in

Review Buku Convenience Store Woman

Convenience Store Woman atau Gadis Minimarket adalah sebuah novel yang ditulis oleh Sayaka Murata dengan judul aslinya berbahasa Jepang yaitu Konbini Ningen. Novel Convenience Store Woman pertama kali terbit di Jepang di tahun 2016.

Novel ini menceritakan mengenai kehidupan seorang gadis bernama Keiko yang terus menerus bekerja sambilan di minimarket selama hidupnya. Ketika di minimarket, ia diceritakan menjelma menjadi sosok yang berbeda.

Karakter Keiko memang sedikit berbeda bahkan sejak ia masih kecil. Ia dianggap tidak normal seperti anak-anak pada umumnya. Perbedaan Keiko tersebut kemudian membuat sang ibu serta adiknya merasa kesulitan. Dikarenakan perbedaan Keiko tersebut, Keiko bahkan dibawa menemui konsultan dan melakukan terapi, tetapi Keiko tidak berubah dan masih menjadi seorang wanita ‘aneh’. Namun pada suatu hari, ia tertarik untuk bekerja sambilan di sebuah minimarket.

Mengapa Keiko tertarik bekerja di minimarket? Apa keanehan dan perbedaan Keiko? Simak review singkat dan sinopsis dari novel best seller karya Sayaka Murata berikut ini.

 

Tentang Buku dan Sinopsis Convenience Store Woman

Judul Buku : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman)

Penulis : Murata Sayaka

Jumlah Halaman : 164

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tanggal Terbit : 2 Agt 2020

ISBN : SCOOPG205626

Sinopsis :

The Architecture of Love | Di balik Pena

Keiko adalah seorang pegawai paruh waktu di sebuah minimarket. Ia bekerja sebagai pegawai paruh waktu di minimarket tersebut sejak ini masih kuliah. Meskipun kini ia telah berusia 36 tahun, tetapi Keiko masih lajang dan belum pernah memiliki pengalaman berkencan.

Hal tersebut membuat Keiko menjadi bahan gosip untuk orang-orang di sekitarnya, menjadi bahan gunjingan dari orang lain membuat Keiko berpikir bahwa ia berbeda dari orang lain.

Pada suatu kesempatan, Keiko Furukura bertemu dengan seorang laki-laki bernama Shiraha yang bekerja sebagai seorang pegawai minimarket. Bedanya, Keiko adalah pegawai paruh waktu lama dan Shiraha adalah pegawai baru.

Selama keduanya saling berinteraksi, Shiraha banyak menantang ide yang dipikirkan oleh Keiko soal lingkungan sosial yang ada di sekitarnya serta membandingkannya dengan masyarakat desa.

Dari perbincangan tersebut, pikiran Keiko pun mulai terganggu dan ia mulai berpikir apakah dirinya seburuk seperti apa yang orang lain pikirkan?

 

Review Buku Convenience Store Woman

Grameds mungkin memiliki banyak teman wanita yang menggemari drama Korea, make up, fashion atau idolanya. Hal-hal tersebut dinilai wajar dan biasa karena banyak wanita dengan kegemaran yang sama.

Tetapi ketika Grameds menemukan seorang wanita yang sangat terobsesi dengan pekerjaan bahkan ketika ia hanya bekerja sambilan sebagai pegawai minimarket apa yang akan Grameds pikirkan? Apakah aneh?

Hal tersebutlah yang menjadi topik utama dalam novel Convenience Store Woman oleh Sayaka Murata. Versi terjemahan bahasa Inggrisnya pun menjadi best seller di tahun 2018. Dengan total penjualan sebanyak 650 ribu eksemplar, novel ini berhasil mendapatkan banyak penghargaan salah satunya ialah Akutagawa Prize yang ia terima di tahun 2016.

Seperti sinopsis dari novel Wanita Minimarket (judul dalam bahasa Indonesia) novel karya Murata ini bercerita mengenai seorang wanita yang berusia cukup matang yaitu 36 tahun bernama Keiko Furukura.

Meskipun telah memasuki usia matang, Keiko tak seperti kebanyakan wanita lainnya yang telah menikah, memiliki pacar atau posisi karir yang lebih menjanjikan. Keiko adalah seorang pegawai paruh waktu di sebuah combini atau minimarket.

Dikarenakan ke-abnormalannya tersebut, Keiko merasa terasingkan dan tertekan oleh stigma yang ada di masyarakat. Ia merasa tertekan untuk menjadi wanita normal seperti wanita 36 tahun yang lainnya dan didesak untuk segera menikah.

