in

Pesimis: Pengertian, Ciri, Cara Mengatasi & Dampak

unsplash.com

Pesimis – Pernahkah Grameds mendengar selama kita yakin dengan sesuatu, maka sesuatu hal itupun akan terjadi pula? Beberapa hal seperti pengembangan diri dan berbagai seminar banyak membicarakan tentang manfaat dalam berpikir positif. Tentu, karena sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kita ini dapat merasakan hasil positif, termasuk kesejahteraan dan kesehatan, dengan sifat optimis.

Namun, bagaimana dengan orang pesimis? Apakah akan merugikan dirinya sendiri? Pesimis dapat dinalogikan sebagai kecenderungan berpikir negatif. Seseorang yang pesimis mungkin akan mengidentifikasi dan fokus pada pandangan yang negatif, atau justru merugikan, dari situasi berkonsentrasi pada apa yang benar-benar terjadi.

Pengertian Pesimis

Pesimis adalah kebalikan dari sifat optimis, orang yang pesimis pasti sering menganggap diri sendiri merasa gagal dan justru curiga saat hal yang telah dikerjakan berjalan dengan baik. Berbeda dengan orang yang optimis, ia selalu berharap yang terbaik dari yang dikerjakan dan bisa mengambil hikmah ketika hal yang dikerjakan tidak sesuai harapan.

Berpikir pesimis juga dapat membuat seseorang tersebut lebih lambat merespon usaha-usaha yang dapat membantu mereka keluar dari masalah, dan justru memilih pasrah, menyangkal dan diam tidak melakukan apa apa. Sehingga pikiran pesimis ini dapat menimbulkan perasaan depresi sesorang. Ia akan cenderung menyalahkan diri, orang lain, dan lingkungan.

Gangguan Mental Akibat Pesimis

Pesimis
unsplash.com

Sebenarnya pikiran yang negatif dengan kadar yang baik tidak selalu buruk. Pesimis ini bukanlah sifat yang diinginkan banyak orang, tetapi karena pesimis sering dikaitkan dengan hal negatif, sikap yang penuh depresi dan gangguan suasana hati lainnya. Tetapi dengan tidak memaksakan optimis dan cenderung pesimis sebenarnya adalah hal yang baik, dengan ini tidak akan terjadi toxic positivity atau pemaksaan sikap optimis.

Toxic positivity akan membawa pada kerugian tersendiri, jadi terlalu optimis tidak baik tapi di lain pihak terlalu pesimis juga tidak akan baik. Namun, orang yang jatuh pada dua level ekstrem itu mungkin langka. Psikologi memandang biasanya orang-orang itu berada di antara spektrum pesimis dan optimis. Pesimis dan optimis itu seperti dua ujung jalan yang saling berlawanan maka orang-orang akan berada diantara kedua ujung jalan tesebut.

Akan tetapi jika menjadi optimis tentunya sedikit memberi manfaat. Diungkapkan dalam sebuah penelitian BMC Publich Health, bahwa pesimis dikaitkan dengan peningkatan resiko kematian akibat jantung koroner. Meski tidak ada sebuah bukti bahwa optimis akan melindungi tubuh dari penyakit, orang yang optimis biasanya cenderung menjaga diri mereka lebih baik dibandingkan dengan orang yang pesimis. Orang optimis memiliki pola makan yang sehat, lebih menyukai olahraga, maka ini akan memberi efek positif dalam kesehatan fisik dan kesehatan mental.

Pesimis

Ciri-Ciri dan Contoh untuk Mengetahui Seseorang yang Pesimis

Pesimis
unsplash.com

1. Tidak akan mengejar apa yang diinginkan, karena telah berpikir mungkin akan gagal

Ketika seseorang selalu berkonsentrasi pada hal-hal yang mungkin salah atau mungkin gagal. Apabila dia ingin melakukan sesuatu, alih-alih dia berusaha melihat cara-cara agar lebih berhasil dia lebih fokus kepada kemungkinan kegagalan. Maka orang tersebut terlalu fokus oada kegagalan, kegagalan inilah yang akan mendominasi, dan itu akan menyebabkan orang yang pesimis itu cenderung tidak akan banyak melakukan upaya mengejar keinginan. Karena sebelum dia bertindak, sebelum dia melakukan upaya yang nyata, pikiran dia sudah dipenuhi skenario bahwa apa yang akan dia lakukan itu mengalami kegagalan.

2. Merasa terkejut ketika yang dikerjakan benar-benar berhasil mencapai tujuan

Hal ini menjadi masuk akal, karena ketika orang pesimis itu memandang dunia cenderung negatif, ketika sesuatu itu berjalan positif maka dia justru malah terkejut. Sama seperti orang yang biasanya memakai kacamata yang berlensa berwarna biru misalnya. Kemudian dia melepaskan kacamatanya dan melihat ternyata ada warna-warna yang lain maka dia juga akan terkejut. Jadi orang yang pesimis itu karena dia cenderung memakai kacamata yang negatif ketika dia nanti melihat sesuatu yang positif, justru itu akan menjadikan dia merasa tidak wajar begitu atau merasa aneh.

3. Selalu fokus dalam kesalahan apa pada suatu situasi

Ketika kita melakukan sesuatu tentunya masih ada dua kemungkinan, yakni bisa benar ataupun salah, bisa berhasil atau gagal. Akan tetapi orang yang pesimisvitu alih-alih berusaha untuk memperbesar peluang berhasil atau peluang sukses dia akan fokus pada apa yang bisa salah. Kondisi ini justru pada suatu titik akan menghambat upaya dia, karena sebelum melakukan sesuatu itu seakan-akan kakinya sudah lumpuh duluan, lumpuh karena pikiran akan adanya kegagalan. Sebelum dia mencoba, sebelum dia melangkah tetapi dia sudah tidak mampu untuk melangkah karena upayanya dilumpuhkan oleh rasa pesimis.

4. Cenderung fokus pada kelemahan ataupun kekurangan diri sendiri daripada kelebihan yang dimiliki

Ketika dia memiliki lensa kacamata yang sifatnya negatif naka apa oun yang dia lihat itu akan menjadi negarif. Hal yang baik itu nampak kemudian mengecil skalanya, tapi hal yang lemah atau hal yang negatif meskipun sebenarnya tidak berukuran besar, tapi karena dia memakai lensa yang memiliki nuansa negarif naka hal negatif yang tadinya kecil itu menjadi nampak besar.

5. Berpikir bahwa resikonnya selalu lebih besar ketimbang manfaatnya

Padahal tidak demikian, walaupun sesuatunya mungkin memiliki peluang yang kecil tetapi belum tentu resikonya kemudian tidak sepadan. Seperti contoh misalkan ada statissika yang menyatakab bahwa 90% dari orang yang memulai bisnis itu sebenarnya mengalami kegagalan. Kira-kira itu hanya 10% tersisabyang dapat bertahan bisnisnya dia atas 5 tahun. Nah, ketika kita melihat statistika ini mungkin kita akan merasa, mengapa kita menjadi pengusaha pada akhirnya 90% dari pengusaha gagal.

Memang statistika peluang menyatakan demikian, namun tidak berarti kudian resiko itu mengalahkan manfaatnya. Meakipun ada banyak orang yang gagal membuka bisnis, tetapi sebenarnya ketika seseorang itu berhasil, dia melakukan sesuatu perencanaan yang baik begitu. Kemudian juga memiliki strategi, dia memiliki keuletan maka sebenarnya, dia akan berhasil dari keuntungan itu jauh melebihi resiko yang muncul.

6. Sering merasa kesal dengan optimis yang dimiliki orang lain

Jika memiliki cara pandang dunia yang negatif, maka ketika dia melihat ada orang yang memiliki sikap yang positif itu dia merasa kesal. Dia merasa tidak mengerti, kenapa orang lain memiliki optimis yang lebih tinggi, dan “bertanya mengapa kamu memiliki tingkat positivisme yang tinggi, mengapa kamu begitu banyak harapan, toh kebanyakan dari harapan itu nanti akan gagal.” Orang pesimis tidak suka dengan orang yang memiliki pandangan dunia yang berbeda.

7. Berasumsi bahwa semua hal baik pada akhirnya akan berakhir

Kita paham bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang sifatnya kekal. Suatu hal baik pada suatu titik akan berakhir, masa muda pada suatu titik akan berakhir menjadi masa tua, suatu hal yang tadinya baru lama-lama akan menjadi kusam atau usang. Namun, yang menjadi poin pentingnya adalah kita seharusnya tidak kemudian berfokus pada hal yang buruknya.

Kita jangan kemudian berfokus pada akhir yang kemudian tidak menyenangkan. Nah, sebaiknya kita beralih menganggap bahwa semua hal yang baik itu akan berakhir, namun sebelum berakhir hal baik itu. Masih bisa kita nikmati, maka sebaiknya kita pergunakan hal baik tersebut dengan sebaik-baiknya. Namun, ketika kita berpandangan pesimis, maka kita tidak akan melihat itu, bahkan langsung menganggap bahwa “ngapain saya harus melakukan hal ini, toh hal baik ini nanti akan berakhir.”

Jadi seseorang yang pesimis langsung menuju hal yang buruk dan tidak menyenangkan. Berbeda dengan orang optimis akan bilang, “manfaatkan sebaik mungkin mumpung masih dapat kita manfaatkan dengan sebaik mungkin.”

8. Merasa lebih mudah hidup fengan status quo ketimbang merubah keadaan yang lebih baik

Seorang yang pesimis menganggap bahwa apapun yang akan dia lakukan itu akan mengalami kegagalan, maka secara otomatis dia juga tidak akan banyak melakukan upaya. Oleh karena itu dia tidak berkeinginan merubah hidupnya, maka akhirnya secara konsekuensi hidupnya pun akan berakhir dengan status quo. Hidupnya akan selalu stagnan, hidupnya tidak akan dinamis ataupun berubah.

Perlu Grameds ketahui, meskipun tidak mengalami ciri-ciri tersebut, atau berpikir seperti ini sepanjang waktu, orang-orang pesimis pasti terlibat dalam banyak jenis pemikiran ini sampai taraf tertentu.

Pesimis

Manfaat dari Pesimis

Grameds, tentunya kita juga akan melihat bahwa ternyata memang ada beberapa suatu hal baik, terdapat dalam sikap pesimis, sebagai berikut:

1. Cenderung memiliki jaring pengaman

Tidak semua orang yang pesimis itu memiliki jaring pengaman, tetapi kecenderungan itu ada. Kerana dia memandang dunia ini dengan kacamata yang negatif, dia berharap pada suatu skenario yang buruk, maka untuk menantisipasi terjadinya skenario buruk itu, dia akan menyiapkan jaring pengaman. Meskipun sebenarnya pada kenyataannya mungkin hanya kecil, sebenarnya apapun yang kita lakukan itu akan berakhir pada skenario yang terburuk. Namun orang pesimis tadi karena di awal, sudah lamgsung berasumsi bahwa semuanya akan berakhir denga buruk maka terdapat kemungkinan beberapa di antara mereka kemudian berusaha untuk menyiapkan jaring pengaman.

