in

Review Novel Peter Karya Risa Saraswati

Novel Peter adalah novel yang ditulis oleh Risa Saraswati, penulis, penyanyi, dan YouTuber ternama di Indonesia. Risa menjadi sangat dikenal masyarakat Indonesia, karena dikenal memiliki kekuatan supranatural untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.

Novel Peter pertama kali diterbitkan pada tahun 2016. Novel ini ditulis dari sudut pandang Risa sebagai seseorang yang mengetahui kisah Peter. Novel ini menceritakan kisah hantu anak kecil yang bernama Peter.

Novel Peter menjadi buku pertama mengenai teman beda dunianya yang ditulis oleh Risa Saraswati. Novel Peter ini dituliskan Risa Saraswati berdasarkan kisah yang diceritakan Peter sendiri kepadanya, juga ditambah imajinasi. Risa juga mengatakan bahwa Peter telah memberikan izin untuk mengenal dunia Peter secara lebih mendalam, juga membagikan kisah hidupnya.

Meskipun teman-teman hantunya tidak mengganggu, Risa Saraswati mengatakan bahwa ia ingin teman-temannya itu tidak menjadi hantu gentayangan, dan berharap mereka bisa kembali ke alamnya dengan tenang. Kata Risa, Peter selalu menanti dijemput oleh sang ibunda untuk menuju jalan pulang. Namun, hingga saat ini Peter masih gentayangan, entah sampai kapan.

Menurut Risa, Peter adalah sosok hantu yang menyebalkan. Peter Van Gils merupakan anak hantu keturunan bangsawan Belanda, yang kerap kali membuat Risa kesal, marah, gemas, bahkan terkadang juga takut. Bahkan, keempat sahabat hantu Peter juga kerap kali kewalahan menghadapi sifat ingin selalu benarnya dan tangan jahatnya.

Pada suatu malam, Risa mendapati Peter sedih dan murung. Saat itu, Risa baru tersadar bahwa dibalik sifat menyebalkannya, Peter sebenarnya sangat rapuh. Kehidupannya di dunia nyata dan di dunia gaib menjadi penyebab Peter seperti ini. Ia dibawa jauh dari negeri asalnya, kemudian kehilangan sang ayah yang diidolakannya, dan sang ibu yang sangat dicintainya.

Profil Risa Saraswati – Penulis Novel Peter

Sumber foto: kuyou.id

Risa Saraswati adalah wanita kelahiran Bandung, 24 Februari 1985. Risa Saraswati adalah penulis, penyanyi, dan YouTuber ternama Indonesia. Risa menjadi sangat dikenal masyarakat Indonesia, karena dikenal memiliki kekuatan supranatural untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.

Risa tumbuh besar di kota kelahirannya, Bandung. Risa Saraswati merupakan lulusan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung, yang menyandang gelar sarjana Teknik Sipil.

Sejak Risa kecil, ia kerap menunjukkan sikap yang aneh, contohnya kerap kali berbicara sendiri. Risa kemudian diketahui memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, bahkan menjalin hubungan baik dengan makhluk tak kasat mata. Kemudian, saat menjadi musisi, Risa membuat sebuah album yang berjudul Story of Peter, yang berisi kisah tentang hubungannya dengan makhluk tak kasat mata.

Risa sudah terjun dalam bidang tarik suara sejak ia masih duduk di bangku SMA. Lalu, setelah ia lulus, Risa kemudian menekuni bidang tarik suara dengan serius, dan ia bergabung dalam sebuah band bernama Homogenic. Risa menjadi vokalis Homogenic selama 7 tahun lamanya.

Jika anda pernah mendengar lagu Risa yang berjudul “Bilur”, anda bisa mendapati kesan mistis dalam lagu tersebut. Terdapat suatu bagian lirik nyinden dalam lagu ini, yang lambat laun diketahui bahwa bagian itu berasal dari makhluk gaib yang bernama Mae.

Mae diketahui dulunya adalah seorang penyanyi sinden yang menikah dengan seorang pria, tetapi tidak direstui oleh orang tuanya. Dalam kehidupan sehari Mae, ia selalu disiksa oleh sang suami. Penyebab Mae meninggal juga karena disiksa oleh sang suami. Mae kemudian menyesal, karena tidak menuruti omongan orang tuanya.

