in

Pengertian Ghosting & Dampaknya Buat Kamu dan Dia?

Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Grameds pernah mendengarnya bukan? Ya, kalimat tersebut sering banget berseliweran di feed Instagram, beranda Facebook, kicauan Twitter, FYP Tiktok, dan media sosial lainnya.

Kalimat itu muncul untuk menggambarkan kamu yang ditinggal oleh seseorang di saat kamu sedang menyayanginya begitu dalam. Tragisnya, dia menghilang darimu tanpa kabar, tanpa penjelasan, dan tanpa ada kata pamit.

Kurang lebih seperti inilah perumpamaan yang mudah untuk menjelaskan ghosting. Ghosting artinya tiba-tiba menghilang. Akibat di-ghosting tentunya membuat dadamu terasa sesak. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa menghadapinya? Yuk, Grameds kita bahas di bawah ini.

Pengertian Ghosting

Coba Grameds pejamkan mata. Munculkan imajinasi seakan-akan Grameds mengalami kejadian di atas. Ih, amit-amit ya. Tapi kita sedang simulasi. Baik, kita fokus lagi untuk memejamkan mata. Sudahkah Grameds memahami sepenuhnya bagaimana gambaran ghosting?

Ghosting diambil dari Bahasa Inggris yang memiliki kata dasar ghost. Artinya hantu. Sementara sifatnya hantu tidak tampak padahal sebenarnya ada. Ia suka menghilang dan muncul tiba-tiba. Sehingga secara bahasa, ghosting artinya tiba-tiba menghilang.

Secara istilah, ghosting mendefinisikan sebuah sikap seseorang yang mendekatimu kemudian menghilang dari kehidupanmu tanpa ada kata perpisahan dan kata penjelasan darinya. Dia akan memutus semua akses komunikasi. Sikapnya yang menghindari dan menghilang ini yang membuatnya mirip seperti hantu.

Istilah ghosting banyak digunakan anak-anak muda untuk hubungan romansa atau percintaan. Meskipun ghosting bisa terjadi pada hubungan dalam bentuk apapun. Bisa saja hubungan persahabatan, kerja, bisnis, tugas kelompok, rumah tangga. Namun yang paling sering terjadi dalam kategori romansa selain rumah tangga karena rumah tangga telah diikat dengan komitmen sehingga kecil kemungkinan untuk ghosting.

Kita mengatakan seseorang telah melakukan ghosting tentunya tertuju pada orang yang sudah kita anggap spesial. Seseorang yang sudah memiliki posisi tersendiri di dalam hidup kita. Kita percaya padanya. Kita mulai membuka hati. Kita mulai berharap. Kita mulai nyaman. Kalau bukan yang spesial, maka tidak akan ambil pusing bukan?

Sebuah website Elle di Amerika Serikat memberikan hasil surveinya mengenai perilaku ghosting berdasarkan gender. Berikut ini hasil yang ditampilkan:

  • 33% responden pria dan 26% responden perempuan pernah melakukan ghosting dan menjadi korban ghosting.
  • 17% responden pria dan 24% responden perempuan  pernah melakukan ghosting namun tidak pernah menjadi korban.
  • 14% responden pria dan 27% responden perempuan pernah menjadi korban ghosting namun tidak pernah menjadi pelakunya.
  • 36% pria responden pria dan 24% responden perempuan tidak pernah berurusan dengan ghosting, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban.

Pada umumnya, ghosting terjadi pada orang yang baru saja saling mengenal dekat. Satu sama lain belum mengetahui seluk-beluk masing-masing. Permisalan ghosting akan kita bahas pada paragraf di bawah ini.

Kamu berkenalan dengan seseorang. Dari diskusi dan komunikasi secara singkat, kamu sudah percaya diri bahwa kamu dan dia merasakan kecocokan satu sama lain. Perkenalan berlanjut dengan interaksi yang lebih dalam. Keluar bersama. Makan bersama. Kalian berdua semangat. Chat dijawab dengan fast response. Kalian saling memprioritaskan satu sama lain. Semuanya masih indah. Kalian berinteraksi yang bisa melukiskan kenangan.

