in

Review Buku Laut Pasang 2

Rating 4,5/5

 

Grameds, Laut Pasang 2 adalah novel karya Lilpudu yang ketiga setelah novel Laut Pasang 1994 dan Merayakan Kesedihan. Bagi grameds yang mengikuti kisah Bapak, Dewangga, dan Mas Khalid maka buku Laut Pasang 2 ini akan menceritakan seseorang yang dicari-cari dan sempat hilang.

Sama seperti dua novel sekuel sebelumnya, novel Laut Pasang 2 menceritakan mengenai kehilangan, kesedihan, dan perih karena kehilangan seseorang yang dicintai. Tema kehilangan ini digarap dengan sangat mendalam, menggambarkan bagaimana para karakter berusaha mengatasi rasa sakit dan berjuang untuk menemukan makna dalam hidup mereka setelah kehilangan besar. Kehilangan itu menyakitkan, namun novel ini mengajarkan bahwa hidup masih harus berlanjut dan setiap individu harus berusaha menjalani sisa hidup mereka dengan baik dan penuh harapan, meskipun dibayangi oleh kenangan dan rasa duka.

Laut Pasang 2

button cek gramedia com

Buku Laut Pasang 2 dengan 320 halaman ini akan membawa kamu kepada kelanjutan kisah dari anggota keluarga yang selamat dari musibah tersebut. Dalam buku ini, pembaca akan diajak menyelami lebih dalam kehidupan dan perjuangan karakter-karakter yang sebelumnya telah dikenal, menyaksikan bagaimana mereka berusaha bangkit dari keterpurukan dan mencari cara untuk merangkai kembali kehidupan yang hancur. Nah, sebelum kamu membeli dan membaca buku ini, berikut ini adalah ulasan dan sinopsis mengenai Laut Pasang 2, yang akan memberikan gambaran lebih lengkap tentang apa yang bisa diharapkan dari novel penuh emosi ini.

Sinopsis Buku Laut Pasang 2

Laut Pasang 2

button cek gramedia com

Perihal kematian hanya Tuhan yang tahu. Namun, jika kehilangan karena kematian terus-menerus dihadapkan. Siapa yang berani berteriak ‘ikhlas? Gelombang tsunami merenggut lima raga tanpa permisi, berpura pura berterima atas kehilangan adalah hal yang harus Bapak, Khalid, dan Dewangga jalani.

Bapak rela masuk TV berkali-kali, bertanya pada pelanggan di warung, tetangga, membaca berita setiap hari, dan hanya berharap bahwa Bapak mendapatkan informasi untuk mencari Apta. Hingga suatu waktu datang sebuah surat yang membuat Bapak sadar jika raga yang hilang yaitu Apta masih hidup.

Banyak emosi menyeruak atas tragedi yang terjadi, tetapi tidak ada satupun manusia yang tahu jika Apta selalu berkelahi dengan pikirannya sendiri. Raganya memang belum mati namun di kepalanya hanya ada dua pilihan tetap tinggal atau kembali. “Bu, Apta mau pulang…”

Apta Bayuaji Cokroaminoto.

Nama yang tercatat pada daftar pasien salah satu rumah sakit di Surabaya, adalah satu dari sekian banyak korban Tsunami Banyuwangi pada 03 Juni 1994. Apta yang waktu itu mengalami luka parah harus dilarikan ke rumah sakit di Surabaya. Setelah beberapa hari mengalami koma, ia mengalami gangguan ingatan parsial yang membuat lelaki itu tampak begitu menyedihkan. Sendirian di kota orang dengan ingatan yang tidak sempurna membuat penderitaannya semakin lengkap.

Namun, Tuhan memang Maha Adil. Sebesar apapun kesulitan yang dihadapi hamba-Nya, cepat atau lambat akan dibayar dengan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Dan Apta merasakan itu semua.

Dalam kesedihan dan rasa sakitnya, Tuhan menghadirkan Anjani, seorang perawat yang sekarang ia panggil dengan sebutan Ibu. Anjani datang membawa sebongkah harapan baru untuknya agar tetap kuat melanjutkan hidup. Tidak seperti kehidupan masa lalunya yang penuh rasa sakit dan luka batin, di kehidupan Apta yang sekarang ia benar-benar bersyukur karena Ibu Anjani tidak pernah membuatnya merasa tertekan ataupun kesulitan. Justru setelah berbulan-bulan tinggal bersamanya, Apta bisa menemukan kehangatan baru yang sekilas pernah ia rasakan dulu. Di mana? Entahlah, Apta tidak ingat.

Di Balik Pena: dr. Andreas Kurniawan Berbagi Tutorial Melalui Duka dan Mencuci Piring

Akankah Bapak berhasil membawa kembali Apta kedalam dekapannya? atau Apta justru melupakannya dan tetap bersama dengan Ibu Anjani?

“Rindu kepada orang yang sudah tiada jauh lebih menyesakkan dada. Sekeras apapun doa yang dilangitkan dari bumi, keberadaannya tak akan pernah kembali.”

Profil Penulis Buku Laut Pasang 2

Lilpudu adalah seorang penulis yang mengawali karirnya melalui platform digital menulis yaitu Wattpad. Penulis yang sering dipanggil “Teh Rin” ini telah melahirkan 5 cerita di Wattpad, yakni Dari Ayah Untuk Abang, Tinta Terakhir, Laut Pasang 1994, Laut Pasang 2 1994, Dierja Gentala 1997, dan Merayakan Kesedihan. Lilpudu terkenal suka menulis dengan cerita yang sad ending.

Kisah-kisah yang dituliskan Lilpudu atau Airinda Nanda ini sukses menarik hati banyak orang, dibuktikan dengan jumlah followers akun Wattpad-nya yang bernama @Lilpudu, yang mencapai 54 ribu pengikut.

Bagi Grameds yang ingin mengenal sosok Lilpudu lebih dekat, bisa mengikuti karya-karyanya di Wattpad dan mengikuti akun Instagram bernama @lilpuduuuu. Jangan lupa untuk membeli karya tulis Lilpudu lainnya sebagai awal dari cerita Laut Pasang 2 yaitu Laut Pasang 1994 dan Merayakan Kesedihan.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Laut Pasang 2

Laut Pasang 2

button cek gramedia com

Pros & Cons

Pros
  • Alur ceritanya membuat pembaca ikut masuk dalam cerita dan merasakan kesedihan.
  • Menggunakan 2 sudut pandang yaitu sudut pandang Apta dan Bapak serta Khalid dan Dewangga
  • Terdapat Ilustrasi yang menarik
  • Gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami
  • Teknis buku yang rapi dan font tulisan yang pas
Cons
  • Pembaca harus mengikuti cerita dari awal buku pertama dan kedua agar seluruh rangkaian cerita didapat dipahami

Kelebihan Buku Laut Pasang 2

Laut Pasang 2

button cek gramedia com

Kelebihan buku Laut Pasang 2 ini adalah dari alur ceritanya yang dilanjutkan dari dua buku sebelumnya. Pada buku ini diceritakan mengenai Apta, anak yang hilang akibat musibah yang terjadi di kotanya yang juga menimpa keluarganya. Tentu alur cerita pada buku ini adalah kelanjutan dari buku-buku sebelumnya.

Keunikan setiap buku karya Lilpudu ini memang berbeda, jika pada buku Merayakan Kesedihan terdapat 3 sudut pandang dan versi dari masing-masing tokoh namun pada buku ini Laut Pasang 2, menggunakan 2 sudut pandang yaitu sudut pandang Apta dengan Bapak dan sudut pandang Khalid dan Dewangga. Pada bagian Apta, ia berusaha mengembalikan ingatannya dan ingatannya dari Bapak. Sedangkan bagian Mas Khalid dan Dewangga yang berargumen, apakah benar Apta masih ada?

Terdapat ilustrasi yang mendukung visual dari jalan cerita dalam imajinasi pembaca. Ada ilustrasi mengenai list milik Bapak mengenai apa saja yang ingin dilakukan bersama Apta, membuat menyentuh hati karena semakin merasakan penyesalan seorang Bapak kepada anak-anaknya.

Selain itu gaya bahasa yang digunakan oleh penulis merupakan gaya bahasa yang dapat dikatakan sederhana dan mudah dipahami. Pemilihan katanya sangat pas seakan-akan pembaca juga ikut merasakan kehilangan seperti apa yang Bapak rasakan, bagaimana usaha dan ketulusan Bapak mencari Apta sangat menyentuh dan membuat pembaca ikut merasakan perjuangan seorang Bapak.

Selain itu untuk masalah teknis, buku ini memiliki font yang pas untuk dibaca yaitu tidak kekecilan atau kebesaran maka pembaca dapat menikmati dengan baik cerita yang disajikan penulis.

Kekurangan Buku Laut Pasang 2

Laut Pasang 2

button cek gramedia com

Buku Laut Pasang 2 merupakan buku ketiga dari seri yang dimulai dengan buku pertamanya berjudul Laut Pasang yang terbit pada tahun 1994, diikuti oleh buku keduanya yang berjudul Merayakan Kesedihan. Setiap buku dalam seri ini membawa pembaca melalui perjalanan emosional yang mendalam, menggali lebih dalam kisah hidup dan perkembangan karakter-karakter yang telah diperkenalkan sejak awal. Dengan latar belakang cerita yang kaya dan alur yang kompleks, penulis berhasil menyusun narasi yang saling berhubungan dan mengikat antar buku, membuat setiap volume menjadi bagian integral dari keseluruhan cerita.

Oleh karena itu, sangat disarankan bagi pembaca untuk membaca dua buku sebelumnya terlebih dahulu. Buku pertama dan kedua memberikan dasar yang diperlukan untuk memahami motivasi, hubungan, dan perkembangan karakter-karakter utama. Jika pembaca langsung melompat ke buku ketiga tanpa memahami konteks yang sudah dibangun sebelumnya, mereka mungkin akan merasa kebingungan dengan dinamika antar tokoh dan kejadian-kejadian penting yang telah terjadi sebelumnya. Dengan membaca dari awal, pembaca dapat sepenuhnya menikmati dan menghargai kedalaman cerita serta perkembangan yang terjadi sepanjang seri ini.

Penutup

Laut Pasang 2

button cek gramedia com

Nah Grameds, itulah ulasan singkat mengenai novel Laut Pasang 2. Novel ini memiliki cerita dengan pesan kehidupan yang sangat bagus. Buku ini akan mengajarkan kita untuk saling mengasihi antar anggota keluarga sehingga ketika maut memisahkan tidak akan ada penyesalan diantaranya. Novel ini sungguh membuat hati pembaca dan emosi pembacanya sangat turun dengan cerita yang menyedihkan.

Jika Grameds tertarik membaca buku Laut Pasang 2 ini, Grameds bisa mendapatkannya di Gramedia.com atau toko buku Gramedia terdekat di kotamu. Gramedia senantiasa menjadi #SahabatTanpaBatas untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku yang berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca

Penulis: Devina

 

Rekomendasi Buku Terkait

Laut Pasang 1994

Laut Pasang 1994

button cek gramedia com

Tahun 1994 adalah tahun paling menyakitkan bagiku. Bahkan, bagi warga di kampungku. Kejadian yang tak disangka kehadirannya merenggut banyak senyum dan kebahagiaan.

Aku yang keras kepala dan egois seperti Pada peristiwa 2 Juni 1994, aku mendapat balasan atas semua perbuatanku. Malam itu riuh suara air naik dengan cepat ke daratan, teriakan, jeritan, dan reruntuhan barang yang saling berbenturan. Aku bersusah payah meneriaki satu persatu nama ketujuh anak hanyut dihempas air malam itu. yang dicambuk oleh takdir.Di bawah langit malam, tubuh ini sudah kehabisan tenaga. Manusia egois sepertiku hanya bisa menangis menyesali perbuatan pecundang yang telah aku jalani bertahun-tahun. Anak-anakku tidak ada yang pulang satu pun, meski aku sudah berusaha untuk tetap membuka mata, mereka tidak pernah datang. Suaraku nyaris habis, hanya sahutan gemuruh air yang terdengar seperti ledekan di telingaku. Mereka sedang menertawakan sosok Bapak brengsek yang tengah menyesali perbuatannya.

 

Laut Sebelum Pasang

Laut Sebelum Pasang

button cek gramedia com

Tentang kebahagiaan sebelum peristiwa Tsunami 1994. Di mana keluarga Bapak Purnomo masih utuh dan penuh canda tawa setiap harinya. Meskipun ‘Bahagia’ yang disematkan di atas masih harus dipertanyakan tetapi di antara rasa sakit yang ada dalam kisah ini, rasanya tidak pantas jika dibandingkan dengan bahagia yang dirasakan oleh ketujuh putra Bapak Purnomo. Tanpa diketahui siapapun, pada tahun 1988 adalah tahun terakhir di mana senyuman dan tawa mereka bisa terdengar nyaring dibanding enam tahun kedepan yang akan mereka jalani. Momen kebersamaan itu seketika lenyap dan tidak lagi mereka temukan setelah beranjak dewasa.

 

Merayakan Kesedihan

Merayakan Kesedihan

button cek gramedia com

Mereka hilang dalam hitungan detik. suara tawa anak-anak di teras rumah malam itu akan selalu menjadi kenangan paling menyakitkan. Rasanya baru kemarin aku menghabiskan waktu, duduk bersama mereka di teras rumah sambil menyanyikan beberapa lagu untuk mengobati luka di hati kita masing-masing sudah biasa kupastikan bahwa luka yang ada di hati mereka adalah aku penyebabnya. Alunan gitar yang sesekali kumainkan, menjadi caraku untuk menebus semua kesalahanku selama ini, yang ternyata sama sekali tidak cukup menghapus kesalahanku. Penyesalan kembali datang, menghantui setiap nafas dan langkahku. Aku hampir kehilangan arah, jika saja Tuhan mengambil semuanya dan hanya menyisakan ku seorang diri. Kalau sampai itu benar-benar terjadi, aku lebih baik ikut mati daripada harus menanggung sakit yang sampai kapan pun tidak akan pernah sanggup aku lewati.

Written by Devina

Hai aku devina, bagi ku menulis adalah hal yang menarik untuk aku jalani. Dengan menulis aku bisa mengetahui banyak hal dan informasi yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Menulis juga membuatku bisa bercerita tentang banyak hal yang unik.

Kontak media sosial Instagram saya Christin Devina