in

Sinopsis & Review Novel All the Bright Places

Novel All the Bright Places merupakan karya dari Jennifer Niven, seorang penulis wanita pertama yang telah mendapatkan gelar sebagai salah satu best selling author dalam skala internasional menurut The New York TimesNovel All The Bright Places pertama kali diterbitkan pada 6 Januari 2015 oleh Knopf Publishing Group.

Novel All the Bright Places menjadi karya debut Jennifer Niven dalam kategori young adult. Novel All The Bright Places telah diadaptasi menjadi sebuah film yang dibintangi oleh Elle Fanning dan Justice Smith, yang telah dirilis pada 28 Februari 2020 di Netflix.

Novel All the Bright Places meraih kesuksesan sebagai novel best seller. Novel ini juga berhasil menjadi pemenang dalam Goodreads Choice Award 2015 kategori fiksi Dewasa Muda Terbaik, juga dianugerahi Penghargaan Buku Remaja Terbaik Tahun 2019 untuk Penghargaan Buku Pilihan Anak-anak, dan Penghargaan Buku Mare di Libri 2016 untuk Buku YA Terbaik.

The New York Times bahkan membandingkan novem All the Bright Places dengan Eleanor & Park karya Rainbow Rowell, dan novel The Fault in Our Stars karya John Green. The New York Times menyatakan bahwa Violet dan Finch merupakan persembahan pola dasar dalam fiksi dewasa muda kontemporer, yakni sepasang remaja yang rusak dan menarik hati yang sekaligus terbuang dan terisolasi, dan terjebak oleh alkimia disonan dari nasib gabungan mereka.

The New York Daily News juga mengklaim, bahwa novel All the Bright Places akan menarik hati anda dan akan membuat anda menangis dengan kisah menarik dari dua remaja yang menyedihkan, yaitu Violet dan Finch. Kisah pencarian Violet dan Finch untuk menemukan ‘Semua Tempat Terang’ adalah salah satu yang dapat relevan dengan banyak orang.

Entertainment Weekly dan The Guardian juga memberikan ulasan yang sangat baik untuk novel All the Bright Places. The Guardian menuliskan, bahwa All the Bright Places bagaikan perampokan pertama Niven ke dalam fiksi dewasa muda tidak memiliki ketegangan naratif tetapi memiliki banyak beban emosional.

Beban emosional yang dimaksud adalah karena Jennifer Niven mengangkat isu kesehatan mental pada novel All The Bright Places ini. All the Bright Places mengisahkan tentang dua remaja yang masih duduk di bangku SMA bernama Violet dan Finch.

Mereka berdua bertemu di tower bel sekolah dengan kondisi dan kurang lebih sama, yakni merasa putus asa dan ingin untuk mengakhiri hidupnya. Finch yang melihat Violet kemudian menolongnya, dan mencegahnya untuk melakukan perbuatan buruk itu, tetapi rumor yang beredar malah menyebutkan Violet lah yang menyelamatkan Finch.

Terlepas dari rumor yang beredar di antara teman-temannya, hubungan Violet dan Finch menjadi semakin dekat, bahkan mereka berani untuk berbagi rahasia mereka yang paling dalam. Kedekatan hubungan mereka berlanjut menjadi perasaan cinta.

Rasa cinta ini bisa muncul, karena dengan kehadiran satu sama lain, mereka dapat menjadi diri mereka sendiri, dengan apa adanya. Namun, tak lama bagi mereka untuk menikmati masa bahagia dan kisah cinta mereka. Tak lama kemudian masalah pun datang, dan Violet serta Finch sama-sama berjuang untuk menjadi ‘survivor after suicide’.

Profil Jennifer Niven – Penulis Novel All the Bright Places

Sumber foto: goodreads.com

Jennifer Niven merupakan penulis buku yang populer dalam kancah internasional, dengan dianugerahi sebagai internationally best selling author oleh The New York Times. Jennifer Niven tumbuh besar di Indiana. Selain sebagai seorang penulis, Jennifer Niven juga bekerja sebagai penulis skenario, produser asosiasi di Televisi ABC, dan jurnalis

Buku-buku karya Jennifer Niven telah didistribusikan ke seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 75 bahasa. Karya-karya Jennifer Niven juga meraih banyak penghargaan. Salah satu karyanya yang sangat populer adalah novel All the Bright Places ini.

Dua buku pertama yang ditulis Jennifer Niven merupakan narasi non fiksi yang berjudul The Ice Master, yang diterbitkan pada tahun 2000, dan Ada Blackjack: A True Story of Survival in the Arctic, yang diterbitkan pada tahun 2003. Jennifer Niven juga mulai menulis rangkaian novel sejarah pada tahun 2009.

