in

Review Novel Pembunuh di Balik Kabut Karya Agatha Christie

Why Didn’t They Ask Evans? atau yang dalam Bahasa Indonesia berjudul Pembunuh di Balik Kabut adalah sebuah novel fiksi detektif karya Agatha Christie. Novel ini diterbitkan pertama kali pada bulan September 1934, di Inggris, oleh Collins Crime Club. Lalu, pada tahun 1935, novel ini diterbitkan di Amerika Serikat oleh Dodd, Mead and Company dengan judul The Boomerang Clue. Novel ini telah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama pada Juli 2018.

Angin yang bertiup dari laut membuat kabut pelan-pelan mulai menipis. Di bawah sana, terlihat sosok tubuh yang telah terkapar tak berdaya. Laki-laki itu berusia sekitar empat puluh tahun, ia pingsan meskipun masih bernapas. Bobby pun memandangnya.

Rambut ikal berwarna coklat, dagu yang kokoh, hidung yang besar, dan gigi yang putih bersih terlihat dari celah bibirnya yang sedikit terbuka, dan sepasang kaki yang bertekuk aneh. Tiba-tiba, orang itu membuka mata dan berkata, “Mengapa mereka tidak memanggil Evans?”. Setelah itu, tubuhnya bergetar, kelopak matanya menutup, dan dagunya melemas. Laki-laki itu tewas.

Profil Agatha Christie – Penulis Novel Pembunuh di Balik Kabut (Why Didn’t They Ask Evans?)

britannica.com

Dame Agatha Mary Clarissa Christie lahir pada 15 September 1890. Wanita yang akrab dipanggil Agatha Christie ini merupakan seorang penulis asal Inggris yang dikenal dengan 66 novel detektif dan 14 koleksi cerita pendeknya, terutama yang berkisah seputar detektif fiksi Hercule Poirot dan Miss Marple. Agatha Christie juga penulis dari drama terlama di dunia yang berjudul The Mousetrap, yang telah ditampilkan di West End sejak 1952.

Pada tahun 1971, Agatha Christie diangkat menjadi Dame (DBE) atas kontribusinya pada sastra. Guinness World Records juya mencantumkan nama Agatha Christie sebagai penulis fiksi paling laris sepanjang masa, karena novel karyanya sudah terjual lebih dari dua miliar eksemplar. Agatha Christie dilahirkan dalam keluarga kelas menengah atas yang kaya di Torquay, Devon. Sebagian besar keluarganya bersekolah di rumah.

Pada awalnya, Agatha Christie adalah seorang penulis yang gagal, karena ia menerima enam penolakan berturut-turut. Namun, nasibnya ini berubah pada tahun 1920 saat ia berhasil menerbitkan The Mysterious Affair at Styles, yang menampilkan detektif Hercule Poirot. Suami pertama Agatha Christie bernama Archibald Christie, mereka berdua menikah pada tahun 1914 dan memiliki satu anak. Namun, hubungan pernikahan mereka berakhir pada tahun 1928.

Selama masa Perang Dunia Kedua, Agatha Christie bekerja di sebuah apotek di rumah sakit. Dari pekerjaannya itu, ia memperoleh pengetahuan menyeluruh mengenai racun yang kemudian sia tampilkan dalam banyak novel, cerita pendek, dan drama yang ditulisnya. Pada tahun 1930, setelah pernikahannya dengan seorang arkeolog bernama Max Mallowan, Agatha Christie menghabiskan beberapa bulan setiap tahunnya untuk menggali di Timur Tengah dan menggunakan pengetahuan tentang profesi ini dalam fiksinya.

Menurut Index Translationum UNESCO, Agatha Christie adalah penulis individu yang karyanya paling banyak diterjemahkan. Novelnya yang berjudul And Then There Were None menjadi salah satu buku terlaris sepanjang masa, dengan penjualan mencapai 100 juta eksemplar. Pada tahun 1955, Agatha Christie berhasil menjadi penerima pertama dari Penghargaan Grand Master Penulis Misteri Amerika. Pada tahun yang sama, karyanya yang berjudul Witness for Prosecution juga berhasil menerima Penghargaan Edgar untuk drama terbaik.

Pada tahun 2013, Agatha Christie terpilih sebagai penulis kriminal terbaik dan The Murder of Roger Ackroyd menjadi novel kriminal terbaik yang pernah ada dari total 600 novelis profesional dari Asosiasi Penulis Kejahatan. Pada bulan September 2015, And Then There Were None dinobatkan sebagai “Christie Favorit Dunia” dalam pemungutan suara yang disponsori oleh properti penulis. Banyak buku dan cerita pendek karya Agatha Christie yang telah diadaptasi untuk televisi, radio, video game, dan novel grafis. Ada lebih dari 30 film fitur didasarkan pada karyanya.

Agatha Christie meninggal dunia pada tanggal 12 Januari 1976, di usia yang ke-85 tahun. Diketahui, ia meninggal dunia di rumahnya yang berlokasi di Winter Brookhouse akibat penyebab alami. Agatha Christie dimakamkan di dekat halaman Gereja St Mary’s, Cholsey, di sebidang tanah yang dia pilih bersama suaminya 10 tahun sebelumnya. Upacara pemakaman sederhana dihadiri oleh sekitar 20 wartawan surat kabar dan televisi.

Sinopsis Novel Pembunuh di Balik Kabut (Why Didn’t They Ask Evans?)

Pros & Cons

Pros
  • Kisah ini memiliki narasi yang hidup dan penuh aksi, di mana menghadirkan dua detektif amatir yang memadukan pesona dan tidak bertanggung jawab dengan kelihaian dan keberuntungan.
  • Konflik cerita Pembunuh di Balik Kabut ini cukup rumit, tetapi disajikan dengan cara yang sederhana dan mudah diikuti.
  • Agatha Christie dinilai sangat lihai dalam menghidupkan karakter kedua tokoh utama, sehingga pembaca dapat merasa mengenal mereka secara dekat dan mudah untuk bersimpati.
  • Sampul novel Pembunuh di Balik Kabut ini juga dipuji, karena sangat sederhana, elegan, dan estetik.
  • Seperti karya-karya Agatha Christie yang lain, akhir kisah ini pastinya tidak bisa tertebak.
Cons
  • Tokoh-tokoh pendamping kisah ini cukup banyak dan harus diingat-ingat dengan baik.

Bobby Jones sedang bermain golf bersama Dr Thomas di tepi laut Welsh yang berlokasi di kota Marchbolt. Saat mencari bola golf yang telah dipukul di tepi tebing, Bobby melihat seorang pria tergeletak di bebatuan, di bawah tebing. Dokter mengatakan bahwa pria itu tampak terluka parah, sehingga ia segera mencari bantuan. Bobby pun menghampiri dan mendampingi pria itu, yang sempat sadar kembali setelah pingsan.

Pria yang pingsan itu tiba-tiba bangun, kemudian berkata, “Mengapa mereka tidak bertanya pada Evans?”, dan kemudian meninggal. Bobby menemukan sebuah foto wanita cantik di saku jaket pria itu, tetapi tidak ada keterangan apapun. Roger Bassington-ffrench, orang asing yang mengenakan pakaian plus empat, menawarkan untuk tinggal bersama tubuh pria itu, supaya Bobby dapat memainkan organ di gereja ayahnya.

Pria yang meninggal itu adalah Alex Pritchard. Ia diidentifikasi oleh saudara perempuannya, Amelia Cayman. Dia dikatakan sebagai wanita di foto itu. Bobby merasa heran, karena bagaimana gadis cantik seperti itu dapat menjadi wanita tua yang kasar. Setelah pemeriksaan selesai, Nyonya Cayman dan suaminya ingin mengetahui apakah Pritchard menyampaikankata-kata terakhir.

Bobby mengatakan bahwa dia tidak mengetahuinya. Lalu, saat berbicara dengan Lady Frances “Frankie” Derwent, Bobby teringat bahwa Pritchard menyampaikan kata-kata terakhir dan menulis kepada Cayman untuk memberitahu mereka. Bobby kemudian mendapatkan dan menolak tawaran pekerjaan yang tidak terduga dari sebuah perusahaan di Buenos Aires.

Segera setelah menerima tawaran itu, Bobby hampir mati setelah minum dari botol bir beracun. Polisi setempat tidak menyelidiki kasus ini. Frankie pun berpikir bahwa Bobby kini menjadi sasaran pembunuhan. Bobby setuju dengan Frankie ketika dia melihat edisi koran lokal yang menggunakan foto itu untuk menemukan saudara perempuan Pritchard.

Bobby melihat bahwa foto itu bukanlah foto yang ia temukan di saku Pritchard. Bobby dan Frankie kemudian menyadari bahwa Bassington-ffrench menukar foto-foto itu, dan Nyonya Cayman sama sekali tak memiliki hubungan dengan pria yang meninggal itu. Bobby dan Frankie pun mencari Bassington-ffrench. Mereka melacaknya ke Merroway Court di Hampshire, yang dimiliki oleh saudara laki-laki dan ipar perempuan Roger, Henry dan Sylvia.

Mereka membuat sebuah kecelakaan mobil di luar rumah dengan bantuan seorang teman dokter. Hal ini dilakukan supaya Frankie bisa pura-pura terluka, dan ia akan diundang untuk tinggal di sana. Frankie berhasil mendapatkan potongan koran tentang orang mati yang misterius. Sylvia mengatakan bahwa dia terlihat seperti Alan Carstairs, seorang pengelana dan pemburu permainan besar, yang merupakan teman John Savage, seorang jutawan yang bunuh diri setelah mengetahui bahwa dia menderita kanker stadium akhir.

Frankie bertemu dua tetangga Bassington-ffrenches, yakni Dr Nicholson, dan istri mudanya, Moira. Dr Nicholson menjalankan sanatorium lokal. Frankie pun meminta Bobby untuk menyelidiki tempat itu. Pada suatu malam, di sebuah taman, Bobby bertemu dengan seorang gadis yang mengatakan bahwa dia takut akan hidupnya.

Seketika, Bobby menyadari bahwa gadis itu adalah sosok yang ada di foto, yang ditemukan di saku pria yang meninggal itu. Beberapa hari kemudian, Moira Nicholson muncul di penginapan lokal, tempat Bobby tinggal untuk menyamar sebagai sopir Frankie. Dia mengatakan bahwa suaminya mencoba membunuhnya, dan juga bahwa dia mengenal Alan Carstairs sebelum menikah dengan dokter.

Bobby pun mengenalkannya kepada Frankie. Moira kemudian menyarankan supaya mereka bertanya kepada Roger apakah dia mengambil foto dari saku orang yang sudah meninggal itu. Roger mengaku bahwa dia mengambil foto itu, juga mengenali Moira. Ia mengatakan bahwa ia ingin menghindari skandal untuknya. Frankie pergi setelah Henry ditemukan tewas bunuh diri di rumahnya.

Frankie berkonsultasi dengan pengacara keluarganya di London, karena tertarik dengan wasiat mendiang John Savage. Dari situ, ia mengetahui bahwa Carstairs juga berkonsultasi dengannya. Savage tinggal bersama Tuan dan Nyonya Templeton saat dia yakin bahwa dirinya menderita kanker, meskipun seorang spesialis mengatakan kepadanya bahwa dia baik-baik saja. Saat dia meninggal karena bunuh diri, wasiatnya memberikan tujuh ratus ribu pound kepada Templetons, yang tampaknya telah meninggalkan Inggris.

Kelebihan Novel Pembunuh di Balik Kabut (Why Didn’t They Ask Evans?)

Novel Pembunuh di Balik Kabut ini dipuji sebagai sebuah cerita yang menggelitik dan menggoda. Kisah ini memiliki narasi yang hidup dan penuh aksi, di mana menghadirkan dua detektif amatir yang memadukan pesona dan tidak bertanggung jawab dengan kelihaian dan keberuntungan. Kemudian, kata-kata terakhir korban “mengapa mereka tidak memanggil evans?”, berhasil menjadi potongan puzzle yang membuat pembaca penasaran.

Konflik cerita Pembunuh di Balik Kabut ini cukup rumit, tetapi disajikan dengan cara yang sederhana dan mudah diikuti. Agatha Christie dinilai sangat lihai dalam menghidupkan karakter kedua tokoh utama, sehingga pembaca dapat merasa mengenal mereka secara dekat dan mudah untuk bersimpati. Selain kedua tokoh utama, Agatha Christie juga menghadirkan tokoh-tokoh pendukung yang melengkapi alur kisah ini.

Sampul novel Pembunuh di Balik Kabut ini juga dipuji, karena sangat sederhana, elegan, dan estetik. Sampul novel ini berwarna putih, dan menampilkan seekor burung camar yang bertanggar di atas batu, dan genangan darah serta tangan terbuka. Ilustrasi ini menggambarkan keseluruhan cerita ini.

Secara keseluruhan, kisah Pembunuh di Balik Kabut ini adalah kisah yang penuh petualangan, menarik, dan menegangkan. Dan, seperti karya-karya Agatha Christie yang lain, akhir kisah ini pastinya tidak bisa tertebak. Pembaca akan menemukan plot twist yang mencengangkan.

Kekurangan Novel Pembunuh di Balik Kabut (Why Didn’t They Ask Evans?)

Pembaca menemukan bahwa tokoh-tokoh pendamping kisah ini cukup banyak dan harus diingat-ingat dengan baik. Sebab, jika tidak, pembaca bisa menemukan kebingungan di tengah berjalannya cerita dan harus bolak-balik mencari korelasi tokoh tersebut dengan kasus utama.

Pesan Moral Novel Pembunuh di Balik Kabut (Why Didn’t They Ask Evans?)

Novel Pembunuh di Balik Kabut mengajarkan kita untuk senantiasa waspada dalam segala situasi, dengan semua orang yang berada di sekitar kita. Hal ini bukan berarti menaruh curiga kepada semua orang. Namun, sebagai suatu usaha melindungi diri sendiri dari hal-hal yang tak terduga.

Sekian artikel ulasan novel Pembunuh di Balik Kabut karya Agatha Christie. Gimana, sudah penasaran akan siapa sosok Evans yang disebut oleh korban? Grameds gak perlu merasa khawatir lama-lama, karena kalian bisa langsung menemukan jawabannya dengan mendapatkan novel ini di Gramedia.com. Selamat membaca!

Rating: 3.89

Written by Nandy