in

Review Novel Sang Pemanah Karya Paulo Coelho

Rating: 3.66

Sang Pemanah

button cek gramedia com

Paulo Coelho merilis buku baru lagi dengan judul The Archer atau yang resmi diterbitkan di Indonesia dengan judul Sang Pemanah. Kisah Sang Pemanah terinspirasi dari pengalaman Paulo yang sempat belajar memanah. Dari pengalamannya itu, ia mengembangkan cerita fiksi yang penuh dengan makna. Novel ini memuat cerita yang disampaikan secara sederhana, di mana Paulo bercerita mengenai pokok-pokok penting dalam kehidupan. Di antaranya, tentang antusiasme dan kerja keras, berani untuk ambil resiko, tidak takut dengan kegagalan, dan menerima hal-hal tidak terduga yang sering disebut nasib.

Buku Sang Pemanah, pertama kali diterbitkan pada 1 Januari 2003 dengan judul O Caminho do Arco, menjadi salah satu karya tulis best seller dari Paulo Coelho. Buku ini telah diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Versi terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada 11 April 2021. Dengan tebal 152 halaman, novel Sang Pemanah ini akan memperkenalkan kita dengan Gandewa, seorang pria yang terkenal berkat bakat memanahnya yang luar biasa. Namun, Ia sudah pensiun dari kehidupan yang dikenal publik, dan seorang anak laki-laki datang mencarinya.

Anak laki-laki itu memiliki banyak pertanyaan untuknya. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Gandewa mengilustrasikan cara membungkuk dan prinsip-prinsip kehidupan yang penuh makna. Sebelum mencari jawaban dari Gandewa, kita kenali sosok penulisnya dulu, yuk! Simak profil Paulo Coelho di bawah ini ya! Setelah itu, baru lanjut artikel ini sampai selesai!

Profil Paulo Coelho – Penulis Novel Sang Pemanah

Paulo Coelho, seorang penulis Brasil, lahir pada tahun 1947 di Rio de Janeiro. Sebelum mengabdikan dirinya sepenuhnya pada bidang sastra, dia terlibat dalam berbagai profesi seperti sutradara dan aktor teater, penulis lirik, dan jurnalis. Pada tahun 1986, Coelho melakukan perjalanan ziarah ke Santo Yakobus dari Compostela, pengalaman ini kemudian diabadikan dalam bukunya yang berjudul The Pilgrimage. Pada tahun berikutnya, ia menerbitkan The Alchemist. Meskipun penjualan awalnya lambat dan menyebabkan penerbit aslinya membatalkan novel tersebut, tetapi kemudian buku itu menjadi salah satu buku terlaris sepanjang masa di Brasil.

Beberapa judul lainnya termasuk Brida (1990), The Valkyries (1992), By the River Piedra I Sat Down and Wept (1994), kumpulan kolom terbaiknya dari surat kabar Brasil, Folha de São Paulo, yang berjudul Maktub (1994), kompilasi teks Phrases (1995), The Fifth Mountain (1996), Manual of a Warrior of Light (1997), Veronika Decides to Die (1998), The Devil and Miss Prym (2000), kompilasi cerita tradisional dalam Cerita untuk Orang Tua, Anak, Cucu (2001), Eleven Minutes (2003), The Zahir (2005), The Witch of Portobello (2006), dan The Winner Stands Alone (2009). Pada bulan Maret, April, Mei, dan Juni 2006, Paulo Coelho melakukan perjalanan untuk merayakan ulang tahun ke-20 perjalanannya ke Santo Yakobus dari Compostela pada tahun 1986.

