in

Review Novel Cerita untuk Ayah Karya Candra Aditya

Cerita untuk Ayah merupakan sebuah novel karya Candra Aditya. Setelah sukses dengan karya debutnya yang berjudul When Everything Feels Like Romcoms, Candra Aditya kembali menerbitkan novel yang membahas tentang cinta. Namun, berbeda dengan karya sebelumnya yang menceritakan kisah cinta pasangan, pada novel kali ini, disajikan kisah cinta antara anak dengan ayah.

Novel Cerita untuk Ayah diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada Februari 2022. Novel dengan total 216 halaman berpusat pada seorang lelaki bernama Elang. Elang adalah seorang stand up comedian yang belum sukses, dan ia tak memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya.

Bagi Elang, sang ayah adalah sosok yang tak pernah ada di sisinya, karena terlalu sibuk bekerja. Walaupun mereka masih tinggal satu atap, mereka berdua hampir seperti orang asing bagi satu sama lain. Saat ayahnya meninggal dunia, Elang mulai menyesal.

Ia mempertanyakan mengapa dirinya tidak menjalin hubungan yang baik dengan sang ayah selama beliau masih hidup. Kemudian, pada suatu hari, sebuah keajaiban terjadi. Elang terbangun pada tujuh hari sebelum ayahnya meninggal. Jadi, sekarang Elang memiliki waktu yang terbatas untuk melakukan segala hal yang sebelumnya tak dapat dia lakukan dengan ayahnya.

Profil Candra Aditya – Penulis Novel Cerita untuk Ayah

siapabilang.com

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pembuat film. Candra Aditya merupakan lulusan Jurusan Film di Binus International. Lelaki satu ini mulai menulis buku sejak ia menyadari bahwa dia tidak memiliki teman. Candra Aditya sempat menulis untuk media Detik dan Provoke!.

Selain melahirkan karya tulis, Candra Aditya juga telah memproduksi beberapa film pendek yang sudah tampil di berbagai festival, baik dalam skala nasional maupun internasional. Candra Aditya juga memproduksi web series, di antaranya, yakni serial ANJAS dan Ruang Casting yang dapat disaksikan di YouTube. Candra Aditya saat ini sedang mencari investor untuk membiayai produksi film layar lebar pertamanya.

Dalam dunia kepenulisan, Candra Aditya juga masih mengaitkannya dengan profesinya sebagai pembuat film. Karya debutnya yang berjudul When Everything Feels Like Romcoms, yang dipublikasi Penerbit POP pada 2020 bergenre komedi romantis yang memiliki latar di dunia film. Setelah sukses dengan karya pertamanya, Candra Aditya kembali menerbitkan karya tulis yang berjudul Cerita untuk Ayah pada tahun 2022.

Sinopsis Novel Cerita untuk Ayah

Pros & Cons

Pros
  • Judul novel ini dapat menarik pembaca.
  • Premis novel ini sederhana, tetapi dikemas secara lucu dan menyentuh hati.
  • Melalui kisah ini, Candra Aditya menggambarkan sisi lain pria yang jarang diekspos kepada dunia.
  • Candra Aditya menyelipkan pesan yang menjelaskan bagaimana masyarakat membuat sebuah stigma yang mungkin menjadi penyebab konflik hubungan anak lelaki dengan ayahnya menjadi tegang.
  • Pendekatan Candra Aditya yang menyajikan kisah sentimental ini dengan gaya yang lucu dinilai unik dan menyegarkan.
  • Candra Aditya juga menanamkan sedikit elemen fantasi yang membuat plot cerita ini semakin menarik.
  • Pengenalan karakter para tokoh dalam cerita ini baik, dan perkembangan karakter realistis.
  • Candra Aditya menggunakan banyak sekali kata-kata yang visual, jadi pembaca dapat membayangkan dengan baik di benak mereka.
  • Proses perpindahan satu kejadian ke kejadian lainnya mulus dan unik dengan memakai metode cut to cut seperti di film.
  • Novel ini secara lebih lanjut dapat membuat pembaca merefleksikan hubungan dengan orang tua pembaca.

Cons
  • Beberapa isu yang diangkat dinilai kurang relevan dengan pembaca secara keseluruhan.
  • Pembaca juga menemukan beberapa dialog yang dinilai kurang pantas.

“Kamu tuh udah besar!” kata Ayah akhirnya. “Bertanggung jawab dong dengan diri kamu sendiri.”

“Ngomong apa sih?” jawab gue dengan kesal. “Satu kali pun Ayah gak pernah peduli sama apa yang aku kerjain.”

Elang adalah seorang stand up comedian yang belum sukses, dan ia tak memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya. Bagi Elang, sang ayah adalah sosok yang tak pernah ada di sisinya, karena terlalu sibuk bekerja. Walaupun mereka masih tinggal satu atap, mereka berdua hampir seperti orang asing bagi satu sama lain. Saat ayahnya meninggal dunia, Elang mulai menyesal.

Ia mempertanyakan mengapa dirinya tidak menjalin hubungan yang baik dengan sang ayah selama beliau masih hidup. Kemudian, pada suatu hari, sebuah keajaiban terjadi. Elang terbangun pada tujuh hari sebelum ayahnya meninggal. Jadi, sekarang Elang memiliki waktu yang terbatas untuk melakukan segala hal yang sebelumnya tak dapat dia lakukan dengan ayahnya.

Apakah Elang dapat memperbaiki hubungan dengan sang ayah? Apakah keajaiban yang didapatkannya dapat mengisi kekosongan dalam hati Elang?

Kelebihan Novel Cerita Untuk Ayah

Melihat dari judul novel ini saja, Cerita untuk Ayah, para pembaca sudah merasa tertarik untuk mengetahui apa yang akan diceritakan. Premis Cerita Untuk Ayah ini sangat sederhana, yakni tentang hubungan seorang anak dan ayah yang menjauh setelah kehilangan sosok ibu dan istri. Dalam novel Cerita untuk Ayah, Candra Aditya membuat cerita yang menggambarkan hubungan ayah dan anak yang lucu, tetapi menyentuh hati. Dalam cerita ini, Candra Aditya menggambarkan sisi lain pria yang jarang diekspos kepada dunia.

Dalam cerita ini, Candra berhasil menggambarkan bagaimana pria juga dapat merasa rentan dan dapat menunjukkan segala perasaannya. Dalam Cerita untuk Ayah, Candra Aditya juga memberikan pesan yang menjelaskan bagaimana masyarakat membuat sebuah stigma yang mungkin menjadi penyebab konflik hubungan anak lelaki dengan ayahnya menjadi tegang. Candra Aditya menggambarkan dinamika hubungan ayah dengan anak yang bergema dengan banyak pria di luar sana.

Pendekatan Candra Aditya yang menyajikan kisah sentimental ini dengan gaya yang lucu dinilai unik dan menyegarkan. Sebab, hal ini dapat membuat pembaca merasakan berbagai emosi dalam waktu bersamaan. Ditambah lagi, Candra Aditya juga menanamkan sedikit elemen fantasi yang membuat plot cerita ini semakin menarik.

Meskipun buku ini alurnya mudah untuk ditebak kelanjutannya, tetapi tidak membuat pembaca merasa jenuh. Hal ini berkat gaya penulisan Candra Aditya yang sedari awal membawa kisah ini dengan berbagai lelucon yang segar dan menyenangkan. Dialog-dialog antartokoh juga dinilai seru untuk diikuti, dan memiliki pesan tersirat di baliknya. Seperti dialog antara Elang dan sang ayah yang dapat membuka pemikiran akan hubungan anak dan ayah ketika sudah dewasa.

Pengenalan karakter para tokoh dalam cerita ini juga dinilai baik. Sebab, pada bagian pembuka saja, Candra Aditya membuat satu bagian khusus untuk memperkenalkan keseharian Elang sebagai seorang stand up comedian. Pengembangan karakter para tokohnya juga dinilai realistis, karena prosesnya digambarkan dengan jelas. Lalu, berkat perkembangan karakter tersebut, cerita ini juga ikut berkembang. Perkembangan karakter juga dapat memberikan dampak nyata kepada pembaca yang ikut berkembang bersama Elang untuk pulih.

Dalam menuliskan novel ini, Candra Aditya menggunakan banyak sekali kata-kata yang visual, jadi pembaca dapat membayangkan dengan baik di benak mereka. Lalu, proses perpindahan satu kejadian ke kejadian lainnya memakai metode cut to cut seperti di film. Hal ini dinilai unik, karena perpindahan terjadi secara langsung, dan dapat dieksekusi dengan mulus.

Sampul buku Cerita untuk Ayah ini juga dinilai menarik, karena menggambarkan sosok Elang dan sang Ayah yang sedang duduk di teras, dalam sebuah bingkai yang berbentuk jam. Tampilan visual ini dinilai filosofis dan menggambarkan keseluruhan cerita ini.

Secara keseluruhan, novel Cerita untuk Ayah ini adalah novel yang sederhana dan menyentuh hati. Novel ini juga secara lebih lanjut dapat membuat pembaca merefleksikan hubungan dengan orang tua pembaca. Candra Aditya menyediakan 2 halaman kosong untuk merefleksikan apa yang pembaca rasakan setelah membaca kisah ini. Sungguh menyegarkan melihat duka dikemas dengan ringan, tanpa mengesampingkan aspek kedukaan itu sendiri.

Kekurangan Novel Cerita untuk Ayah

Selain kelebihan, novel Cerita untuk Ayah ini memiliki kekurangan. Kekurangan pada novel ini terletak pada beberapa isu yang diangkat, yang dinilai kurang relevan dengan membaca secara keseluruhan. Sebab, isu tersebut mungkin hanya akan relate bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta saja. Lalu, pembaca juga menemukan beberapa dialog yang dinilai kurang pantas, karena beberapa bahasanya mengarah kepada seksisme.

Pesan Moral Novel Cerita untuk Ayah

Melalui kisah Cerita untuk Ayah ini, kita kembali diingatkan untuk menghargai setiap waktu, setiap momen, dan setiap keadaan bersama orang-orang yang Anda kasihi. Sebab, waktu adalah satu-satunya hal yang tidak akan dapat diulang di dunia ini. Jadi, manfaatkan setiap detik dengan baik dan lakukan hal-hal yang bermakna.

Melalui kisah ini juga, kita dapat belajar untuk menentang stigma yang dikonstruksi oleh masyarakat. Stigma tentang lelaki yang harus tampak kuat setiap waktu. Lelaki juga boleh menunjukkan bahwa dirinya rentan dan emosional. Menunjukkan perasaan bukan sebuah hal yang memalukan.

Stigma seperti itu dapat menjadi beban bagi seseorang, dan juga dapat menjadi penyebab hubungan antar pria menjadi jauh. Maka itu, mulai dari diri sendiri, jangan sungkan untuk menunjukkan perasaan dan hal-hal yang berbau emosional. Dan sebagai wanita, jangan menghakimi pria yang sudah berani untuk menunjukkan kerentanannya.

Nah, itu dia Grameds ulasan novel Cerita untuk Ayah karya Candra Aditya. Bagi kalian yang penasaran akan bagaimana Elang memanfaatkan keajaibannya, kalian bisa segera mendapatkan novel ini di Gramedia.com. Selain novel Cerita untuk Ayah, kalian juga bisa mendapatkan berbagai novel atau buku lainnya, bahkan kebutuhan sehari-hari di Gramedia.com loh. Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan informasi terlengkap dan terbaik bagi Anda. Selamat membaca!

Rating: 3.83

Written by Nandy