Risa kemudian memiliki grup musik yang ia buat sendiri, yang bernama Sarasvati. Namun, Sarasvati akhirnya vakum dari dunia musik. Risa juga sulit menemukan waktu bersama anggota Sarasvati yang lain. Maka itu, akhirnya Risa memberanikan diri untuk merilis album solo pertamanya pada 31 Oktober 2018.

Risa merilis album studio yang berjudul Sandekala. Selain dalam bentuk album, Sandekala juga hadir dalam bentuk novel. Rilisnya album ini dilakukan bersamaan dengan konser musik yang bertema “Sandekala”, yang diadakan pada 16 November 2018 di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung.

Sesuai makna kata Sandekala yang bermakna senja kala, yakni waktu tersebut adalah waktu pergantian dari siang ke malam atau magrib. Waktu magrib diketahui sebagai saat bagi makhluk gaib untuk mulai berkeliaran. Maka itu, dalam album Sandekala, terdapat 9 lagu yang bercerita tentang kemunculan makhluk gaib di waktu senja kala.

Dalam suatu wawancara yang dilakukannya, Risa menyatakan bahwa ia kini memilih untuk vakum untuk tampil di panggung. Sebab, seiring berjalannya waktu, Risa kerap merasa sesak saat menyanyi. Selain itu, Risa juga merasa kurang nyaman ketika harus melakukan aksinya di atas panggung, karena ia kini telah berhijab. Ditambah lagi, lagu-lagu yang harus ia bawakan berkisah tentang hantu.

Risa menjadi seorang penulis, diketahui karena ia sedari kecil memiliki hobi membaca. Sejumlah bacaan yang dikagumi Risa adalah karya dari Enid Blyton, dan karya dari R. L. Stine. Kebiasaan membaca itu kemudian berubah menjadi kebiasaan menulis cerita.

Diawali dari menulis catatan harian, menulis kisah tentang sahabat, sampai akhirnya menulis berbagai cerita di balik sejumlah lagu yang pernah ditulisnya dalam sebuah blog. Hobi baru Risa ini kemudian membawa keberuntungan baginya, dan membuka karirnya menjadi seorang penulis.

Pada bulan Januari 2012, bersama penerbit Bukune, Risa berhasil merilis buku pertamanya yang berjudul Danur. Buku dengan total 214 halaman ini mengisahkan tentang sisi lain dari kehidupan Risa yang selama ini tidak pernah diungkap ke orang banyak. Risa juga banyak bercerita tentang kedekatan hubungannya dengan hal mistis.

Beberapa karya Risa yang lain, yaitu Seri Danur yang terdiri dari novel Danur (2012), Maddah (2012), Sunyaruri (2013), dan Senjakala (2018). Selain itu, ada novel Sempalan yang mengisahkan tentang teman gaib Risa, yang terdiri dari Peter (2016), Hendrick (2016), William (2017), Hans (2017), Janshen (2017), Asih (2018), Samantha (2018), IVanna Van Dijk (2018), dan Marriane (2019).

Ada juga Seri Jurnal Risa, yang terdiri dari novel Jurnal Risa: Teror Liburan Sekolah (2020), dan Jurnal Risa: Mamat Ujang (2020). Risa juga membuat karya non serial, yakni Ananta Prahadi (2014), r.i.s.a.r.a – bersama Sara Wijayanto (2014), Rasuk (2015), dan Tenung – bersama Dimas Tri Adityo (2019). Risa juga sempat membuat buku kumpulan puisi pada tahun 2015, yang berjudul “Catatan Hitam”.

Sinopsis Novel Peter

Peter adalah salah satu dari lima sahabat tak kasat mata Risa, yaitu Hans, Hendrick, William, Jenshen, dan Peter. Peter Van Gils adalah sosok hantu anak kecil yang sangat suka mengatur dibanding empat sahabatnya itu.

Peter dan teman-temannya kerap muncul di sekitar Risa Saraswati ketika ia masih kecil. Peter Van Gils adalah hantu anak kecil keturunan bangsawan Belanda tulen dari pasangan Albertus Van Gils dan Beatrice Van Gils, yang lahir di Indonesia.

