in

Review Buku Intover: Sebuah Novel Penggugat Jiwa

Intover: Sebuah Novel Penggugat Jiwa – Hai, Grameds! Apakah kamu salah satu orang yang termasuk kaum introver? Kalau jawabannya ya, maka novel ini cocok sekali kamu baca. Novel “Intover: Sebuah Novel Penggugat Jiwa” karya M.F. Hazim ini adalah sebuah novel yang mengambil sudut pandang dari dunia seorang introver.

Bagaimana sebenarnya sifat yang mendominasi kaum introver? Sifat introver pada seseorang mengacu pada kecenderungan dirinya untuk lebih suka menghabiskan waktu sendiri atau lebih senang berada dalam lingkungan yang tenang daripada secara aktif berinteraksi dengan orang lain.

Orang-orang dengan sifat introver yang mendominasi ini akan lebih memiliki energi ketika mereka sendirian atau memiliki kelompok kecil orang-orang yang dekat dengannya untuk mereka berinteraksi. Introver bukan berarti anti sosial, tetapi mereka lebih nyaman berapa dalam situasi yang damai daripada dalam kerumunan atau menghadapi situasi sosial yang ramai.

Penting untuk diingat, nih, grameds! Tingkat keintrovertan dapat bervariasi dari orang ke orang, dan beberapa orang mungkin memiliki kombinasi sifat introver dan ekstrover dalam diri mereka atau dikenal dengan istilah ambivert.

Sifat introver adalah bagian alami dari kepribadian seseorang dan bukan sesuatu yang perlu “diperbaiki” atau diubah. Setiap orang memiliki preferensi sosial yang berbeda, dan baik ekstrover maupun introver memiliki kelebihan dan kontribusi unik dalam kehidupan mereka dan masyarakat secara umum.

Nah, “Introver: Sebuah Novel Penggugat Jiwa” adalah novel yang menceritakan tentang dunia seorang introver. Bagaimana mereka menjalankan keseharian mereka, pemikiran mereka tentang segala hal yang terjadi di sekitarnya hingga alasan mengapa mereka lebih senang menyibukkan waktunya untuk diri sendiri.

Lalu, bagaimana isi buku  “Intover: Sebuah Novel Penggugat Jiwa”? Yuk, langsung kita simak bersama-sama review terkait buku tersebut.

 

Profil M.F. Hazim, Penulis Buku “Intover: Sebuah Novel Penggugat Jiwa” 

  1. F. Hazim adalah penulis kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur pada 2 Mei 1993. Selain menjadi seorang penulis, Hazim juga adalah seorang ilustrator, editor lepas, dan entrepreneur. Ia juga memiliki minat pada seni lukis dan berharap suatu saat nanti bisa menjadi seorang pelukis profesional.

Hazim pernah berada di masa sulit hingga ia memutuskan untuk berhenti kuliah ketika sudah menginjak semester tujuh. Padahal tinggal selangkah lagi ia bisa meraih gelar sarjana. Alasannya karena merasa jurusan kuliah yang diambilnya tidak sesuai dengan panggilan jiwa Hazim.

Cek di Balik Pena : Baby Chaesara

Keputusannya tersebut tentu saja menimbulkan banyak cibiran teman dan orang-orang terdekatnya, namun Hazim bertekad untuk belajar menulis dan selama dua tahun setelah ia memutuskan berhenti kuliah ia betul-betul belajar menulis secara otodidak.

Beberapa kali Hazim kemudian mengirimkan naskahnya ke penerbit tapi tidak secepat mi instan. Hazim harus merasakan penolakan berkali-kali hingga akhirnya di tahun 2017, penerbit Alvabet mau menerbitkan novel berjudul introver miliknya. Sebuah novel yang terinspirasi dari kisah perjalanan hidupnya sendiri sebagai seorang introver.

Hazim mengatakan bahwa novelnya tersebut adalah upayanya dalam mendobrak stigma masyarakat bahwa hanya orang dengan kepribadian ektrover saja yang mampu mencapai kesuksesan. Padahal, beberapa pemimpin dunia adalah orang-orang dengan kepribadian introver.

Laki-laki kelahiran Sidoarjo ini mengaku sering menghabiskan waktu untuk menulis di rumah dan sering berkeliling kota tanpa tujuan untuk menemukan ide baru. Bahkan Hazim sering mengunjungi tempat-tempat asing yang belum pernah ia datangi sambil memperhatikan orang lain beraktivitas.

Sejauh ini, karya-karyanya berupa 8 buku kumpulan cerpen, 8 buku antologi puisi, 1 buku mewarnai, dan 8 buku esai, serta 1 buku bergenre inspirasi berjudul 101 Alasan untuk Bahagia yang diterbitkan oleh BIP Gramedia.

 

Review Buku “Introver: Sebuah Novel Penggugat Jiwa” Karya M. F. Hazim

Introver: Sebuah Novel Penggugat Jiwa adalah sebuah novel yang ditulis melalui pandangan seorang introver. Pembaca akan diajak untuk mengenal bagaimana orang dengan kepribadian introver menjalani kehidupan mereka. Tentang resah, gelisah, bahkan rasa gundah yang menyelimuti perasaan seorang introver.

Adalah Nawawi, anak yang dikenal pendiam yang nyaris tidak memiliki teman di sekolahnya. Mau itu di SMP atau pun di SMA. Nawawi sering menghabiskan waktu dengan membaca buku, mendengarkan musik, dan bermain game di rumah. Ia bahkan menjalani hari-hari refreshingnya dengan bersepeda sendirian menyusuri jalanan di sekitar daerahnya.

Nawawi bahkan sering membatin ketika melihat teman-temannya seperti membuang waktu hanya untuk sekadar berbisik dan berbincang, ia menganggap bahwa pekerjaan itu adalah definisi dari membuang-buang waktu. Apalagi ketika melihat teman perempuannya yang sering bergosip tentang model pakaian, tas, atau sepatu terbaru.

“Sesekali, seharusnya kalian membicarakan perdamaian dunia, global warming, masalah sosial, dan para koruptor itu,” begitu kata Nawawi dalam hatinya. Seorang introver seperti Nawawi tidak memiliki ketertarikan tentang kehidupan populer yang banyak digemari kaum remaja.

Nawawi menganggap dunia mereka terlalu berisik. Ia bahkan memiliki idealisme tinggi dan perhatian pada hal-hal yang besar. Menurutnya, dunia tidak adil terhadap orang-orang sepertinya, orang-orang introver. Sebab, katanya banyak sistem dan tata nilai kehidupan yang dibuat berdasarkan standar orang-orang ektrover.

Hingga Nawawi menyadari bahwa mendapatkan seorang teman bagi introver seperti dirinya adalah hal yang sulit. Egoisme dan enggan sekadar berbasa-basi pada orang lain menyebabkan ia kesulitan mendapatkan teman. Sampai suatu ketika, Nawawi bertemu seseorang yang berbeda.

Orang itu adalah seorang gadis yang mengerti pemikirannya sehingga memancing pikiran diam-diam namun dalam Nawawi untuk membicarakan banyak hal –sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Gadis itu bertanya pada Nawawi tentang hal-hal filosofis yang mendalam, arti kehidupan, penderitaan, sampai buku-buku dengan penulis besar.

Ternyata gadis itu adalah seseorang dengan kepribadian ambivert yang menjembatani seorang Nawawi untuk bisa lebih keluar dari kehidupan introvernya. Ambiver adalah campuran antara introver dan ekstrover, kepribadian yang mampu menyesuaikan diri menjadi introver maupun ekstrover. Gadis tersebut kemudian menjadi teman dekat Nawawi.

Lalu, apakah Gadis itu dan Nawawi akan semakin dekat atau harus berpisah? Dapatkan segera bukunya di gramedia.com.

 

Kelebihan dan Kekurangan Buku “Introver: Sebuah Novel Penggugat Jiwa” Karya M. F. Hamzi

Pros & Cons

Pros
  • Novel fiksi dari sudut pandang seorang introver, dengan begitu pembaca akan lebih mengenal bagaimana kehidupan seseorang dengan kepribadian introver.
  • Novel ini mengandung pesan bahwa kita tidak bisa hidup sendirian di dunia ini. Karena sekalipun seorang introver memiliki gagasan yang luas masih membutuhkan orang lain. dan salah satu hal mengapa orang diciptakan berbeda-beda adalah untuk saling melengkapi dan mengupayakan kehidupan itu sendiri untuk menjadi lebih baik.
Cons
  • Cerita didominasi dengan terlalu banyak deskripsi.

 

Membaca buku ini, kita akan mengenal bagaimana kehidupan seseorang dengan kepribadian intover. Sesuatu yang membuatnya tidak tenang, hal-hal yang menurutnya berisik, dan kedalaman pikiran mereka tentang peristiwa-peristiwa di sekitarnya.