Dia juga mengadakan acara penandatanganan buku secara mendadak, yang diumumkan hanya satu hari sebelumnya, di beberapa kota selama bulan tersebut, memberi kesempatan kepada para penggemarnya untuk bertemu dengannya. Dalam perjalanan ziarah selama sembilan puluh hari, penulis tersebut melakukan perjalanan keliling dunia dan naik kereta Trans-Siberia yang terkenal, membawanya ke Vladivostok. Selama pengalaman ini, Paulo Coelho meluncurkan blognya, Walking the Path – The Pilgrimage, untuk berbagi impresinya dengan pembaca. Sejak awal blog ini, Paulo Coelho telah memperluas kehadirannya di internet dengan blog harian di platform seperti WordPress, Myspace, dan Facebook.

Dia juga aktif di platform media sosial lainnya seperti Youtube dan Flickr, secara rutin ia tidak hanya membagikan tulisan tetapi juga video dan gambar kepada pengikutnya. Dari minat dan penggunaan internet yang intens, muncul proyek baru yang ambisius: The Experimental Witch, di mana dia mengajak pembacanya untuk menyesuaikan cerita dari bukunya, The Witch of Portobello, ke layar. Paulo Coelho memang sangat yakin pada internet sebagai media baru, dan dia menjadi penulis terlaris pertama yang secara aktif mendukung distribusi gratis karyanya secara online.

Sinopsis Novel Sang Pemanah

Sang Pemanah

button cek gramedia com

Gandewa adalah pemanah ulung yang telah menjadi tukang kayu. Ia sekarang tinggal di desa, di mana bakatnya dalam menggunakan busur dan anak panah tak diketahui orang lain. Pada suatu hari, ada seorang pemanah lain yang datang ke daerahnya untuk mencari Gandewa dan memintanya untuk menguji keahliannya dengan Gandewa.

Ternyata, kepopuleran Gandewa di luar negeri belum pudar. Setelah kompetisi, anak desa yang memimpin kelompok pemanah mengunjungi Gandewa dan meminta tukang kayu itu untuk mengajarinya menjadi pemanah. Gandewa menjawab bahwa seluruh pengetahuan yang diperlukan bisa diajarkan dalam perjalanan mereka menuju desa; mempraktikkan seni tersebut sampai mencapai “ketelitian yang diperlukan” adalah bagian yang paling susah.

Saat Gandewa dan anak laki-laki itu tiba di desa, anak laki-laki itu menanyakan sejumlah pertanyaan, termasuk bagaimana Gandewa belajar menguasai seni memanah. Gandewa pun menyampaikan cerita pengalamannya sebelum memberkati anak itu dan mengirimnya pergi.

Di Balik Pena: dr. Andreas Kurniawan Berbagi Tutorial Melalui Duka dan Mencuci Piring

Kelebihan dan Kekurangan Novel Sang Pemanah

Sang Pemanah

button cek gramedia com

Pros & Cons

Pros
  • Berisikan pedoman hidup.
  • Ilustrasi yang menarik.
  • Relate dengan realita kehidupan.
Cons
  • Banyak perumpamaan dalam buku ini

Kelebihan Novel Sang Pemanah

Sang Pemanah

button cek gramedia com

Buku Sang Pemanah karya Paulo Coelho memiliki sejumlah kelebihan yang menjadikannya buku yang mendunia dan direkomendasi untuk dibaca. Buku ini berisikan pedoman hidup yang disampaikan dengan lugas, memberikan pelajaran berharga yang perlu kita kunyah pelan-pelan. Membaca beberapa bagiannya dan kemudian merenungkannya akan membantu kita mengenali rasa yang hadir dalam diri kita. Buku ini lebih banyak menuturkan pedoman hidup daripada berkisah, dan ini menjadikannya berbeda dari sebuah novel pada umumnya.

Yang menarik adalah ilustrasi dalam buku Sang Pemanah ini. Dibuat oleh Martin Dima, ilustrasi tersebut memberikan sentuhan lokal yang sangat khas. Sang Pemanah, yang bernama Gandewa, digambarkan berbeskap, mengenakan blankon, berkain lurik, bahkan mengendarai sepeda onthel, seolah berasal dari Jawa. Edisi Indonesia dari buku ini diizinkan untuk menyesuaikan karakter dengan budaya lokal, yang memberikan kesan tersendiri bagi pembaca.

Filosofi si pemanah, busur, dan sasarannya sangat relate dengan realita kehidupan kita. Pelajaran hidup dari seorang pemanah kepada anak kecil dalam sebuah perjalanan singkat menuju gudang pekerjaan Gandewa sebagai tukang kayu, menjadi metafora yang kuat tentang bagaimana menjadi pemanah dalam kehidupan. Baru kali ini saya membaca buku dari seorang penulis yang begitu mengena di hati, menggambarkan filosofi hidup yang sangat relevan dengan kehidupan nyata.

Kekurangan Novel Sang Pemanah

Sang Pemanah

button cek gramedia com

Dari ulasan kelebihan buku Sang Pemanah karya Paulo Coelho di atas, Grameds pasti sudah tahu bahwa buku ini menghadirkan banyak keunggulan yang menarik. Namun, tak ada hal yang sempurna, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan.

Banyak dari pembaca yang mengira bahwa buku ini seperti novel pada umumnya. Namun, novel ini berisi kumpulan paragraf filosofis yang mendalami tentang panah-memanah. Hal ini menarik, tetapi jenis buku seperti ini tidak cocok bagi beberapa pembaca.

Sebab, kamu akan menemukan banyak perumpamaan di dalam buku Sang Pemanah ini. Ditambah lagi dengan motivasi dan perenungan, yang membuatnya dinilai sulit untuk dinikmati. Pembaca juga menilai kisah ini terlalu singkat untuk sebuah cerita mengenai arah busur dan filosofi pemanahnya. Namun, lagi-lagi kekurangan ini bersifat subjektif, tergantung preferensi pembaca.

Pesan Moral Novel Sang Pemanah

Sang Pemanah

button cek gramedia com

Karya Sang Pemanah memberikan pesan moral tentang kontinuitas dan keseimbangan dalam hidup. Sebagaimana musim semi menyusul musim dingin, setiap akhir hanyalah awal dari sesuatu yang baru. Setelah mencapai tujuan, kita harus terus maju, menerapkan semua pelajaran yang telah kita dapatkan. Hidup akan terus berjalan dan selama perjalanan itu, kita harus memilih sekutu yang tepat.

Kehidupan diibaratkan sebagai busur yang membutuhkan jeda untuk memulihkan kekuatannya, karena busur yang terus-menerus ditarik akan kehilangan daya. Sama halnya, jiwa yang damai sangat penting untuk mencapai tujuan dengan tepat. Mengambil risiko adalah bagian penting dari proses belajar dan berkembang, karena setiap pengalaman, baik atau buruk, meninggalkan jejak ingatan yang berharga. Berdasarkan semua ingatan ini, kita akan semakin mahir dalam menghadapi tantangan hidup.

Bagi Grameds yang tertarik ingin membaca dan turut berlarut dengan buku Sang Pemanah, kalian bisa dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Gramin juga sudah menyiapkan buku-buku karya Paulo Coelho lainnya di bawah ini, lho. Yuk langsung saja dapatkan buku-buku terbaik hanya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

 

Rekomendasi Buku

Sang Alkemis

Sang Alkemis

button cek gramedia com

Novel Sang Alkemis menceritakan tentang mimpi, harapan, dan impian seorang anak bernama Santiago, yang mengembala untuk mencari harta karun. Ia melakukan pencarian harta karun setelah seorang peramal mengatakan bahwa Santiago akan menemukan dan mendapatkan harta karun yang tidak akan habis dipakai sampai tujuh turunan. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Melchizedek yang memberikan nasihat bahwa saat seseorang menginginkan sesuatu, alam semesta akan membantu menolong agar seseorang itu dapat meraih impiannya. Mechizedek juga memberikan Santiago dua buah batu untuk membaca tanda dan meminta Santiago untuk tidak menyerah dengan mimpinya dan mengikuti pertanda yang ada. Santiago meneruskan menggembala sampai akhirnya ia bertemu dengan penunggang kuda, Sang Alkemis.

