in

Review Novel Dago Love Story: Mentari untuk Dago Karya Skysphire

Dago Love Story: Mentari untuk Dago merupakan sebuah novel fiksi karya Skysphire. Cerita Dago Love Story merupakan Alternative Universe (AU) yang pertama kali dipublikasikan di media sosial Twitter di akun @skysphire pada 14 Januari 2022. Kisah ini menggunakan face claim Jaemin, anggota boy group asal Korea Selatan, NCT Dream.

Hingga saat ini, kisah alternative universe Dago Love Story telah berhasil mendapat lebih dari 153 ribu likes dan sudah di-retweet lebih dari 57,1 ribu kali. Kisah alternative universe Dago Love Story yang populer ini kemudian berhasil membawa Skysphire menerbitkan cerita ini dalam bentuk novel pada April 2022. Kisah ini merupakan kisah yang ditulis ulang oleh Skysphire, berdasarkan kisah yang pernah ia publikasi di Wattpad pada tahun 2018.

Novel dengan total 272 halaman ini merupakan novel fiksi romansa remaja yang akan mengisahkan tentang dua remaja yang mengawali kisah cinta mereka, karena taruhan. Kehidupan laki-laki bernama Dago Kalingga sangat gelap. Mulai dari mengonsumsi minuman beralkohol, clubbing, hingga menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia malam bersama wanita seksi. Ya, semuanya itu bagaikan menjadi makanan atau kebutuhan pokok hidupnya.

Apa itu cinta? Bagi seorang Dago, semua perempuan hanya mainan. Sampai pada suatu ketika, Dago bertemu dengan seorang perempuan bernama Shireena Mentari. Pertemuannya dengan Mentari membuat cara pandang Dago terhadap cinta berubah. Ternyata, cinta tidak sejahat yang ia pikir.

Sayangnya, dunia gelap Dago harus membuat Mentari berpikir ulang, apakah hubungan ini dapat berlanjut, atau justru akan menjadi masalah di masa depan dan akan menyakiti keduanya. Cinta itu tak masuk logika, ya benar. Namun, cinta tanpa logika akan membuat hati akan tersakiti. Sekarang tinggal pilih, jatuh lalu bangkit dengan cinta dan begitu terus atau melepaskan, tetapi kehilangan cinta?

Sinopsis Novel Dago Love Story: Mentari untuk Dago

Pros & Cons

Pros
  • Menawarkan premis kisah yang menarik, yakni kisah cinta yang berawal dari sebuah taruhan.
  • Konflik yang ditawarkan sederhana, sehingga ringan untuk dibaca.
  • Karakter para tokoh pada kisah ini mampu menarik hati pembaca.
Cons
  • Narasi kurang mengalir.
  • Masih didapatkan kesalahan penulisan dan susunan kalimat yang kurang nyaman untuk dibaca

Dago Kalingga adalah seorang laki-laki yang dikenal tampan, tetapi suka mempermainkan wanita. Ia, bersama dengan Ferel dan Renzi memiliki kelompok pertemanan yang bernama Begu club. Mereka adalah anak Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Ilmu Komunikasi, Semester 7, yang hobinya taruhan.

Shireena Mentari adalah seorang perempuan yang cantik, lugu, tetapi pintar. Dia adalah anak Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, jurusan Sastra Asing, Semester 7. Mentari tidak memiliki hobi apa-apa, hidupnya datar saja, seperti tak ada gairah.

Pada suatu hari, Begu Club merasa bosan, maka itu mereka melakukan hobinya yakni membuat taruhan. Kali ini, mereka taruhan untuk mendapatkan hati seorang wanita. Dago pun membuat sebuah cuitan di Twitter untuk meminta satu nama cewek di kampusnya. Salah satu nama yang muncul di kolom balasan cuitannya adalah nama Shireena Mentari.

Dago, Ferel, dan Renzi pun menetapkan Mentari sebagai target mereka. Bersama-sama mereka mencari nomor ponsel Mentari, dan memulai pergerakannya. Mereka bertiga sama-sama menghubungi Mentari dengan dalih salah nomor, karena mereka ingin membeli risol danusan.

Merasa aneh dengan adanya 3 orang yang menghubunginya pada waktu bersamaan dengan dalih yang sama, Mentari pun bertanya kepada salah satu temannya tentang siapa sosok mereka. Temannya mengatakan langsung bahwa Mentari adalah target mereka selanjutnya, karena mereka memang terkenal suka mainin cewek. Mentari kemudian memutuskan untuk mengikuti permainan mereka, dengan tujuan mempermainkan mereka balik.

Mentari melanjutkan permainan itu dengan menjalin hubungan dengan Dago. Mereka mulai sering chat, hingga akhirnya ketemuan, pulang bareng, dan jalan bareng. Memang playboy yang mahir, Dago mampu memenuhi bahasa cinta yang diinginkan Mentari.

Pada suatu hari, Dago mengantar Mentari pulang ke kosannya. Mentari sedikit goyah saat ia turun dari motor beat hitam milk Dago. Kalau ditanya kenapa, sejujurnya ini karena wangi parfum Dago yang maskulin namun lembut dan tercampur sedikit aroma rokok, aromanya begitu kuat terhembus angin dan mengisi rongga dadanya, Mentari pusing, wanginya enak banget!

“Oh lo ngekos di sini?” Kata Dago sembari menatap bangunan berlantai 4 di depannya. “Iya, lo ngekos dimana?”, tanya Mentari. “Di kosan Amora”, jawab Dago. “Oh deket sih … Eh jauh deng”, Dago tertawa kecil mendengar perkataan itu, lalu menjawab “Deket lah, orang cuma tiga gang dari sini”. Mentari mengangguk-angguk, “Okey, thanks ya udah anterin gue balik”.

Dago tersenyum. “Yup! Sama-sama”. “Oke … Hati-hati baliknya, Da … Eh Go? Eh apa sih gue manggilnya enakan apa?”, ujar Mentari kikuk. “Bebas sih, mau Go, boleh, Ai juga boleh”, jawab Dago. “Ai Ai congor lu!”, desis Mentari dalam hati.

“Hahaha, yaudah deh, Dago, gue masuk yaaa!”, kata Mentari sambil beranjak pergi. “Eh Mentari bentar!”, Mentari yang hampir berbalik kini kembali menghadap Dago. “Kenapa?”, tanya Mentari. “Can we be friends?”, tanya Dago. Batin Mentari mencibir. Teman katanya? Haha.

Namun, Mentari menjawab dengan riang, “Sure, let’s be friends!”. Lalu Dago mengangkat tangannya yang terkepal dan Mentari tertawa kecil, lalu ikut mengangkat tangannya untuk melakukan fist bump. “Bye friend!”, dan Dago kembali menjalankan motornya.

Banyak hal yang dilakukan Dago, yang bisa membuat Mentari baper. Ditambah lagi, mereka jadi sering menghabiskan waktu bersama. Mentari terkadang lupa akan apa tujuan utamanya menjalin hubungan dengan Dago. Namun, ia terus mengingatkan dirinya bahwa ini adalah sebuah permainan.

Suatu hari, setelah Dago dan Mentari sarapan bubur bersama, mereka pergi ke markas tempat Begu Club berkumpul, untuk mengantar makanan ke teman-teman Dago. Tiba-tiba saja, ada yang berteriak, “Tari!”. Mentari menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang menatap ke arahnya.

“Lo ngapain pagi-pagi di sini? Lo gak abis nginep di sini kan?”, tanya lelaki bernama Braga itu. Mentari mendengus, “Ih Braga kalo ngomong sembarangan! Nggak lah, gue nungguin temen di sini, lo ngapain di sini?”, tanya Mentari balik. “Abis ketemu temen, siapa temen lo? Cewek atau cowok?” Braga balik bertanya.

“Cowok.” Braga dan Mentari kompak menoleh ke kanan, di sana Dago berdiri dan menatap lurus pada Braga yang juga balik menatap laki-laki itu, mereka saling bertatapan, sedangkan Mentari berdiri cengo karena merasakan aura tidak enak dari mereka. “What the hell?”, Mentari mendengar Braga mengumpat pelan, ditambah saat Dago mendekati mereka, Braga justru menarik Mentari semakin dekat ke sisinya.

“Lo pikir lo siapa bisa sentuh-sentuh milik gue?”. Mentari terkejut saat Dago menghentak tangan Braga dari lengannya, kemudian Dago menarik lembut tubuh Mentari dan merangkul pinggang Mentari secara posesif. “Milik lo?”, ledek Braga, “Di dunia ini lo gak punya apa-apa Dago.” Mentari tertegun, sebenarnya ada apa diantara mereka? Apa Dago dan sahabatnya ini saling mengenal?

Namun, mengapa mereka terlihat seperti orang memiliki dendam satu sama lain dan tak akur. “Enyah dari hadapan gue”, setelah berucap seperti itu pada Braga, Dago langsung menarik Mentari pergi dari sana, membiarkan Brag seorang diri dan mereka berdua langsung menuju parkiran motor.

Napas Dago terdengar menderu akibat emosi, dan Mentari dengan segala rasa bingung di dalam dirinya. Mentari turun dari motor Dago dengan tubuh yang gemetar, sialan, Dago sialan karena membuat Mentari ke-triggered dengan membawa motor melintasi jalan Margonda dengan kebut-kebutan seperti orang gila. Mentari punya trauma dengan jalanan, dan sekarang seluruh tubuhnya tremor.

“Bisa nggak kalo lagi e-emosi gak ngelampiasin ke jalan? Gue ….. G-gue takut banget waktu lo ngebut tadi”, kata Mentari. Dago melepaskan helmnya dan menatap Mentari, dia terlihat khawatir dan langsung turun mendekati Mentari. “Tari?” Mentari menggeleng dan mengusap wajahnya frustasi.

“Gue punya t-trauma sama jalan dan kecepatan tinggi ….. Gue bener-“. Tak sampai habis Mentari mengucapkan perkataannya, Dago memotong, “Mentari sorry, maaf gue gak tau”. Dago kemudian meraih tangan Mentari yang gemetar, merangkapnya dengan kedua tangan Dago yang besar. “Gue minta maaf, gue beneran gak tau”, ucqp Dago.

Mentari masih mencoba mengatur napasnya yang menderu, ia berusaha tenang. Sesekali memejamkan mata dan menarik udara dalam- dalam. “Mentari lo oke? Sekali lagi gue mi-“. Mentari langsung menjawab, “Iya.….. Udah, gue gak apa-apa.” Mentari menarik tangannya dari tangan Dago, tapi Dago menahannya, justru semakin menggenggam erat.

“Gue baik-baik aja sekarang Dago, udah gak apa-apa, jangan minta maaf terus”. Dago menatap Mentari dengan tatapan bersalah dan Mentari membalas tatapannya dengan lugu. “Lo ada masalah sama Braga? Kenapa kalian keliatan gak akur?”, tanya Mentari. “Gue emang gak akur sama Braga”, jawab Dago.

“Kenapa?” Dago menggeleng, ia justru menangkup kedua pipi Mentari dengan tangannya. “Sekali lagi gue minta maaf ya, Tar? Gue janji kalo sama lo gue gak akan ngebut lagi”, kata Dago mengalihkan pembicaraan. Mentari menghela napasnya dalam. la merasa Dago memang enggan membahas Braga. “Makasih buburnya, kapan-kapan gue yang traktir lo sarapan ya!”, kata Mentari. “Sure”. Tangan Dago mengusap rambut Mentari halus. “Gue balik ke kosan ya, Tar, if you need something, call me, I can be your 911”

Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya mereka jadian. Dago berpikir bahwa Mentari murahan, karena mereka baru saja kenal beberapa hari. Di sisi lain, Mentari berpikir bahwa rencananya akan berhasil, ia kembali mengingat tujuan awalnya untuk membalaskan dendam para korban Dago yang pernah dimainkan perasaannya.

Apakah Mentari berhasil melancarkan rencananya? Apakah justru Dago yang mampu menaklukkan hati Mentari? Atau apakah mereka berdua malah menjalin hubungan yang sesungguhnya?

Kelebihan Novel Dago Love Story: Mentari untuk Dago

Premis kisah Dago Love Story ini menarik, yakni kisah cinta yang berawal dari sebuah taruhan. Bagaikan seseorang yang terperangkap dalam perangkap yang ia buat sendiri. Konflik yang diangkat pada kisah ini juga sederhana, sehingga kisah ini menjadi ringan.

Skysphire dinilai berhasil dalam membangun karakter-karakter yang mampu menarik hati pembaca. Seperti karakter Dago yang digambarkan sebagai bad boy, tetapi mampu membuat perempuan jatuh hati. Kemudian, karakter Mentari yang lugu tetapi pandai. Pembaca pun dapat merasa terikat dengan karakter tersebut, dan akhirnya bisa merasakan berbagai emosi bersama mereka.

Secara keseluruhan, kisah Dago Love Story ini adalah kisah yang manis dan menggemaskan. Novel ini sangat direkomendasikan bagi Anda, terutama para remaja, yang menginginkan bacaan yang menghibur dan ringan.

Kekurangan Novel Dago Love Story: Mentari untuk Dago

Kekurangan pada novel Dago Love Story ini terletak pada penyusunan narasi yang masih dinilai kurang mengalir. Masih didapatkan kesalahan dalam penulisan dan susunan kalimat yang kurang nyaman untuk dibaca. Namun, hal ini tidak mengganggu proses membaca kisah ini, dan tidak mengurangi menariknya kisah ini.

Pesan Moral Novel Dago Love Story: Mentari untuk Dago

Melalui kisah Dago Love Story ini, kita dapat belajar untuk tidak egois dengan mempermainkan orang lain. Permainan apapun itu, dan apapun tujuannya. Sebab, hidup bukan sebuah permainan, dan mempermainkan orang lain dapat menimbulkan dampak yang besar bagi hidup orang tersebut.

Seperti pada kisah ini, mempermainkan perasaan. Seseorang yang dipermainkan perasaannya dapat merasa sakit hati, bahkan membuat trauma tersendiri. Hal itu tentunya dapat memengaruhi diri dan kehidupannya. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa hal kecil yang kita lakukan akan berdampak kepada hidup orang lain. Maka itu, hendaknya kita selalu berbuat baik kepada semua orang.

Sekian artikel ulasan novel Dago Love Story: Mentari untuk Dago karya Skysphire. Bagi kalian yang penasaran akan kelanjutan hubungan Dago dan Mentari, yuk langsung saja dapatkan novel ini hanya di Gramedia.com. Selamat membaca!

Rating: 3.57

Written by Gabriel