in

Review Novel Brianna dan Bottomwise

Tidak ada orang di dunia ini yang tidak menyukai musik. Alunan nada bisa membuat kita menikmatinya dengan berbagai suasana dan kondisi. Mau senang atau susah, sudah tua ataupun masih muda, semuanya menikmati untuk melepaskan diri dari masalah atau untuk sekedar menghibur diri.

Ada beragam genre musik di dunia ini, pop, rock, jazz, regge hingga dangdut. Untuk genre yang terakhir, merupakan salah satu identitas negara kita Indonesia. Banyak yang beranggapan kalau belum dengar dangdut, belum bisa dibilang orang Indonesia. Musik saat ini sangatlah berkembang sangat drastis. 

Apalagi dengan berkembangnya jaman, ada banyak perubahan-perubahan seperti dahulu kita mendengarkan musik hanya di radio saja, lalu berkembang menggunakan kaset, hingga saat ini kita tinggal mengunduh melalui smartphone kita untuk mendengarkan musik.

Selain itu, banyak juga orang-orang yang mulai belajar alat musik. Dari sekedar hobi hingga menjadikan nya sebuah pekerjaan. Ada banyak alat musik yang biasa dimainkan, namun pada umumnya orang-orang akan memilih mempelajari alat petik seperti gitar, karena alat musik yang menjadi pakem di setiap musik. 

Dengan hanya memainkan gitar saja, bisa memainkan berbagai jenis lagu dan genre nya. Apalagi saat ini ada banyak cuplikan video dan lagu yang hanya menampilkan instrumen gitar saja. Contohnya ketika kamu ke toko buku, sering kali mendengar instrumen gitar yang diputar di sana, tanpa sadar kita seakan merasakan kenyamanan ketika mendengarnya.

Selain gitar, biasanya ada instrumen musik menggunakan biola. Alunan nada nya lebih merdu dibandingkan dengan menggunakan gitar. Ketika mendengarkannya kita kadang merasakan ketenangan dan damai, walaupun tidak kenal benar dengan lagu nya.

Berbicara terkait biola, ada karakter fiksi yang sangat handal memainkannya. Mungkin anda pernah dengar atau pun sudah tahu seorang detektif yang sangat terkenal berasal dari Inggris bernama Sherlock Holmes. 

Karakter fiksi dari novel terkenal karangan Sir Arthur Doyle ini sangatlah handal bermain biola. Dia memainkannya ketika sedang buntu mencari jawaban atas kasus yang dihadapinya. Dia memainkan lagu yang sama berulang kali hingga mendapatkan jawaban yang dicarinya.

Sherlock Holmes menamakan dirinya sebagai detektif konsultan, bersama dengan koleganya bernama John Watson, biasanya mereka berdua sering dibutuhkan  oleh polisi yang sudah buntu untuk menyelesaikan kasus yang sedang terjadi. 

Sebenarnya tidak hanya membantu polisi saja, terkadang dia mendapatkan bermacam-macam tipe klien, dari orang kaya hingga orang miskin, orang tua ataupun yang masih muda, hingga para pejabat yang mempunyai pangkat yang berpengaruh di pemerintahan. 

Oleh karena itu, Sherlock Holmes dalam ceritanya memiliki banyak koneksi yang dapat membantunya dalam memecahkan suatu kasus.

Sherlock Holmes saat ini merupakan karakter non fiksi seorang detektif yang paling terkenal dan digemari sepanjang masa. Karena sampai saat ini  belum ada cerita terkait detektif yang bisa mengalahkan kepopuleran dari Sherlock Holmes. 

Karakter yang memiliki analisa deduksi terbaik ini, selalu bisa memecahkan segala kasus yang dia hadapi. Namun, dibalik kepintarannya itu dia sering dianggap tidak waras oleh para polisi dan petugas otopsi. Tindakannya yang dibilang nyeleneh mungkin itulah banyak yang tidak suka padanya. 

Sudah ada banyak buku novel yang terbit menceritakan tentang bagaimana dia memecahkan banyak kasus yang sulit. 

Saking terkenalnya, pemerinta Inggris mengabadikan rumahnya yang di jalan Baker Street sebagai rumah Sherlock Holmes dan sekaligus menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi bagi para pencita novel Sherlock Holmes maupun pencinta novel misteri.

Saat ini sudah ada banyak buku novel yang memiliki tema cerita tentang detektif. Karena sepanjang cerita kita harus mengamati untuk mendapatkan potongan-potongan untuk memecahkan misteri di akhir cerita. 

Yang menariknya, kita tanpa sadar terus mengikutinya hingga sampai akhir cerita, karena kalau berhenti di tengah-tengah seakan-akan ada yang mengganjal. Selain itu juga kita kadang terbawa suasana dan sering berasumsi menebak-nebak siapa saja yang terkait dan apa motifnya dalam memecahkan misteri tersebut. 

Membicarakan tentang tema cerita detektif, dalam artikel  ini akan membahas tentang sebuah buku yang bertemakan detektif. Buku dengan judul Brianna dan Bottomwise karya dari penulis Andrea Hirata. 

Mari kita simak dan lihat penjelasan di bawah ini. Selamat membaca!

Tentang Buku

Penulis: Andrea Hinata

Tanggal Terbit: 1 Januari 2022

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah Halaman: 380 Halaman

ISBN: 978602291942

Pros & Cons

Pros
  • Novel yang memiliki tema unik, yaitu menggabungkan kisah detektif dan musik
  • Penjelasan dalam cerita berisikan unsur humor yang dalam tapi memiliki makna
  • Banyak penjelasan mengenai musik dan genre nya
  • Cerita terinspirasi berdasarkan pengalaman pribadi penulis
Cons
  • Di awal cerita memiliki alur cerita yang tidak teratur antar tokoh
  • Terdapat katalog iklan buku penulis di akhir buku yang cukup mengganggu
  • Akhir cerita yang kurang menarik

Karakter yang Ada Dalam Buku

Ada beberapa karakter yang terdapat di dalam buku ini, yang pertama adalah John Musiciante seorang musisi legendaris yang kehilangan gitarnya, dan mengadakan sayembara untuk siapa saja yang berhasil mendapatkan kembali gitarnya.

Yang kedua, Brianna dan Bottomwise, dua orang detektif swasta terkenal yang berpetualang berkeliling Amerika hingga ke Kanada untuk menemukan gitar yang hilang milik musisi legendaris.

Yang ketiga, Alma seorang gadis muda yang berbakat yang sangat pandai bermain gitar, namun lahir dari keluarga yang miskin.

Yang keempat, Sadman seorang yang tidak bisa bermain musik, namun memiliki cita-cita untuk bisa mewujudkan impian bersama teman-temannya untuk membangkitkan band lama nya dan membuat orkes melayu.

Itulah beberapa karakter yang terdapat di dalam buku ini, agar memudahkan untuk memahami dan mengerti alur cerita dalam buku tersebut.

Sinopsis

Seorang musisi terkenal bernama John Musiciante mengalamai kejadian yang tidak menyenangkan, dimana gitar kesayangannya hilang karena pencuri. Kehidupannya pun langsung berubah menjadi tidak menyenangkan. 

Bagi seorang musisi seperti dirinya, sebuah gitar memiliki nilai yang berharga dibandingkan dengan apapun. Kemudian munculah detektif terkenal bernama Brianna dan Bottomwise yang memiliki karismatik dan kecerdikan, yang terlibat untuk menemukan gitar legendaris yang hilang dengan penuh kejutan.

Sementara itu, seorang yang tidak bermain musik tapi memiliki impian untuk jadi musisi yang bernama Sandman berhasil mengumpulkan uang dari berjualan tauco untuk mewujudkan impiannya yaitu membangun kembali band lamanya bersama teman-temannya yang tidak bisa bermain musik untuk memeriahkan orkes Melayu di kampung asalnya.

 Selain Sandman, ada juga musisi-musisi lainnya yang juga memiliki impian yang sama yaitu untuk bisa terus eksis dalam dunia musik.

Review Buku

Cerita ini dimulai dengan hilangnya gitar milik seorang gitaris rock legendaris bernama John Musiciante. Sebuah gitar vintage yang memiliki nilai sangat mahal dan langka karena memiliki tanda tangan legenda rock, hilang dibawa oleh pencuri. Hanya meninggalkan sebuah pecahan kaca akibat ulah orang yang tidak mengerti seni. 

Penyelidikan dilakukan oleh Brianna dan Bottomwise untuk menemukan kembali sebuah gitar yang memiliki nilai sejarah dan berharga sampai sang pemilik mengalami depresi karena kehilangan gitar tersebut. John Musiciante pun mengadakan sayembara senilai 20.000 USD atau sekitar 20 milyar rupiah bagi siapa saja yang menemukan gitar miliknya.

Brianna dan Bottomwise pun melanglang buana ke banyak tempat dan negara untuk mencari gitar legendaris tersebut. 

Banyak yang berpikir bahwa mencari gitar tidak akan memakan waktu yang lama apalagi milik sang rockstar legendaris, namun siapa sangka gitar tersebut harus melewati perjalanan sangat panjang. 

Mulai dari Fresno, California lalu singgah di beberapa negara sesuai jalur kapal pesiar hingga pada akhirnya terdampar di Sumatera.

Dalam perjalanannya gitar ini mengalami berbagai kejadian dan bertemu dengan manusia berbagai watak. Mulai dari yang rakus, seorang penipu, perampok, tukang gadai, pemusik dan lain sebagainya. 

Gitar ini juga diperlakukan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, mulai dari dipakai untuk menggebuk kasur, memukul mantan pacar, digadaikan, hingga dibuang karena dianggap pembawa sial. Setelah sampai di Indonesia, gitar ini terlihat lusuh, tua dan kotor yang pada akhirnya hanya diperlakukan sebagai gitar bekas saja.

Jejak gitar yang hilang tersebut ketika sampai di Indonesia, akan bertemu dengan Ameru, dimana kakaknya merupakan alasan kenapa gitar tersebut bisa sampai di Indonesia, karena dia membelinya di pasar loak di Amerika Serikat. Ketika sudah  jatuh cinta terhadap barang pemberian kakaknya itu, gitar tersebut dicuri kembali. 

Lalu gitar tersebut bertemu dengan Alma, seorang gadis muda berbakat dan sangat lihai dalam bidang musik, hanya saja dia lahir dari keluarga yang miskin, ia pun sempat memilikinya sebelum dibawa paksa oleh ayahnya yang memiliki kecanduan bermain judi.  

Lalu gitar itu berpindah kepada Pak Mu, orang tua yang linglung dan bekerja untuk sebuah band sirkus. Ketika pertama kali mendengarkan alunan gitar tersebut, tiba-tiba dia  teringat kepada orang tuanya, sayang perjumpaannya dengan gitar hanya sebentar saja.

Gitar tersebut sudah menjalani perjalanan kesana kemari dengan perlakuan yang sangat buruk, hingga akhirnya sampai di tangan Arsyad Amrullah bin Ahmadin Soelaiman atau yang biasa dipanggill dengan nama Sadman. 

Sadman merupakan orang yang tidak bisa bermusik, tetapi memiliki cita-cita yang tinggi untuk memiliki Orkes Melayu. Sadman pun mengajak teman-temannya untuk mewujudkan impiannya, walaupun mereka semua sama yaitu tidak bisa bermusik semua. 

Ketika gitari mereka yang bernama Sekunder tidak bisa manggung dikarenakan gitarnya rusak, Sadman pun membeli gitar tersebut tanpa mengetahui asal usul dari gitar pengganti tersebut. Ternyata gitar tersebut malah mereka anggap membawa sial.

Yang mencari gitar tersebut tidak hanya Brianna dan Bottomwise. Ketika gitar itu tiba di Indonesia, ada yang sudah mengetahui nilai asli dari gitar tersebut, lalu berusaha mencari dan menemukannya. 

Mereka biasa dipanggil Mafia musik, Korup satu dan Korup dua. Bottomwise tentu mendapatkan informasi kalau gitar itu berada di Indonesia. Karena tidak bisa langsung kesana, dia meminta bantuan dari The Terong Brothers bernama Hamzah dan Baharudin. Hasil yang didapatkan sangatlah buruk.

Mau tahu apa saja pembahasan selengkapnya, anda bisa mendapatkan secara menyeluruh dengan mengakses Gramedia.com untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap dan detail dari buku Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata.

Kelebihan dan Kekurangan

Apa saja kelebihan yang terdapat dalam buku Brianna dan Bottomwise ini, yang bisa menarik minat untuk membacanya.

Yang pertama, tema yang diangkat unik, yaitu menggabungkan tema detektif dengan tema musik. Ini adalah sesuatu yang baru dan fresh ceritanya, membuat para pembacanya mendapatkan pengalaman baru ketika membaca novel ini. Selain itu, isi cerita banyak terkandung unsur humor yang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri hingga tertawa terbahak-bahak.

Yang kedua, karena mengangkat unsur musik, di dalam buku ini dijelaskan cukup detail mengenai musik dan genre nya, tidak hanya orkes melayu saja tapi yang lainnya. ini bisa menambah pengetahuan yang lebih dalam tentang musik

Selain kelebihan ada juga kekurangannya, yaitu di awal cerita plot antar tokoh nya tidak beraturan yang bisa membuat pembaca kebingungan, dan akhir ceritanya juga cukup mengejutkan dimana tidak ada kontribusi dari detektif dalam menemukan gitar yang hilang.

Secara keseluruhan buku ini patut menjadi buku yang direkomendasikan untuk dibaca. Buku ini mendapat rating yang cukup tinggi 4,29 di goodreads, buku yang tidak boleh dilewatkan untuk dibaca.

Kesimpulan

Buku novel dengan judul Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata direkomendasikan untuk para pembaca yang menyukai novel dengan tema detektif. Di sepanjang  cerita mengulas secara dalam terkait musik dan genre nya juga, sebuah bacaan ringan di kala waktu senggang.

Buku ini memiliki setting tempat di luar negeri, tepatnya di Amerika Serikat. Membaca buku ini kita serasa dibawa jalan-jalan menggunakan mobil berkeliling wilayah di Amerika. Walaupun pada akhirnya akan ada setting di Indonesia, dimana penulis masih memiliki ciri khas yaitu membuat tempat dengan nuansa melayu yang sangat kental.

Setelah membaca buku ini pasti akan banyak yang berpikir bahwa inti cerita ini berpusat kepada kasus yang ditangani oleh kedua detektif tersebut. 

Mungkin mereka berdua yang mengambil peran karena mengambil sebuah kasus besar, namun pada akhirnya peran kedua karakter ini dibuat tidak terlalu signifikan untuk bisa dijadikan sebuah judul buku nya. 

Karena kedua karakter ini perannya hanya berfokus kepada perjalanan mencari sebuah gitar kesayangan milik musisi legendaris.

Sebagaimana novel-novel karya Andrea Hirata lainnya, Brianna dan Bottomwise tetap menghadirkan nuansa melayu dan komedi satir yang khas, meskipun tidak sepedas novel Guru Aini. Hirata tampak nyaman menggunakan karakter yang lugu  dan jujur di setiap novelnya.

Satu hal yang menjadi nilai plus dalam buku ini adalah kita bisa merasakan bagaimana Hirata benar-benar memahami tentang kota-kota di Amerika Serikat serta musik rock. 

Selain itu, banyak juga menyebutkan penyanyi atau band rock jaman 70 dan 80 an. Mungkin dia telah meriset secara mendalam, sehingga bisa terlihat begitu detail.

Buku ini memiliki beberapa pesan moral dan hikmah yang bisa ambil dan terapkan. Yaitu tentang kejujuran dalam menjalani hidup, meraih mimpi yang harus digapai dan jangan cepat menyerah, lalu tentang belajar untuk ikhlas melepaskan sesuatu. 

Semuanya terangkum dengan nuansa yang mengalir begitu saja dan tidak menggurui, seolah-olah hanya terselip di balik kata-kata.

Demikianlah review tentang buku ini, jika kamu ingin mendapatkan bukunya, langsung saja kunjungi Gramedia.com!

Written by Nandy