in

Review Buku Ca Bau Kan

Rating 3,8/5

 

Genre fiksi bergenre romance sejarah memang jarang ditemukan dalam sebuah novel. Biasanya novel fiksi sejarah hanya menggambarkan kehidupan masa lampau seperti peperangan atau musibah tertentu. Nah grameds buku Ca Bau Kan ini merupakan novel fiksi bergenre romansa sejarah yang ditulis oleh Remy Sylado yang menceritakan mengenai perempuan Betawi dengan pedagang Tionghoa.

Ca Bau Kan

button cek gramedia com

Nah grameds, buku ini cocok bagi kamu yang mencari novel yang ringan namun memiliki unsur sejarah dan konflik yang menarik perhatian. Jika grameds tertarik untuk membaca buku Ca Bau Kan ini, berikut ini adalah artikel yang akan membahas mengenai sinopsis, kelebihan dan kekurangan buku serta ulasan singkatnya.

Sinopsis Buku Ca Bau Kan

Novel ini dimulai dengan menceritakan seorang wanita lanjut usia yang dulunya diadopsi dan menetap di Belanda bernama Geraldine atau Giok Lan yang datang ke Jakarta untuk mencari tahu mengenai asal-usul dirinya. Ibunya adalah seorang mantan ca-bau-kan atau perempuan penghibur bagi masyarakat Tionghoa. Ibunya bernama Siti Noerhajati atau Tinung dan ayahnya adalah seorang keturunan Tionghoa bernama Tan Peng Liang.

Ca Bau Kan

button cek gramedia com

Namun masalahnya dimulai dari sini, ternyata ada dua orang Tan Peng Liang yang pernah hadir dalam hidup Tinung. Yang satu adalah seorang berdarah Sunda, ia merupakan juragan kebun pisang, rentenir dan kakitangan Belanda. Sedangkan yang satu lagi merupakan pengusaha tembakau dan candu yang berdarah Jawa-Semarang dan merupakan seseorang yang mendukung kemerdekaan Indonesia.Karena ada dua orang Tan Peng Liang, Geraldine pun tidak tahu mana yang benar ayahnya.

Kisahnya kemudian mundur ketahun dimana siapa itu Tinung. Tinung sempat menikah dengan seseorang namun ia ditinggal mati oleh suaminya dalam kondisi hamil, ia bahkan diusir oleh ibu mertua dan keempat istri suaminya. Tinung yang hidup terlunta-lunta kemudian mengikuti sepupunya bernama Saodah untuk belajar menjadi penari cokek dan menjadi ca-bau-kan di Kalijodo. Kecantikan Tinung membuat ia terkenal di Kalijodo, ia pun dijadikan simpanan pria Tionghoa bernama Tang Peng Liang yang merupakan juragan kebun pisang asal Gang Tamim, Bandung. Tan Peng Lian ini adalah seorang rentenir yang kejam yang tidak segan menghukum siapapun yang terlambat mengembalikan pinjaman darinya. Tinung ketakutan dan ia kabur dan memilih bekerja kembali di Kalijodo.

Sementara itu Tan Peng Liang asal Semarang sedang mengukir namanya sebagai pengusaha tembakau dan candu. Ia melakukan taktik bisnis untuk memanasi lawan bisnisnya Oey Eng Goan dengan bersikap royal mulai dari membeli lukisan di pelelangan dengan harga tinggi hingga membagikan uang dan candu kepada penduduk. Berlanjut pada pertemuan Tinung dan Tan Peng Liang ketika perayaan Cio Ko.

Tan Peng Liang langsung tertarik pada Tinung dan menjadikannya sebagai simpanannya. Perlahan hubungan yang awalnya berdasarkan kebutuhan jasmani ini berubah menjadi cinta. Istri sah Tan Peng Liang yang sudah lama sakit pun meninggal dan ia langsung menikahi Tinung secara resmi. Namun menikah bukan menjadi akhir dari segala penderitaan, pernikahan mereka harus diuji dengan banyak masalah mulai dari ketidaksetujuan anak-anak Tan Peng Liang hingga perselisihan Tan Peng Liang dengan para anggota Kongkoan dan pemerintah Hindia-Belanda.

