in

Review Buku Pressure and Pleasure Karya Agus Suwage

Pressure and Pleasure – Bagaimana cara kita memaknai sebuah karya seni? Seni menjadi salah satu hal yang dapat mewarnai kehidupan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam memahami segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup pun membutuhkan seni. Katakan saja, misalnya, seni untuk bertahan hidup, atau seni untuk melawan rasa malas.

Seni adalah buah bentuk dari pemikiran manusia. Melalui sebuah karya seni, kita dapat melihat sesuatu yang tidak nampak yang barangkali adalah curahan hati manusia, bentuk-bentuk seni diartikan sebagai ungkapan perasaan manusia.

Bagaimana cara kita membaca sebuah karya seni adalah tentang bagaimana kita memandang kehidupan. Sementara itu, dalam mengekspresikan sebuah seni dapat melalui banyak hal. Salah satunya melalui antologi penafsiran karya seorang perupa yang melibatkan enam penulis untuk menulis dan menginterpretasikan karya-karya Agus Suwage dalam bentuk kata-kata yang terhimpun dalam buku Pressure and Pleasure.

Hal ini merupakan suatu kesegaran dalam dunia seni. Cara penyampaian yang baru ini, bisa membuat banyak orang tertarik. Sebab, kita jadi tahu bahwa seni sejatinya memiliki keterkaitan dengan segala aspek, antara jenis seni satu dan jenis seni yang lainnya ternyata dapat saling berhubungan dan menciptakan sesuatu yang baru.

Buku dengan judul Pressure and Pleasure ini adalah sebuah buku kontemporer yang terinspirasi dari pameran Agus Suwage bertajuk “The Theater of Me”. Museum MACAN meluncurkan buku tersebut dengan menggandeng enam penulis tersohor Indonesia; Erni Aladjai, Eka Kurniawan, Goenawan Mohamad, Laksmi Pamuntjak, Mahfud Ikhwan, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Pressure and Pleasure merupakan sebuah buku untuk mengeksplorasi pengaruh generasi perupa dan pemikir kritis pada masanya terhadap karya dan ide sang perupa dengan menggunakan pendekatan kreatif dan menciptakan karya literatur yang terinspirasi dari karya Agus Suwage.

 

Sekilas Tentang Sang Perupa “The Theater of Me”, Agus Suwage

Agus Suwage adalah seorang perupa kontemporer terkemuka Indonesia. Laki-laki kelahiran 14 April 1959 ini tumbuh di era pergolakan sosial dan politik dalam negeri, menjelang era reformasi pada pertengahan 1990-an.

Agus Suwage lulus dari jurusan Desain Grafis di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1986. Ia pernah meniti karir sebagai seorang desainer grafis di Jakarta sebelum memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta pada tahun 1999 dan menjadi seorang perupa penuh waktu.

Karya-karya Agus Suwage pada dasarnya memuat perkara harapan dan rasa frustasi sebuah generasi yang hidup di antara kekuasaan politik dan rentannya identitas. Suwage membahas tema-tema budaya dan politik secara luas untuk membantu memahami otoritas kekuasaan yang mempengaruhi kehidupan kita.

Sebagai seorang seniman yang mulai berkarir di masa Orde Baru, lukisan-lukisan Agus Suwage banyak berbicara mengenai identitas, sosial, politik, dan budaya yang dibalut dengan humor, satir, dan parodi. Ia memiliki prinsip kerja yang sederhana, yakni untuk terus mengeksplorasi dan membiarkan gagasan untuk karyanya muncul secara natural. Baginya, yang terpenting adalah gagasannya tetap hidup.

Agus Suwage telah menciptakan potret diri untuk memahami posisinya dengan konteks sosial yang ada di sekelilingnya. Ia menyampaikan bahwa dalam pembuatan potret diri adalah upayanya untuk berlatih dan membiasakan untuk mengkritik diri sendiri.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Pameran “The Theater of Me” sendiri adalah sebuah pameran untuk menampilkan sejumlah karya penting dan bersejarah yang dibuat oleh Agus Suwage pada pertengahan hingga akhir tahun 1990-an ketika ia berada di Jakarta, serta karya-karya lainnya di periode mutakhir. Karya-karyanya dalam pameran tersebut membahas tema tentang budaya dan politik secara luas.

Agus Suwage mengadakan pameran tunggal perdananya pada tahun 1995 di Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta. Kemudian, pameran “The Theater of Me” sendiri menampilkan lebih dari 80 karya, sekaligus sebagai momentum atas hasil dari perjalanan karir sang seniman selama lebih dari 30 tahun.

Seperti prinsip kerja Agus Suwage yang menginginkan gagasan untuk terus dan tetap hidup, maka kemunculan buku Pressure and Pleasure ini adalah bentuk nyata dari prinsip Suwage. Melalui karya literatur, kita bisa tetap menikmati dan memandang karya seni serta gagasan Suwage dalam bentuk yang kreatif. Pressure and Pleasure adalah sebuah buku yang dipersembahkan oleh Museum MACAN dengan membawa perspektif alternatif dalam memahami karya seni rupa.

 

Pressure and Pleasure: Interpretasi Tulisan pada Karya Seniman Agus Suwage

Pameran tunggal “The Theater of Me” yang sukses digelar di Museum MACAN pada 4 Juni sampai 16 Oktober 2022 lalu kini menghadirkan sebuah buku antologi yang terinspirasi dari karya-karya sang perupa dalam pameran tersebut. Buku yang diberi judul Pressure and Pleasure ini melibatkan enam penulis yang sudah tidak diragukan lagi karya-karyanya.

Erni Aladjai, Eka Kurniawan, Goenawan Mohamad, Laksmi Pamuntjak, Mahfud Ikhwan, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie berusaha untuk memahami dan merespons karya Agus Suwage dalam The Theater of Me dengan menggunakan pendekatan penulisan kreatif.

Dalam proses kreatif penulisan Pressure and Pleasure ini, keenam penulis Indonesia tersebut secara bebas dapat menginterpretasikan karya Agus Suwage. Dengan begitu, konsep membaca sebuah seni menjadi lebih luas dan tidak terbatas pada hal-hal yang terstruktur saja. Buku Pressure and Pleasure menyuguhkan angin segar untuk para pembaca. Sebab, untuk menginterpretasikan karya Agus Suwage memerlukan kekayaan literatur serta memahami sejarah perpolitikan di kota tempat Suwage membuat karya-karyanya.

Agus Suwage tidak ikut campur dalam pemilihan keenam penulis yang akan mengadaptasi karyanya ke bentuk sastra. Keenam penulis tersebut dalam proses penulisan interpretasi terlebih dahulu dipicu dengan melihat karya dan judul karya dalam pameran The Theater of Me dan kemudian mereka mengolahnya sesuai dengan ketertarikan mereka dalam membuat tulisan.

Bagi para penulis, buku Pressure and Pleasure ini sendiri menjadi sebuah tantangan untuk menuangkan segala imajinasi dalam berbagai bentuk tulisan, baik itu fiksi atau pun esai. Mengingat hal ini cukup menarik, karena para penulis dibebaskan untuk menulis dalam bentuk tulisan apapun.

Goenawan Mohamad yang biasanya menulis esai, di dalam buku Pressure and Pleasure ini ia menulis fiksi. Eka Kurniawan yang terkenal dengan tulisan fiksinya justru menulis esai. Laksmi Pamuntjak melakukan wawancara imajiner antara Carkultera, anak dari Agus Suwage dan juga sang perupanya sendiri.

Penulis ternama Ziggy pun mengaku bahwa tenggat yang diberikan selama sebulan penuh untuk menulis cerpen yang diadaptasi dari karya seni rupa adalah hal pertama baginya. Ia bekerja ekstra keras untuk menyelesaikan tulisannya tersebut.

