in

Mengenal Denial, 5 Tahap Kesedihan, serta Cara Untuk Mengatasinya

Denial – Dalam menghadapi berbagai macam emosi negatif seperti kesedihan, duka, dan juga kehilangn bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Kesedihan yang Grameds rasakan bahkan bisa saja baru terasa hilang setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun lamanya.

Hal ini merupakan hal yang wajar, karena Grameds sedang merasakan sedih berarti Grameds sedang melalui 5 fase yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya termasuk denial.

Tiap-tiap orang bisa mengalami tahapan kesedihan dengan jangka waktu dan bentuk yang berbeda-beda. Akan tetapi, tahap-tahap kesedihan pada umumnya akan membawa seseorang untuk melalui proses yang sama, yaitu dimulai dari tahap amarah yang meluap hingga akhirnya mencapai ke tahap penerimaan.

Apa saja tahap-tahap tersebut dan pengaruhnya bagi kehidupan Grameds? Simak informasi berikut seputar denial.

PENGERTIAN LIMA TAHAPAN KESEDIHAN

denial
https://www.pexels.com

Elisabeth Kübler-Ross seorang penulis sekaligus psikiater yang berasal dari Amerika-Swiss, pada tahun 1969 mengusulkan sebuah teori yang dikenal dengan The Five Stages of Grief yang berarti 5 tahapan kesedihan. Teori ini menyatakan bahwa tiap-tiap orang mengalami 5 tahapan ketika menghadapi kesedihan.

Sebelum mengetahui lebih lanjut dari kelima tahapan tersebut, penting untuk diketahui bahwa Kübler-Ross awalnya hanya mengenalkan teori ini bukan untuk menjelaskan mengenai proses saat kita kehilangan orang yang dicintai. Teori ini memberikan gambaran mengenai kondisi pasien ketika ia mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit yang parah.

Menurut Kübler-Ross, ada lima tahapan kesedihan yang dialami oleh para pasien saat mengetahui perihal berita buruk tersebut. Tahapan-tahapan yang mereka alami yaitu penyangkalan (denial), marah (anger), menawar (bargaining), depresi (depression), dann yang terakhir yaitu penerimaan (acceptance).

Tahapan yang sama ternyata juga terjadi kepada para anggota keluarga dan juga orang-orang yang dekat dengan pasien ketika pasien meninggal. Teori ini akhirnya dipakai untuk menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa sedih selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah kehilangan orang yang ia sayangi.

kita semua pernah sedih - denial

Faktanya, menghadapi kesedihan tak sesederhana itu. Mengutip Heal Grief, kelima tahap tersebut memiliki sifat yang subjektif dan tidak dapat diterapkan kepada semua orang. Meski begitu, memahami kelimanya bisa membantu Grameds ketika menghadapi masa-masa yang sulit.

Walau belum sepenuhnya teori ini terbukti secara ilmiah, teori yang diperkenalkan oleh Kübler-Ross dapat membantu Grameds ketika menghadapi masa sulit. Mengingat bahwa tiap-tiap orang adalah pribadi yang unik dan berbeda-beda, tahapan-tahapan tersebut bisa saja tidak selalu terjadi dalam urutan yang sama persis.

Secara umum, tahap-tahap kesedihan terdiri dari:

1. Penyangkalan (Denial)

Pada tahap penyangkalan atau denial ini, seseorang lebih cenderung untuk berpura-pura tidak mengetahui atau tidak ingin mengakui bahwa ada suatu hal yang telah terjadi. Contoh denial, pasien yang telah didiagnosis memiliki penyakit parah mungkin saja akan berkata, “Hasilnya bisa saja salah, bisakah kita cek ulang? Saya tidak mungkin mempunyai penyakit seperti ini.”

Penyangkalan atau denial sebenarnya mempunyai manfaat untuk meredam emosi negatif yang datang sehingga Grameds dapat menerima permasalahan tersebut dengan perlahan. Seiring berjalannya waktu, tahap kesedihan ini akan semakin berkurang dan Grameds mulai merasakan emosi yang pada sebelumnya telah Grameds sangkal.

2. Marah (Anger)

Penyangkalan atau denial adalah salah satu upaya dari otak untuk melindungi diri, sedangkan marah adalah sebuah tahapan ketika Grameds melakukan pelampiasan atas emosi yang muncul. Pada tahap ini, Grameds bisa saja melampiaskan amarah kepada orang yang sedang berada di sekitar, benda mati, ataupun kepada diri sendiri.

Misalnya, saat Grameds putus dengan pacar, Grameds mungkin akan mengatakan hal-hal yang buruk seperti, “Saya benci dia! Bajingan itu pasti akan menyesal” Grameds pasti mengetahui bahwa kata-kata tersebut bukanlah kata-kata yang baik, tetapi Grameds juga membutuhkan waktu hingga dapat berpikir logis kembali serta mengendalikan emosi yang ada.

3. Menawar (Bargaining)

Bargaining adalah tahap kesedihan yang dapat membuat Grameds ingin memperoleh control kembali atas hidup. Grameds akan mulai mempertanyakan dan beranda-andai. Misalnya, orang yang religius mungkin akan berjanji kepada Tuhan dan diri sendiri untuk lebih sering beribadah apabila penyakitnya disembuhkan.

Saat orang terdekat Grameds meninggal, Grameds mungkin akan berkata, “Andai saja saya sempat menemuinya pada waktu itu,” dan hal-hal serupa lainnya. Meskipun terasa menyakitkan, tetapi tahap menawar dapat membantu Grameds unyuk menunda datangnya rasa sakit, sedih, dan bingung yang bermunculan.

4. Depresi (Depression)

Selama beberapa tahap awal, akan sangat wajar apabila Grameds berusaha untuk melawan semua emosi negatif. Meski begitu, emosi negatif tersebut pada akhirnya akan tetap muncul. Grameds bisa saja merasa putus asa lalu berkata, “Apa jadinya hidup saya bila tidak ada dia?” atau “Saya tidak tahu harus bagaima lagi.”

 

bacalah saat hatimu sedih - denial

Depresi merupakan tahap yang sangat sulit karena semua hal negatif seakan terkumpul pada tahapan ini, tetapi tahap ini juga bisa membantu Grameds untuk menghadapi kesedihan dengan cara yang baik. Apabila Grameds merasa kesulitan dalam menghadapiya, cobalah untuk meminta bantuan kepada seorang yang ahli atau psikolog.

5. Penerimaan (Acceptance)

Penerimaan tidak selalu berarti bahagia atau Grameds telah melupakan dan move on dengan sepenuhnya. Pada tahap penerimaan ini, Grameds mulai menerima bahwa hal buruk memang telah terjadi dan mulai untuk memahami arti dari permasalahan tersebut bagi hidup. Grameds juga bisa jadi merasa berbeda karena telah melewati perubahan dalam hidup yang cukup besar.

Misalnya, pasca kehilangan pekerjaan, seseorang mungkin akna berkata, “Kalau begitu, saya akan mencari pekerjaan baru atau mulai untuk membangun usaha.” Walau tidak mudah, penerimaan ini menandakan bahwa Grameds mulai percaya bahwa ada banyak hal yang lebih baik di luar sana.

Teori lima tahap kesedihan memanglah tidak dapat diterapkan kepada semua orang. Teori ini masih terlalu sederhana untuk memberikan gambaran mengenai kepribadian manusia yang rumit. Meski demikian, Grameds bisa mempelajari banyak hal baik di dalamnya ketika menghadapi kesedihan.

Hadapi tiap-tiap tahapan dengan perlahan dan beristirahatlah sejenak ketika semuanya membuat Grameds merasa lelah. Pada akhirnya, Grameds akan berkembang menjadi seseorang yang jauh lebih tangguh karena telah berhasil menghadapi masa-masa sulit.

Cara Jitu Untuk Mengatasi Rasa Sedih

denial
https://www.pexels.com

Merasa sedih merupakan hal yang wajar, tetapi tidak baik juga apabila dibiarkan hingga terlalu berlarut-larut. Berikut adalah beberapa cara yang baik dan sehat untuk mengusir kesedihan :

1. Akui bahwa Grameds sedang merasa sedih

Biasanya kita sering memasang senyum palsu serta berpura-pura kuat supaya tidak terlihat cengeng di hadapan orang lain. Tidak sedikit pula yang secara terang-terangan menyangkal atau tidak mau mengakui bahwa mereka sedang merasa sedih.

Padahal, penyangkalan atau denial justru akan berbalik menjadi hal yang merugikan bagi kesehatan fisik dan mental Grameds. Bayangkan apabila seluruh kesedihan yang dipendam lambat laun akan menumpuk menjadi satu seperti “bom waktu” yang bisa meledak kapan saja. Tak hanya menghancurkan diri sendiri, tetapi pada akhirnya juga akan menghancurkan orang lain yang berada di sekitar Grameds.

Nah maka dari itu, cobalah untuk mengakui bahwa Grameds memang sedang bersedih. Ingatlah bahwa kesedihan merupakan emosi dan reaksi normal bagi tiap-tiap manusia. Jadi, tidak ada yang salah apabila Grameds merasakan emosi ini. Jika perlu cobalah untuk meluapkan kesedihan Grameds dengan cara menangis. Menangis dapat membantu Grameds untuk merasa lega.

2. Renungkan permasalahan yang membuat Grameds bersedih

Setelah kondisi Grameds cukup membaik, renungkan kembali mengenai kesedihan yang Grameds rasakan. Tanyakanlah kepada diri sendiri, hal apa yang sebenarnya membuat Grameds merasa sakit dan sedih? Apakah emosi tersebut muncul perihal kehilangan atau peristiwa yang tidak menyenangkan?

Merenungkan serta memahami emosi yang Grameds rasakan dapat membantu Grameds untuk melawan rasa sedih. Walau begitu, jangan sampai menghakimi diri Grameds sendiri, ya.

Ingatlah bahwa tiap-tiap kesedihan adalah bagian dari kehidupan dan selalu ada pembelajaran dari tiap-tiap situasi yang telah Grameds alami.

3. Beri waktu

Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang dapat pulih kembali dari kesedihan mereka sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Lamanya waktu yang diperlukan tentu saja berbeda-beda pada tiap-tiap orang.

Mungkin Grameds memerlukan waktu seharian, seminggu, atau bahkan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk bisa menerima kegagalan, rasa putus asa, dan lain sebagainya. Jadi, ayo nikmati semua proses penyembuhannya.

4. Bercerita ke orang yang dipercaya

Jangan biarkan Grameds terus-menerus terperangkap di dalam rasa sedih. Tidak ada salahnya untuk beralih mencari orang yang Grameds percaya untuk sekadar mengurangi beban di hati sekaligus mencari sudut pandang lain atas masalah yang sedang Grameds alami. Grameds bisa berbagi segala keluh kesah kehidupan dengan orang tua, teman, pasangan, atau sahabat terdekat.

Orang-orang yang peduli dengan Grameds akan melakukan usaha dengan sekuat tenaga untuk menghibur serta mengalihkan pikiran Grameds dari rasa yang sedang Grameds alami. Jadi, janganlah merasa ragu dan sungkan untuk meminta bantuan ke orang-orang terdekat..

5. Jauhi berbagai hal yang dapat memicu rasa sedih

Apabila Grameds menyadari bahwa ada beberapa benda atau tempat yang mempunyai potensi untuk membuat Grameds sedih, alangkah baiknya apabila Grameds menghindari hal tersebut. Menghindari hal-hal tersebut bukanlah hal yang mudah memang. Walau demikian, Grameds tetap harus berusaha semaksimal mungkin supaya Grameds tidak berurusan dengan hal-hal yang dapa membuat Grameds kembali merasa sedih.

terima kasih, telah menyudahi sedih ini - denial

Apabila Grameds terus-menerus merasa dihantui dengan berbagai hal yang dapat memancing kesedihan, Grameds tentu tidak akan pernah merasa bebas. Kuncinya adalah; cobalah untuk mengalihkan perhatian dan pikiran Grameds kepada hal-hal lain seperti menyibukkan diri, sehingga Grameds tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang membuat Grameds merasa sedih.

6. Coba kegiatan baru

Boleh untuk merasakan sedih, tetapi jangan lupa untuk tetap membahagiakan diri Grameds sendiri. Cobalah untuk menyibukkan diri dengan mencoba melakukan semua kegiatan yang Grameds sukai atau yang belum bisa Grameds lakukan sebelumnya.

Gunakanlah kesempatan ini untuk mencoba hal-hal yang baru yang bisa membantu Grameds untuk melupakan rasa sedih. Misalnya, Grameds bisa pergi jalan-jalan ke destinasi wisata yang tidak pernah Grameds kunjungi sebelumnya. Dengan begitu Grameds bisa me-refresh kembali pikiran dan perasaan yang selama ini berantakan.

7. Mencoba menulis jurnal

Selain berkeluh kesah kepada orang-orang yang Grameds percayai, Grameds juga dapat mencurahkan seluruh isi hati serta perasaan Grameds pada sebuah tulisan. Grameds bisa membuat sebuah jurnal atau catatan harian yang berisi perihal hal positif apa saja yang berhasil Grameds lakukan serta terima pada tiap hari.

Bagi beberapa orang, menulis bisa menjadi sebuah terapi untuk mengolah emosi. Grameds juga bisa membaca kembali tulisan Grameds supaya memahami dengan lebih baik perihal kesedihan yang Grameds rasakan.

Rasa Sedih Berbeda Dengan Depresi

denial
https://www.pexels.com

Rasa sedih merupakan sebuah reaksi alami terhadap situasi yang menyebabkan rasa sakit atau yang tidak mengenakkan. Meski begitu, rasa sakit yang disebabkan oleh kesedihan pada umumnya dapat mereda seiring dengan berjalannya waktu. Setelah Grameds berhasil move on dari masalah tersebut, rasa sediha akan segera terganti dengan rasa lega dan kebahagiaan pada akhirnya.

Berbeda dengan depresi yang merupakan penyakit mental berjangka panjang. Depresi dapat memengaruhi cara Grameds untuk merasa, berpikir, serta berperilaku sehingga menjadikan Grameds terus menerus merasakan sedih. Bahkan hal ini bisa terus berlangsung selama berminggu-minggu, atau lebih dari enam bulan secara berturut-turut.

Seseorang yang mengalami penyakit mental berupa depresi juga dapat mengalami perubahan pada selera makan, pola tidur, hingga mendapatkan kesulitan untuk berkonsentrasi serta mengambil keputusan. Tak hanya itu saja, seseorang dengan kondisi ini juga lebih cenderung menutup diri serta menghindari sosialisasi dengan kerabat dekat, pasangan, atau bahkan keluarganya.

Orang dengan penyakit depresi biasanya juga menjadi kehilangan minat pada hal-hal yang dulu sangat disukainya. Depresi dapat membuat seseorang selalu merasa dihantui dengan penuh perasaan bersalah, putus asa, dan tidak berdaya. Dalam tahapan yang parah, depresi juga mampu membuat penderitanya mempunyai keinginan untuk melukai dirinya sendiri atau bahkan melakukan bunuh diri.

Atasi Rasa Sedih Dengan Konsultasi Ke Psikolog

https://www.pexels.com

Telah mencoba berbagai macam cara tetapi rasa sedih tak juga kunjung hilang? Janganlah ragu untuk berkonsultasi ke ahli atau psikolog terdekat.

Kebanyakan orang akan menganggap bahwa orang yang berkunjung ke psikolog adalah orang yang memiliki sakit mental. Padahal, tidak selalu begitu. Siapapun diperbolehkan untuk melakukan konsultasi ke psikolog demi menjaga kesehatan mental dan jiwanya.

Perlu dipahami bahwa kesehatan mental perlu diutamakan dan memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan kesehatan fisik Grameds. Jadi, tak perlu diagnosis depresi atau memiliki gangguan jiwa terlebih dahulu untuk pergi ke psikolog.

Lantas, mengapa harus ke psikolog? Ada berbagai ragam alasan kenapa Grameds sebaiknya melakukan konsultaso ke psikolog.

  1. Psikolog telah terlatih dan memiliki pengalaman untuk benar-benar mendengarkan kliennya. Melalui serangkaian pendidikan dan juga pelatihan, psikolog mempunyai kemampuan untuk mengulik akar permasalahan berdasarkan cerita yang Grameds Tak hanya itu, psikolog juga memiliki peran untuk membantu Grameds dalam menghadapi berbagai macam masalah.
  2. Psikolog adalah sosok yang netral. Seberat apa pun masalah yang sedang Grameds hadapi, psikolog tidak akan menghakimi Grameds. Ya, psikolog tak memiliki keinginan pribadi untuk membuat Grameds melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang sedang Grameds
  3. Psikolog memberikan jaminan atas kerahasiaan masalah Grameds. Psikolog adalah seorang yang ahli atau professional di bidangnya, sehingga mereka akan menjaga seluruh rahasia Grameds dengan baik. Jadi, jangan takut untuk jujur dan menceritakan apa yang sedang Grameds alami dan rassakan.

Baca juga :



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Nandy