Dari karakter dan problematika yang dihadapi oleh Keiko, novel ini menyajikan beberapa masalah yang banyak dihadapi oleh masyarakat Jepang atau bahkan masyarakat Indonesia yang hidup dengan lingkungan sosial yang konservatif.

Contohnya seperti cibiran yang tak jarang didapatkan oleh beberapa wanita dengan usia matang seperti Keiko jika masih betah melajang. Bahkan karena seringnya masyarakat Indonesia menanyakan hal ini, pertanyaan dan cibiran tersebut dianggap wajar atau normal.

Tak hanya soal pernikahan, seseorang dengan usia matang atau dianggap tua dan belum mendapatkan pekerjaan tetap atau posisi karir yang bagus juga akan mendapatkan banyak pertanyaan dari orang sekitar. Hal ini bahkan menjadi konten terjadwal di setiap musim Lebaran, dikarenakan banyak orang yang menerima banyak pertanyaan sama dan terasing seperti Keiko. Grameds pernahkah mengalami hal yang sama dengan Keiko?

Mungkin persamaan inilah yang akhirnya membuat kisah Gadis Minimarket menjadi best seller di Indonesia. Latar belakang dan masalah yang dialami Keiko banyak dirasakan pula oleh masyarakat Indonesia kini. Murata menjelaskan bahwa Keiko yang terlihat berbeda dan aneh nyaman dengan dirinya sendiri, meskipun ia melajang di usia tua atau dianggap memiliki pekerjaan sepele seperti pikiran orang-orang.

Keiko nyaman menjadi dirinya sendiri, tetapi banyak orang ikut campur dan berusaha merubah diri Keiko yang sebenarnya. Meskipun ia terusik, khawatir tetapi Keiko tetap teguh pada prinsipnya.

Tentu saja, tidak hanya masalah soal melajang dan pekerjaan, Murata juga menyajikan hal-hal menarik dalam novel ini terutama tentang seorang pekerja combini atau pekerja paruh waktu minimarket.

Jika Grameds pernah mengunjungi Jepang sebelumnya, tentunya Grameds melihat banyak minimarket di setiap sudut Jepang dan sangat lazim ditemukan di sana. Jadi, tidak mengherankan bahwa ada sekitar 50 ribu minimarket yang tersebar di seluruh Jepang.

Minimarket di Jepang tak hanya menjual kebutuhan atau barang-barang sehari-hari, tetapi juga layanan percetakan, makanan siap saji dan produk yang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat lainnya.

Jadi, minimarket di Jepang dianggap sebagai salah satu jantung kehidupan masyarakat Jepang. Ketika pergi ke minimarket, Grameds mungkin hanya berkunjung sebagai pelanggan dan jarang menempatkan diri atau berpikir sebagai pegawai dari minimarket tersebut.

Grameds bisa mengetahui sisi lain dari minimarket sebagai seorang pegawai dengan membaca novel Convenience Store Woman ini. Melalui Keiko Grameds dapat melihat kehidupan dinamis dari seorang pegawai minimarket selama seharian.

Melalui novel ini pula, Murata juga turut mengungkapkan fakta menarik tentang negara Jepang yang kini tengah menghadapi krisis tenaga kerja. Hal ini dikarenakan banyak orang Jepang yang enggan memiliki anak. Akibatnya, Jepang pun kekurangan penduduk dan kesulitan mencari tenaga kerja. Hal ini ikut digambarkan dan diungkapkan pula dalam novel Gadis Minimarket.

Novel ini juga menggambarkan mengenai masalah sosial masyarakat Jepang yang hanya memiliki fokus pada status pekerjaan seseorang, menemukan pasangan dan memiliki anak. Masyarakat Jepang banyak menganggap bahwa hal-hal tersebut adalah satu-satunya cara untuk menuju kesuksesan bersosial.

 

Pros dan Cons Novel Convenience Store Woman

Pros & Cons

Pros
  • Memiliki sisi humor dalam menyampaikan kritik tentang masyarakat Jepang yang sering bersikap misoginis.
  • Menggambarkan keseharian seorang pekerja ritel minimarket secara realistis.
  • Latar, tokoh dan alur cerita yang terasa nyata membuat buku ini banyak menyentuh para pembaca.
  • Penggunaan diksi yang tepat.
Cons
  • Tidak dijelaskan mengapa Keiko sangat terobsesi dengan minimarket hingga akhir.

 

Novel yang ditulis oleh Sayaka Murata bisa dikatakan sebagai salah satu novel terbaik tentang kehidupan ‘orang biasa’. Novel ini sangat ringan dibaca, tetapi pada saat bersamaan novel ini juga sangat menyentuh dan memberi pesan dalam.

