in

Altruisme: Pengertian, Teori, Faktor, dan Seberapa Penting Altruisme

unsplash.com

Altruisme – Altruisme merupakan suatu sikap atau naluri dimana seseorang memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain di atas kepentingan dirinya. Altruisme sendiri berkebalikan sifatnya dengan sifat egois yang lebih mementingkan diri sendiri dibanding kepentingan orang lain, Seseorang yang melakukan altruisme disebut juga sebagai altruis. Segala kebaikan yang dilakukan oleh seorang altruis biasanya muncul secara tulus tanpa adanya rasa pamrih di dalamnya. Meski demikian sikap ini sangat terpuji serta dapat berdampak positif terhadap masyarakat luas, altruisme sendiri juga dapat berdampak buruk terhadap seseorang jika dilakukan secara berlebihan. Simak lebih lengkapnya mengenai Altruisme berikut ini:

Pengertian Altruisme

Altruisme merupakan istilah modern dari kata Empati, kata ini sendiri pertama kali diciptakan oleh seorang filsuf bernama Auguste Comte. Kata altruisme ini berasal dari bahasa Perancis yaitu Autrui atau dalam bahasa Latin disebut juga sebagai Arteri yang memiliki arti orang lain. Dari sini dapat dipahami bahwasannya kata ini menggambarkan orang lain di luar dirinya sebagai fokus utama. Altruisme sebagai perilaku yang dilakukan seseorang, semata-mata untuk kebahagiaan orang lain. Sifat dan perilaku ini diperkuat dengan keinginan serta tekad yang dimiliki seseorang dalam mencapai suatu tujuan mensejahterakan orang lain.

Altruisme
unsplash.com

Bagi beberapa orang hal ini sulit dipahami, sebab apa yang akan seseorang dapatkan dengan berlaku demikian. Terlebih jika seseorang melakukan perilaku ini semata membantu dan bukan karena merasa bahwa hal ini sebagai sebuah kewajiban, altruisme juga dikenal sebagai perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau tanpa mengharapkan imbalan.

Altruisme dapat menjadi keadaan pikiran sesaat atau menjadi perilaku permanen dan value hidup seseorang. Pada intinya altruisme merupakan suatu pikiran yang baik dan didorong oleh perasaan prihatin terhadap orang lain. Kepedulian besar yang dimiliki seseorang untuk mensejahterakan kehidupan orang lain, serta dalam beberapa kasus tertentu, ditemukan bahwa perilaku ini dapat membahayakan Kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri. Sebab bahwa hal yang berlebihan tak akan berdampak baik, begitu juga dengan perilaku ini. Mengapa seseorang dapat begitu mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri?

Hal ini biasanya terjadi tanpa disadari, sebenarnya kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan tindakan altruistik kecil yang berulang, dari menahan pintu untuk orang asing hingga memberikan uang kepada orang yang membutuhkan. Kisah-kisah dalam berita juga sering kali berfokus pada kasus-kasus altruistik yang lebih besar lagi, seperti Ketika seorang pria yang menyelam ke sungai yang sedingin es hanya untuk menyelamatkan orang asing yang tenggelam atau seorang pemberi dana yang memberikan uang jutaan rupiah kepada badan amal setempat. Beberapa contoh lain yang mencerminkan sifat Altruisme diantaranya:

  • Saat seseorang melakukan sesuatu dalam membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
  • Saat seseorang melupakan hal-hal yang dapat membawa keuntungan pribadi jika menimbulkan biaya bagi orang lain.
  • Saat seseorang membantu seseorang meskipun terdapat biaya atau risiko pribadi yang harus ditanggung
  • Berbagi sumber daya dengan orang lain bahkan saat diri sendiri sedang menghadapi kesulitan bahkan kelangkaan.
  • Menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain.

Teori Altruisme

Berikut ini adalah berbagai teori mengapa seseorang melakukan altruisme:

1. Teori Evolusi

Dahulu kala, ketika seleksi alam masih sangat kuat, tiap spesies kemudian melakukan berbagai cara untuk dapat bertahan hidup serta mempertahankan garis keturunannya. Terdapat salah satu cara yang mereka lakukan diantaranya dengan saling menolong diantara para anggota keluarganya. Seiring dengan adanya evolusi, mekanisme pertahanan ini tersisa dalam diri manusia dalam bentuk altruisme.

2. Teori Lingkungan

Sebuah studi juga menunjukkan bahwa interaksi dan hubungan baik dalam suatu lingkungan memiliki pengaruh besar dalam mendorong tindakan altruisme pada orang-orang di lingkungan tersebut. Misalnya pada anak yang orang tuanya memberi contoh sikap altruisme dalam lingkungan rumah kemungkinan besar akan menjadi altruis di kehidupannya, baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

3. Teori Norma Sosial

Orang-orang tentunya akan lebih tertarik dalam bekerja sama dengan orang yang suka menolong. Pada sisi lainnya, sikap ini juga akan membuka utang budi. Jadi, suatu saat ketika seorang altruis membutuhkan pertolongan, orang lain tidak akan segan dalam membantu seseorang.

4. Teori Penghargaan

Altruisme sendiri kemudian akan menghasilkan imbalan atau penghargaan. Namun, di alam bawah sadar, ada imbalan berbentuk rasa bahagia dan puas terhadap diri sendiri yang kemudian muncul setelah berbuat kebaikan. Perasaan seperti ini kemudian akan membuat seseorang mau melakukan sikap altruisme. Selain yang telah disebut di atas, masih terdapat beberapa teori di balik mengapa seseorang mau melakukan altruisme. Sebuah teori mengatakan altruisme dapat melepaskan perasaan negatif dan stres dalam diri seseorang, karena ia jadi dapat membuat seseorang merasa bersyukur saat melihat ada orang yang lebih kesulitan dari darinya. Altruisme kemudian sering dihubungkan dengan rasa empati. Seseorang kemudian akan lebih terdorong untuk melakukan altruisme jika melalui kemampuan berempatinya kuat. Rasa empati pada anak kecil yang bau berkembang pesat di usia 2 tahun ke atas. Hal ini sebabnya sebabnya anak usia di bawah 2 tahun masih sering bersikap posesif dan tidak mau berbagi.

Apakah Altruisme Itu Penting?

Pada dasarnya, segala kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih dalam membantu orang lain adalah bentuk tindakan terpuji. Dari beberapa penjelasan juga sudah diketahui bahwa tindakan ini akan mendatangkan keuntungan juga bagi para pelakunya, baik itu secara sosial atau psikis. Selain itu, altruisme juga dikaitkan dengan kesehatan fisik dan yang lebih baik, serta angka harapan hidup yang lebih tinggi. Meski demikian, perlu diingat bahwa naluri menolong orang lain harus diimbangi dengan naluri untuk bertahan hidup. Ketika altruisme dijalankan tanpa rem, bisa-bisa sikap ini malah akan berdampak buruk pada diri sendiri. Misalnya jika kamu tidak dapat berenang, tetapi memaksakan diri ingin membantu orang yang tenggelam.

Sikap altruisme di sini kemudian termasuk berlebihan dan tidak bijak. Korban yang ingin diselamatkan jadi tidak tertolong dan kamu pun turut menjadi korban. Jika kamu merasa pernah atau bahkan sering berakhir merugi karena menolong orang lain, mungkin kamu perlu mengubah pola pikir. Ingat bahwa dirimu sendiri juga penting dan perlu diutamakan dibanding orang lain. Namun, jika kebiasaan ini sulit dihentikan atau bahkan orang lain hingga mengingatkan bahwa kamu juga perlu memperhatikan diri sendiri, sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan tenaga professional. Dengan demikian diharapkan tindakan altruisme yang kamu lakukan tetap berbuah positif, tanpa merugikan diri sendiri.

Mengapa Seseorang Selalu Bersikap Baik

Mengapa seseorang kemudian dapat selalu berbuat baik terhadap orang lain? Berikut ini beberapa faktor diantaranya:

1. Respon Otak

Ternyata, ketika seseorang menolong melakukan perilaku altruisme, otak kemudian akan memberikan respon yang membuat seseorang merasa bahagia, karena perilaku ini sangat mempengaruhi afeksi kita. Karenanya area otak yang aktif ketika menolong orang lain adalah korteks dan amigdala prefrontal. Area otak ini kemudian akan bertanggung jawab dalam mengatur emosi yang dimiliki oleh seseorang. Ketika seseorang akhirnya melakukan perilaku altruisme maka bagian otak ini akan memunculkan perasaan euforia atau disebut juga helper’s high dan mengaktifkan pusat reward di otak. Hal ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli neurobiologi yang menemukan bahwa ketika seseorang berperilaku altruisme seseorang kemudian membuat pusat kesenangan di otak menjadi aktif. Respon otak ini kemudian akan membawa perasaan candu terhadap seseorang.

2. Lingkungan

Sebuah studi yang dilakukan di sebuah universitas ternama, yaitu Stanford University menunjukkan bahwa interaksi dan hubungan dengan orang lain kemudian memiliki pengaruh besar pada perilaku altruisme. Ternyata hal ini kemudian menjadi sesuatu yang telah banyak diperdebatkan oleh para peneliti khususnya psikolog, mereka kemudian mempertanyakan apakah seseorang dapat terlahir dengan kecenderungan dalam menolong orang lain, namun sebuah studi kemudian menemukan bahwa lingkungan sosial kemudian memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku altruisme pada anak-anak. Anak-anak kemudian akan mengamati menolong dan tidak menirunya. Meniru perilaku altruisme dapat mendorong melakukan hal serupa terlebih pada anak-anak yang memang mudah sekali meniru perilaku orang lain.

3. Norma Sosial

Salah satu hal penting yang juga dapat mempengaruhi munculnya perilaku altruisme pada seseorang adalah norma, aturan, dan ekspektasi masyarakat sekitar. Manusia kemudian akan cenderung merasa merasa tak enak, atau merasa “harus” membantu orang lain jika orang tersebut telah melakukan sesuatu untuknya, hal ini merupakan contoh dari norma timbal balik. Perasaan ini kemudian dapat memunculkan keinginan untuk menolong orang lain. Namun perlu disadari bahwa sikap altruisme juga sebagai perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu sebagai timbal balik.

4. Imbalan secara Kognitif

Sebelumnya telah disebutkan bahwa perilaku altruisme merupakan perilaku menolong orang lain tanpa imbalan atau tanpa mengharap timbal balik apapun. Namun terdapat imbalan secara kognitif. Imbalan ini dapat berupa pandangan kita terhadap diri kita sendiri setelah membantu orang lain. Kita akan memandang diri kita sebagai orang berempati, baik dan tentunya hal ini akan memberikan perasaan yang nyaman dan diri kita sendiri. Imbalan ini pun dengan respon otak yang muncul ketika kita menolong orang lain.

5. Empati

Orang biasanya juga cenderung lebih terlibat dalam perilaku altruistik ketika mereka merasakan empati terhadap orang yang mengalami kesusahan, sebuah sugesti yang dikenal sebagai hipotesis empati-altruisme. Anak-anak juga cenderung menjadi lebih altruistik saat rasa empati mereka berkembang.

6. Membantu Meredakan Perasaan Negatif

Tindakan altruistik juga dapat membantu dalam meringankan perasaan negatif yang terkait saat seseorang saat melihat orang lain dalam kesusahan, sebuah gagasan yang disebut sebagai model bantuan saat dalam keadaan negatif. Pada dasarnya, melihat orang lain dalam kesulitan akan membawa perasaan kesa, tertekan dan tidak nyaman, tetapi membantu mereka mengurangi perasaan negatif ini.

Altruisme erat juga kaitannya dengan sesuatu yang banyak terjadi saat ini di sekitar kita, yaitu sulitnya mengatakan “tidak” atau yang dikenal juga sebagai people pleaser. Apakah kamu termasuk satu diantaranya? Pertanyaanya adalah kamu melakukannya dengan perasaan nyaman? Atau mungkin kamu melakukannya hanya karena takut dijauhi, takut tidak disukai serta dikucilkan dari pergaulan hingga membuatmu merasa tidak nyaman.

Selain itu kamu juga perlu menyadari dulu hal ini, apakah yang kamu lakukan benar-benar perilaku altruisme atau hanya karena kamu adalah people pleaser. Tentunya menjadi seseorang people pleaser bukanlah hal yang baik untuk dirimu, perilaku menolong yang seharusnya memberikan Bahagia, rasa nyaman, malah membuatmu merasa tidak berdaya bahkan dapat mempengaruhi kesehatan mental. Karenanya kenali dahulu apa yang sesungguhnya kamu rasakan, tidak ada yang salah ketika kita memang selalu ingin membantu orang lain atau berbuat baik kepada orang-orang disekitar kita, namun kamu tetap harus memperhatikan diri sendiri, jangan sampai untuk berlaku baik kepada orang lain, kita malah tidak berbuat buruk terhadap diri sendiri.

