in

Sinopsis & Review Novel Kafka on the Shore

Novel Kafka on the Shore ditulis oleh Haruki Murakami, seorang penulis ternama asal Jepang, yang telah dikenal dalam kancah internasional. Haruki Murami dikenal sebagai penulis Jepang kontemporer yang memiliki pengaruh besar di era modern. Semua karya Haruki Murakami sangat kental dengan unsur surealis.

Bagi para penggemar Haruki Murakami, pastinya sudah mengetahui bagaimana gaya penulisan Haruki yang sangat khas. Bahkan, banyak orang yang menganggap tulisan Haruki Murakami sebagai genre khusus. Sebab, gaya tulisannya sangat unik dan tidak ada gaya penulisan dari penulis lain yang seperti itu.

Novel Kafka on the Shore pertama kali diterbitkan pada tahun 2002. Novel Kafka on the Shore diterjemahkan ke Bahasa Inggris pada tahun 2005, dan berhasil masuk ke dalam daftar “the 10 Best Books of 2005” dari the New York Times, juga mendapat Penghargaan Fantasi Dunia untuk tahun 2006.

Novel Kafka on the Shore masuk ke dalam genre realisme magis. Alur cerita Novel Kafka on the Shore mengisahkan tentang realitas metafisik yang berkelok-kelok, dan dipenuhi dengan teka-teki. Cerita novel Kafka on the Shore ini dipusatkan pada dua tokoh utama, yaitu Kafka Tamura, dan Nakata.

Kafka Tamura merupakan seorang remaja laki-laki yang melarikan diri dari rumah. Ia melarikan diri dari rumah untuk menghindari ramalan sang ayah yang mengerikan, sekaligus untuk mencari saudara perempuan dan ibunya yang telah lama hilang.

Kafka Tamura merupakan sebuah gambaran berbeda dari sosok Oedipus, seorang Raja thebes yang menikahi ibunya sendiri. Sejak Kafka masih kecil, sang ayah telah menetapkan ramalan, atau lebih tepatnya sebuah kutukan, bahwa kelak, Kafka akan meniduri ibu kandungnya dan akan membunuh ayahnya.

Nakata merupakan seorang yang sudah tua dan bodoh, yang diketahui sebagai bayangan atau wujud semu dari Kafka. Nakata diketahui tidak pernah pulih dari penderitaan yang ia alami pada masa perang. Nakata memiliki ketertarikan kepada Kafka, karena alasan yang tidak bisa ia pahami. Ketertarikan itu layaknya aktivitas paling dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengembaraan mereka sangat misterius bagi mereka sendiri, begitu juga halnya bagi kita. Kisah mereka diperkaya oleh berbagai peristiwa yang memukau, dan kaki tangan yang hidup. Contohnya seperti kucing dan orang yang berbincang, germo seperti hantu yang mempekerjakan pelacur yang mengutip Hegel, hutan yang berisi kumpulan tentara yang tampaknya tidak berumur sejak Perang Dunia II, dan badai ikan yang jatuh dari langit.

Cerita ini juga mengandung pembunuhan brutal, dengan identitas korban dan pelaku yang tidak diketahui. Namun, pada akhirnya, bersama dengan yang lainnya, segala teka-teki akan terjawab. Begitu juga akan terjawab takdir Kafka dan Nakata yang terjadi secara bertahap, dengan lolos dari salah satu nasibnya secara penuh, dan yang lainnya diberi awal baru.

Novel Kafka on the Shore terbagi menjadi dua plot cerita yang menceritakan secara khusus perjalanan masing-masing tokoh, Kafka dan Nakata. Kedua plot cerita ini berdiri sendiri-sendiri, tetapi keduanya saling terhubung.

Oleh karena novel Kafka on the Shore mengandung cerita yang penuh teka-teki, Haruki Murakami sebagai penulis novel ini, setelah novel ini terbit, membuka kesempatan bagi para pembaca yang ingin mengajukan pertanyaan mengenai cerita yang tidak mereka pahami.

Kesempatan sesi tanya jawab ini menghasilkan sekitar lebih dari 8000 pertanyaan, dan dari semua pertanyaan itu, Haruki Murakami mampu menjawab sekitar 1200 pertanyaan. Selain menjawab berbagai pertanyaan secara langsung melalui sesi tanya jawab, Haruki Murakami juga menganjurkan para pembaca untuk membaca novel Kafka on the Shore ini berulang kali, agar dapat mendapatkan jawaban.

Haruki Murakami menyatakan, bahwa novel Kafka on the Shore mengandung sejumlah teka-teki, tapi tidak menyediakan jawabannya. Teka-teki tersebut kemudian memunculkan analisis dari setiap pembaca, dan memunculkan kemungkinan jawaban yang pastinya berbeda bagi masing-masing pembaca.

Dengan kata lain, teka-teki dalam novel ini memiliki fungsi sebagai bagian dari jawaban atas teka-teki itu sendiri. Sulit untuk menjelaskannya, tetapi memang seperti ini novel yang ingin Haruki Murakami tulis.

Novel Kafka on the Shore ini sangat cocok untuk anda yang gemar membaca tulisan bergaya magis, fantasi, dan penuh misteri. Perlu diperhatikan juga, novel Kafka on the Shore ini mengandung beberapa unsur eksplisit yang bersifat disturbing. Jadi, pastikan anda sudah cukup umur ya sebelum anda membaca novel ini.

Profil Haruki Murakami – Penulis Novel Kafka on the Shore

Sumber foto: japantimes.co.jp

Haruki Murakami merupakan pria 73 tahun, kelahiran 12 Januari 1949. Haruki Murakami tumbuh dewasa di Kobe, sebelum akhirnya pindah ke Tokyo untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Haruki Murakami mengemban pendidikan tinggi di Waseda University. Haruki Murakami merupakan seorang penulis Jepang kontemporer yang sudah dikenal hingga kancah internasional. Haruki Murakami sebagai seorang penulis telah diakui, dengan bukti banyaknya penghargaan yang ia raih di dunia kepenulisan

Beberapa penghargaan tersebut, di antaranya Yomiuri Literary Prize (1995), Kuwabara Takeo Academic Award (1998), Frank O’Connor International Short Story Award (Irlandia, 2006), Franz Kafka Prize (Cekoslovakia, 2006), Asahi Prize (Japan, 2006), dan Kiriyama Prize (2007).

Karya-karya Haruki Murakami, baik itu, novel, esai, maupun cerita pendeknya, berhasil meraih kesuksesan dengan menjadi buku best seller di Jepang dan juga di cakupan internasional. Karya Haruki telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa, dan telah terjual mencapai jutaan kopi di seluruh dunia. Atas karya-karyanya tersebut, Haruki Murakami juga menerima banyak sekali penghargaan. Beberapa penghargaan itu, yakni Gunzou Prize for New Writers, World Fantasy Award, Frank O’Connor International Short Story Award, Penghargaan Franz Kafka, dan Penghargaan Yerusalem.

Novel pertama karya Haruki Murakami berjudul Hear the Wind Sing, yang diterbitkan pada tahun 1979. Diketahui, Haruki menulis novel tersebut setelah usai bekerja sebagai pemilik dari sebuah bar jazz kecil selama tujuh tahun lamanya.

Karya Haruki lainnya yang terkenal, yaitu Norwegian Wood (1987), Kronik Burung Pegas (1994–1995), Kafka on the Shore (2002), dan 1Q84 (2009-2010). Buku 1Q84 bahkan menduduki peringkat pertama sebagai karya terbaik Jepang era Heisei (1989-2019) menurut surat kabar nasional Asahi.

Karya-karya Haruki Murakami mencakup berbagai genre, seperti fiksi ilmiah, fantasi, dan fiksi kriminal. Karya Haruki Murakami juga dinilai khas dengan penggunaan elemen realis magis. Dalam situs web resmi yang dimilikinya, Haruki Murakami mencantumkan Raymond Chandler, Kurt Vonnegut, dan Richard Brautigan sebagai inspirasi utama dari karya-karyanya.

Selain itu, Haruki Murakami juga telah mengutip Kazuo Ishiguro, Cormac McCarthy, dan Dag Solstad sebagai penulis aktif yang menjadi favoritnya pada saat ini. Selain novel, Haruki Murakami juga menerbitkan karya berupa kumpulan cerita pendek, contohnya yang baru saja diterbitkan pada tahun 2020, yang berjudul First Person Singular.

Karya fiksi Haruki telah mempolarisasi kritikus sastra dan para pembacanya. Ia juga terkadang mendapat kritik dari kemapanan sastra Jepang, sebagai seorang non-Jepang, yang menyebabkan Haruki Murakami dianggap sebagai kambing hitam dalam dunia sastra Jepang.

Sementara itu, Haruki Murakami juga digambarkan sebagai penulis yang sangat luar biasa oleh Gary Fisketjon yang merupakan editor koleksi Murakami the Elephant Vanishes (1993). Steven Poole dari the Guardian juga memuji sosok Haruki Murakami sebagai salah seorang novelis masyur yang masih hidup, untuk oeuvre dan seluruh pencapaiannya.

Sinopsis Novel Kafka on the Shore

Tentang Kafka Tamura

Seorang anak laki-laki yang bernama Kafka Tamura saat itu sedang berulang tahun yang ke lima belas. Tepat pada hari ulang tahunnya itu, ia melarikan diri dari rumahnya, karena ia merasa bahwa ia sudah tak lagi sejalan dengan sang ayah. Meskipun, sang ayah adalah keluarga satu-satunya yang masih ia miliki.

Ibu kandung dan kakak perempuan Kafka telah pergi meninggalkan Kafka dan ayahnya entah kemana, sejak Kafka baru berumur empat tahun. Kafka tetap nekat untuk mencari jalan hidupnya sendiri, ditemani dengan seorang anak yang bernama Gagak, yang merupakan suara hatinya sendiri.

Kafka melakukan perjalanan menuju ke sebuah kota kecil yang bernama Takamatsu. Di kota itu, Kafka menemukan satu perpustakaan milik keluarga Komura, yang ditata secara rapi. Di perpustakaan itu, Kafka dapat menghabiskan waktu kosongnya ketika melakukan pelarian.

Dari kunjungannnya ke perpustakaan tersebut, Kafka akhirnya menjadi akrab dengan penjaga perpustakaan yang bernama Oshima. Oshima sangat baik, ia kerap kali membantu Kafka dalam segala hal. Kafka juga kemudian berkenalan dengan Nona Saeki, sosok pengelola perpustakaan tersebut.

Pertemuannya dengan Nona Saeki membawa Kafka mengetahui kehadiran lagu dan lukisan yang berjudul “Kafka on the Shore”, yang dimiliki oleh Nona Saeki. Kafka pada akhirnya terseret ke dalam misteri tersebut.

Tentang Kejadian di Bukit tahun 1946

Bagian pertama merupakan salinan dari dokumen-dokumen milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang pada akhirnya diumumkan kepada publik pada tahun 1986, dengan mengatasnamakan kebebasan informasi. Dokumen-dokumen tersebut adalah transkrip wawancara tentang kejadian di sebuah bukit kecil yang ada di Yamanashi, pada tahun 1946.

Pada masa itu, yang mana merupakan masa setelah perang, seorang guru wanita mengajak seluruh murid kelas satu sekolah dasar setempat untuk mengunjungi sebuah bukit. Dalam perjalanan menuju bukit itu, ia melihat benda aneh yang melayang di angkasa.

Pada saat mereka tiba di bukit, peristiwa aneh lainnya kembali terjadi. Seluruh murid yang ikut ke bukit itu pingsan tanpa ada pertanda apapun, secara serempak, dan tiba-tiba. Sang ibu guru sontak langsung memanggil bantuan. Namun, ketika ia sedang mencari bantuan, seluruh murid itu terbangun, tapi mereka tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi ketika mereka pingsan.

Seluruh murid kembali normal lagi, kecuali satu orang murid yang tak kunjung siuman. Anak itu pun akhirnya dibawa ke rumah sakit yang di kota, dan kabarnya tak pernah terdengar lagi.

Tentang Pria Tua Nakata

Nakata merupakan seorang pria yang sudah tua, yang tinggal di daerah Nakano, Tokyo. Nakata merupakan seorang yang bodoh dan tidak mampu membaca. Namun, Nakata memiliki kemampuan unik, atau aneh, yaitu ia dapat berbicara dengan kucing.

Nakata hidup sebatang kara tanpa pekerjaan, dan hanya mengandalkan subsidi dari kota, yang diberikan kepada orang-orang yang terbelakang. Nakata sesekali bisa menghasilkan uang tambahan ketika diminta tolong orang untuk mencari kucing yang hilang.

Suatu saat, Nakata diminta tolong untuk mencari seekor kucing tortie berusia satu tahun yang bernama Goma. Dibekali dengan kemampuannya untuk berbicara dengan kucing, Nakata kemudian keliling untuk mencari Goma.

Nakata berkenalan dengan setiap kucing yang ia temui, dan memberikan nama kepada mereka. Kawamura, Otsuka, dan Mimi merupakan beberapa contoh nama yang ia berikan kepada teman-teman kucingnya.

Pada suatu hari, ada kejadian yang mengharuskan Nakata pergi dari Nakano untuk menyelesaikan suatu urusan. Dari situ, Nakata kemudian melakukan perjalanannya.

Ketiga cerita tersebut pada akhirnya bertemu dan saling terhubung dalam satu jalur, yang membentuk suatu bangunan cerita surealis. Cerita yang akan menimbulkan banyak pertanyaan hingga halaman terakhir.

Kelebihan Novel Kafka on the Shore

Kelihaian Haruki Murakami dalam menulis tentunya tak usah diragukan lagi. Lagi-lagi, kepiawaiannya dalam menulis dibuktikan melalui buku Kafka on the Shore ini. Novel ini berhasil ditulis dengan pemilihan kata yang indah, dengan menyelipkan sejumlah kata-kata mutiara yang memukau pembaca.

Pembaca dapat memperoleh banyak hal ketika membaca novel Kafka on the Shore ini. Beberapa di antaranya, yaitu mengenai keluarga, cinta, nasib, pergulatan batin, identitas diri, dan lain sebagainya. Pembaca dapat menemukan bahwa novel ini sangat kompleks dan detail, tapi mudah untuk dipahami dan seru.

Kompleksitas dari novel ini juga dilengkapi dengan alur yang berkelok-kelok dan sejumlah teka-teki yang tidak ada jawabannya. Jawaban atas teka-teki tersebut tidak disediakan dalam novel ini, melainkan harus ditemukan sendiri oleh para pembaca. Maka dari itu, novel ini mampu mendorong eksplorasi imajinasi para pembacanya.

Meskipun novel Kafka on the Shore ini pada dasarnya ditulis dalam Bahasa Jepang, versi terjemahan novel ini ke dalam Bahasa Indonesia dinilai rapi dan enak untuk dibaca. Pemilihan kata dan kalimat yang dibentuk mudah untuk dipahami.

Kekurangan Novel Kafka on the Shore

Novel Kafka on the Shore ini mengandung cerita yang mengutip banyak tokoh dunia, seperti Hitler dan Beethoven, ada juga kutipan-kutipan para filsuf ternama, yang dianggap beberapa pembaca menjadikan bagian cerita tersebut menjadi membosankan dan sulit untuk dimengerti. Hal ini mungkin diakibatkan para pembaca yang kurang familiar dengan tokoh-tokoh tersebut, dan makna kutipan yang disajikan.

Dari sinopsis novel Kafka on the Shore ini, telah diketahui tentang ramalan mengerikan atau kutukan yang diberikan ayah Kafka kepadanya. Kutukan tersebut mengandung unsur inses dan pembunuhan. Maka itu, dapat diketahui bahwa dalam cerita ini terdapat berbagai bagian eksplisit yang mungkin akan mengganggu bagi sebagian orang.

Beberapa contohnya, yaitu adegan erotis atau sensual digambarkan secara gamblang pada novel ini, adegan inses yang tidak bisa dibenarkan pada budaya apa pun, juga adegan pembunuhan yang brutal. Maka itu, novel Kafka on the Shore ini tidak cocok untuk dibaca oleh kalian yang memiliki masalah akan hal tersebut, juga tidak boleh dibaca oleh anak di bawah umur.

Pesan Moral Novel Kafka on the Shore

Melarikan diri bukan merupakan jalan keluar yang terbaik. Dari cerita novel ini, kita dapat belajar dari Kafka, bahwa melarikan diri bukan menjadi jalan keluar baginya. Melarikan diri malah membuatnya kesulitan dengan perjalanan yang panjang, dan melarikan diri tidak membuat kutukan dari sang ayah hilang.

Hidup selalu bergerak, waktu akan terus berjalan, manusia akan selalu berubah. Maka itu, hendaknya kamu jangan terjebak dengan masa lalu. Sebab, hal itu akan sangat menghambatmu dalam menjalani hidup.

“Kehilangan kesempatan, kehilangan kemungkinan, perasaan yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan kembali. Itu bagian dari apa artinya hidup. Namun, di dalam kepala kita, atau setidaknya di situlah saya membayangkannya, ada ruang kecil tempat kita menyimpan kenangan itu. Ruangan seperti tumpukan yang ada di perpustakaan ini. Dan untuk memahami cara kerja hati kita sendiri, kita harus terus membuat kartu referensi baru. Kita harus membersihkan barang-barang dalam ruangan itu sesekali, membiarkan udara segar masuk, mengganti air di vas bunga. Dengan kata lain, anda akan hidup selamanya di perpustakaan pribadi milik anda sendiri.”

Kutipan ini ingin mengingatkan kita bahwa segala hal yang terjadi adalah bagian yang membentuk arti kehidupan. Segala memori, baik itu baik atau buruk, akan tersimpan menjadi bagian dari diri kita. Maka itu, kita dapat belajar dari segala kejadian yang telah kita alami.

Kita juga harus membersihkan ruang penyimpanan memori atau pikiran kita sekali-kali. Mungkin bisa dengan meditasi, dengan refreshing, atau sesederhana menerima segala memori tersebut, agar pikiran tidak kacau dan berantakan.

Bagi kalian yang ingin membaca kelanjutan perjalanan Kafka dan Nakata, kalian bisa mendapatkan novel Kafka on the Shore karya Haruki Murakami ini di  www.gramedia.com.

Written by Gabriel