Hingga dia mengetahui dirimu lebih dalam. Tahu tentang keluargamu. Tahu kekuranganmu. Tahu kelebihanmu. Kamu mulai tertarik dengannya. Kemudian terjadi sesuatu yang aneh.

Tak ada lagi ajakan bertemu darinya. Tak ada lagi sapaan dari dia. Bahkan pesan-pesanmu tidak dijawab. Media sosialmu diblokir. Kamu tidak lagi memiliki akses untuk meraihnya. Hingga kamu mengibarkan bendera putih dan mengatakan, I quit.

gramedia obf

Bagi ghoster (pelaku ghosting), beberapa dari mereka mungkin berfikir bahwa ghosting merupakan cara yang halus untuk menyelamatkan perasaan seseorang. Apa maksudnya? Dengan menghilang sama sekali dari kehidupan seseorang, ghoster dapat menolak orang lain tanpa menyakiti.

Namun kenyataannya, ghosting justru memiliki efek sebaliknya. Ghosting bisa membuat orang bertanya-tanya tanpa memiliki jawaban apapun. Lagipula, ghosting cenderung menampilkan sikap lari dari masalah, tidak bertanggung jawab, memberikan harapan palsu, dan pengecut.

Padahal masalah seharusnya dihadapi, bukan dihindari. Kita tidak perlu lari dari kenyataan. Semakin lari menjauh dari masalah, kita akan semakin merasa bersalah. Grameds tentu nggak mau kan dihantui perasaan bersalah terus-menerus?

Luka Tapi Tidak Berdarah: Tetap Bahagia Meski Berkali-Kali Disakiti
Luka Tapi Tidak Berdarah: Tetap Bahagia Meski Berkali-Kali Disakiti

tombol beli buku

Perilaku Ghosting tentunya akan menggores perasaan dan meninggalkan luka bagi korban. Luka yang dimaksud ialah luka di hati yang tak berdarah. Buku yang ditulis oleh Anna R. Vitria ini, hadir untuk menemani bagi siapa saja yang sedang mengalami luka mendalam, termasuk di-ghosting. Tak hanya berisikan motivasi agar terlepas dari luka mendalam, buku ini tentunya akan membantu kamu untuk bangkit, melangkah ke depan, dan kuat, meskipun berkali-kali disakiti.

Penyebab Melakukan Ghosting

Kira-kira kenapa ya ada orang yang tega melakukan ghosting? Atau jangan-jangan kita sedang mengalami sebab-sebab ghosting tapi tidak merasa. Yuk Grameds, kita pelajari bersama penyebab-penyebab ghosting.

1. Tidak Ingin Menyakiti Perasaanmu

Kita kembali ke penjelasan sebelumnya. Beberapa ghoster melakukan ghosting karena tidak ingin menyakiti perasaanmu. Dengan mengatakan dia tak bisa melanjutkan hubungan yang sudah terlanjur hangat, dia akan melukai perasaanmu.

Ia takut kata-kata yang ia gunakan membuat masalah semakin runyam. Ia takut penjelasan yang ia berikan akan dianggap sebagai alasan saja.

Menghilang dengan cara tiba-tiba mungkin terasa nyaman bagi ghoster. Mereka tidak perlu ribet menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan, memikirkan momen yang tepat, dan tak perlu repot-repot berempati pada korban ghosting. Ghoster pikir, dengan melakukan itu semua masalah dapat selesai dengan cepat tanpa ada drama yang berlarut-larut.

Namun, belum tentu semuanya mulus. Bisa saja terjadi efek samping di masa depan.

2. Tidak Dapat Mengomunikasikan Keinginan untuk Mengakhiri Hubungan

Pada dasarnya, ghosting merupakan sikap penolakan, namun tanpa finalitas. Ghoster melakukan ini karena tidak bisa menemukan cara yang baik untuk memutuskan apa yang telah tersambung. Ia menggunakan ghosting sebagai cara untuk mengkomunikasikan semuanya tanpa memerlukan bahasa.

3. Tidak Ingin Menjalin Komitmen yang Serius

Seseorang yang easy come easy go, cenderung lebih mudah melakukan ghosting. Orang seperti ini biasanya tidak siap untuk berkomitmen. Maka dari itu dia hanya mencari tempat mampir, bukan tempat untuk menetap.

4. Tidak Nyaman dengan Situasi yang Sedang Dialami

Ia tidak nyaman dan memilih untuk pergi ketimbang menyelesaikan masalah yang dihadapi.

5. Menemukan Orang Lain yang Lebih Memikat Hatinya

Selama melakukan pendekatan, mungkin saja seseorang juga menemukan orang lain yang lebih memikat hatinya dibanding kamu. Di satu sisi, dia sudah terlanjur dekat dengan kamu. Tidak mau dikatakan selingkuh atau berkhianat, dia memilih untuk hilang.

6. Kata Tak Lagi Bisa Ungkapkan Semua

Pada saat tertentu, kata tidak bisa mewakili perasaan. Keadaan telah mengatakan semua. Pertanda sudah bisa mengisyaratkan bahwa hubungan ini tidak bisa diteruskan.

Dia sudah terlalu lelah menahan situasi ini. Bukan, bukan dia bermaksud jahat. Dia hanya menganggap tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan selain menghilang, demi kebaikan kalian. Jika tidak menghilang, kemungkinan situasinya akan semakin rumit.

Time heals everything. Waktu akan menyembuhkan segalanya. Mungkin waktu yang akan menjelaskan padamu mengapa dia melakukan itu.

7. Memiliki Gangguan Psikologis

Sebagian orang melakukan ghosting karena hobi, bahagia, atau kepuasan. Benar, Grameds. Ada orang yang melakukan ghosting dengan cara mendekati lawan jenis, membuat nyaman, jadi bergantung padanya, lalu pergi tanpa kabar. Dengan begitu, ia merasakan kepuasan. Ia akan mencari korban-korban baru secara terus-menerus.

Hal seperti itu tentu mengganggu hidup orang lain. Untuk masalah seperti ini, orang tersebut perlu berkonsultasi dengan ahli yang menangani kesehatan mental.

8. Terlalu Sibuk

Kehidupan seseorang yang sangat sibuk kadang menyebabkannya tidak sempat untuk menyelesaikan masalah yang menggantung. Banyaknya tuntutan dan tanggung jawab saat ini menjadikan daftar prioritas bergeser sehingga seringkali orang yang terlalu sibuk me-ghosting kamu karena kamu bukan lagi prioritasnya.

gramedia obf
Untuk Dibaca Saat Diri Merasa Patah Hati
Untuk Dibaca Saat Diri Merasa Patah Hati

tombol beli buku

Di-ghosting memanglah menyakitkan, akan tetapi jangan terlalu terbawa oleh rasa sakit itu. Buku dengan judul Untuk Dibaca Saat Diri Merasa Patah Hati akan memberikan kamu semangat, mengubah sakit hati menjadi energi positif untuk membuat lompatan besar. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya memanglah suatu penderitaan bagi seseorang, tetapi bisa saja itu merupakan awal dari kebahagiaan.

Ciri-Ciri Perilaku Ghosting

Sebelum kamu merasakan pahitnya di-ghosting, kamu perlu banget tahu ciri-ciri orang yang sedang meng-ghosting kamu. Supaya kamu tidak menjadi korbannya. Dengan mengenali ciri-cirinya, diharapkan kamu bisa mengambil langkah antisipasi.

1) Mulai sulit diajak komunikasi

Ketika kamu mengajak dia untuk komunikasi melalui chat, sms, telpon, dan sebagainya, dia menunjukkan sikap “aku tidak lagi minat denganmu”. Wujud kurangnya antusias tersebut bisa dilihat dari beberapa sikap, contohnya slow response meskipun tidak sibuk, mengabaikan pesanmu, dan pura-pura tidak tahu kalau kamu berbicara kepadanya.

2) Tidak lagi terbuka kepadamu

Jika dulunya dia banyak cerita mengenai apapun kepadamu, namun tidak lagi kini. Ia yang biasanya semangat menceritakan sesuatu, kali ini lebih banyak diam seperti orang asing satu sama lain. Bahkan beberapa ghoster bahkan sampai berani berbohong ke kamu, Grameds.

3) Membangun tembok yang tinggi untuk menciptakan jarak

Menciptakan jarak merupakan salah satu upaya untuk menjauhi secara halus. Mungkin dulu kamu dan dia tidak ada batasan, kalaupun ada sangat sedikit. Namun jika dia sudah membatasi dirinya agar tidak terlalu dekat denganmu, Grameds harus siap-siap ya.

4) Easy come easy go

Pada satu waktu dia bersikap hangat dan proaktif mendekati kamu, Grameds. Di saat yang lain dia tidak muncul saat dibutuhkan. Jangankan muncul, dihubungi saja tidak tahu rimbanya. Kita mengharapkan kehadirannya, sangat. Dan orang seperti ini memiliki sesuatu yang tak kasat mata yang bisa membuat orang lain merindukannya.

Namun yang kamu butuhkan adalah orang yang berkomitmen. Sayangnya orang yang seperti itu belum bisa terikat dengan komitmen. Dan ciri-ciri seperti ini sangat berpotensi ghosting.

5) Kurang perhatian

Jarang menanyakan kabarmu dan keluargamu. Jarang menawarkan bantuan. Jarang berinisitaif untuk kebaikanmu. Jika semua itu kamu temui ada pada seseorang yang sedang ada di dekatmu, waspadai ya.

6) Sering membatalkan janji, bahkan di saat-saat menjelang acara

Sebal banget kan kalau acara yang dijanjikan tiba-tiba dibatalkan secara sepihak menjelang dimulai? Ibaratnya sudah akan bahagia tiba-tiba dihempaskan harapanmu.

Kebiasaan membatalkan janji dengan mudahnya, apalagi menjelang acara dimulai, merupakan salah satu indikasi bahwa dia tidak segan akan meng-ghosting kamu, Grameds.

7) Menolak adanya pertemuan

Baginya, ada dan tidaknya kamu tidak berpengaruh. Karena itu dia tak mengharapkan adanya temu denganmu. Dia tidak lagi antusias saat ada ajakan untuk bertemu. Kalau kamu mengajaknya bertemu, dia akan berbelit-belit sebelum kamu berhasil mengajaknya.

Kalaupun terpaksa bertemu, dia cenderung mempersingkat pertemuan. Ia tampak tidak semangat  saat bertemu. Seringkali ia menjadi orang yang pertama berpamitan.

Untuk yang Sedang Sakit Hati, Luka Karena Cinta
Untuk yang Sedang Sakit Hati, Luka Karena Cinta


tombol beli buku

Orang yang jatuh cinta pasti akan mengalami yang namanya patah hati, termasuk si korban ghosting. Buku ini akan memberikan solusi bagi kamu yang sedang patah hati agar tetap melakukan kegiatan positif, percaya pada takdir-Nya, dan tetap bijak. Selain itu, banyak pembahasan seputar patah hati pada buku ini, penasan? Yuk, coba beli dan baca bukunya.

Dampak yang Dirasakan oleh Korban Ghosting

Ghosting bukanlah perbuatan baik.  Korban ghosting seringkali memiliki pengalaman buruk yang bisa mengganggu perjalanan hidupnya di masa depan. Oleh karena itu, Grameds perlu banget mengetahui dampaknya agar bisa melakukan langkah antisipasi.

1. Sakit Hati yang Bisa Menyebabkan Sakit Fisik

Istilah yang berbunyi sampai menangis darah mungkin tepat untuk menggambarkan ini. Sakit hati akibat di-ghosting rasanya bagaikan rasa sakit setelah kamu diangkat lebih tinggi lalu dijatuhkan dengan keras. Ya, saat pendekatan awal, kamu seakan diangkat ke langit karena terbuai oleh kebaikan-kebaikan dia. Harapan muncul.

Kemudian saat kamu berada di tempat yang tinggi, dia pergi, Kamu seakan dihempaskan tanpa ada penyangga. Rasa sakit hati memiliki jalur aktivasi yang sama dengan sakit fisik saat sistem saraf otak merespon.

Kecewa, sedih, marah, merasa tak berdaya, nyeri, ngilu, lemas biasanya akan muncul karena hati yang sakit. Itu sebabnya orang yang hati dan pikirannya sakit, cenderung memiliki penyakit dalam.

2. Merasa Bersalah dan Tidak Berharga

Orang yang menjadi korban ghosting akan bertanya-tanya mengapa dirinya ditinggal begitu saja tanpa kabar. Apakah aku telah melakukan kesalahan besar yang membuatnya tidak nyaman? Apakah aku tidak cukup baik? Atau aku tidak menghargai keberadaannya?

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Alih-alih mempertanyakan pelaku, pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih mengarah pada kekurangan diri sendiri. Sayangnya tidak ada satupun pertanyaan yang terjawab pasti karena kepada siapa pertanyaan tersebut ditujukan? Sementara dia pergi entah kemana. Tidak meninggalkan jejak sama sekali.

Rasa bersalah dan ketidakberhargaan diri akan terus menghantui. Maka seringkali korban ghosting susah untuk move on. Tidak pantas untuk siapapun. Mau maju takut salah. Mau mundur sudah pasti salah.

3. Meninggalkan Jejak Trauma

Rasa bersalah dan merasa diri tidak berharga yang terus-menerus berlangsung dapat memunculkan trauma bagi para korbannya. Traumanya seperti takut menaruh kepercayaan pada orang lain untuk menjalin hubungan baru, takut di-ghosting lagi, takut membuat orang tidak nyaman lagi (padahal belum tentu korban yang menjadi penyebabnya), takut kalau dirinya belum cukup baik, dan sebagainya.

4. Bingung dan Depresi

Tentunya kamu akan merasa bingung dengan tindakan yang dia lakukan terhadapmu. Kamu akan terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang buruk hingga akhirnya kamupun depresi. Bahkan, di waktu mendatang pun kamu akan merasa bingung, ingin menjalin hubungan lagi dengan orang baru atau memilih untuk sendiri hingga kondisi pikiranmu kembali bersahabat.

5. Merasakan Kekejaman Emosional

Disebutkan dalam jurnal penelitian yang berjudul Psychological Correlates of Ghosting and Breadcrumbing Experiences: A Preliminary Study among Adults, perilaku ghosting merupakan salah satu bentuk kekejaman emosional atau emotional cruelty.

Dianggap kejam karena meninggalkan luka yang dalam. Dari merasa kesepian hingga merasa rendah diri.

Tetap Waras, Walau Patah Hati
Tetap Waras, Walau Patah Hati

tombol beli buku

Pikiran kita akan terasa kacau apabila sedang patah hati. Bawaannya overthinking, pikiran kacau, gelisah, merasa terpuruk hingga akhirnya bisa bikin kita jadi seperti orang tak waras. Buku yang ditulis oleh Mawila Pertiwi dan Kang Sama ini, akan menemani dan mengajak kamu untuk menggunakan akal sehat walaupun pikiran lagi kacau dan terpuruk agar bisa tetep waras dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi kamu korban ghosting yang masih pengen waras, yuk, coba beli dan baca buku ini.

Cara Move On setelah Di-ghosting

Grameds, seterpuruk apapun kamu karena di-ghosting, life must go on. Hidup harus terus berlanjut. Kata bijak The Godfather of Broken Heart, Lord Didi Kempot kurang lebih mengatakan seperti ini, “Yang sudah ya sudah. Sakit hati boleh, tapi tetap harus kerja dan berkarya lho ya. Sebab hidupmu tidak bisa dinafkahi dengan tangis dan air matamu.”

Kamu harus move on, Grameds. Kamu harus bangkit dan lebih baik dibanding kamu yang sebelumya. Semakin kamu terpuruk, semakin sakit. Hidupmu harus bercahaya untuk menerangi dirimu sendiri dan sekitarmu.

Lalu gimana donk supaya bisa move on? Yuks, kita simak bersama cara agar bisa move on.

1. Berikan Waktu bagi Dirimu untuk Sembuh

Time heals everything. Waktu yang akan menyembuhkan segalanya. Nasehat ini kita bahas lagi nih, Grameds. Tapi memang benar kalau setiap orang punya waktu yang berbeda-beda agar bisa move on

Hal ini bergantung pada sedalam apa lukanya, sedahsyat apa ghosting yang diterima, seindah apa kenangan yang terbentuk, sekuat apa kamu bisa menahan perih, dan sekeras apa tekadmu untuk bangkit.

Kuncinya, berikan waktu dirimu untuk berproses. Secara perlahan namun pasti, kamu akan sembuh.

2. Apresiasi Diri untuk Setiap Kemajuan

Sembuh dari luka tentu tidak bisa langsung. Kalau tidak terluka, berarti kamu tidak menyukai atau mencintai dia sedalam itu. Jadi terluka itu wajar kan?

Kamu perlu proses. Dan setiap ada kemajuan dalam prosesmu, lakukan perayaan-perayaan kecil. Hal ini untuk mengapresiasi perjuanganmu untuk bangkit dari keterpurukan yang sulit.

3. Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Salah satu dampak dari ghosting adalah menyalahkan diri sendiri. Stop! Berhenti menyalahkan dirimu. Di satu sisi, melakukan introspeksi diri memang baik dan bisa menjadikanmu lebih baik. Meskipun ada kesalahan yang kamu perbuat, kamu tidak boleh menyalahkan diri terus-menerus.

Bagaimanapun kesalahan yang kamu perbuat, dia seharusnya tidak meninggalkan begitu saja tanpa ada penjelasan. Barangkali dia merasa kamu tidak cocok dengannya. Selera orang berbeda-beda kan, Grameds? Tentunya bukan berarti tidak ada yang cocok denganmu. Bukan berarti juga kamu tidak pantas dekat dengan siapapun. Intinya kecocokan. Jadi, berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri ya.

4. Berkumpul dengan keluarga

Seorang sahabat yang banyak merasakan kepahitan pernah berkata, “Keluarga adalah satu-satunya pintu yang masih terbuka di saat pintu-pintu lain sudah tertutup untuk kita.” Ya, seburuk apapun keadaan kita, satu-satunya yang masih mau menerima keadaan kita adalah keluarga. Cinta tanpa syarat.

Berkumpullah dan bercandalah dengan mereka. Mungkin hatimu yang sempat membeku karena dingin yang teramat sangat dapat menghangat secara perlahan.

5. Dekatkan Diri dengan Tuhan

Bagaimanapun, keimanan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap move on. Seorang penulis bernama Novi Ahimsa Rosikha atau dikenal Ahimsa Azaleav pernah menyampaikan bahwa bangkit dari patah hati merupakan sebagian dari iman.

Karena menyelamatkan diri dari ketidakberdayaan, bangkit dari ketidakbermanfaatan, bangkit dari kesedihan, merupakan upaya-upaya perbaikan diri untuk menjadi seperti yang diinginkan Tuhan. Dan agar kuat menjalani itu semua, kamu butuh banget pertolongan-Nya. Maka mendekatkan diri kepada Tuhan adalah satu cara untuk menyembuhkan segala luka yang kita rasakan.

6. Jangan Mencari Tentang Dirinya Lagi

Mencarinya atau mencari tahu tentangnya bisa membuat kamu susah move on. Masih ada harapan dalam hatimu untuk bertemu dengannya. Kalau begitu, sepertinya kamu akan susah untuk bisa bangkit. Karena yang ingat ketika mencari tahu dia adalah mengapa kamu di-ghosting.

Dia sudah bahagia dengan jalannya, maka mengapa kamu masih bersedih dengan mencari tahu tentangnya? Kamu juga berhak bahagia ya, Grameds.

7. Relakan Semuanya

Semuanya sudah terjadi. Dan pilihan terbaik untuk menghadapinya adalah dengan berdamai dengan keadaan. Semakin kita tidak terima, semakin diri kita tersiksa. Namun saat kita berdamai dengan keadaan, hati kita akan menjadi lebih lapang.

Grameds, pembahasan mengenai ghosting sebenarnya masih panjang. Mungkin jika ada kesempatan lain, kita bahas lebih lanjut. Oh ya, Gramedia senantiasa memiliki semangat untuk menjadi #SahabatTanpaBatas buat Grameds tercinta dengan menghadirkan buku-buku terbaik pilihan kami.

Psychological Tests for Teens: Check Your Mental Health
Psychological Tests for Teens: Check Your Mental Health

tombol beli buku

Penulis: Nanda Iriawan Ramadhan

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Tasya Talitha