Buku-Buku Terkait Altruisme

1. Altruisme Hukum Kepedulian Terhadap Penyandang Disabilitas

Altruisme

Penyandang disabilitas jika diberikan pilihan, tentu akan memilih hidup seperti manusia normal pada umumnya sebab keadaan yang tidak normal menyebabkan dirinya mengalami hambatan dalam menjalankan kehidupan namun bukan berarti hambatan tersebut menjadikannya pesimis melainkan banyak contoh yang menjadikannya lebih berprestasi di tengah kontestasi dengan manusia normal lainnya. Kepedulian terhadap penyandang disabilitas tidak melihat sisi gender, jenis kelamin, usia, agama, ras dan suku namun melihat dari sisi kemanusiaan. Penyandang disabilitas adalah manusia biasa sama seperti manusia pada umumnya yang mempunyai rasa dan karsa, mempunyai keinginan dan impian. Jika manusia normal mempunyai hak dan kewajiban demikian pula dengan penyandang disabilitas.

2. Psychology of Money

Altruisme

Berhasil dengan uang belum tentu tentang apa yang Anda ketahui. Ini tentang bagaimana Anda berperilaku. Dan perilaku sulit untuk diajarkan, bahkan untuk orang yang sangat pintar. Uang investasi, keuangan pribadi, dan keputusan bisnis biasanya diajarkan sebagai bidang berbasis matematika, di mana data dan rumus memberi tahu kita apa yang harus dilakukan. Namun di dunia nyata, orang tidak membuat keputusan finansial di spreadsheet.

3. Pengantar Psikologi Umum

Altruisme

Buku ini merupakan buku acuan pokok bagi para mahasiswa jurusan Psikologi dan juga sangat berguna para pemerhati umum karena buku ini ditulis dengan bahasa yang terstruktur baik dan tentu saja mudah dicerna. Substansi yang disajikan dalam buku ini kaya akan berbagai pembahasan teori dasar Psikologi, mulai dari sejarah dan definisi psikologi, fungsi-fungsi psikis, interaksi sampai gangguan mental. Pembahasannya pun merupakan kasus khas indonesia sehingga pembaca akan lebih merasa dekat dengan penerapan psikologi dalam kehidupan sehari-hari.

4. Psikologi Kepribadian

Altruisme

Psikologi kepribadian kaya dengan bermacam-macam teori dalam menggambarkan dan menentukan kepribadian individu. Untuk mendapatkan ikhtisarnya, di dalam buku ini dikemukakan penggolongan psikologi kepribadian yang telah ada sampai dewasa ini. Penggolongan tersebut didasarkan pada metode yang digunakan, komponen kepribadian yang dipakai sebagai landasan, dan cara pendekatan. dari ketiga dasar penggolongan tersebut, munculah berbagai psikologi kepribadian, seperti tipologi Kant, Teori Psikoanalisis, Teori Spranger, Teori Kepribadian Ludwig Klages, Teori Biososial, dan masih banyak lagi. Semuanya dijelaskan di dalam buku ini secara jelas dan tuntas. Buku ini dapat digunakan oleh mahasiswa psikologi dan keguruan pendidikan. Selain itu buku ini juga dapat digunakan sebagai sumber studi bagi siapa saja yang menaruh minat terhadap psikologi.

5. Buku Ajar Psikologi Perkembangan Anak

Altruisme

Buku ini ditulis dengan tujuan untuk menjadi referensi atau panduan bagi peserta didik bidang Psikologi pada umumnya dan khususnya untuk sumber referensi/bacaan studi psikologi perkembangan anak dalam rangka memahami tumbuh kembang anak. Pembahasan dalam buku ini cukup sistematis dan lengkap, dimulai dari sejarah psikologi perkembangan, teori, konsep dan definisi, penjelasan masa prenatal hingga masa anak akhir, dan sebagainya.



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ananda