Setiap beberapa puluh tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala bernama Santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida. Di perjalanan dia bertemu seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis––semuanya menunjukkan jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya. Tak ada yang tahu isi harta karun itu, atau apakah Santiago akan berhasil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan. Namun perjalanan yang semula bertujuan untuk menemukan harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri. Kaya, menggugah, dan sangat manusiawi, kisah Santiago menunjukkan kekuatan mimpi-mimpi dan pentingnya mendengarkan suara hati kita.

Veronika Memutuskan Mati

Veronika Memutuskan Mati

button cek gramedia com

Veronika yang berumur 24 tahun seakan memiliki kehidupan sempurna, muda, dan cantik, memiliki kekasih yang mencintai dan menjaganya, memiliki keluarga yang menyayanginya, dan bekerja di pekerjaan yang disukainya. Namun ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, sesuatu yang sudah ia upayakan untuk temukan, tapi nihil hasil.

Maka, pada suatu pagi di bulan November yang diselimuti hawa dingin, Veronika menenggak segenggam pil tidur dan berharap untuk tidak akan bangun lagi. Tapi, bagaikan mimpi buruk tanpa akhir, dia terbangun. Terbangun di rumah sakit jiwa dengan mendengar berita atas hidupnya tinggal beberapa hari lagi.

Apakah di titik ini Veronika berhasil menemukan apa yang hilang dari hidupnya? Atau kah Veronika merasa takut saat dengan pasti tahu kapan kematiannya akan datang? Terinspirasi dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan penulis sendiri, Coelho, buku novel Veronika Memutuskan Mati mencerminkan kekejaman norma yang berlaku di masyarakat.

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk Dan Menangis (By The River Piedra I Sat Down And Wept)

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

button cek gramedia com

“Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, Nita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.”

Begitulah yang semula dipercaya Pilar. Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu kembali dengan kekasihnya setelah sebelas tahun terpisah? Waktu menjadikan Pilar wanita yang tegar dan 4 mandiri, sedang cinta pertamanya menjelma menjadi pemimpin spiritual yang tampan dan karismatik. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian bags konflik-konflik batinnya.

Kini mereka bertemu kembali dan memutuskan melakukan perjalanan bersama-sama. Perjalanan itu tidak mudah, sebab dipenuhi sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan akhirnya, di tepi Sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan.

 

Sumber:

  • https://www.goodreads.com/book/show/52585195-the-archer?from_search=true&from_srp=true&qid=Q1pO1iUCwx&rank=3
  • https://compulsivereader.com/2021/04/12/a-review-of-the-archer-by-paulo-coelho/

Written by Gabriela

Hai, saya Gabriel. Saya mengenal dunia tulis menulis sejak kecil, dan saya tahu tidak akan pernah lepas dari itu. Sebab, segala informasi yang kita dapat setiap hari, salah satunya berbentuk tulisan. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya untuk bisa turut memberikan informasi melalui tulisan saya.

Membuat karya tulis akan selalu menyenangkan bagi saya, karena saya bisa terus belajar melalui kata-kata. Setiap kali menulis, saya akan terlebih dahulu membaca sumber untuk memperoleh informasi yang tepat. Keseluruhan proses merangkai kata tersebut adalah proses pembelajaran yang tak berkesudahan.

Saya suka menulis review buku, karena setiap buku menyajikan dunia yang baru dan memberikan banyak pengetahuan baru. Saya juga suka menulis tentang dunia kuliner dan trivia, karena ada banyak fakta unik, tips, dan juga trik yang bisa saya coba praktikkan.

Keahlian
Review buku
Kuliner
Trivia

Pendidikan
Universitas Multimedia Nusantara

Linkedin: Gabriela Estefania
Instagram: @gaby_tandean