2. Lebih siap ketika terjadi hal buruk

Orang pesimis memang sudah selalu mengharapkan sesuatu hal itu akan berakhir tidak baik, maka ketika hal itu benar-benar terjadi, sehingga dia relatif akan lebih siap. Meskipun kita juga harus akui bahwa kenyataan biasanya hal-hal yang sangat buruk itu dari tingkat presentase tidak akan terlalu banyak. Sebuah riset menyatakan bahwa 15% suatu hal itu akan berakhir buruk, artinya 85% yang lainnya akan berakhir netral atau berakhir baik. Kita memfokuskan diri kepada halbyang buruk sebenarnya kita hanya memfokuskan diri ini pada 15% padahal 85% itu merupakan satu hal yang akan berakhir relatif dengan baik. Karena orang yang pesimis tadi berfokus pada 15%, maka dikatakan bahwa mereka akan ralatif lebih siap ketika hal buruk terjadi.

3. Tidak merasa dalam krisis ketika hal buruk terjadi

Pandangan seorang pesimis memang hidupnya itu sudah berada dalam krisis secara terus-mnerus, dengan lensa yang memiliki nuansa negatif, maka ketika hal yang negatif itu benar-benar terjadi, dia tidak akan memandangnya sebagai suatu hal yang baru, karena memang dia sudah memposisikan dirinya atau mengasumsukan bahwa memang dunia ini sedang dalam krisis.

Ini memang beda dengan orang yang lebih positif, karena orang yang positif tentunya akan mengaharpkan hidup itu lebih dinamis, bervariasi dan akan berakhir baik. Jadi orang yang optimis mungkin sulit akan merasa kesulitan atau akan merasa terpukul kondisi memang benar-benar berubah menjadi krisis.

Cara Menghilangkan Sikap Pesimis

1. Mencari teman yang optimis

Berkumpul dengan teman-teman yang bersifat optimis akan memberikancara pandang kita yang baru dlam hidup. Mereka akan membantu mendapatkan kesempatan yang sebelumnya hilang karena sifat pesimis

2. Mengubah perspektif

Seseorang yang pesimis memang cenderung lebih bersifat realistis. Namun jika sudah berlebihan, sikap ini justru biasanya akan membuat orang jauh dari kenyataan. Berpikir bahwa Anda tidak mungkin bisa menyelesaikan suatu pekerjaan yang sangat mudah atau menganggap tidak ada orang yang mengerti padahal ada sahabat dan pasangan yang selalu menemani, adalah contoh dari pemikiran tidak realistis yang dapat mampir di benak orang-orang pesimis.

Mereka terlalu fokus terhadap ketakutan atau hal-hal negatif ini. Oleh karena itu untuk menghilangkannya, cobalah kembali berpikir mengenai tingkat realistis dari ketakutan yang dirasakan.

3. Membuat daftar kelebihan dan kekurangan

Hampir semua hal dalam hidup memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Terkadang, kita kesulitan untuk melihat kelebihan tersebut. Dengan menuliskan kelebihan dan kekurangan suatu hal, Anda akan bisa membandingkannya dan mengubah pikiran bahwa tidak semua hal harus berjalan atau berakhir negatif.

4. Belajar dari pengalaman

Cobalah kembali ingat masa lalu anda. Tentu, dari semua yang Anda lakukan, ada yang berakhir bahagia. Ini artinya, pemikiran pesimis yang selama ini ada, tidak selalu terbukti. Dengan mengingat masa lalu juga akan memperkuat untuk tidak selalau berpikir negatif.

Pesimis

Jangan merasa khawatir, setelah melihat beberapa ulasan pada tulisan ini, justru kamu bisa mengendalikan dua hal spektrum dengan seimbang, ketika menjadi orang yang pesimis tidak selamanya merasa buruk sepenuhnya. Justru akan lebih baik menjadi optimis. Selama kamu tidak membiarkannya tanpa solusi dan jadi berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri, kamu pasti akan menjadi manusia yang lebih baik lagi Grameds! Jadi apapun yang kamu lakukan demi kebaikan diri sendiri, maka itulah yang terpenting.

Penulis: Mochamad Aris Yusuf



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ananda