Sakit hati Oey Eng Goan memuncak ketika Tan Peng Liang menipu saat berbisnis tembakau. Oey Eng Goan marah dan berusaha membakar gudang tembakau Tan Peng Liang. Namun usahanya digagalkan oleh keponakan Tan Peng Liang. Ia pun kemudian membalas dendamnya dengan membakar gudangnya sendiri dan menyebar fitnah bahwa Oey Eng Goan lah pelakunya. Saat seorang wartawan yang menyelidiki kasus pembakaran itu, Tan Peng Liang ketahuan memproduksi dan menyebarkan uang palsu dan Tan Peng Liang ditangkap dan dipenjara. Namun, ia berhasil melarikan diri, kabur ke Makau, dan berganti nama menjadi Simon Chen.

Tinung terpaksa hidup sendiri lagi dalam kemiskinan, Ia terpaksa menyerahkan anaknya untuk diadopsi oleh sepasang suami istri Belanda. Tan Peng Liang berusaha pulang ke Jakarta dengan berpura-pura mati dan menyelundupkan candu agar bisa menghidupi keluarganya. Tinung dan Tan Peng Liang hidup bersama kembali namun hubungan keduanya renggang karena Tinung sulit hamil lagi sejak ia dipaksa menjadi jugun ianfu. Tan Peng Liang yang tahu bahwa keluarganya sengaja melakukan hal itu marah dan menembak salah satu anggota keluarganya. Hubungan keduanya kembali harmonis dan ia dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Ginandjar L. Sutan.

Nah grameds bagaimana kelanjutan kisah dari Tinung, Tan Peng Lian, Ginandjar L. Sutan dan Giok Lan? Nah simak kelanjutan ceritanya hanya pada buku Ca Bau Kan.

Di Balik Pena: dr. Andreas Kurniawan Berbagi Tutorial Melalui Duka dan Mencuci Piring

Profil Penulis Buku Ca Bau Kan

Penulis buku Ca Bau Kan ini adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong lahir pada 12 Juli 1945 dan wafat pada 12 Desember 2022, ia dikenal dengan nama pena Remy Sylado. Nama Remy Sylado sendiri diambil dari nada intro lagu The Beatles “And I Love Her”, re-mi-si-la-do, 2-3-7-6-1. Untuk buku-buku non-fiksi, ia menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi yang berarti munsyi pertama dan terakhir. Kadang ia memakai nama Juliana C Panda dan Dova Silva.

Selain merupakan penulis dan pengarang banyak buku, Remy Sylado juga merupakan seorang sastrawan, dosen, novelis, penulis, penyanyi, aktor dan mantan wartawan Indonesia. Karirnya diawali menjadi sebuah aktor yang sudah berlangsung selama lima dekade, pada karirnya sebagai aktor ia merupakan aktor yang sudah muncul dibelasan film layar lebar. Selain itu ia juga menulis banyak karya tulis yang diantaranya sudah diadaptasi ke layar lebar seperti film Ca Bau Kan (2002) yang diadaptasi dari novel yang sama yang terbit pada 1999.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ca Bau Kan

Ca Bau Kan

button cek gramedia com

Pros & Cons

Pros
  • Riset yang mendalam dilakukan penulis membuat buku ini terasa nyata
  • Penggambaran hubungan kedua karakter utama yang natural dan tidak over.
  • Bahasa yang mudah dipahami dan terdapat catatan kaki untuk bahasa asing
  • Alur maju mundur yang dikemas dengan rapi
  • Novel ini mengajak pembaca memahami sejarah yang mungkin tidak pernah diketahui
Cons
  • Tokoh yang banyak dan nama yang sulit dihafalkan

