in

Resensi Novel Penance by Kanae Minato

Resensi Novel Penance by Kanae Minato – Buku yang memiliki judul Penance yang menjadi karya kedua dari Minato Kanae setelah Confessions. Minato Kanae merupakan seorang penulis asal Jepang. Buku dengan genre psychological thriller ini menceritakan kisah tentang “Penance” itu sendiri yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti penebusan dosa.

Dengan berlatar belakangkan tragedi yang terjadi pada 15 tahun yang lalu, dimana saat Emily, seorang anak perempuan yang saat itu berusia 10 tahun menjadi korban kekerasan seksual serta dibunuh oleh seseorang yang tidak dikenalnya.

Resensi Novel Penance 

Cerita pada novel Penance dimulai dengan latar belakang waktu 15 tahun yang lalu, dimana Emily, seorang anak perempuan yang duduk di bangku sekolah dasar dan berasal dari keluarga yang kaya raya, berpindah ke sebuah kota kecil bernama Ueda. Dalam waktu singkat, Emily sudah bisa berteman dekat dengan empat anak perempuan lainnya yang bernama Sae, Maki, Akiko, dan Yuka.

Kelima sahabat tersebut selalu bermain bersama dengan cara mengunjungi rumah antara satu sama lain. Hingga pada suatu saat, setelah terjadi sebuah kejadian dimana boneka antik yang dimiliki oleh mereka hilang, mereka mengalami sebuah tragedi atau kejadian yang mengerikan.

Hingga pada suatu hari disaat jam usai sekolah tepatnya pada perayaan obon, terdapat seorang pria yang tidak dikenal datang ke sekolah mereka, dimana saat itu kelima sahabat tersebut sedang bermain bola di halaman sekolah. Pria tersebut menyamar dengan menjadi seorang teknisi ventilasi dan membawa Emily dari sahabatnya yang lain dengan alasan meminta bantuan dari mereka tersebut.

Ketika kelima sahabat tersebut sedang bermain, pria tersebut kemudian menghampiri mereka dan mencoba meminta bantuan untuk memperbaiki pipa. Kemudian, kelima sahabat tersebut saling berdebat tentang siapa yang harus membantu pria tersebut, hingga pada akhirnya pria tersebut memilih Emily dan keempat anak perempuan lainnya memutuskan untuk meneruskan permainan mereka.

Beberapa waktu kemudian, setelah keempat gadis perempuan tersebut masuk ke dalam ruang ganti yang ada di dalam gedung olahraga sekolah hanya untuk menyaksikan sahabatnya tersebut telah meninggal dan pria yang mereka tidak kenali tersebut telah hilang dan tidak dapat ditemukan.

Tragedi pembunuhan tersebut memberikan efek yang sangat mengerikan bukan hanya pada keempat gadis tersebut, namun juga kepada seluruh masyarakat lokal, namun memang yang paling terkena dampaknya adalah Sae, Maki, Akiko, dan Yuka, beserta mama dari Emily, yaitu Asako.

Setelah beberapa bulan insiden tersebut berlalu, Asako mengundang keempat gadis tersebut untuk datang ke rumahnya, hanya untuk menuduh mereka karena telah berbohong tidak mengenali wajah pelaku pembunuhan anaknya tersebut, dan bahkan menuntut semacam penebusan dosa agar pria tersebut dapat pergi tanpa tertangkap.

Cerita kemudian berlanjut pada latar 15 tahun kemudian, dimana Sae, Maki, Akiko, dan Yuka telah tumbuh dewasa, namun ternyata kehidupan keempat gadis tersebut menjadi berantakan, hal ini dikarenakan dampak dari pembunuhan  Emily yang terjadi serta perlakuan dari Asako sebagai ibu dari Emily yang menyalahkan aksi mereka, walau dalam cara yang berbeda.

Novel ini kemudian mengungkapkan kisah mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada insiden saat itu, baik sebelum, selama, dan juga setelah insiden tersebut terjadi. Cerita kemudian dibagi menjadi ke dalam 5 bagian atau chapter, yang masing-masing chapter menceritakan kisah keempat gadis, yaitu Sae, Maki, Akiko, dan Yuka serta Asako setelah terjadinya insiden tersebut.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Namun, dibalik itu semua, bagian inilah yang menjadi aspek dan aset terbaik dari novel Penance ini, dimana sebagai seorang penulis Kanae Minato sangatlah cerdik karena berhasil untuk menganalisis serta memberikan kesan individual terhadap semua karakternya, sambil sekaligus secara perlahan menyatukan semua kisah yang terjadi di balik insiden pembunuhan Emily yang mengerikan tersebut.

Berbagai kisah mengerikan tersebut yang ada di dalam buku membuat alur ceritanya semakin menarik dan menghibur hingga pada akhir buku. Namun, terdapat pula konteks lain yang sangat memikat hati, dimana cara penulis menganalisis karakter yang mengarahkan pada sejumlah komentar sosio filosofis. Karena hal tersebut, pendekatan dengan menggunakan pengakuan secara individu juga dapat bekerja dengan baik.

Pada bagian yang menceritakan salah satu dari keempat gadis tersebut, yaitu Sae yang juga mengomentari tempat atau kedudukan wanita yang ada di dalam masyarakat Jepang yang masih cukup konservatif, hingga mencapai konsep perjodohan serta penyimpangan yang dapat dilihat dari suaminya dan obsesinya.

Selanjutnya, bagian yang menceritakan gadis lainnya, yaitu Maki menceritakan dan membahas terkait konsep keberanian dan bagaimana masyarakat yang selalu berusaha menciptakan seorang pahlawan serta penjahat dalam sekejap mata.

Sedangkan, pada bagian Akiko, digunakan untuk menekankan dan menyorot bagaimana cara sebuah keluarga membesarkan anak mereka, dan hal ini juga termasuk membahas konsep hikikomori, dan dengan cara sekasar mungkin, melalui pelecehan anak.

Bagian Yuka, yang menjadi bagian terakhir dari keempat gadis tersebut sedikit berbeda jika dibandingkan dengan yang lain, karena di dalamnya kisahnya dia digambarkan dan muncul layaknya seorang korban namun sekaligus sebagai seorang pelaku. Walaupun, kritik terkait konsep keluarga juga dibahas pada bagian ini.

Untuk chapter atau bagian terakhir, yaitu Asako yang jauh lebih berbeda lagi, sebagai penutup dari keseluruhan cerita utama yang juga memberikan para pembacanya pencahayaan atas kasus yang terjadi pada karakter lainnya.

Namun, kejadian yang terjadi pada bagian ini sedikit tampak terlalu dibuat-buat, dengan berbagai kebetulan yang dianggap terlalu ekstrem, yang membuat nilai realisme dari keseluruhan cerita menjadi berkurang. Pada saat yang sama, inilah satu-satunya bagian atau chapter yang memberikan perspektif atau sudut pandang dari orang tua, yang dalam cara tertentu membuat perilaku Asako tampak terlihat benar setelah insiden pembunuhan dari anak perempuannya tersebut.

Selanjutnya, salah satu komentar yang paling menarik dalam novel ini juga muncul pada bagian ini, dimana begitu berbedanya hubungan antara seorang ibu dengan anak perempuannya dibandingkan dengan anak laki-lakinya. Dan yang terakhir, bagian ini juga menggambarkan perbedaan antara orang kota dengan penduduk desa, dimana penulis menunjukkan perbedaan tersebut hingga mencapai batasan rasisme.

Dalam buku Penance ini juga dikelilingi dengan narasi atas sebuah konsep rasa bersalah serta trauma dan bagaimana hal tersebut dapat membentuk seseorang terutama anak-anak. Kanae Minato juga membuat penilaian atau komentar kejam namun juga realistis terkait betapa tipisnya garis yang membedakan antara korban dengan pelaku, dan yang membuat seorang pelaku tersebut tercipta.

Dengan cerita yang menarik, serta gaya tulisan penulis yang mudah dipahami, tidak bertele-tele, dan pada umumnya di seluruh cerita berupa kalimat pendek, membuat buku ini dapat berjalan dengan alur yang mudah dipahami, walaupun memiliki tema yang cukup berat.

Penjelasan Chapter Novel Penance

1. Bab pertama, Sae

Kisah Sae sendiri diawali dengan kisah terkait kotanya yang mempunyai udara terbersih di Jepang. Hal ini sendiri ia dapatkan informasinya melalui perusahaan Adachi yang membangun pabrik mereka di Jepang yang membuat banyak orang Tokyo pada saat itu berpindah ke kotanya dan pada saat itulah Sae bertemu dengan Emily yang baru saja pindah.

Sae juga menceritakan mengenai keempat sahabatnya yang selalu bermain bersama dan kebiasaan kota tempatnya tinggal tersebut untuk meletakkan Boneka Perancis di depan rumah.

Hingga pada akhirnya insiden Emily terjadi, yang membuat kehidupan Sae berubah menjadi dengan penuh rasa ketakutan yang berdampak hingga membuatnya tidak dapat mengalami menstruasi hingga saat ia berumur 25 tahun.

2. Bab kedua, Maki

Selanjutnya, kisah Maki yang menjadi anak tertinggi diantara semua sahabatnya dan seringkali menjadi orang yang paling bisa diandalkan. Di kota asalnya tersebut juga seringkali menjuluki Maki sebagai anak yang bertanggung jawab.

Karena terus menerus diberikan tanggung jawab, Maki semakin lama terbiasa dengan semua hal tersebut dan merasa senang jika ada orang yang mengandalkan dirinya. Hingga pada akhirnya posisi tersebut direbut oleh Emily yang baru saja datang.

Maki pun menunjukkan sikap kekesalannya pada Emily hingga bahkan sampai sebelum insiden terjadi. Dimana, seorang pria yang tidak dikenalinya tersebut meminta bantuan Emily alih-alih dirinya.

Kejadian insiden Emily tersebut, membuat Maki terus menerus berusaha untuk menjadi seseorang yang bertanggung jawab untuk membayar ganti ruginya tersebut. Ia juga merasa bahwa telah melakukan hal yang benar jika dibandingkan dengan sahabatnya yang lain.

Namun, hal tersebut malah membuatnya mengalami malapetaka yang terjadi di tahun mendatang.

3. Bab ketiga, Akiko

Kisah Akiko yang menjadi bagian selanjutnya yang dimulai dengan kisah Akiko yang terus mengurung dirinya di dalam rumah setelah insiden tersebut terjadi. Akiko sendiri memang dari awal merupakan seseorang yang pendiam dan juga seringkali tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan orang lain.

Saat masuk ke bangku SMA, Akiko bahkan menolak untuk bersekolah yang membuat orang tuanya kehilangan harapan atas dirinya. Selain itu, Akiko juga memiliki kakak laki-laki yang terus mendukungnya sejak kecil, dengan cara mengajarkannya berolahraga.

Hingga pada suatu, serangkaian kejadian yang nampak wajar dan biasa saja, membuat insiden Emily kembali ke dalam benak Akiko dan terus menerus menggerogoti dirinya dan membuatnya merasa harus melakukan sesuatu untuk ganti rugi seperti apa yang dikatakan oleh Asako, ibu dari Emily.

4. Bab keempat, Yuka

Kisah selanjutnya, yaitu Yuka yang menganggap bahwa insiden Emily yang terjadi tidak mengubah hidupnya sama sekali dan segala hal yang terjadi pada dirinya tidak ada hubungannya dengan insiden tersebut.

Yuka juga merasa tidak bersalah dan tidak mengganti rugi. Walaupun terlihat biasa saja, ternyata insiden tersebut memberikan dampak lain pada Yuka, yaitu sebuah obsesi pada pekerjaan polisi, yang membuatnya terjerumus dalam berbagai kejadian yang tidak terbayangkan.

5. Bab kelima, Asako

Yang terakhir, selain dari sudut pandang keempat sahabat Emily tersebut, terdapat pula kisah dari sudut pandang Asako yang merupakan ibu dari Emily yang pada awalnya menceritakan mengenai masa mudanya yang ternyata juga berhubungan dengan insiden Emily tersebut.

Alur Cerita Novel Penance

Seperti yang sudah dibaca sebelumnya, alur keseluruhan dari novel Penance ini adalah alur maju mundur. Dimana pada awalnya cerita membahas kehidupan anak perempuan di masa kecil hingga pada akhirnya tumbuh dewasa.

Namun, pada setiap bagian atau chapter sendiri memiliki alur yang berbeda antara satu sama lain, menyesuaikan dengan cerita setiap tokoh dari sudut pandangnya masing-masing yang dapat membantu kita untuk lebih mendalami setiap tokoh yang ada di dalam cerita Penance.

Hal yang menarik dalam novel Penance sendiri adalah setiap cerita yang disajikan mengenai setiap tokoh yang ada difokuskan pada satu permasalahan yaitu insiden kematian dari Emily. Namun, dampak pada setiap tokoh karena insiden ini sendiri berbeda-beda, dan hal inilah yang penulis coba sampaikan terkait setiap tokoh dengan sangat baik.

Nilai yang Terkandung pada Novel Penance  

Sebagai karya kedua dari Kanae Minato setelah novel Confessions yang mengusung konsep yang sangat gelap serta kelam dalam alur ceritanya, novel Penance juga memiliki kemiripan pada konsep dan nuansanya. Novel ini mengusung alur cerita yang lebih gelap dengan alur yang sedikit lebih lambat dan perlahan.

Minato Kanae sebagai penulis sendiri memiliki gaya penulisan dan narasi cerita yang sangatlah khas dan membuatnya berbeda dari penulis lainnya yang memberikan kesan tersendiri bagi para pembacanya.

Dengan berbagai elemen di dalam cerita yang mengusung konsep gelap, kelam, ketidaknyamanan, emosi yang terus naik turun, seringkali membuat para pembacanya merasakan apa yang sedang dialami oleh para karakter di dalam cerita tersebut. Dimulai dari masa kecil mereka hingga bahkan setelah 15 tahun kemudian mereka tumbuh dewasa dan pada akhirnya mereka mencoba melakukan sesuatu sebagai penebusan dosa terhadap apa yang menimpa temannya tersebut, Emily.

Novel ini sendiri sangat menekankan pada isu dan aspek trauma yang dialami para karakter di dalam ceritanya. Dimana, trauma yang mereka terima di masa kecil memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan mereka bahkan hingga mereka dewasa. Hal ini digambarkan pada keadaan setiap karakter dari keempat gadis tersebut.

Karena traumanya tersebut, mereka digambarkan sebagai seorang yang terus menerus merasa paranoid, memiliki rasa takut, hingga bahkan menyerang kondisi psikis mereka. Selain itu, latar belakang setiap tokoh yang diceritakan dalam novel ini membuat trauma yang dialami keempat gadis tersebut menjadi semakin rumit dan kompleks.

Permasalahan atau isu yang diambil oleh penulis ini sendiri sangatlah relevan dengan kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dimana, banyak orang yang seringkali mengalami trauma yang terus menerus menghantui hidup mereka.

Trauma itu sendiri dapat terjadi dalam berbagai bentuk, bukan sesuatu yang harus seseram atau semengerikan apa yang diceritakan dalam kisah novel ini. Trauma karena dicakar kucing, yang membuat seseorang akan terus menerus memiliki rasa takut pada kucing. Oleh sebab itu, sangat penting bagi seseorang yang memiliki trauma untuk selalu memiliki orang-orang yang peduli terhadapnya.

Selain itu, narasi yang ada pada setiap chapter atau bagian yang menceritakan setiap tokohnya sangat menggambarkan rasa kepedihan, kegelapan, kesengsaraan, hingga kesedihan yang membuat emosi dari para pembaca dapat menjadi naik turun. Oleh sebab itu, bagi Grameds yang menderita penyakit mental seperti bipolar, sangat tidak disarankan untuk membaca buku Pendance ini.

Terkait isu trauma yang diangkat di dalam cerita ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pada bagian Akiko, terdapat pula unsur seksual, sehingga novel ini hanya dapat dibaca pada seseorang yang sudah berumur 17 tahun atau lebih.

Terdapat pula nilai moral yang dapat kamu ambil melalui kisah dari novel Penance ini, yaitu untuk selalu berhati-hati dalam mengatakan sesuatu, terutama jika perkataan yang kita lontarkan nantinya dapat membuat kehidupan seseorang terganggu setiap hairnya. Oleh sebab itu, kita perlu berpikir secara bijaksana dan memiliki kemampuan untuk mengontrol diri saat dalam keadaan marah maupun sedih, sehingga apa yang kita katakan tidak merugikan orang lain dan membuat kita merasa terus menerus bersalah sepanjang hidup yang menjadi trauma.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Written by Andrew