Novel sejarah pertama yang ia tulis berjudul Velva Jean Learns to Drive. Novel ini ditulis dengan inspirasi dari sebuah film pendek dengan judul yang sama dengan karya yang ia buat. Pada tahun 2010, Jennifer menerbitkan buku yang terinspirasi dari memori dirinya ketika sekolah, yang diberi judul The Aqua Net Diaries: Big Hair, Big Dreams, Small Town.

All the Bright Places menjadi novel debut Jennifer Niven dalam kategori young adult, yang berhasil diterbitkan pada 2015. Novel All the Bright Places ini berhasil sukses dan memenangkan berbagai penghargaan, seperti contohnya terpilih sebagai pemenang dalam Goodreads Choice Award 2015 kategori fiksi Dewasa Muda Terbaik, juga masuk daftar panjang untuk Penghargaan Fiksi Anak Guardian 2015.

Novel Ini juga berhasil diadaptasi menjadi film oleh produser film terbesar saat ini, Netflix, yang dibintangi oleh Elle Fanning, Justice Smith, Keegan-Michael Key, Alexandra Shipp, dan Luke Wilson. Produksi film adaptasi ini telah mulai sejak Oktober 2018 dan film ini resmi dirilis pada 28 Februari 2019.

Setelah kesuksesan pada debutan novel dewasa muda karyanya, Jennifer Niven kembali menulis novel dewasa muda best seller lainnya pada tahun 2016, yang berjudul Holding Up the Universe, dan novel dewasa Young Adult terbarunya yang dirilis pada tahun 2020, yang berjudul Breathless.

Sinopsis Novel All the Bright Places

Novel ini mengisahkan tentang Theodore Finch, seorang remaja lelaki yang terobsesi dengan kematian. Finch memiliki dua orang saudara perempuan, yaitu Kate yang hanya berbeda satu tahun lebih tua darinya, dan Decca yang masih berumur delapan tahun.

Ayah mereka diketahui telah pergi meninggalkan mereka, dan lebih memilih untuk membangun keluarga kecil yang baru nan bahagia. Namun, mereka masih sering mengunjungi rumah ayahnya setiap minggu sekali.

Cerita Finch dimulai ketika ia sedang berada di menara lonceng yang ada di sekolahnya. Finch saat ini memiliki niat untuk bunuh diri dengan terjun dari atas sana. Namun, niat itu tiba-tiba ia urungkan, karena ia melihat ada orang lain di sana.

Orang itu adalah Violet Markey. Violet berdiri di seberang balkon menara lonceng, dengan memegang sepatu bot di tangannya. Violet menatap ke bawah, entah itu menatap kakinya sendiri atau dasar tanah yang ada di bawahnya.

Kemudian, kejadian terjadi begitu cepat, tak tahu siapa yang menyelamatkan siapa. Rumor yang beredar setelah kejadian itu adalah Violet yang menyelamatkan Finch dari misi bunuh diri di menara lonceng sekolah.

Dari kejadian itu, Finch menjadi tertarik kepada Violet. Finch kemudian mencari tahu lebih dalam tentang sosok Violet. Dari pencarian informasi yang dilakukannya, Finch kemudian memperoleh informasi bahwa Violet merupakan seseorang yang selamat dari kecelakaan maut yang menewaskan kakaknya, Eleanor Markey.

Finch dan Violet kembali dipertemukan di kelas pelajaran Geografi Amerika. Di kelas tersebut Mr. Black yang merupakan guru mereka memberi tugas untuk para muridnya berpasangan membuat sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang.

Kelompok tersebut kemudian diberi tugas untuk melakukan perjalanan menyusuri suatu tempat di Amerika sebelum mereka lulus dari sekolah itu. Tanpa basa basi, Finch kemudian menyebut nama Violet Markey untuk menjadi pasangannya dan melakukan perjalanan bersama.

Finch dan Violet kemudian berkeliling menyusuri Indiana untuk menyelesaikan tugas mereka itu. Di sana, mereka mengunjungi situs yang tidak biasa atau penting.

Mereka juga melihat roller coaster buatan sendiri, mengunjungi Hoosier Hill yang merupakan bukit tertinggi di Indiana, dan masih banyak lagi lainnya. Hal yang dianggap penting bagi mereka bukan sekedar situs apa yang mereka kunjungi, melainkan juga makna dari perjalanan itu bagi diri mereka, terutama Violet.

Keduanya kemudian semakin dekat dan mengenal satu sama lain, dan pada akhirnya saling jatuh cinta dan memulai hubungan romantis. Finch juga mendorong Violet untuk mulai menulis lagi, dan untuk pertama kalinya setelah kecelakaan kakak perempuannya atau selama sembilan bulan lamanya, Violet mulai menulis lagi..

Finch juga membantu Violet untuk mulai terbuka dengan berani membahas tentang kematian kakak perempuannya. Violet juga merasa Finch adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk mencurahkan perasaannya, bahkan orang tuanya sendiri tidak bisa membuat Violet membahas kejadian itu. Pada akhirnya, Violet pun mulai sembuh.

Lalu, terjadi sesuatu yang menjadi masalah besar. Finch dan Violet ketiduran di Menara Purina. Akibatnya, mereka tidak pulang malam itu dan baru pulang di pagi hari pada keesokan harinya. Ketika Finch dan Violet sampai di rumahnya masing-masing, kedua orang tua mereka sudah menunggu mereka.

Meskipun tidak terjadi apa-apa di antara mereka, kedua orang tua Violet terlalu berpikiran buruk, dan akhirnya tidak memercayai Finch lagi. Violet pada akhirnya dilarang untuk bertemu dengan Finch.

Bahkan, orang tua Violet juga menghubungi orang tua Finch untuk membahas mengenai hal ini. Hal yang terjadi kemudian adalah ayah Finch ikut turun tangan atas kejadian ini.

Finch pada akhirnya cekcok dengan ayahnya. Hal ini membawa memori masa lalu, yang mana menorehkan luka panjang di perut Finch, yang masih terlihat hingga saat ini. Luka itu disebabkan oleh Finch yang masih kecil dan tidak bisa melakukan apa-apa ketika menghadapi ayahnya yang sedang emosi.

Selain luka fisik yang masih tertoreh di badannya, tentu saja Finch memiliki luka batin dari masa lalunya, yang ditimbulkan oleh sang ayah, dan masih terbawa hingga Finch telah beranjak dewasa sekarang ini. Finch kemudian menghilang tanpa ada kabar.

Padahal, selama Finch dan Violet tidak diizinkan untuk bertemu dengan satu sama lain, mereka melanggar perintah orang tuanya itu. Mereka terus bertemu di sekolah maupun di luar sekolah.

Namun, suatu hari Finch menghilang begitu saja. Violet kemudian langsung menanyakan keberadaan Finch kepada keluarga Finch. Keluarga Finch menanggapi pertanyaan tersebut dengan santai, dan mengatakan bahwa Finch memang sering menghilang.

Mereka juga mengatakan bahwa paling Finch hanya sedang berlari ke sebuah tempat, dan ia pasti akan kembali. Finch kembali lagi memikirkan dan memiliki niat untuk mengakhiri hidup. Finch bahkan sempat mengambil pil-pil obat tidur milik ibunya dan menenggak sebanyak satu botol obat tersebut.

Namun, tak lama ia tersadar dan segera memuntahkan seluruh obat yang ia minum, lalu segera pergi ke rumah sakit. Tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut, bahwa Finch juga dirawat sementara di rumah sakit.

Suatu saat, Finch menemukan sebuah komunitas yang bernama Life is Life. Life is Life merupakan wadah bagi orang-orang yang memiliki masalah depresi dan pernah mencoba untuk mengakhiri hidup mereka. Komunitas ini memiliki tujuan untuk membantu anggotanya menemukan pencerahan dan semangat untuk hidup.

Di komunitas tersebut, Finch tak sengaja bertemu dengan Amanda yang merupakan teman Violet. Amanda juga merupakan orang yang sering mengejek Finch, dan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang aneh.

Pada akhirnya Amanda kemudian memberitahu tentang pertemuannya dengan Finch itu kepada Violet. Violet akhirnya bertemu kembali dengan Finch, dan ia ingin menanyakan tentang komunitas itu.

Ia ingin bertanya, apakah benar Finch berniat untuk bunuh diri lagi. Namun, Violet mengabaikan keinginannya tersebut, karena melihat keadaan Finch pada saat itu. Violet melihat ada yang berbeda dengan Finch.

Violet kemudian merasa panik dan ingin membantu Finch. Maka itu, Violet akhirnya memberitahu keadaan Finch yang membutuhkan pertolongan kepada orang tua Finch.

Pada awalnya, orang tua Finch marah, karena mengetahui Finch masih berhubungan dengan Violet. Namun, pada akhirnya orang tua Violet ikut turun tangan dan mencoba membantu.

Orang tua Violet menghubungi ibu Finch, juga menelpon psikiater untuk Finch. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Finch kembali menghilang lagi dan tidak bisa ditemui.

Kelebihan Novel All the Bright Places

Gaya bahasa Jennifer Niven dalam menuliskan cerita ini ringan, tetapi memiliki insight di dalamnya. Hal ini membuat novel ini mudah untuk dibaca, tapi di sisi lain memiliki makna yang mendalam

Jennifer juga menyelipkan detail berupa informasi-informasi kecil yang pada awalnya terlihat sepele, tetapi ternyata berkaitan dengan pembangunan alur cerita. Contohnya, seperti informasi besaran persen kemungkinan orang-orang yang mati bunuh diri dengan gantung diri, minum pil, atau melompat dari ketinggian, memiliki ciri-ciri yang berbeda.

Jennifer juga menggunakan dua sudut pandang tokoh yang berbeda dalam cerita ini. Sudut pandang yang pertama adalah sudut pandang Finch sebagai laki-laki yang memiliki konflik batin dan masalah hidup. Lalu, sudut pandang Violet sebagai perempuan yang juga memiliki konflik batin dan masalah hidup.

Jika membaca novel All the Bright Places versi terjemahan Bahasa Indonesia, anda dapat menemukan berbagai diksi baru yang tidak umum digunakan. Hsl ini kemudian menyebabkan para pembaca bisa memperoleh pengetahuan atas kosakata baru melalui bacaan ini.

Kekurangan Novel All the Bright Places

Novel All the Bright Places ini merupakan cerita yang gloomy dan mungkin dapat menjadi trigger bagi sejumlah orang. Sebab, cerita dalam novel ini berhubungan dengan kasus bunuh diri, penyakit mental, trauma, bullying, dan semacamnya.

Maka itu, tidak sedikit pembaca yang kemudian menjadi terpengaruh secara emosional setelah membaca novel ini. Seperti memiliki beban yang sama dengan para tokoh cerita ini.

Pembaca melihat bahwa keberadaan teman-teman terdekat Finch, seperti tidak sering disebutkan dalam cerita. Namun, sebaliknya, dalam sudut pandang Violet, teman-teman dekatnya lebih sering disebutkan. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan akan keberadaan tokoh pendukung Finch, dan membuat kesan yang kurang adil.?

Pesan Moral Novel All the Bright Places

“Masalah manusia adalah mereka sering lupa bahwa kerap kali hal kecil adalah hal yang paling berarti. Semua orang seringkali disibukkan untuk menunggu di tempat menunggu. Seandainya saja, kita berhenti untuk mengingat bahwa ada sesuatu seperti Menara Purina dan pemandangan seperti ini, kita semua pasti akan lebih bahagia.”

Kutipan ini ingin mengingatkan kita bahwa kita kerap kali tidak menganggap dan tidak mensyukuri hal-hal kecil. Padahal, hal-hal yang kita anggap kecil itu bisa menjadi sangat berarti dan dapat membuat kita tersenyum. Contohnya, seperti melihat pemandangan yang indah.

Harapanmu terletak pada kemampuanmu untuk menerima bahwa kehidupan yang saat ini terbentang di hadapanmu telah berubah untuk selamanya. Jika kamu dapat melakukan itu, kedamaian yang kamu cari akan segera kamu temukan.

Jika anda mencari kedamaian dan kebahagiaan, salah satu cara atau langkah yang harus anda tempuh adalah menerima kehidupan anda saat ini. Sebab, sekeras apapun anda mencari kebahagiaan dan kedamaian, anda tidak akan dapat menemukannya jika masih belum menerima kenyataan saat ini.

Sebagai seorang orang tua, sebagai seorang anak, sebagai seorang teman, sebagai seorang saudara, dan lain sebagainya, hendaknya lebih peka dan sensitif atas keadaan kesehatan mental orang-orang yang ada di sekitar anda. Jika mereka memiliki tanda-tanda tertentu, segera bantu mereka.

Sebab, mungkin saja mereka sudah dalam keadaan yang ‘kritis’ dan membutuhkan uluran tangan yang benar-benar peduli kepada mereka. Jangan sepelekan kesehatan mental.

Bagi kalian yang penasaran akan kelanjutan kisah Finch dan Violet, segera dapatkan novel All the Bright Places karya Jennifer Niven hanya di www.gramedia.com.

Written by Gabriel