Kelebihan Buku Ca Bau Kan

Ca Bau Kan

button cek gramedia com

Kelebihan buku ini pertama ada pada deskripsi latar tempat yang begitu detail dan mendalam sehingga pembaca tidak merasa bosan dengan cerita yang dibangun. Hal ini tentu karena penulis sendiri melakukan riset hingga tulisan yang tersaji dalam novel menyerupai kenyataan. Dengan riset yang menyeluruh pembaca dapat membayangkan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu dan mengetahui beberapa fakta sejarah yang tidak pernah dibahas. Selain itu banyak nilai-nilai kebudayaan yang menarik dan tidak pernah dijumpai di kehidupan saat ini.

Buku Ca Bau Kan juga menggambarkan setiap tokoh utamanya secara natural dan tidak dipaksakan. Seperti kisah cinta Tinung dan Tan Peng Liang yang dikemas secara natural. Layaknya suami istri yang pernah memiliki konflik, Tan Peng Liang juga pernah memukul Tinung kemudian perjuangan Tan Peng Liang yang berhasil kembali ke Jakarta dari Makau untuk menghidupi keluarga nya hingga Tinung yang rela meninggalkan profesinya karena sudah berkeluarga dan Tan Peng Liang yang tetap menerima Tinung meski sudah dibiarkan menjadi jugun ianfu. Cinta diantara mereka digambarkan begitu kuat dan natural meski tidak terlihat menggebu-gebu.

Meski merupakan novel sastra bergenre fiksi sejarah namun buku Ca Bau Kan menggunakan bahasa yang mudah dipahami meskipun sebagian besar kata-katanya adalah bahasa Tionghoa lama. Namun meski terdapat banyak bahasa asing, penulis sudah menyiapkan catatan kaki untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi dari tulisan di buku ini.

Alur pada novel ini mudah dipahami dan dituliskan dengan mengalir meski memiliki konflik yang rumit namun tidak membuat pembaca harus sibuk mikir sehingga dengan santai buku ini membawa pembaca pada alur perjalanan yang baik dan mengalir. Meski dengan alur maju mundur mulai dari masa kini ketika Giok Lan mencari asal usulnya dan kembali ke latar Tinung pada masa lalu, semua dikemas dengan rapi.

Buku Ca Bau Kan ini membuat pembaca dapat memahami bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari kebudayaan dan masyarakat Tionghoa. Selain itu membuka pengetahuan baru bagi pembaca mengenai kehidupan pada masa kolonial dan juga menggambarkan betapa kala itu derajat wanita sangat rendah terutama pribumi pada saat jaman penjajah.

Kekurangan Buku Ca Bau Kan

Ca Bau Kan

button cek gramedia com

Ada kelebihan ada juga kekurangan dari buku Ca Bau Kan ini yaitu jumlah tokoh yang banyak dan nama-nama nya yang sulit karena mayoritas merupakan tokoh-tokoh dengan nama Tionghoa yang jarang kita dengar dan ingat namanya.

Penutup

Ca Bau Kan

button cek gramedia com

Grameds, buku Ca Bau Kan berhasil menyampaikan bahwa hidup pasti memiliki kesulitannya sendiri-sendiri dan tidak berjalan selalu mulus. Setiap keluarga pasti memiliki perselisihan, ejekan hingga perasaan tidak percaya antar anggota keluarga lainnya. Namun kita sendiri masih memiliki kekuatan bernama cinta kasih yang selalu mengingatkan diri untuk bertahan seperti perjuangan Tinung dalam mencapai kebahagiaan dan dapat lepas dari tekanan yang ada.