Keiko adalah kita semua yang pada usia matang tidak memiliki pencapaian seperti apa yang diharapkan oleh orang lain dan pada akhirnya merasa terasingkan. Murata tidak hanya menuliskan kisah fiksi, tetapi seolah-olah menceritakan biografi dan sosok Keiko yang benar-benar hidup.

Keseharian Keiko sebagai seorang pekerja paruh waktu di sebuah minimarket digambarkan sangat realistis. Ia adalah bintang dalam minimarket tersebut, seorang pegawai teladan yang sangat mahir mengerjakan pekerjaannya.

Realistisnya kehidupan Keiko sebagai seorang pekerja paruh waktu di minimarket mendapatkan apresiasi dari seorang reviewer di GoodReads yang rupanya memiliki pengalaman sama dengan Keiko.

Maka tidak heran, jika apa yang ditulis oleh Murata soal Keiko dianggap sangat menyentuh dan dekat. Meskipun novel ini terdengar sedikit melow, tetapi Murata juga mencantumkan beberapa humor menarik.

Humor-humor tersebut juga digunakan oleh Murata untuk menyampaikan kritiknya terhadap masyarakat Jepang yang hingga kini dianggap masih sering bersikap misoginis.

Maka dalam novel ini pula, Keiko banyak mendapatkan kritik dan salah satunya adalah dari rekan kerjanya. Seorang laki-laki dengan usia yang sama dan kondisi sama tetapi banyak mengkritik Keiko karena ia berbeda dari kebanyakan orang.

Sayaka Murata menunjukan kemahirannya dalam bercerita dengan pemilihan diksi yang tepat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan Keiko ketika ia banyak dicerca oleh orang-orang.

Dengan pemilihan diksi yang baik pula, Murata berhasil menyampaikan kisah yang seolah terasa nyata. Tak hanya soal Keiko, tetapi latar tempat serta waktu yang dipilih oleh Murata terasa sangat pas.

 

 

 

Murata menjelaskan bahwa Keiko memang terlahir aneh dan banyak pembaca menilai bahwa Keiko adalah seseorang yang mengalami autisme, tetapi hal ini tidak pernah disebutkan dalam novel Gadis Minimarket.

Asumsi tersebut mungkin sedikit meringankan kekurangan dari novel Convenience Store Woman yaitu ketika Murata kelewatan menjelaskan mengapa Keiko terobsesi dengan minimarket dan berakhir menjadi orang aneh.

Namun, kelebihan lain dari novel ini tentu saja menutupi satu kekurangan dari novel ini. Novel ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang kini sedang mengalami life quarter crisis, banyak bertanya-tanya mengapa di usia ini belum juga memiliki pencapaian seperti orang lain.

Novel ini juga cocok dibaca oleh Grameds yang memiliki pekerjaan mulia, tetapi sering mendapatkan cibiran dan dipandang sebelah mata karena masalah gaji atau posisi yang dianggap tidak tinggi.

Melalui novel ini, Murata menjelaskan bahwa apapun yang dikerjakan dengan passion, kejujuran adalah suatu hal yang mulia dan harus dihormati terlepas dari gaji atau posisi tersebut.

Murata melalui Keiko juga menekankan, selama Grameds bahagia menjalani karir saat ini meskipun masih melajang di usia matang atau sebagai pekerja paruh waktu hal itu tidak ada salahnya! Tutup kuping dan jadilah bintang dalam pekerjaan yang Grameds sukai.

Buku ini sangat menarik dan mungkin bisa meningkatkan motivasi Grameds untuk menjalani kehidupan. Jika tertarik, Grameds bisa langsung membeli buku Sayaka Murata Convenience Store Woman di gramedia.com!

 

Selain novel Gadis Minimarket, Grameds juga bisa membeli novel best seller lainnya seperti novel  Angsa dan Kelelawar atau novel Seperti Sungai Yang Mengalir. Sebagai #SahabatTanpaBatas, gramedia.com menyediakan segala kebutuhan Grameds!

Mulai dari novel best-seller, buku pelajaran, peralatan kantor dan kebutuhan lainnya! Belanja jadi lebih mudah dengan gramedia.com!

 

 

 

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

 

Penulis: Khansa

 

Sumber: 

  • https://www.gramedia.com/blog/review-buku-convenience-store-woman-gadis-minimarket/
  • https://www.goodreads.com/book/show/38357895-convenience-store-woman
  • https://www.gramedia.com/blog/novel-jepang-terjemahan-indonesia-convenience-store-woman-rilis-3-agustus-2020/

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy