in

Review Novel The Nightingale Karya Kristin Hannah

The Nightingale – Kisah-kisah berlatar sejarah perang memang punya daya tariknya sendiri. Apalagi, kalau kisah tersebut dikemas dalam novel dengan alur cerita yang mengalir dan bahasa yang enak dibaca. Rasanya, saat membacanya, kita seolah bisa menyelusup ke ruang dan waktu di sana, mengilhami perjuangan tokoh-tokoh di dalamnya, bahkan sesekali turut terbawa emosi yang dibangun penulisnya.

Begitulah The Nightingale karya Kristin Hannah mengajak kita menyelami era Perang Dunia II, dengan cerita yang menggugah jiwa. Kristin Hannah, novelis asal Amerika Serikat, berhasil menggambarkan keberanian dan perjuangan perempuan-perempuan Prancis selama Perang Dunia II secara apik lewat novel ini.

The Nightingale adalah salah satu novel fiksi sejarah karya Kristin Hannah yang laris di pasaran. Bagaimana tidak, The Nightingale bisa memberikan gambaran tentang perjuangan perempuan saat perang dunia berlangsung. Ini sesuatu yang jarang diceritakan, nih, Grameds. Sebab, dalam perang, peran laki-laki biasanya lebih disoroti, kan. Penasaran dengan The Nightingale? Yuk, simak review singkatnya.

 

Mengenal Penulis The Nightingale Lebih Dekat

Sumber: kristinhannah.com

 

Kristin Hannah adalah seorang penulis Amerika Serikat yang lahir pada tanggal 25 September 1960 di California. Ia telah menulis lebih dari dua puluh novel, beberapa di antaranya menjadi buku best seller.

Hannah belajar di University of Washington dan mengambil jurusan komunikasi, kemudian ia melanjutkan kuliah di University of Suget Sound dengan jurusan hukum. Barangkali tak banyak yang tahu, sebelum menjadi seorang novelis, ia sempat bekerja di perusahaan periklanan dan bahkan menjadi seorang pengacara.

Perjalanan Hannah sebagai seorang penulis tidak selalu mulus, lho, Grameds, terutama di awal kariernya. Novel pertamanya, yang ditulis bersama ibunya saat ibunya sedang berjuang melawan kanker, tidak pernah diterbitkan. Namun, ia terus berusaha dan berhasil menulis novel The Nightingale yang diterbitkan pada tahun 2015.

Nasib baik tampaknya menghampiri Hannah saat ia banting setir menjadi penulis. Novel The Nightingale sukses mendapat penghargaan “Best Historical Fiction Novel” dari Goodreads dan “Best Fiction” dari People’s Choice Award pada tahun yang sama. Selain itu, The Nightingale juga dinobatkan sebagai “Best Book of the Year” oleh Amazon, iTunes, Buzzfeed, The Wall Street Journal, Paste, dan The Week.

Hebatnya lagi, The Nightingale telah diterjemahkan ke dalam 45 bahasa dan terjual sebanyak 4,5 juta eksemplar di seluruh dunia. Ini tentu menjadikannya karya yang sukses secara komersial dan disukai oleh banyak kritikus dan pembaca, ya, Grameds.

Selain The Nightingale, karya Hannah yang juga laris adalah The Great Alone, yang diterbitkan pada tahun 2018. Novel ini juga menjadi “New York Times #1 Best Seller” dan memenangkan penghargaan “Best Historical Novel of The Year” dari Goodreads.

Hasil yang bombastis ini sebanding dengan upaya Hannah dalam melakukan riset secara serius untuk mendapatkan detail sejarah yang mendekati kenyataan dalam novelnya. Tak heran jika karyanya sangat diapresiasi oleh pembaca dan kritikus.

The Architecture of Love | Di balik Pena

 

Sinopsis dan Review Novel The Nightingale

The Nightingale adalah novel karya Kristin Hannah yang diterbitkan pada tahun 2015. Novel ini berhasil menarik perhatian kritikus dan pembaca karena memiliki narasi yang kuat, tema menarik, dan akurasi sejarah yang masuk akal. Novel ini bercerita tentang kehidupan dua perempuan Prancis yang menjadi tokoh sentral saat Perang Dunia II berlangsung.

Vianne Mauriac, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kota kecil bernama Carriveau, Prancis, menjadi tokoh utama yang dikenalkan pada awal kisah. Saat itu, Nazi dari Jerman sedang berkuasa di Prancis, dan suaminya, Antoine, ikut ditugaskan berperang melawan Nazi.

Vianne akhirnya merelakan suaminya berperang, mengurus rumah tangga dan putrinya seorang diri dalam situasi yang tidak pasti. Vianne dan putrinya harus menyaksikan dan melalui berbagai kekejian perang, juga berjuang untuk tetap bertahan hidup.

Terbayang, kan, bagaimana mencekamnya suasana saat itu? Vianne pun kerap dihadapkan dengan situasi dilematis dan mempertanyakan tentang benar dan salah. Saat membacanya, Grameds akan turut digiring untuk terbawa emosi dan dilema yang dihadapi Vianne.

Hannah memang sukses membangun jalinan cerita yang memantik rasa cemas pembaca. Ketakutan dan teror yang dialami Vianne dalam kesehariannya semasa perang pun digambarkan secara apik. Pembaca jadi sulit untuk tidak berempati dengan sosok Vianne yang harus berjuang menghadapi kerasnya hidup.

Selain Vianne, Isabelle Rossignol juga menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Berbeda dengan Vianne, Isabelle memiliki karakteristik yang suka bertualang, haus akan pengalaman yang menantang, dan merupakan seorang pemberontak.

Kepribadian Isabelle mendorongnya untuk melawan Nazi yang bertindak keji dan semena-mena di daerahnya. Berbekal jiwa pemberontaknya, ia pun bergabung dengan gerakan perlawanan dan ikut dalam jaringan penyelundup. Isabelle berani mempertaruhkan nyawanya sendiri demi negaranya dan membantu sekutu dalam berbagai misi berbahaya.

Kisah Vianne dan Isabelle sebetulnya saling terkait dan menjadi benang merah dalam jalan cerita The Nightingale, dan inilah yang membuatnya menarik. Kendati keduanya berjuang dengan cara yang berbeda, dua perempuan ini sebetulnya adalah hero di masa perang. Di dunia nyata, bisa jadi, ada banyak Vianne dan Isabelle yang jasanya dalam perang luput disorot dunia.

Kisah-kisah perang kerap kali sangat berpusat pada laki-laki. Dalam The Nightingale, kita akan melihat bahwa perempuan juga bisa berperan dan berjuang lewat cara yang berbeda-beda. Seperti Vianne yang berjuang untuk hidup dan anaknya, dan Isabelle yang mati-matian melawan Nazi demi negara.

Jangan salah, The Nightingale tidak bertujuan untuk membanding-bandingkan perjuangan keduanya atau menunjuk perempuan mana yang lebih tangguh, ya, Grameds. Justru, novel ini menekankan bahwa kekuatan ada dalam setiap perempuan, terlepas apa peran mereka dalam masyarakat. Keduanya memiliki peran mulia yang berharga.

Maka, The Nightingale cocok untuk Grameds yang senang membaca novel dengan latar belakang perang dan genre dramatis. Penyuka sejarah juga tak perlu ragu untuk membaca novel ini. Sebab, Kristin Hannah sudah melakukan riset secara mendalam terlebih dahulu agar setting dan detail sejarah di dalamnya bisa akurat.

Nah, biar Grameds biar nggak penasaran lagi dengan jalan cerita pada novel ini, yuk langsung dapatkan bukunya di gramedia.com.

 

Kelebihan dan Kekurangan Novel The Nightingale

Pros & Cons

Pros
  • Narasi yang dibangun di dalam novel sangat mengalir dan realistis.
  • Karakterisasi dalam kedua tokoh utama sangat kuat sehingga pembaca bisa merasa dekat dengan dua tokoh tersebut.
  • Novel ini mengangkat sudut pandang perempuan yang perannya kerap terlupakan dalam perang, berbeda dengan kebanyakan kisah perang lainnya yang berpusat pada peran laki-laki.
  • Riset dilakukan penulis secara serius dan mendalam agar detail sejarah yang ada di dalamnya bisa akurat dan mendekati kenyataan.
Cons
  • Jalan cerita yang dibangun cukup dramatis dan memantik kesedihan sehingga kurang cocok untuk pembaca yang tidak menyukai cerita sejarah perang yang dramatis.
  • Topik yang diangkat terlalu berat bagi mereka yang lebih suka membaca novel yang ringan.

