in

Review Novel Black House Karya Patrick Kellan

Black House merupakan sebuah novel karya Patrick Kellan, penulis asal Indonesia yang populer di dunia maya. Novel Black House diterbitkan oleh Thema Publishing CV pada November 2021. Novel yang memiliki total 486 halaman ini bergenre romansa dan mystery.

Perempuan itu tertawa kecil sembari mengalihkan pandangan dari pemandangan romantis yang ada di depannya. Pemandangan tersebut memperlihatkan seorang pria berciuman mesra dengan wanita yang sangat dicintainya. Aku bertanya, “Apakah kau merasa sakit, Nona?”.

Dia menoleh kepadaku, lalu mengangkat bahu dan berkata, “Aku telah terbiasa dengan rasa sakitnya. Sekarang aku bahkan lupa aku harus melakukan apa ketika merasa sakit.” “Kalau begitu, libatkan aku, Nona.” “Apa?” Dia menoleh. “Libatkan aku dalam kegelapan yang terjadi di rumah besar itu.”

Profil Patrick Kellan – Penulis Novel Black House

Patrick Kellan adalah seorang penulis asal Bandar Lampung yang memulai karir kepenulisannya dari dunia maya, yakni pada platform Facebook. Patrick Kellan sendiri merupakan nama pena yang ia gunakan sebagai nama akun Facebooknya tersebut. Nama asli Patrick Kellan adalah J. Anggara. Selain akun Patrick Kellan, ia juga mengelola akun lain yang bernama Dre Kalfa.

Patrick Kellan menyatakan bahwa dahulu dirinya memang hobi membaca. Namun, sekarang hobi membacanya itu berubah menjadi hobi mengamati. Awal perjalanan Patrick Kellan menjadi seorang penulis dimulai pada tahun 2017. Pada saat itu, ia bergabung dalam salah satu grup menulis terbesar di Indonesia yang didirikan oleh Bunda Asma Nadia dan suaminya, Bapak Isa Alamsyah, yakni Komunitas Bisa Menulis (KBM).

Tak lama setelah itu, pada tahun 2018, Patrick Kellan menerbitkan buku pertamanya yang berjudul “Moral Code”. Sesuai dengan judulnya, ini adalah sebuah buku yang menyajikan kumpulan cerita pendek yang sarat akan pesan moral. Lalu, buku ini terus diterbitkan menjadi sebuah serial dengan judul yang sama, yakni Moral Code 1, Moral Code 2, dan Moral Code 3.

Patrick Kellan dikenal sebagai penulis yang produktif. Sampai sekarang, ia sudah berhasil menerbitkan puluhan buku. Beberapa karyanya, di antaranya, yaitu Moral Code, Love Code, Love Van Java, Jodoh yang Tersesat, Cinta Pertama Cichi, Noda pada Gadis Kecil Itu, Fase, Mencari Ayah, Black House, dan masih banyak lagi. Selain sukses menjadi penulis buku, sekarang Patrick Kellan juga memiliki perusahaan penerbit sendiri yang bernama CV. Josh Kellan.

Sinopsis Novel Black House

Pros & Cons

Pros
  • Novel ini menawarkan kisah yang sangat menarik, yakni kisah romansa antara majikan dan pegawai yang dibalut dengan misteri.
  • Penggambaran latar belakang tempat dan suasana begitu detail, sehingga pembaca dapat merasa ikut diajak masuk ke dalam Black House.
  • Penggambaran penampilan dan karakter para tokohnya juga detail dan menarik.
  • Alur kisah Black House ini mengalir dengan baik, pembaca dapat menikmati perjalanan sang tokoh utama dari awal masuk ke dalam Black House hingga terlibat dalam berbagai cerita kelam rumah itu.
  • Misteri yang disajikan dalam novel ini tidak tertebak.
Cons
  • Alur kisah cukup lambat.
  • Novel ini memiliki rating usia 18 tahun ke atas, sehingga tidak bisa dibaca seluruh kalangan.

Oris mulai bekerja sebagai sopir pribadi di rumah megah yang berwarna serba hitam. Bukan hanya penampilan luarnya saja yang begitu kelam, tetapi isi rumah itu juga ternyata mengandung misteri yang mengerikan. Terjadi banyak skandal yang sangat membingungkan. Oris yang menjadi sopir pribadi dan Nyonya Alaia, wanita yang pernikahannya tidak bahagia, akhirnya saling jatuh cinta. Semakin jauh Oris terlibat dengan cerita-cerita gelap di dalam rumah yang disebut sebagai Black House, semakin kecil kemungkinan baginya untuk dapat keluar dari rumah itu… dalam keadaan hidup.

“Bahkan, dari awal aku mengetahui risiko dari mencintaimu adalah mati tanpa kehilangan denyut nadi.”

Cahaya langit sore dengan bias kekuningan terpancar dari sela pepohonan birch yang terlihat berjajar rapi di sepanjang jalan Kunaev, Kota Almaty. Suasana di sana sepi dan tenang, khas daerah pemukiman elit. Daun berwarna kuning kemerahan berguguran, melayang, dan diterbangkan oleh angin, lalu terhempas di atas aspal hitam. Ini menjadi tanda bahwa musim gugur baru saja dimulai.

Mobil-mobil terparkir berjejeran di sepanjang jalan, di bawah pohon-pohon, layaknya manusia yang sedang berlindung dari terik matahari. Gedung-gedung tinggi berderet di kedua sisi jalan. Bangunan tempat tinggal dan perkantoran, seperti gedung Kementerian, gedung Akademi Ilmu Pengetahuan Kazakhstan, gedung Lembaga Penelitian, dan stasiun pemadam kebakaran distrik Medeu.

Sejumlah mobil mewah berpapasan dengan mobil yang aku tumpangi. Aku menyandarkan punggung di kursi dengan menaruh siku keluar dari jendela yang terbuka. Angin sore membuat rambutku yang mulai sedikit memanjang itu berantakan. Mobil ini akhirnya berhenti tepat di depan sebuah alamat yang kusebutkan.

Setelah membayar dengan harga yang telah disepakati di awal, aku bergegas turun dengan menggendong ransel. Pada saat berdiri di depan gerbang megah dengan sisi berjeruji yang tertutup rapat, aku menatap ke arah bangunan rumah mewah dua lantai yang tampak serba hitam. Dari pintu gerbang hingga teras, jalannya bahkan terbuat dari aspal hitam yang terlihat kokoh, bukan paving. Dapat kubayangkan si pemilik rumah pasti adalah seseorang dengan kepribadian kuat dan tidak mudah ditebak, serta mungkin sedikit psikopat.

Lalu, aku melihat seorang pria berseragam security berdiri dari balik meja di dalam pos yang berlokasi di sudut gerbang. Sepasang bola matanya menatap tajam ke arahku. Seolah-olah aku adalah penjahat yang sedang mencoba menyamar menjadi seekor tupai.

Aku hanya berdiri tegak dengan satu tangan berada di dalam saku, sementara tangan lainnya menggenggam tali ransel yang kugendong di bahu kanan. Sang security itu pun berjalan keluar dari pos kecil itu, tepat ketika seseorang segera datang dengan setengah berlari ke arah pintu gerbang. “Dia Oris! Keponakanku!” katanya dengan langkah sedikit tergesa. Itu adalah Paman Hue.

Pria berpenampilan pendek dan gempal itu segera berbicara sebentar dengan sang security. Baru kemudian pintu gerbang dibuka. Tak menunggu terlalu lama, aku pun segera diajak masuk menuju ke dalam rumah megah bernuansa gelap itu.

Hampir seluruh ornamen dalam ruangan itu berwarna hitam dan abu-abu. Hanya saja, setiap lekukan barang dalam rumah itu diberi campuran garis berwarna emas yang menjadikan barang-barang itu tampak sangat mewah dan menakjubkan. Begitu juga dengan lampu gantung kristal dengan gagang warna hitam mengkilat yang ada di atas plafon berlekuk rumit.

Paman Hue membawa aku masuk melalui pintu samping, yang tampaknya memang dikhususkan untuk kaum kami. Bukan seperti pintu megah seperti pintu utama, tetapi jalan masuk yang satu ini terkesan lebih sederhana. Lantai granit berwarna abu-abu terang berdecit pelan ketika bergesekan dengan ujung sepatuku.

Kami melewati lorong berdinding putih, di mana ada hiasan yang tergantung di sisi-sisinya. Langkah Paman Hue terhenti ketika kami memasuki sebuah ruangan dengan meja dan kursi berwarna putih dan dinding berwarna abu-abu metalik. Di atas meja minimalis itu, ada sejumlah botol yang lengkap dengan peralatan dapur.

Ada sejumlah wanita yang menatap kedatangan kami. Pertama, seorang wanita paruh baya berpakaian formal, berupa kemeja berwarna gelap dengan kerah tinggi dan dipadukan dengan rok panjang berwarna abu-abu. Dari kelihatannya, dapat kutebak bahwa pakaian yang dikenakannya adalah yang paling berkelas di antara pelayan lainnya. Sementara, dua wanita yang lebih muda menggunakan seragam khas pelayan yang sama.

Wanita paruh baya itu menatapku tajam, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seolah ia sedang menghitung jumlah kutu yang merayap di tubuhku. “Ini keponakanmu?”, tanya wanita itu kepada Paman Hue sembari mengangkat sepasang alis hitam miliknya. “Ya, Nyonya, namanya Oris. Dia akan menggantikan tugas Pak Same sebagai sopir Nyonya Alaia.”

Wanita itu mengangguk-angguk sambil sudut matanya masih mengamatiku. Sementara, Paman Hue mulai memperkenalkan nama mereka semua kepadaku. “Ia adalah Nyonya Gulnora, kepala asisten rumah tangga di sini.” kata Paman Hue sembari mengarahkan pandanganku kepada wanita paruh baya yang segera mengangguk dengan kaku itu.

Paman Hue kemudian menunjuk wanita muda berambut hitam yang diikat rapi, dan memperkenalkannya, “Dia Vivian.” “Dan dia Nilufer,” ia menunjuk kepada wanita paling muda yang sedari tadi tidak berhenti menatapku. Aku menyimpulkan senyum tipis ke arah wajah-wajah asing itu. “Oris”, kataku sambil sedikit mengangguk.

Nyonya Gulnora masih menatap, kemudian dia menghela napas, lalu menyatukan kedua telapak tangannya di depan perut. Semua gerak-geriknya terkesan begitu teratur, dan dia kembali menatapku. “Kamarmu sudah disiapkan. Bersihkan dirimu dan beristirahatlah sejenak, setelah makan malam kau dapatmenemui Nyonya Alaia.”

“Baik, Nyonya.” Aku merendahkan bahu sedikit. Wanita itu berbalik dan beranjak pergi, lalu menghilang di balik dinding dalam. Paman Hue kemudian mengantarku menuju kamar yang sudah disediakan khusus untuk para pekerja. Kamar-kamar tersebut tidak menjadi satu bagian dalam rumah besar itu, melainkan berada di bangunan yang berbeda. Walaupun dindingnya masih menyatu dengan rumah utama.

Kelebihan Novel Black House

Novel Black House yang menjadi salah satu buku yang berhasil menduduki jajaran buku best seller ini memiliki sejumlah kelebihan. Dari penjelasan di atas saja, kita dapat mengetahui bahwa novel ini menawarkan kisah yang sangat menarik, yakni kisah romansa yang dibalut misteri. Kisah romansa yang diangkat juga menarik, di mana tokoh yang saling jatuh cinta memiliki hubungan pegawai dan majikan pada awalnya.

Pembaca memuji cara Patrick Kellan dalam menggambarkan latar belakang tempat dan suasanya dalam Black House tersebut. Penggambarannya begitu detail, sehingga pembaca dapat merasa seolah sedang diajak masuk ke dalam Black House tersebut. Begitu juga dengan penampilan dan karakter para tokohnya, digambarkan dengan baik dan menarik.

Alur kisah Black House ini juga dinilai mengalir dengan baik. Pembaca bisa menikmati bagaimana perjalanan Oris dari awal datang ke Black House, sampai akhirnya terlibat dengan cerita-cerita rumit di dalamnya. Misteri yang disuguhkan dalam novel ini juga dinilai tidak tertebak dan mampu mengejutkan pembaca. Secara keseluruhan, novel Black House ini adalah novel yang direkomendasikan bagi anda yang menyukai misteri yang segar dan tidak tertebak.

Kekurangan Novel Black House

Selain kelebihan, novel Black House ini juga memiliki kekurangan. Kekurangan novel Black House ini terletak pada tempo alur yang dinilai cukup lambat, sedangkan novel ini sendiri cukup tebal dengan memiliki total hampir 500 halaman. Kemudian, kisah Black House ini juga memiliki rating usia 18 tahun ke atas, sehingga tidak dapat dibaca oleh seluruh kalangan, dan diharapkan pembaca dapat memahami kisah ini dengan bijak.

Nah, itu dia Grameds ulasan novel Black House karya Patrick Kellan. Bagi kalian yang penasaran akan apa kisah kelam yang ada dalam rumah tersebut, kalian bisa mengikuti petualangan Oris dengan segera membeli novel ini hanya di Gramedia.com. Selamat membaca!

Rating: 4.36

Written by Nandy