Erni Aladjai menyumbang fiksi dengan judul “Kami yang Mati Bahagia”, Eka Kurniawan menulis esai dengan judul “Kenapa Aku Begitu Jelek?”, Goenawan Mohamad mengisahkan “Manurung, Sebuah dan Beberapa Cerita (sebuah petilan)”, Laksmi Pamuntjak membuat “Rahasia Arang Dialog Carkultera Wage Sae dengan Bapaknya Dua Puluh Enam Tahun Kemudian”, Mahfud Ikhwan menulis “Setelah Hilangnya Pelukis Iman Amanullah” dan yang terakhir Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dengan cerpennya yang berjudul “Dan Telinganya Tersumbat”.

Erni Aladjai pada kesempatan tersebut mencoba untuk menggali perspektif baru dan mendalam tentang kematian. Salah satu karya Suwage yang mengingatkan pada masa pandemi dan kabar kematian yang silih berganti membuatnya berpikir bahwa akan tiba suatu saat nanti gilirannya.

Penulis Cantik itu Luka, Eka Kurniawan memilih karya Ugly Self Portraits tahun 1997 dan menuliskannya dalam bentuk esai tentang keburukan sebagai representasi dari ekspresi dan kritik diri. Sementara Goenawan Mohamad, dalam proyek adaptasi ini adalah bentuk eksplorasi baru dengan menulis fiksi pada sebuah karya perupa.

Laksmi Pamuntjak memilih karya Daughter of Democracy tahun 1996 dan seri Daughter of Democrazy tahun 1996 yang kemudian ia jadikan sebuah dialog imajiner antara Agus Suwage dan anaknya. Karena baginya, menulis fiksi kali ini adalah salah satu kemewahan yang di dalam prosesnya dihasilkan lewat perenungan tentang identitas atas sesuatu yang diwariskan, tentang kematian dan kelahiran, juga tentang harapan dan penebusan.

Mahfud Ikhwan terinspirasi dari lukisan Pressure and Pleasure pada tahun 1999 yang akhirnya dibuat menjadi judul buku. Melihat lukisan tersebut seketika mengingatkan Ikhwan pada lemari tua yang penuh sesak yang tiba-tiba memenuhi kepalanya dengan segala ingatan, pengalaman, dan obsesi yang menuntunnya menulis Setelah Hilangnya Pelukis Iman Amanullah.

Lalu yang terakhir, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dengan karya Suwage yang dipilihnya yaitu Tembok Toleransi tahun 2012 dan Social Mirrors #3 tahun 2013. Karya tersebut berhasil menarik perhatian Ziggy, karena isu konservatisme tanpa kepedulian terhadap sesama selalu menjadi tema yang diupayakan oleh Ziggy, dan baginya kedua karya dalam pameran The Theater of Me tersebut memiliki sentimen kemiripan.

Para penulis yang bergabung dalam proyek Pressure and Pleasure memberikan sudut pandangnya masing-masing dalam menafsirkan karya-karya Agus Suwage sehingga jelas ada kesan dan pemaknaan baru terhadap karya seni rupa dan sastra. Buku ini pertama kali diluncurkan pada event Ubud Writer and Readers Festival pada tahun 2022 lalu. Dan kini tersedia di offline dan online store Gramedia.

Bagi kamu yang memiliki ketertarikan dalam dunia seni dan sastra. Buku ini wajib dibaca, karena akan memberikan perspektif, wawasan, ilmu, dan tentunya pengalaman membaca yang berkesan.

Yuk, tunggu apalagi, segera dapatkan bukunya di gramedia.com, ya. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Melani Wulandari

Rujukan:

  • https://www.museummacan.org/others/pressure-and-pleasure
  • https://www.museummacan.org/exhibition/agus-suwage-the-theater-of-me
  • https://www.liputan6.com/amp/5205189/saat-6-penulis-ternama-interpretasikan-karya-seniman-agus-suwage-lewat-tulisan-fiksi
  • https://www.cxomedia.id/art-and-culture/20221108115557-24-176974/gandeng-enam-penulis-agus-suwage-terbitkan-antologi-pressure-and-pleasure

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy