in

Review Novel Kerumunan Terakhir Karya Okky Madasari

Judul : Kerumunan Terakhir
Penulis : Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2016
Tebal : 360 halaman
ISBN : 9786020325439

Untuk Grameds yang hobi membaca buku, tentu sudah tidak asing lagi kan dengan buku yang satu ini? Buku Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari ini sempat nangkring di rak buku best-seller di berbagai toko buku.

Sinopsis Novel Kerumunan Terakhir

Novel yang satu ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang harus berhenti kuliah dan menjadi pengangguran, laki-laki tersebut bernama Jayanegara. Semasa kecilnya, Ia sempat tinggal di rumah Simbah, yang ada di kaki Gunung Suroloyo.

Semakin bertambahnya usia, Ia memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama dengan bapaknya mengajar. Laki-laki itu kemudian bertemu dengan Laera yang nantinya akan menjadi kekasihnya.

Maera sendiri digambarkan sebagai sosok perempuan yang sangat optimis terhadap masa depan dan sangat mengharapkan bisa menaklukkan dunia. Setelah Maera lulus kuliah, Ia memutuskan pindah ke Jakarta dan bekerja di sana. Menurut prinsip perempuan tersebut, kehidupan layak dapat diperoleh di kota besar seperti Jakarta.

Jayanegara atau yang biasa dipanggil Jay ini dihadapkan dengan kenyataan yang pahit Yakni ibunya kabur dari rumah, lalu bapaknya main dengan perempuan lain. Jay sangat rindu dengan kehidupannya yang lama. Di stasiun kereta, Ia berniat pergi ke Jakarta untuk menemui Maera.

Di Jakarta, semua cerita dimulai. Hanya dengan membuat sebuah e-mail, Ia jadi bisa berhubungan dengan dunia baru yang penuh dengan hiruk-pikuk dunia maya. Jay sendiri membuat sebuah identitas baru, dimana Ia menamai dirinya dengan nama Matajaya dan Ia berharap bisa dielu-elukan oleh penduduk di dunia barunya. Kemudian di dunia yang baru, Jay terbawa oleh sifat kemunafikan dan pembohong dengan bercerita mengenai kisah yang sebenarnya Ia karang sendiri.

Konflik yang Relevan dengan Dunia Saat Ini

Konflik yang hadir di dalam novel ini memang benar-benar sangat relevan dengan dunia saat ini yang penuh dengan hingar-bingar dan juga kemunafikan dunia media sosial. Cerita dan juga kontemplasi yang penulis hadirkan di dunia baru, benar-benar sukses menyentuh hati dan dapat dikatakan menohok batin para pembacanya.

Di dalam hati, setiap membaca deretan kalimat yang ada di novel ini, pembaca akan larut dan cenderung setuju dengan apa yang ada di dalam novel ini. Tapi hal itu juga bisa membuat para pembaca menjadi lebih takut dengan dunia baru yang sekarang ini sudah marak ditinggali berbagai orang dengan kemunafikannya masing-masing.

Novel yang satu ini dapat dikategorikan sebagai novel 18+. Dengan adanya realita yang pahit, novel yang satu ini sukses menggambarkan ketakutan, kepanikan, kemunafikan, kesedihan, kemarahan, kekesalan, dan lain sebagainya. Kritik sosial yang ada di dalam novel ini sangat kental diutarakan oleh penulis.

Bagaimana bisa koruptor menyuap jaksa, bagaimana para pelanggar dunia baru sedang dicari-cari polisi karena sudah mencemarkan nama baik, dan bagaimana orang dengan sangat bebas mengekspresikan dirinya di dunia yang baru dengan pola pikir bahwa kita harus meninggalkan dunia lama yang sangat kolot.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Gaya Penulisan dan Kelebihan Novel

Untuk gaya penulisannya sendiri lebih menekankan pada narasi. Dengan adanya narasi yang dibangun dengan baik, penulis bisa mengekspresikan maksud serta tujuannya dengan sangat gamblang. Sekalinya muncul sebuah percakapan, rasanya mengalir dengan begitu saja seperti memang begitu adanya, sederhana dan sangat jujur. Itulah kesan yang bisa kita tangkap dari novel yang satu ini.

Novel Kerumunan Terakhir sangat direkomendasikan untuk Grameds yang sedang bosan ataupun jenuh dengan novel percintaan yang sekarang ini sedang populer. Novel ini akan mengajak para pembaca untuk masuk ke dalam hiruk pikuk dunia baru yang bahkan kita sendiri pun pasti sedang merasakannya saat ini. Penulisnya, Okky, mengajak para pembaca untuk merefleksikan diri sebentar dan mengajak kita untuk menghela napas beberapa saat dari dunia yang sedang kita huni sekarang ini.

Novel ini membuat kita harus memilih, apakah kita bisa bertahan di dalam kerasnya dunia baru? Ataukah kita justru akan memilih untuk hidup di dalam keheningan dan juga sunyi seperti nenek-nenek kita? Kalau Grameds lebih pilih yang mana?

Kerumunan Terakhir merupakan novel yang cukup muda dan segar dibandingkan dengan empat novel lainnya. Bercerita mengenai seorang laki-laki yang bernama Jaya negara yang kemudian mengenal dunia maya dan menjadikannya dunia barunya. Internet telah berhasil merubah identitas seseorang.

Manusia yang baru saja lahir, manusia yang telah lama dicampakkan. Dengan sangat cerdas, Okky membuat percakapan yang ada di dunia maya seakan menjadi nyata, tidak ada capture chat, tidak ada percakapan khas dunia digital. Disini pembaca ditempatkan sebagai pelaku, bukan lagi sebagai penonton saja.

Novel Kerumunan Terakhir ini membuat para pembaca banyak belajar mengenai hidup yang selalu mendatangkan dunia baru dan kita tentu harus beradaptasi dengan hal tersebut. Teknologi bukan hanya untuk dijauhi, namun dipakai sebagai media penyelaras hidup.

Kerumunan Terakhir seakan memberikan gambaran bahwa tidak ikut ambil alih peran di dalam teknologi maka kita justru akan celaka. Jangan sampai membiarkan teknologi digenggam oleh kebodohan dan ketidaktahuan.

Setiap individu seakan harus ikut serta untuk bertanggung jawab dalam berperang melawan informasi. Karena bia kebenaran hanya didiamkan, maka dunia akan dikuasai oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab.

Jayanegara yang bermetamorfosa menjadi Matajaya yang mana menjadi tokoh utama dari novel Kerumunan Terakhir. Sosok Jayanegara yang ada di dunia nyata selalu terlihat lemah, selalu kalah, pecundang, dan selalu berada di bawah bayang-bayang kekuasaan ayahnya.

Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa Jay begitu menikmati peran Matajaya di dunia barunya. Matajaya sukses di dunia maya, dunia keduanya. Selain itu, Matajaya juga menjadi sosok yang sangat berkebalikan dengan Jayanegara yang ada di dunia nyata.

Dimana Jay memiliki sifat yang kuat, berani, cerdas, kritis, dan juga menarik. Dunia internet justru membuat Matajaya lupa bahwa ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan dengan sembarangan dan ceroboh. Karena celaka sudah menantinya jika Matajaya menggunakan media sosial secara sembarangan tanpa adanya aturan. Pasal pencemaran nama baik bisa saja dialamatkan kepadanya.

Okky membuat cerita dengan bingkai di novelnya yang satu ini. Para pembaca akan diajak untuk menengok beberapa kisah hidup tokoh lain yang sekilas mampir tanpa menghilangkan tokoh utamanya. Cerita pada novel ini diakhiri dengan pertemuan Jayanegara dan Matajaya.

Dunia Matajaya yang terlalu rumit untuk diperbaiki sampai Jayanegara dan juga kekasihnya yang harus pindah ke tempat yang sunyi, yaitu rumah simbahnya yang ada di Suroloyo. Di tempat yang sunyi sekalipun masa lalu tetap bisa datang menghampiri, mengendap dan memaksa kedua orang tersebut untuk ikut bertanggung jawab pada dunia kedua yang sudah mereka masuki.

Novel yang satu ini sangat layak untuk dibaca semua orang, terlebih untuk orang tua supaya keterampilannya tidak kalah dengan anaknya. Walaupun tidak khusus untuk pembaca 18 keatas, untuk anak-anak yang membaca buku ini diharapkan tetap didampingi oleh orangtua. Sebab, ada beberapa bagian yang menceritakan tentang hubungan Jay dan Maera.

Juga kasus perselingkuhan Sukendar dengan banyak perempuan. Selebihnya, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Mengkritisi bagaimana sekarang orang hidup dengan berkerumun dan mengikuti arus yang aja. Cukup menjadi pengikut dan lupa untuk selalu kreatif dan inovatif, bahkan mungkin saja lupa untuk mencari identitas dirinya sendiri.

Demikian review buku Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari yang bisa Grameds jadikan referensi sebagai daftar buku yang harus dibaca. Tak hanya menghibur, novel yang satu ini juga sarat akan makna yang sangat relevan dengan dunia digital saat ini.

Kesimpulan Novel Kerumunan Terakhir

Buku ini menceritakan sepotong kisah tentang kegagapan manusia di tengah zaman yang berubah cepat, yang tak memberi kesempatan setiap orang untuk diam dan mengenang, berhenti dan kembali ke belakang. Dari satu kerumunan ke kerumunan lainnya, dalam kebisingan dan keasingan, generasi zaman ini berbondong-bondong meninggalkan masa lalu menuju masa depan. Tapi di manakah masa depan itu?

Written by Lely Azizah