang untuk Pulang

 

Jalan Panjang untuk Pulang

Kekurangan buku Jalan Panjang untuk Pulang terletak pada isi cerita yang dinilai kurang relevan dengan sejumlah pembaca. Kisah yang dituliskan pada buku ini memang merupakan kisah pribadi Agustinus Wibowo, maka dari itu, buku ini bersifat cukup personal. Beberapa pembaca kurang menyukai hal tersebut dan menganggap buku ini cukup kaku untuk dibaca seluruh kalangan.

Pesan Moral Buku Jalan Panjang untuk Pulang

Buku Jalan Panjang untuk Pulang ini mengajarkan kita tentang makna pulang yang tidak hanya secara harfiah berjalan menempuh jarak untuk pergi ke rumah. Pulang dapat dimaknai lebih dari itu, seperti jalan pulang menuju kemanusiaan. Pulang bukan hanya mengenai bagaimana kaki yang terus melangkah, tetapi mengenai bagaimana naluri dalam diri manusia.

Identitas kebangsaan sebenarnya terdiri atas dua rasa, rasa diterima dan rasa untuk memiliki. Seseorang yang berasal dari manapun, yang memiliki darah apapun, dapat menjadi bagian dari semua bangsa, asalkan bangsa itu bisa menerima dia apa adanya. Begitu juga, dia dapat meyakini bahwa bangsa tersebut adalah bangsanya.

Nah, itu dia Grameds ulasan buku Jalan Panjang untuk Pulang karya Agustinus Wibowo. Bagi kalian yang ingin memahami lebih dalam akan makna kata pulang, kalian bisa mendapatkan buku ini hanya di Gramedia.com.

Rating: 4.53

 

Jalan Panjang untuk Pulang

Written by Gabriel