 

Kelebihan Novel The Nightingale

Sebagai novel best seller, The Nightingale tentu memiliki kualitas yang diakui para kritikus dan pembaca. Kristin Hannah dipandang sukses menyajikan cerita berlatarkan sejarah perang dari sudut pandang perempuan, yang menegangkan sekaligus mengharukan.

Narasi yang dibangun di dalam novel ini sangat mengalir. Pembaca akan terus dibuat penasaran dengan alur cerita The Nightingale sehingga tanpa terasa, halaman demi halaman sudah terlewatkan. Rasanya seperti betulan sedang menghadapi situasi perang, lho, Grameds. 

The Nightingale memiliki dua tokoh utama, yaitu Vianne dan Isabelle, yang punya karakter kuat. Saking kuatnya, Grameds bisa saja merasa bahwa mereka adalah perempuan di dunia nyata. Begitu lihai Hannah membangun narasi yang membuat pembaca seolah bisa menyelami perasaan dan pemikiran kedua tokoh tersebut.

Kalau rata-rata kisah perang berpusat pada tokoh laki-laki, The Nightingale membawa hal yang berbeda, nih, Grameds. Novel ini menunjukkan kalau perempuan pun punya peran penting dalam perang. Hal inilah yang membuat novel ini punya daya pikat dan membuat orang-orang jadi penasaran.

Satu lagi kelebihan The Nightingale yang membuat novel ini punya kualitas yang sudah tak diragukan lagi. Riset yang dilakukan sang penulis tak main-main. Hal ini dilakukan agar detail sejarah Perang Dunia II yang ada di dalamnya akurat, jadi pembaca bisa merasakan pengalaman yang terasa nyata.

Kekurangan Novel The Nightingale

Walaupun The Nightingale punya banyak kelebihan, novel ini juga tak terlepas dari kritik dan kekurangan. Novel ini barangkali bukan ditujukan untuk Grameds yang tidak terlalu menyukai cerita yang dramatis. Sebab, di dalamnya banyak dikisahkan cerita yang memang sangat emosional dan memantik kesedihan.

Selain itu, bagi Grameds yang suka bacaan ringan, The Nightingale bukan pilihan yang tepat. Sebab, ceritanya bisa mengaduk-aduk perasaan dan bisa terasa berat bagi sebagian orang. Namun, kekurangan ini hanyalah persoalan selera semata, karena sejatinya novel ini tetap layak dinobatkan sebagai buku terlaris versi New York Times.

 

Penutup

The Nightingale adalah novel yang layak dimiliki siapa saja yang menyukai latar sejarah perang. Novel ini cocok untuk Grameds yang suka kisah menegangkan dan menyentuh hati. Lewat novel ini, Grameds juga bisa tahu bagaimana gambaran kehidupan dan peran perempuan saat perang terjadi.

Grameds pun bisa belajar banyak hal dari novel ini. Karena detail sejarah yang akurat, kita bisa baca novel sekaligus belajar sejarah, terutama soal Perang Dunia II di Prancis. Novel ini juga sarat akan pesan moral, tentang kehidupan, cinta kasih, dan perjuangan.

Itulah review dan gambaran singkat novel best seller The Nightingale karya Kristin Hannah. Bagi Grameds yang tertarik untuk membaca novel dengan tema sejarah perang seperti The Nightingale, Grameds bisa membelinya hanya di gramedia.com. Yuk, tambah wawasan kita dengan membaca buku yang menarik dan berkualitas. Segera miliki buku ini sekarang!

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

 

Nama penulis: Resna Anggria Putri

 

Rujukan:

  • https://en.wikipedia.org/wiki/Kristin_Hannah
  • https://kristinhannah.com/about-kristin-bio/
  • https://www.gramedia.com

 

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy