Kuliah Sosiologi

Pengertian Stigma: Faktor Pembentuk, Jenis, Dampak dan Contohnya

stigma adalah
Written by M. Hardi

Pengertian Stigma – Dalam kehidupan ini setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Ada orang yang memiliki pemikiran positif. Dan ada juga orang yang mengalami pemikiran negatif. Mereka yang memiliki pemikiran, cara pandang, hingga kepercayaan negatif ini lebih banyak disebut dengan stigma.

Hadirnya stigma diciptakan oleh masyarakat tentang suatu yang terlihat menyimpang ataupun adanya hal aneh yang tak sewajarnya dalam kehidupan ini. Masih banyak hal-hal menarik yang bisa dibahas seputar stigma itu sendiri.

Artikel ini akan membahas semua hal yang berhubungan dengan stigma. Oleh karena itu jika memang kalian ingin tahu lebih dalam semua hal yang berhubungan dengan stigma. Tidak ada salahnya lho membaca seluruh penjelasan yang sudah tertera dalam artikel ini.

Pengertian Stigma

Pembahasan awal ini adalah pengertian dari stigma itu sendiri. Stigma adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa inggris yang memiliki arti noda atau cacat. Jika diartikan lagi maka stigma adalah sebuah ketidak setujuan masyarakat terhadap sesuatu contohnya adalah suatu tindakan atau suatu kondisi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, stigma adalah suatu ciri negatif yang ada dalam diri seseorang karena pengaruh lingkungannya.

Sedangkan menurut kementerian kesehatan, stigma merupakan suatu tindakan pemberian label sosial yang memiliki tujuan mencemari individu ataupun suatu kelompok orang dengan cara pandang yang buruk.

Stigma juga bisa diartikan sebagai suatu proses devaluasi dimensi yang dengan begitu signifikan akan mendeskripsikan seseorang. Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika stigma bisa muncul ketika masyarakat melihat sesuatu yang menyimpang ataupun aneh karena hal tersebut seperti tidak sewajarnya.

Adanya stigma terkadang juga bisa memunculkan penurunan kepercayaan diri, motivasi, penarikan diri dari lingkungan sosialnya, menghindari pekerjaan hingga kehilangan masa depan.

Pengertian Stigma Menurut Para Ahli

Setelah mengetahui pengertian stigma secara umum. Kali ini kita akan belajar bersama tentang pengertian stigma berdasarkan pendapat para ahli. Memang ada beberapa ahli yang memberikan penjelasan yang berbeda terkait dengan pengertian stigma.

Lantas siapa saja para ahli yang memberikan penjelasan mengenai stigma? Berikut adalah penjelasan selengkapnya.

1. Thesaurus

Thesaurus menjelaskan jika stigma merupakan brand, tanda ataupun suatu noda. Penggunaan kata brad di sini bisa didefinisikan sebagai nama yang telah diberikan pada suatu produk maupun layanan. Sedangkan tanda merupakan hal yang mampu membedakan simbol dan noda dapat diartikan sebagai simbol aib ataupun keburukan.

2. Jones

Jones menjelaskan jika stigma adalah suatu penilaian masyarakat tentang perilaku ataupun karakter yang memiliki nilai tak sewajarnya. Stigma juga bisa diartikan sebagai fenomena y6ang begitu kuat dan telah terjadi di masyarakat. Selain itu stigma juga berhubungan erat dengan nilai yang ditempatkan pada keberagaman aktivitas sosial.

3. Chaplin

Chaplin menjelaskan jika stigma merupakan celaan ataupun suatu catatan yang diberikan kepada karakter seseorang.

4. Goffman

Menurut Goffman, stigma merupakan suatu tanda maupun ciri pada seseorang yang membawa sesuatu yang begitu buruk dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan orang normal lainnya.

5. Mansyur

Mansyur menjelaskan jika stigma digunakan sebagai ciri negatif yang berada pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungan.

6. Scheid & Brown

Menurut Scheid & Brown, stigma bisa ada ketika seseorang diberikan labeling, stereotip, separation serta adanya diskriminasi.

Itulah beberapa pendapat para ahli tentang stigma. Secara umum pendapat tersebut mengacu jika stigma adalah suatu tanda atau ciri negatif yang diberikan seseorang.

stigma adalah

Sumber: Kompas.com

Faktor Terbentuknya Stigma

Terjadinya stigma tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang bisa memunculkan suatu stigma pada seseorang adalah sebagai berikut ini.

1. Pengetahuan

Adanya suatu stigma adalah karena kurangnya pengetahuan dalam diri seseorang terkait dengan suatu hal. Bisa dibilang jika pengetahuan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pendidikan, pekerjaan, umur, lingkungan serta sosial budaya.

2. Persepsi

Persepsi terhadap seseorang yang berbeda dari orang lain bisa menimbulkan perilaku maupun sikap terhadap orang tersebut.

3. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan juga bisa memicu timbulnya suatu stigma dalam diri seseorang. Mereka yang mendapatkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih luas pada suatu hal.

4. Usia

Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stigma seseorang. Semakin bertambah usia seseorang, maka bisa semakin berubah sikap dan perilaku dalam dirinya. Oleh karena itu biasanya pemikiran juga turut bisa berubah.

5. Kepatuhan Agama

Kepatuhan terhadap agama yang dianut juga bisa mempengaruhi sikap seseorang.

Beberapa faktor di atas bisa dibilang menyebabkan hadirnya stigma dalam diri seseorang.

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/melawan-stigma?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/melawan-stigma?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Jenis Stigma

Stigma sendiri dibagi menjadi beberapa jenis. Lalu untuk penjelasan lebih lengkap terkait dengan jenis-jenis stigma tersebut adalah sebagai berikut ini.

1. Labeling

Labeling merupakan suatu pembedaan dan juga pemberian suatu label maupun penamaan yang didasarkan atas perbedaan yang ada pada orang lain. Mereka yang diberi label dianggap tidak sama secara sosial dan ketidaksamaan tersebut terlalu menonjol jika dilihat.

2. Stereotip

Berikutnya ada stereotip yang bisa diartikan sebagai kerangka berpikir maupun aspek kognitif yang terdiri dari pengetahuan juga keyakinan akan kelompok sosial serta traits tertentu. Stereotip juga merupakan keyakinan tentang karakteristik yang berhubungan dengan suatu atribut personal miliki orang-orang dalam suatu kelompok maupun kategori sosial tertentu.

3. Separation

Ada juga jenis separator yang bisa dijadikan pemisah antara kita yang berkedudukan pihak yang tidak memiliki stigma atau pemberi stigma dengan mereka yang akan diberikan suatu stigma tersebut.

Hubungan label dengan atribut negatif tersebut akan menjadi suatu pembenaran ketika individu yang memiliki label tersebut percaya jika dirinya memanglah seseorang yang berbeda. Ketika hal tersebut terjadi, maka bisa dikatakan jika pemberian stereotip telah berhasil.

4. Diskriminasi

Diskriminasi bisa diartikan sebagai suatu perilaku yang merendahkan orang lain yang disebabkan keanggotaannya di dalam suatu kelompok. Diskriminasi juga suatu komponen behavioral tentang perilaku negatif terhadap suatu individu yang disebabkan karena individu tersebut merupakan suatu anggota dari kelompok-kelompok tertentu.

5. Pengucilan

Pengucilan dapat membuat seseorang akan merasakan keterasingan, ditolak hingga dijauhi dari pergaulan. Pengecualian ini juga membuat mereka yang memiliki stigma tersebut merasa tidak diterima dalam suatu kelompok atau orang-orang di sekitarnya.

https://www.gramedia.com/products/sosiologi-konflik-pola-penyebab-dan-mitigasi-konflik-agra?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/sosiologi-konflik-pola-penyebab-dan-mitigasi-konflik-agra?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Tipe-tipe Stigma

Ada lima tipe stigma yang dijelaskan oleh Van Barkel dalam Fiorillo, Volpe, dan Bhugra (2016). Lima tipe stigma tersebut adalah sebagai berikut ini.

  1. Public stigma yang memiliki arti kemunculan reaksi negatif masyarakat terhadap suatu hal.
  2. Structural stigma yang memiliki arti sebuah institusi, hukum ataupun perusahaan yang menolak akan suatu hal karena berpandangan negatif terhadap hal tersebut.
  3. Self stigma yang memiliki arti bentuk penurunan harga diri dan kepercayaan diri seseorang. Sebagai contoh seorang pasien HIV akan merasa tidak berharga karena banyak orang mulai menjauhi dirinya.
  4. Felt or perceived stigma yang memiliki arti seseorang yang mampu merasakan suatu stigma dalam dirinya dan karena hal tersebut dirinya takut berada di dalam suatu lingkungan komunitas.
  5. Experienced stigma yang memiliki arti seseorang yang pernah mengalami diskriminasi dari seseorang.

Lalu dalam jurnal “Stigmatisasi dan Perilaku Diskriminatif pada Perempuan Bertato”, Goffman (1963) menjelaskan jika terdapat tiga macam stigma seperti yang dijelaskan di bawah ini.

  1. Stigma berhubungan erat dengan kecacatan seseorang.
  2. Stigma berhubungan dengan kerusakan yang ada di dalam diri individu.
  3. Stigma berhubungan dengan ras, suku bangsa hingga agama.

Diluar tipe-tipe stigma seperti penjelasan di atas, ada dua macam orang yang memberikan sifat simpati kepada mereka yang mendapatkan suatu stigma.

Di antaranya adalah orang yang memiliki stigma yang sama dengan orang tersebut dan orang yang menjadi dekat dengan mereka yang memiliki stigma tersebut karena suatu situasi tertentu.

stigma adalah

Sumber: Kompas.com

Proses Terjadinya Stigma

Adanya stigma juga melalui beberapa proses. Menurut Scheid & Brown ada tiga jenis proses yang bisa membentuk satu stigma pada seseorang. Ketiga proses pembentuk terjadinya stigma adalah sebagai berikut ini.

  1. Seseorang memberikan suatu label terhadap perbedaan dalam diri orang lain.
  2. Munculnya keyakinan budaya yang dimiliki oleh seseorang terhadap karakteristik orang lain maupun kelompok lain yang bisa menimbulkan suatu stereotip.
  3. Menempatkan individu maupun suatu kelompok yang sudah diberikan suatu label kepada individu maupun kelompok lain dalam kategori yang berbeda hingga menimbulkan suatu separation. Nantinya mereka yang sudah diberikan label tersebut akan merasakan suatu diskriminasi.

Menurut Herawati, proses pemberian suatu stigma terhadap seseorang akan melalui tiga tahap. Tiga tahap tersebut adalah sebagai berikut ini.

1. Proses Interaksi

Adanya stigma pada diri seseorang bisa melalui proses interaksi. Proses interaksi di sini memiliki arti pelanggaran norma yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat yang tidak semua juga akan mendapatkan stigma dari masyarakat.

Akan tetapi mereka yang melakukan pelanggaran norma tertentu yang diinterpretasikan oleh masyarakat adalah sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang bisa memunculkan suatu stigma.

2. Proses Pendefinisian

Setelah melalui tahap interaksi yang di dalamnya ada interpretasi terhadap suatu perilaku yang seimbang. Berikutnya akan dilanjutkan ke tahap pendefinisian terhadap orang yang dianggap menyimpang oleh masyarakat.

3. Perilaku Diskriminasi

Ketika proses pertama dan kedua telah dilakukan. Selanjutnya masyarakat akan memberikan suatu perlakuan yang berbeda atau bisa disebut dengan perilaku diskriminasi.

Menurut Goffman, ada beberapa penyebab yang membuat seseorang mendapatkan suatu stigma dari orang lain. Berikut ini adalah beberapa penyebab terjadinya stigma.

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/telaah-asuhan-keperawatan-sistem-integumen-dan-menghadapi-stigma-kusta-di-masyarakat?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/telaah-asuhan-keperawatan-sistem-integumen-dan-menghadapi-stigma-kusta-di-masyarakat?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

1. Ketakutan

Ketakutan bisa dibilang sebagai faktor paling umum terbentuknya suatu stigma. Rasa takut ini bisa jadi seperti ketakutan akan tertular penyakit menular seperti kusta HIV/AIDS. Penyakit kusta memiliki ketakutan akan konsekuensi fisik yang bisa ditimbulkan dari adanya kista tersebut.

Lalu dalam kasus HIV.AIDS mungkin ketakutan akan kematian. Bisa juga ketakutan terhadap orang-orang yang diklaim berbahasa seperti mereka yang mengalami kondisi penyakit mental.

Lalu ada juga rasa takut karena adanya situasi tak terduga seperti penderita epilepsi. Adanya ketakutan bisa menimbulkan suatu stigma terhadap anggota masyarakat, petugas kesehatan atau bahkan orang yang mengalami kondisi tersebut. Yang mana mungkin saja takut bisa menular orang yang dicintai seperti anak-anak maupun anggota keluarga lain.

Kemungkinan mereka takut terhadap konsekuensi sosial jika sewaktu-waktu kondisi mereka yang sebenarnya diungkapkan. Kondisi ini juga bisa disebut dengan takut akan stigma.

Hal ini juga biasa terjadi pada mereka penderita kusta maupun NTD lain yang mana bisa menyebabkan suatu kecacatan secara permanen serta bisa menimbulkan kecemasan.

2. Tidak Menarik

Beberapa kondisi mungkin bisa menyebabkan orang merasa dianggap tidak menarik. Terutama dalam budaya yang menjadikan kecantikan luar begitu dihargai. Dalam kasus tersebut biasanya orang dengan gangguan yang terlihat pada bagian wajah seperti ulkus buruli atau kasta stadium lanjut akan mengalami kondisi ditolak karena penampilan yang mereka miliki.

3. Asosiasi

Stigma dengan asosiasi biasanya akan lebih banyak dikenal sebagai stigma simbolik. Hal ini bisa terjadi ketika kondisi kesehatan dikaitkan dengan suatu kondisi yang memang dianggap tidak diinginkan. Contohnya adalah kondisi terkait dengan pekerjaan seks komersial, penggunaan obat-obatan terlarang, lalu ada orientasi seks serta kemiskinan maupun kehilangan pekerjaan.

Selain itu ada juga kondisi yang lebih terstigmatisasi karena dihubungkan dengan kondisi lain seperti tuberkulosis yang dihubungkan dengan HIV/AIDS.

4. Kebijakan Atau Undang-undang

Berikutnya ada kebijakan terkait dengan bagaimana kondisi yang diperlakukan bisa menimbulkan suatu stigma. Hal ini biasa terlihat ketika ada pemisahan paksa ataupun perawatan orang yang terkena dampak pada lokasi yang terpisah.

Contohnya adalah klinik kusta atau klinik penyakit menular seksual yang terpisah dengan bagian lain pada suatu rumah sakit. Hari serta jam klinik khusus pada bagian rawat jalan dapat memiliki konsekuensi yang sama.

Contoh lain adalah kebijakan imigrasi atau ketenagakerjaan yang mengharuskan individu yang memiliki kondisi tertentu harus menyatakan statusnya. Hukum mungkin dianggap diskriminatif, mengizinkan perceraian dengan alasan memiliki kondisi kesehatan tertentu atau melarang orang dengan kondisi tertentu mendapatkan jabatan publik, pemilihan atau kepemilikan tanah.

5. Kurangnya Kerahasiaan

Pengungkapan suatu kondisi yang dimiliki oleh seseorang yang sebenarnya tidak mereka inginkan bisa disebabkan oleh penanganan hasil tes yang memang sengaja dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Hal ini bisa jadi memang tidak diinginkan oleh pemilik kondisi tertentu. Contohnya adalah pengiriman surat pengingat atau kunjungan pekerja kesehatan yang pada bagian kendaraannya terdapat logo tertentu yang secara tidak langsung memberitahukan kondisi penderita kepada khalayak umum.

Dampak Stigma

Konsekuensi yang ditimbulkan oleh stigma bisa dibilang begitu serius dan mungkin berakibat menghancurkan. Stigma menyebabkan kondisi kurangnya pemahaman dari orang lain. Selain itu stigma juga bisa membawa suatu konsekuensi serius seperti memicu ketakutan, kemarahan serta intoleransi yang ditujukan untuk orang lain. Adanya stigma juga akan memberikan dampak seperti penjelasan di bawah ini.

  1. Keengganan untuk mencari pengobatan.
  2. Pengobatan yang tertunda bisa mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas.
  3. Penolakan sosial, penghindaran serta isolasi.
  4. Kesejahteraan psikologi yang lebih buruk.
  5. Pemahaman yang lebih buruk diantara teman maupun keluarga.
  6. Pelecehan, penindasan dan kekerasan.
  7. Peningkatan rasa malu dan keraguan diri.
  8. Kualitas hidup yang buruk, kecacatan serta adanya peningkatan beban sosial ekonomi.

Contoh Stigma

Setelah mengetahui beberapa hal yang berhubungan stigma. Maka penjelasan selanjutnya adalah tentang contoh-contoh dari stigma. Berikut merupakan beberapa contoh stigma.

  1. Penggambaran media tentang karakter penjahat yang sering berhubungan dengan karakter penyakit mental.
  2. Stereotip yang bisa merugikan orang-orang dengan kondisi penyakit mental.
  3. Menggunakan frasa “dia gila” untuk menggambarkan seseroang dengan perilaku khusus.

Itulah ulasan mengenai stigma dan beberapa contoh stigma yang berkembang di masyarakat. Grameds bisa membaca buku-buku terkait stigma yang tersedia di Gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas Gramedia selalu memberikan produk terbaik untuk Grameds.

Penulis: Hendrik

Baca juga:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien