in

Review Novel Happy Ending Machine Karya Adelina Ayu

Bagi para pembaca yang mencari sebuah buku yang berceritakan tentang kompleksnya kehidupan remaja secara ringan dan mudah dimengerti, novel Happy Ending Machine karya Adelina Ayu dapat menjadi pilihan yang sangat tepat. Buku dengan genre young adult ini menceritakan tentang perjalanan Shailendra, seorang mahasiswa arsitektur yang menyembunyikan identitas seksualnya. Setiap harinya Shailendra memasang topeng dan berusaha menjaga rahasia ini dari kedua orang tuanya yang homofobia serta dari lingkungannya yang tidak mendukung kaum minoritas seksual.

Namun, segala sandiwara yang dibangunnya dengan rapi seketika runtuh ketika ia bertemu dan berkenalan dengan Andra, seorang gadis yang memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan dirinya. Bersama Andra, Shailendra menemukan kebebasan, rasa sayang, dan yang paling penting adalah keberanian untuk menjadi dirinya sendiri untuk mengejar hubungannya dengan pacarnya, Arjuna.

Happy Ending Machine

button cek gramedia com

Buku dengan 320 halaman yang diterbitkan Penerbit Bhuana Ilmu Populer pada 27 Oktober 2020 ini bercerita tentang perjalanan tokoh utama yang ingin membuka dirinya kepada dunia dan orang tuanya. Sayangnya, informasi tentang penulis buku ini tidak dapat ditemukan di internet. Yuk kita langsung masuk saja ke dalam ulasan buku ini, Grameds!

Sinopsis Novel Happy Ending Machine

Happy Ending Machine

button cek gramedia com

Lampion berwarna merah. Setiap kali mengunjungi Glodok, yang pertama kali menarik perhatian mataku adalah deretan lampion berwarna merah yang tergantung di depan pintu dan atas toko. Ditambah lagi dengan pengamen yang berkeliling menggunakan kostum barongsai, memberikan suasana perayaan Tahun Baru Cina yang sangat jelas di kawasan pecinan ini. Aku memberikan selembar uang dua puluh ribu ke mulut barongsai, aku pun tersenyum saat menerima ucapan terima kasih dari mereka, kemudian melanjutkan perjalanan melewati Pasar Petak Sembilan menuju ke kompleks vihara di ujung jalan.

“Tidak masuk kuliah hari ini?” tanya Koh Hans saat melihat aku muncul di pintu kelenteng. Pengurus kelenteng tersebut menurunkan kacamata di wajahnya sebelum mengambil beberapa batang dupa kemudian ia membungkusnya dengan tisu kuning bergambar aksara China berwarna emas, dan mengikatnya dengan karet.

“Kamu bolos lagi, ya?” Aku hanya memberikan anggukan. Padahal, seharusnya dua jam yang lalu aku sudah berada di kampus untuk mengikuti kelas eksternal Kebudayaan Italia bersama Zio, teman baikku dari jurusan Arsitektur di Fakultas Ilmu Budaya. Kami berdua berusaha keras mendapatkan tempat di kelas tersebut karena dosennya dikenal murah hati dalam memberikan nilai. Namun, karena hari ini adalah hari pertama kuliah, aku memilih untuk tidak masuk dan mampir ke tempat yang biasa aku kunjungi untuk makan siang atau sekadar menghabiskan waktu bersantai di kelenteng bersama Koh Hans.

Setiap orang pasti memiliki comfort place pribadi mereka masing-masing, suatu tempat yang mereka datangi ketika segala sesuatu yang mereka hadapi tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Comfort place ayahku adalah sebuah restoran seafood yang sepi di pojok kota. Dia tidak pergi ke sana untuk menikmati ikan bakarnya yang terkenal tidak terlalu enak, tetapi untuk duduk di tepi kolam ikan besar yang ada di restoran tersebut selama berjam-jam. Ini biasanya dia lakukan ketika dia tidak berhasil menyelamatkan nyawa pasien di meja operasi.

Mengapa cinta itu harus menjadi syarat “akhir yang bahagia” untuk setiap orang?

Shailendra Avalokitesvara selama ini beranggapan bahwa akhir yang bahagia adalah hal yang tidak terjangkau bagi dirinya, sampai akhirnya ia kedatangan seorang gadis unik yang mengubah pandangannya tentang hidup, persahabatan, dan cinta.

Shailendra percaya bahwa mencintai hanya akan membawa luka. Jika harus melepaskan harapan akan sebuah akhir yang bahagia, ia akan melakukannya, walaupun dengan perasaan berat hati. Namun, semuanya berubah ketika Candrarupa masuk ke dalam kehidupannya, menunjukkan apa yang selama ini ia dambakan.

Pertemuan mereka ditakdirkan, tapi pertanyaan yang tersisa adalah, apakah kebersamaan mereka akan membawa kebahagiaan bagi keduanya? Atau akankah mereka harus berpisah untuk mencapai kebahagiaan masing-masing?

The Architecture of Love | Di balik Pena

Kelebihan dan Kekurangan Novel Happy Ending Machine

Happy Ending Machine

button cek gramedia com

Pros & Cons

Pros
  • Pemilihan tema cerita yang jarang ditemukan di Indonesia.
  • Di dalam buku ini ada pembahasan tentang budaya China.
  • Pembawaan narasi menarik.
  • Penekanan karakter sangat baik.
  • Gaya bahasa ringan.
Cons
  • Pemilihan tema yang tabu.
  • Jumlah halaman yang tebal.

Kelebihan Novel Happy Ending Machine

Happy Ending Machine

button cek gramedia com

Novel Happy Ending Machine karya Adelina Ayu memiliki beberapa kelebihan yang menjadikannya menjadi salah satu buku best seller. Awalnya pembaca pasti mengira buku ini adalah buku mainstream yang membahas tentang perjalan cinta anak remaja, setelah membaca buku ini, dugaan kamu mungkin salah. Novel Happy Ending Machine lebih dari itu, buku ini bercerita tentang homofobia dan rasa takut yang dialami oleh kaum minoritas seksual. Buku ini mengangkat tema yang cukup tabu di Indonesia sehingga novel dengan tema seperti ini cukup sulit untuk ditemukan di Indonesia.

Selain membahas tentang LGBTQ+ buku ini juga memberikan pengetahuan tentang budaya China dan Buddhist, terutama tentang Ciam Si. Tradisi kuno orang China untuk meminta nasib atau peruntungan setiap akhir tahun, jendela wawasan yang baru akan terbuka untuk para pembaca yang membaca buku ini terutama tentang budaya-budaya China.

Pembawaan narasi dalam novel Happy Ending Machine ini juga sangat bagus, pembaca akan diajak naik roller coaster emosional ketika membaca buku ini. Rasa sedih, gregetan, perasaan lega, semua perasaan itu akan pembaca rasakan ketika membaca buku ini. Penekanan karakter dalam buku ini juga sangat bagus, penulis berhasil membuat karakter dalam buku ini hidup dan terhubung secara emosional dengan pembaca.

Kelebihan selanjutnya, gaya bahasa yang digunakan juga cukup ringan, sehingga pembaca tidak mengalami kesulitan untuk menangkap semua alur cerita dalam buku ini. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, dari point of view Andra dan Shaien, perasaan mereka dapat tersampaikan dengan baik.

Kekurangan Novel Happy Ending Machine

Happy Ending Machine

button cek gramedia com

Jika di atas tadi sudah dibahas tentang kelebihan novel Happy Ending Machine, bagian ini akan menyampaikan beberapa kekurangan dari buku ini. Dalam salah satu kelebihan buku ini ada kelebihan yang menyebutkan kalau tema dari buku ini jarang digunakan di Indonesia, karena tema yang diangkat dalam buku ini dianggap hal yang tabu di Indonesia. LGBTQ+ dianggap masih tabu untuk Indonesia sehingga buku dengan tema seperti ini mungkin tidak cocok untuk beberapa pembaca yang memiliki prinsip berbeda. Mungkin bagi para Grameds yang tidak cocok dengan buku yang mengangkat isu LGBTQ+, akan terasa aneh dan tidak biasa saat membacanya.

Selain pemilihan tema yang cukup tabu, jumlah halaman dari novel Happy Ending Machine juga terbilang cukup banyak, dengan jumlah halaman sebanyak 320 halaman buku ini tidak bisa dijadikan buku yang selesai dengan sekali duduk. Pembaca yang tidak memiliki banyak waktu luang untuk membaca buku menjadi kurang tertarik untuk membeli novel bergenre romansa ini.

Pesan Moral Novel Happy Ending Machine

Happy Ending Machine

button cek gramedia com

Melalui cerita dalam novel ini, pembaca diberikan pemahaman tentang cinta yang bisa hadir dalam berbagai bentuk dan rupa, serta roman tidak selalu tentang dua orang yang jatuh cinta lalu hidup bersama dengan bahagia selamanya. Roman sebagai genre adalah konsep yang abstrak dan roman sebagai kata memiliki konsep yang lebih luas lagi. Terkadang, roman berkaitan dengan idealisasi seseorang. Hal ini mendorong kita untuk lebih terbuka dalam memahami dan mendefinisikan cinta dalam kehidupan kita, tidak hanya sebagai perasaan antara dua orang, tetapi juga sebagai pengalaman yang lebih luas dan lebih mendalam.

Nah Grameds, itu dia sinopsis, ulasan, dan pesan moral dari novel Happy Ending Machine karya Adelina Ayu. Yuk kita baca kelanjutan cerita ini dengan mendapatkan novel ini di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

 

Rekomendasi Buku

The Name of The Game

The Name Of The Game

button cek gramedia com

The Name of The Game; ringan, menghibur, dan tidak memaksa. Kalau kamu butuh hiburan yang bukan sekadar bacaan sambil lalu, ini adalah pilihan yang tepat! Membuatmu ikut senang, kesal, sedih, hingga terharu. Adelina Ayu mengajak pembaca untuk ikut berteman dengan Zio, Daryll, dan Flo. Ringan bukan berarti kosong. Banyak pesan yang mungkin tidak kamu sadari, tapi bisa mengubah cara pandang dan berpikirmu, mulai dari hal kecil. Jadi, kamu Team Zio atau Daryll?

Buku novel the Name of the Game ini bercerita tentang tiga mahasiswa UI, yaitu Zio, Daryll, dan Flo. Zio dan Daryll merupakan senior kampus dan sudah berteman sejak SMP, kini mereka berada di satu kampus dengan jurusan yang berbeda. Berbeda dengan Flo yang merupakan mahasiswa baru jurusan Sastra Prancis dan kenal akrab dengan kedua seniornya itu. Ketiga mahasiswa ini menjalin hubungan yang menarik dan kelak akan membawa banyak kenangan indah mulai dari persahabatan, cinta hingga identitas diri.

Hold On, It Hurts

Hold on, it Hurts - Happy Version

button cek gramedia com

Anindia sama sekali tidak menyangka kalau setelah bertahun-tahun berpisah dari Jeandra, keduanya akan kembali dipertemukan melalui perjodohan yang mengharuskan mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Anin kira, dirinya akan baik-baik saja. Namun ternyata, melibatkan diri dengan Jeandra membuat kehidupannya semakin hancur dan membuatnya sadar kalau sejak dulu, harusnya Anindia memilih untuk kabur. Akankah ada kesempatan kedua untuk hubungan keduanya?

Bagi seorang wanita cerdas yang berprofesi sebagai dokter profesional, Anindia mengharapkan sebuah pernikahan yang akan berlangsung seumur hidup. Namun, ketika kenyataan mengatakan bahwa Laksamana Jeandra Galuhpati, sang mantan kekasih yang akan menjadi suaminya, Anindia seharusnya sudah paham bahwa kehidupan pernikahannya tidak akan berjalan dengan baik-baik saja.

 

Eccedentesiast: Happy Version

Eccedentesiast Happy Version

button cek gramedia com

Kalau banyak remaja ingin menjadi kaya dan hura-hura, tapi tidak dengan Canva Narendra. Cita-citanya hanya satu, “Mau peluk Mama sama Papa. Anva sayang dan rindu banget sama mereka.” Sejak itulah, ia melakukan apapun, termasuk belajar yang luar biasa dan mendapatkan penghargaan agar diperhatikan oleh orangtuanya. Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, Canva ditemani oleh sahabat-sahabat dekatnya yang terbentuk dalam suatu geng bernama Geng Diamond, dan seorang gadis tunanetra, Aily.

Namun, kehadiran Zayyan Abrisam, musuh di masa lalu Canva, membuat hari-hari Canva semakin kacau. Ambisi untuk menang dalam meraih penghargaan olimpiade, bisa pupus. Pun, harapan untuk diperhatikan dan bertemu dengan orang tuanya, juga akan sama. Satu hal lagi, kehadiran seorang cowok bernama Venus, juga turut andil membuat masalah dalam hidup Canva semakin pelik. Apalagi, karena ambisinya, Canva divonis gagal ginjal kronis. Apakah Canva mampu untuk mewujudkan mimpi-mimpinya? Atau, kesehatan lebih dulu merenggut apa yang ia cita-citakan? Atau… keajaiban muncul di tengah kefrustrasian hidupnya?

Sumber:

  • https://www.goodreads.com/en/book/show/55668378

Written by Adila V M