Jika Grameds tertarik membaca buku Ca Bau Kan ini, Grameds bisa mendapatkannya di Gramedia.com atau toko buku Gramedia terdekat di kotamu. Gramedia senantiasa menjadi #SahabatTanpaBatas untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku yang berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca

Penulis: Devina

 

Rekomendasi Buku Terkait

Dalam Kurung

Dalam Kurung

button cek gramedia com

Berawal dari sebuah ramalan dari Mbok Sasih kejadian mengerikan menimpa sebuah desa di Bojonegoro. Djabrik masih terpukul dengan perginya Nuansa, teman masa kecilnya. Tak ingin berlarut-larut dalam kegundahan Djabrik memutuskan untuk membuka hati pada Elsa. Di suatu malam, Djabrik mendapati Nuansa muncul dari lubang Hitam di antara rimbunnya bambu. Djabrik tak pernah menduga akan bisa bertemu lagi dengan Nuansa. Djabrik selalu menunggu kedatangan Nuansa. Kegiatan melamun sambil menulis lagu di pinggir sungai ternyata mengungkap sebuah kejadian ganjil buat Djabrik.

Nuansa, sahabat yang dirindunya, muncul tiba-tiba dari rumpun bambu. Ia membawa pesan peringatan bahwa makhluk-makhluk dari alam gaib akan terlepas dari kurungan dan membawa malapetaka bagi desa. Suatu malam, saat Djabrik manggung, kerumunan penonton joget gila-gilaan dengan tawa kesetanan membuyar. Mata mereka putih, pupil hitamnya tersembunyi di balik rongga mata. Auman-auman macan serta lolongan hewan merobek atmosfer malam. Kesurupan massal terjadi di depan Djabrik.

Djabrik menengok ke pohon di dekat panggung. Di sana ada sepasang sepasang mata pipih bercahaya dengan taring panjang melayang. Djabrik nggeblak. Peringatan Nuansa menjadi kenyataan. Celakanya, itu semua baru permulaan. Namun, sesuatu yang menakutkan akan terjadi. Lepasnya makhluk-makhluk mengerikan dari dalam kurung. Nuansa memperingatkan Djabrik akan hal itu? Dapatkah Djabrik menghentikan itu? Dapatkah Tri Darma menghentikan kengerian yang akan membawa Malapetaka itu?

Hanoman: Sebuah Perjalanan Menumpas Kejahatan

Hanoman: Sebuah Perjalanan Menumpas Kejahatan

button cek gramedia com

Hanoman merupakan sosok yang familiar bagi para penggemar cerita pewayangan. Tapi tahukah kamu bahwa hanoman adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu? Buku ini membawakan cerita-cerita tentang tokoh protagonis Hanoman yang cukup melekat dalam epik Ramayana, sebuah mahakarya sastra yang kepopulerannya tak termakan usia hingga saat ini.

“Rajaku Rahwana,” kataku. “Setiap perbuatan ada akibatnya. Untuk itu, bila masih ada kesempatan dari sekarang, segera kembalikan Dewi Sita kepada Rama. Hentikan peperangan yang tidak perlu.” Rahwana dari tempat duduknya semakin menyeringai.

“Tidak akan pernah kulepaskan titisan Dewi Widowati yang sudah seharusnya menjadi milikku,” kata Rahwana. Sementara itu, api yang membakar tubuhku semakin membesar dan bertambah besar. Bahkan aku merasa seperti makhluk yang memang terbuat dari api, dan aku tetap hidup tanpa ada satu helai bulu pun yang terbakar.

Lentera Batukaru

Lentera Batukaru

button cek gramedia com

Lentera Batukaru: Cerita Tragedi Kemanusiaan Pasca-1985 merupakan kisah kekerasan yang menimpa keluarga kecil di lereng Gunung Batukaru, Bali. Mereka tiba-tiba saja dicap ikut organisasi terlarang. Kerabat keluarga malang ini, yang juga larut dalam berbagai pergolakan, menuliskan memoar kegetiran itu dengan pendekatan jurnalistik. Ia tak cuma merekam politik keruh pasca-1965, tetapi juga kekerasan politik jelang pemilu 1971. Putu Setia, penulis cerita ini, yang sekarang menjadi pendeta Hindu, akhirnya mengubur kisah kepedihan yang tenang dengan menyalakan lentera kedamaian lereng Batukaru yang sejuk.

 

Written by Adila V M