Keluarga Peter hidup dan menetap di Jawa Barat. Peter adalah anak tunggal. Ibu Peter, Beatrice Van Gils merupakan wanita yang sangat cantik dan lemah lembut. Maka itu, ia mendidik anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.

Sedangkan, sang ayah, Albertus Van Gils, mendidik Peter dengan cara yang sangat berbeda dengan cara didik ibunya. Ayahnya mendidik Peter dengan cara militer, karena sang ayah juga diketahui hidup dalam didikan keluarga militer.

Ayah Peter mendidiknya dengan cara yang tegas dan disiplin. Tak jarang juga, Peter sampai menangis, saking galaknya sang ayah. Aya Peter juga menganggap Peter sangat bodoh, karena Peter sangat kesulitan untuk belajar bahasa Belanda.

Peter Van Gils bukan anak Belanda biasa. Orang tua Peter diketahui memiliki peran penting, terutama sang ayah. Peter lahir dalam keluarga yang tak kekurangan, dan bisa dibilang kaya. Meskipun mereka hidup di tanah jajahan, keluarga Peter lumayan terpandang.

Di tempat tinggal mereka,di sebuah kota yang kecil, tidak ada satu orang pun yang tidak kenal dengan keluarga Peter, keluarga Van Gils. Maka itu, menjadi hal yang wajar bahwa Peter memiliki sikap yang bossy dan suka memerintah.

Sebab, semasa hidupnya, begitulan yang Peter lakukan. Sebagai anak satu-satunya, Peter selalu ditemani oleh para pembantu dan pengasuh, yang dapat ia beri perintah dengan sesuka hati. Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai ia kini sudah menjadi hantu.

Pada waktu itu, ketika umur Peter masih sekitar 6 tahun, Peter belum sekolah. Peter sangat ingin untuk sekolah. Maka itu Peter, meminta kepada orang tuanya, agar ia bisa masuk sekolah. Pada awalnya, ayah Peter tidak mengizinkan Peter untuk bersekolah, karena sekolah yang paling dekat dari rumah mereka adalah sekolah yang dipenuhi pribumi.

Sang ayah tidak ingin anaknya bergaul dengan pribumi. Walaupun di sekolah itu juga terdapat sejumlah anak Belanda. Sang ayah kemudian memberikan solusi, dengan membiarkan Peter untuk belajar di rumah saja, dan mendatangkan guru terbaik yang dapat mendidik Peter jauh lebih baik dibanding guru-guru yang di sekolah pribumi itu.

Namun, Peter tetap bersikukuh tetap ingin masuk ke sekolah. Sebab, Peter ingin memiliki teman. Pada akhirnya sang ayah pun luluh, dan mengizinkan Peter untuk bersekolah. Peter masuk ke sekolah yang bernama HIS, sekolah terbaik di kota kecil itu.

Lingkungan sekolah ternyata tidak seperti yang Peter bayangkan. Peter kesulitan bergaul dengan anak-anak di sekolahnya. Kebanyakan anak di sekolah itu, termasuk juga anak keturunan Belanda, malah memusuhi dan mengejek Peter, karena tubuhnya yang pendek dan tidak bisa berbahasa Belanda.

Sebagai seorang keturunan Belanda, tidak bisa berbahasa Belanda merupakan hal yang memalukan. Apalagi Peter merupakan anak petinggi tentara Belanda. Di hari pertama sekolah, Peter merasa sedih, karena tidak diterima oleh teman-temannya.

Peter kemudian berlari kepada mamanya, dan mengadukan kejadianl itu. Mama Peter pun marah kepada teman-teman Peter. Bahkan, Peter sendiri merasa kaget, karena sikap mamanya yang sangat emosional itu, demi melindungi dia.

Kejadian memilukan itu membuat Peter tak ingin kembali ke sekolah. Sampai pada akhirnya, Peter kembali belajar di rumah saja. Orang tua Peter kembali mendatangkan guru-guru terbaik, tetapi tak ada yang tahan dengan sikap nakal Peter.

Hingga pada suatu hari, orang tua Peter mendatangkan seorang guru bernama Nafiah. Nafiah kemudian menjadi satu-satunya guru yang mampu mengatasi tingkah nakal Peter. Cara mendidik Nafiah juga berbeda dari semua guru yang pernah mengajar Peter sebelumnya.

Pete juga menyukai cara mengajar Nafiah. Pada suatu hari, saat sesi belajar dengan Nafiah ingin dimulai, Peter mendengar perbincangan Nafiah dengan Siti, pengasuhnya. Mereka membahas tentang Nippon yang pada saat itu siap menduduki Indonesia.

Selama hidupnya, Peter sering mengalami hal-hal yang menakjubkan. Mulai dari melakukan perjalanan ke Batavia, berkenalan dengan Suzana dan Renee yang menjadi teman baiknya, juga berseteru dengan Corrie. Corrie sempat membuat ulah sampai Peter ketakutan saat berada di kantor Gubernur Batavia.

Peter sampai minta kepada mamanya untuk segera pulang. Corrie menakut-nakuti Peter dan mengejeknya dengan memanggilnya “Si Pendek”. Ejekan itu kemudian membuat Peter merasa rendah tidak berharga dan merasa rendah diri. Lalu, selanjutnya dikisahkan tentang masa menjelang akhir kehidupan Peter dan keluarganya.

Kelebihan Novel Peter

Novel Peter ini dinilai sangat menarik untuk dibaca. Meskipun berkisah tentang kehidupan masa lalu seorang hantu anak kecil, kisah ini sangat hidup dan tidak menyeramkan. Ditambah lagi, mengetahui bahwa sosok Peter adalah nyata, dan cerita ini diperoleh dari Peter sendiri,

Plot cerita novel Peter ini juga tertata dengan sangat rapi, meskipun alurnya maju mundur. Hal ini kemudian membuat para pembaca dapat membaca novel ini dengan nyaman. Cara Risa Saraswati dalam menggambarkan setiap kejadian juga dapat membuat pembaca seolah-olah terlibat langsung dalam kejadian itu.

Risa Saraswati juga menggunakan bahasa yang sederhana, manis, dan halus, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Latar belakang masa lalu yang mengandung sejarah juga membuat novel ini menjadi bacaan yang bermakna. Dengan kata lain, pembaca dapat mempelajari sejarah melalui membaca buku ini.

Kekurangan Novel Peter

Oleh karena novel Peter ini berkisah tentang seorang anak Belanda dan keluarganya, tentunya terdapat sejumlah besar selipan bahasa Belanda dalam novel ini. Namun, selipan bahasa Belanda tersebut, ada beberapa yang tidak disertakan dengan terjemahan bahasa Indonesianya. Hal ini kemudian membuat beberapa pembaca tidak dapat memahami bagian tersebut.

Pesan Moral Novel Peter

Kasih sayang dan cinta ibu sungguh besar, dan kerap kali, mereka rela berkorban demi anak-anaknya. Anak dianggap sebagai bagian dari hidupnya. Jika sang anak tersakiti, ibu juga akan merasa tersakiti.

Begitu pun bagi anak. Anak pastinya mencintai ibu yang membawa dirinya bisa hadir di dunia ini. Cinta anak kepada ibunya tak akan lekang oleh waktu. Bahkan, hingga waktu di dunia ini telah habis sekalipun.

Sepandai apa pun engkau, setinggi apa pun derajatmu, sehebat apa pun dirimu, adalah tidak pantas untuk merendahkan orang lain. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna, begitu pun juga orang-orang yang didewakan dan dianggap sangat hebat di luar sana.

Semua orang memiliki kekurangannya masing-masing. Maka itu, jangan sekali-kali engkau yang masih belum sempurna ini merendahkan kehidupan orang lain.

Dengan merendahkan orang lain, yang mungkin bagimu adalah hal sepele dan lucu, mungkin dapat menghancurkan hidup orang yang kamu rendahkan. Selalu berhati-hati dalam berkata-kata, dan hendaklah selalu berbuat baik.

Bagi kalian yang penasaran akan kehidupan masa lalu Peter, kalian bisa mendapatkan novel Peter karya Risa Saraswati ini di www.gramedia.com.

Written by Gabriel