in

Sinopsis & Review Novel The Hating Game

The Hating Game atau dalam Bahasa Indonesia adalah Musuh Bebuyutan, merupakan novel yang ditulis oleh Sally Thorne, yang diterbitkan pada tahun 2016. Sally Thorne adalah penulis buku terlaris menurut USA Today The Hating Game merupakan novel pertama atau debutan karya Sally Thorne.

Novel pertama karya Sally Thorne ini meraih kesuksesan dengan sudah terjual di lebih dari dua puluh lima negara. Novel The Hating Game ini juga masuk ke dalam daftar 20 novel roman teratas oleh Washington Post tahun 2016, dan menjadi salah satu finalis dari total sepuluh finalis teratas dalam kategori roman dari Goodreads Choice Awards tahu 2016.

The Hating Game juga disebut sebagai salah satu novel yang menghidupkan kembali genre komedi romantis di lingkungan perkantoran. Kesuksesan novel ini dan menariknya cerita yang dituliskan Sally Thorne juga kemudian mengantarkan novel ini diadaptasi menjadi film layar lebar.

The Hating Game telah berhasil diadaptasi menjadi film yang disutradarai oleh Peter Hutchings, dan dibintangi Lucy Hale dan Austin Stowell sebagai peran utamanya. Film The Hating Game telah dirilis di bioskop dan dalam bentuk film yang dapat ditonton secara streaming, sesuai banyaknya permintaan, pada 10 Desember 2021, oleh Vertical Entertainment.

Pengumpul ulasan oleh Rotten Tomatoes melaporkan bahwa pada akhir Februari 2022, sejumlah 71% dari total 21 kritikus profesional memberikan ulasan positif atas film tersebut, dengan rata-rata peringkat 6,60 per 10. Beberapa artikel juga berisi pujian atas kemistri dari dua pemeran utama film The Hating Game.

Novel The Hating Game berkisah tentang Lucy Hutton dan Joshua Templeman, kolega yang dipertemukan secara paksa, karena dua perusahaan tempat mereka bekerja melakukan merger. Lucy tidak pernah mengerti bagaimana jalan pikiran Joshua yang kini menjadi saingan terbesarnya di kantor.

Joshua tidak pernah tersenyum, kerap kali mengejek Lucy, dan selalu menggunakan warna kemeja dengan urutan yang sama setiap harinya. Joshua juga tidak habis pikir dengan penampilan dan selera berpakaian Lucy, ia selalu menggunakan pakaian yang mencolok.

Joshua juga heran dengan karakter Lucy yang aneh. Mereka berdua saling membenci satu sama lain sejak awal pertemuan mereka, dan mereka saling membenci tanpa alasan. Ketegangan di antara mereka semakin memanas sejak dibukanya lowongan untuk mengisi posisi Kepala Operasional.

Hingga, pada suatu hari, Joshua bertingkah aneh. Hubungan mereka yang awalnya sebagai musuh, perlahan juga berubah menjadi semakin dekat. Apakah mereka saling jatuh cinta? Atau itu hanya strategi Joshua untuk mengelabui Lucy, agar ia tidak fokus dengan tujuannya untuk mengisi jabatan baru?

Profil Sally Thorne – Penulis Novel The Hating Game

Sumber foto: sallythorneauthor.com

Sally Thorne tinggal di Canberra, Australia. Sally Thorne menghabiskan waktunya sehari-hari dengan menulis, membaca, minum teh, dan menuruti semua keinginan anjing jenis Pug miliknya yang bernama Delia.

Saat ini, Sally Thorne tinggal bersama suaminya di sebuah rumah yang penuh dengan mainan antik, dipenuhi dengan banyak bantal, dan rumah boneka berhantu yang memiliki akun Instagram sendiri yang bernama @blackthornemanor. Sally Thorne juga merupakan seorang penulis buku terlaris USA Today.

Novel debutnya yang bergenre komedi romantis dengan judul The Hating Game, menjadi pembangkit genre komedi romantis dan menjadi salah satu novel best seller yang sangat populer Bahkan, novel The Hating Game telah diadaptasi menjadi film besar yang dibintangi oleh Lucy Hale dan Austin Stowell, dan disutradarai oleh Peter Hutchings.

The Hating Game menjadi buku paling laris menurut USA Today, masuk ke dalam 20 novel roman teratas tahun 2016 oleh Washington Post, menjadi urutan ke tujuh di daftar Novel Romantis Terbaik sepanjang masa menurut Oprah Magazine (2019), dan merupakan salah satu dari sepuluh finalis teratas di Goodreads Choice Awards kategori romantis tahun 2016.

Setelah sukses menggarap novel pertamanya, Sally Thorne melanjutkan untuk berkarya. Novel kedua Sally yang berjudul “99 PERCENT MINI” berhasil dirilis pada 29 Januari 2019 oleh William Morrow Books. Novel ini juga meraih kesuksesan dengan menempati urutan ke 37 dalam daftar Buku Terlaris USA Today, dan ditampilkan oleh Goodreads sebagai salah satu dari 28 buku hit teratas untuk paruh pertama tahun 2019.

Selain itu, Sally juga lanjut berkarya dan menulis novel ketiga yang berjudul “Second First Impressions”, yang berhasil dirilis di Australia dan New Zealand pada 31 Maret 2021, dan di Amerika Serikat dan Kanada pada 13 April 2021. Sally juga sedang menggarap novel bergenre komedi romantis dan sejarah yang berjudul “ANGELIKA FRANKENSTEIN MAKES HER MATCH”, yang akan dirilis oleh Avon di Amerika Serikat dan Kanada pada September 2022.

Sinopsis Novel The Hating Game

Berawal dari merger atau penggabungan dua perusahaan tempat mereka kerja, Gamin Publishing dan Bexley Books, membuat Lucy Hutton berada dalam satu ruangan kerja dengan Joshua Templeman. Lucy dan Joshua memiliki jabatan yang setara, keduanya sama-sama asisten eksekutif CEO. Lucy adalah asisten eksekutif dari Helene Pascal dan Joshua adalah asisten dari Mr. Bexley.

Meja kerja mereka berada di dalam satu ruangan yang sama dan saling berhadapan. Namun, mereka tidak akur. Lucy dan Joshua saling membenci dan berani menunjukkan rasa tidak suka itu kepada satu sama lain secara terang-terangan.

Lucy dan Joshua kerap kali saling adu pelotot, mengejek satu sama lain, dan bertengkar secara kekanak-kanakan. Bahkan, mereka sampai mencatat seluruh ejekan dari satu sama lain, agar kemudian dapat melaporkannya ke personalia.

Lucy menganggap Joshua seperti Bizzaro Clark Kent yang sinus dan sarkastik, serta meneror setiap orang yang ada di ruang berita. Permusuhan antara Lucy dan Joshua sudah diketahui oleh seluruh pegawai yang ada di kantornya.

Di tengah persaingan keduanya, malah terjadi berbagai macam kejadian yang kerap kali membuat Lucy harus bersinggungan dengan Joshua. Mengalami drama di tempat kerja akibat seorang lelaki itu membuat dunia Lucy jungkir balik. Sikap Joshua kerap kali membuatnya gemas, tetapi juga menjengkelkan.

Suatu hari, ada pengumuman mengenai restrukturisasi pada tim eksekutif. Perusahaan membuka kesempatan bagi para pelamar dari dalam perusahaan maupun luar perusahaan untuk mengisi posisi kepala operasional atau eksekutif ketiga. Proses seleksi ini melibatkan konsultan panel perekrutan independen, maka itu persaingan akan berlangsung secara adil.

Hal ini membuat persaingan antara Lucy dan Joshua semakin memanas. Mereka terus saling sindir, dan bertengkar seperti anak kecil. Bahkan, saking bencinya, Lucy sampai hafal dengan kebiasaan-kebiasaan Joshua yang menjengkelkan itu. Lucy juga hafal urutan warna kemeja yang digunakan Joshua setiap harinya.

Lucy juga secara diam-diam mencoba mengakses komputer Joshua untuk melihat buku agendanya. Pada suatu hari, Lucy tampil berbeda dari biasanya. Diketahui bahwa Lucy berdandan berbeda, karena ada janji kencan dengan Dany.

Joshua yang mengetahui gaya berpakaian Lucy yang biasa tentunya menyadari perbedaan mencolok pada penampilan Lucy di hari itu. Ia pun sontak melontarkan sindiran-sindiran ketika bersinggungan dengan Lucy.

Tapi siapa sangka, sewaktu pulang kerja, Joshua malah menawarkan diri untuk mengantarkan Lucy ke tempat kencannya dengan Dany. Bermula dari kejadian itu, hubungan Lucy dan Joshua mulai berubah. Hubungan mereka berubah menjadi Love and Hate Relationship.

Joshua merasa cemburu dengan kedekatan Lucy dan Dany. Lucy, di sisi lain merasa sakit hati, karena apa yang telah dilakukan oleh Joshua. Kemudian, beragam kejadian yang terjadi membuat hubungan mereka semakin dekat.

Seperti kegiatan perang paintball, Joshua merawat Lucy ketika ia sedang sakit, dan Lucy menemani Joshua ke pernikahan sang kakak dengan mantan pacarnya.

Seiring dengan seringnya menghabiskan waktu bersama Joshua, Lucy mulai menyadari apa yang menyebabkan sikap Joshua menjadi sinis dan menyebalkan. Di sisi lain, Joshua juga membantu Lucy untuk berubah dan berani untuk mengatakan “tidak” kepada orang lain, jika Lucy tidak menyukainya.

Kelebihan Novel The Hating Game

Gaya penulisan Sally Thorne dinilai sangat baik, plotnya bagus, dan bisa menggambarkan suasana romantis, dengan disertai berbagai variasi komedi. Cerita The Hating Game ini juga disertai dengan detail adegan-adegan kecil yang lambat laun diketahui memiliki peran penting dalam cerita. Maka itu, para pembaca dapat merasa ketagihan untuk membaca setiap babak cerita novel ini lagi dan lagi.

Sally Thorne menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Lucy. Hal ini dinilai tepat, karena para pembaca dapat merasakan segala emosi yang dirasakan Lucy, seperti senang, jengkel, marah, sedih, dan sebagainya.

Dialog antar tokoh dalam cerita ini juga intens, dengan menyertakan berbagai sindiran atau sarkasme cerdas nan menarik. Sally Thorne juga mampu membangun chemistry antar tokoh, sehingga para pembaca dapat menerima transformasi perasaan benci menjadi cinta di antara kedua tokoh dengan baik, dan tidak terkesan cheesy.

Sally Thorne juga menyertakan perkembangan karakter dari setiap tokoh di cerita ini. Contohnya seperti Lucy yang mulai berani untuk mengatakan “tidak” kepada orang lain, karena didukung oleh Joshua, dan Joshua yang pada akhirnya mampu menghadapi ketakutannya, karena dibantu oleh Lucy.

Kekurangan Novel The Hating Game

Sebagian pembaca merasa novel The Hating Game ini membutuhkan epilog untuk menjelaskan latar belakang sebelum memulai cerita. Terutama cerita tentang kantor Lucy dan Joshua.

Terdapat bagian cerita yang menuliskan pujian atas keindahan fisik dan keterampilan yang sempurna antar tokoh. Hal ini dinilai terlalu standar cerita romantis, dan membentuk stigma tertentu. Seperti gambaran fantasi wanita bertubuh mungil yang dipasangkan dengan lelaki bertubuh tinggi besar.

Terdapat beberapa bagian yang dinilai pembaca terlalu bertele-tele dan membuat kesan sengaja dipanjang-panjangkan. Maka itu, kemudian sebagian pembaca ada yang merasa bosan ketika membaca novel ini.

Pemilihan kata dalam versi terjemahan novel The Hating Game ke dalam Bahasa Indonesia dinilai kurang tepat dan kurang enak untuk dibaca. Beberapa bagian seperti terjemahan yang terlalu mentah, contohnya terdapat terjemahan “Seperti bagaimana?”.

Novel ini juga mengandung adegan dewasa yang cukup intens. Maka itu, novel ini tidak cocok untuk dibaca oleh kalian yang masih berada di bawah umur.

Pesan Moral Novel The Hating Game

Kita sebaiknya tidak menghakimi seseorang, oleh karena karakter buruk yang dimilikinya. Sebab, kita tidak mengetahui latar belakang yang membentuk karakter tersebut. Latar belakang yang biasanya kelam, dan sedih jika dibayangkan.

Sesungguhnya, musuhmu adalah orang yang paling sering memperhatikan dirimu, melebihi teman dekatmu.

Menemukan orang yang tepat dapat mengubah hidup kita. Dengan menemukan seseorang yang dapat membantu kita, kita dapat melampaui batas yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Maka itu, jaga hubungan kalian dengan orang-orang di sekitar kalian. Sebab, bisa saja mereka merupakan seseorang yang tepat, yang dapat membantu anda melewati segala rintangan dalam kehidupan.

Cinta dapat datang secara tiba-tiba. Cinta dapat datang tidak tahu dari mana asalnya, dan dari orang yang tak terduga.

Bagi kalian yang ingin mengetahui kelanjutan kisah Lucy dan Joshua, kalian bisa mendapatkan Novel The Hating Game karya Sally Thorne ini di www.gramedia.com.

Written by Gabriel