  1. F. Hazim menegaskan dalam novel ini bahwa kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja, kecenderungan orang introver yang lebih tertutup, pemalu, pemurung, bahkan pendiam yang dianggap sulit menjadi orang sukses. Pandangan umum itulah yang ingin Hazim putuskan, berangkat dari dominasi kepribadiannya sebagai seorang introver ia pun melahirkan novel ini.

Dwi Suwiknyo, penulis buku “Ubah Lelah Jadi Lillah” memberikan tanggapan untuk karya novel ini. Ia mengatakan bahwa novel ini begitu kuat suasana psikologisnya. Penulis mampu menghayati karakter tokoh dengan sangat baik dan mendalam. Sampai-sampai novel ini dapat menjadi cermin bagi siapa saja yang membacanya.

Novel ini berhasil menyampaikan pesan bahwa manusia adalah benar-benar makhluk sosial, ia tidak bisa hidup sendirian selamanya. Karena sekali pun seorang pendiam memiliki gagasan yang hebat ia tetap akan membutuhkan orang lain yang bisa mengerti kedalaman pemikirannya dan bagaimana cara ia mengekspresikan perasaannya. Karena salah satu mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda adalah untuk saling melengkapi satu sama lain agar bisa memiliki hidup yang lebih baik.

Buku Introver: Sebuah Novel Penggugat Jiwa ini akan mengajak pembaca untuk menyelami pikiran seorang introver. Terdapat juga konflik batin yang menyiksa tokoh utama dalam menemukan sosok “teman” yang mengerti dirinya dan mengisi kesendiriannya untuk membuat hidupnya menjadi lebih bermakna. Sebagaimana judulnya, novel ini juga seolah curahan hati yang menggugat kaum ektrover yang menganggap kehidupan kaum introver penuh dengan kesia-siaan, membuang waktu, tak bermutu, dan tidak efektif.

Novel ini terlalu memiliki banyak deskripsi, sehingga sedikit mengganggu pembaca ditambah dengan cover yang membuat salah paham, karena beberapa pembaca mengira buku ini bukan sebuah novel. Kendati demikian, novel ini tidak hanya disarankan dibaca untuk kamu yang intover saja. Kamu yang ektrover atau ambiver juga bisa, lho!

Apalagi novel ini banyak dilengkapi dengan quote menarik yang rasa-rasanya cukup quotable dan mengena ke hati. Novel ini juga banyak mengulas tentang makna “teman” dan “kesepian” sehingga memicu banyak pertanyaan seperti “apakah setiap orang membutuhkan seorang teman? Tidak bisakah bertahan hidup jika hanya seorang diri?

Tunggu apalagi, segera dapatkan bukunya di gramedia.com, ya. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

 

Penulis: Melani Wulandari

 

Rekomendasi Buku Terkait

Quiet Impact: Tak Masalah Jadi Orang Introver

 

Dalam bukunya, Sylvia mengatakan introvert terkesan lebih jarang terlihat dibandingkan dengan ekstrovert. Hal itu disebabkan karena seorang ekstrovert lebih banyak berkomunikasi melalui telinga dan mata sehingga mereka terlihat sebagai mayoritas. Maka dari itu, di Amerika Serikat dan di beberapa negara Eropa masih memandang sebelah mata orang-orang dengan kepribadian introvert, melihat dari kultur budaya negara-negara tersebut yang dapat dikatakan sebagai “kultur ekstrovert”.

Walau begitu, tidak sedikit tokoh-tokoh hebat yang merupakan seorang introvert, seperti Bill Gates, Bob Dylan, Albert Einstein, Mark Zuckerberg, dan lain-lain. Ini menunjukan bahwa kepribadian introvert tidak menghalangi seseorang untuk menjadi sukses dan memiliki potensi besar meskipun sering dianggap remeh.

 

Diary Introvert

 

Di luar sana tidak sedikit orang yang sadar akan banyaknya perbedaan, tetapi tak mau menerima perbedaan. Di luar sana banyak orang yang ingin dimengerti, tetapi enggan untuk mengerti orang lain. Bagiku introvert itu istimewa, meski banyak anggapan yang berlawanan.

Menjadi introvert adalah sebuah anugerah yang aku syukuri saat ini. Jika aku tidak menjadi introvert, aku tak bisa memahami orang lain. Jika aku tidak interovert mungkin aku tidak tahu seperti apa diriku. Seorang introvert memang punya kelemahan, tetapi punya banyak cara menyiasati kekurangan itu menjadi sebuah kekuatan.

 

Sumber: Berbagai sumber

 

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy