in

Review Novel Lusi Lindri Karya Y. B. Mangunwijaya

Lusi Lindri merupakan sebuah karya sastra karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Buku Lusi Lindri ini merupakan buku ketiga yang menjadi penutup trilogi Roro Mendut. Buku ini melanjutkan kisah kedua buku sebelumnya, Roro Mendut dan Genduk Duku. Buku Lusi Lindri ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1987.

Buku Lusi Lindri telah dicetak beberapa kali. Versi terbaru buku ini diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada bulan Oktober 2019. Buku ini memiliki total 380 halaman yang berpusat pada Lusi Lindri, yakni anak dari Genduk Duku yang dikisahkan menjadi pasukan Trinisat Kenya. Pasukan Trinisat Kenya ini merupakan pasukan elit khusus wanita pengawal Amangkurat.

“Panglima-panglima medan perang, raja, dab adipati merupakan jagoan-jagoan perang. Mereka adalah pendekar dalam seni menyebar maut. Mungkin itu adalah nasib lelaki. Namun, kita ini kaum perempuan, Lusiku sayang. Kita memiliki keunggulan lain, seperti mengandung, menyusui, mengemban, dan merawat kehidupan. Rahim kita dapat menerima, dan juga serba memberi. Payudara perempuan merupakan buah yang membanggakan kaum kita, Lusi. Itu adalah sumber pancuran kehidupan dan kesayangan. Itu bukan senjata dan juga bukan racun kepongahan.”

Lusi Lindri menjalani kehidupan penuh warna di balik dinding istana yang menyembunyikan banyak rahasia dan intrik jahat. Sebagai istri seorang perwira mata-mata Mataram, ia mengetahui banyak hal, bahkan dapat dikatakan terlalu banyak. Semakin lama, nurani Lusi Lindri semakin terusik, karena ia melihat kezaliman junjungannya.

Tekadnya sudah bulat, tidak ada pilihan lain. Bagi Lusi, lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman dengan bergelimang harta. Ini adalah suatu narasi yang tak hanya mengisahkan tumpang tindih kehidupan manusia, tetapi juga dengan apik mengungkapkan sejarah Tanah Jawa, keberanian perempuan, dan gerakan protes atas ketidakadilan.

Profil Yusuf Bilyarta Mangunwijaya – Penulis Novel Lusi Lindri

id.wikipedia.org

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya adalah pria kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah, pada 6 Mei 1929. Y. B. Mangunwijaya adalah seorang penulis, arsitek, dan pemimpin agama Katolik Indonesia. Ia dikenal luas sebagai Romo Mangun. Romo Mangun adalah putra dari pasangan Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.

Pada usianya yang keenam belas tahun, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat selama Revolusi Nasional Indonesia. Pada masa itu, ia terkejut dengan cara pasukan memperlakukan penduduk desa. Pada tahun 1950, setelah mendengar pidato mengenai dampak berbahaya revolusi terhadap warga sipil oleh salah satu komandan, Mayor Isman, ia memutuskan untuk melayani sebagai seorang imam. Romo Mangun ditahbiskan pada tahun 1959, saat belajar filsafat dan teologi di “Institut Sancti Pauli” di Yogyakarta.

Ia kemudian melanjutkan studi arsitektur di Aachen, Jerman, dan di Institut Studi Humanistik Aspen di Aspen, Colorado. Romo Mangun adalah penulis dari banyak novel, cerita pendek, esai dan karya non-fiksi. Ia telah menghasilkan banyak antologi novel, di antaranya Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa (The Sharks, Ido, Homa), Roro Mendut, Durga atau Umayi, Burung-Burung Manyar (The Weaverbirds), dan sejumlah esai yang diterbitkan di berbagai surat kabar di Indonesia. Karyanya yang berjudul Sastra dan Religiositas dianugerahi sebagai buku non-fiksi terbaik pada tahun 1982. Sedangkan, novelnya yang berjudul The Weaverbirds menerima Penghargaan Ramon Magsaysay pada tahun 1996.

Kekecewaan Romo Mangun terhadap sistem pendidikan Indonesia memicu dirinya untuk mengeksplorasi sistem alternatif yang berujung pada berdirinya Yayasan Dinamika Pendidikan Dasar pada tahun 1987. Ia juga mendirikan SD eksploratif bagi masyarakat yang terlantar akibat pembangunan Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah, serta masyarakat miskin di Sungai Code, Yogyakarta.

Romo Mangun dikenal juga sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Pada tahun 1992, ia menerima Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur atas karyanya pada penghuni kawasan kumuh di tepi sungai Code di Yogyakarta. Romo Mangun juga menerima The Ruth and Ralph Erskine Fellowship pada tahun 1995, sebagai pengakuan atas dedikasinya kepada mereka yang kurang beruntung.

Karyanya di rumah-rumah orang miskin di sepanjang tepi Sungai Code berkontribusi terhadap Mangunwijaya menjadi salah satu arsitek paling terkenal di Indonesia. Menurut Erwinthon P. Napitupulu, penulis buku tentang Mangunwijaya, yang rencananya akan terbit akhir tahun 2011, Mangun memimpin daftar 10 besar arsitek Indonesia. Dedikasi Romo Mangun untuk membantu mereka yang miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik melalui “teriakan suara hati nurani” membuatnya menjadi lawan kuat rezim Soeharto.

Beberapa karya Y. B. Mangunwijaya, yaitu Romo Rahadi (1981), Burung-Burung Manyar (1981), Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa (1983), Balada Becak (1985), Durga Umayi (1985), Burung-Burung Rantau (1992), Balada Dara-Dara Mendut (1993), Pohon-Pohon Sesawi (1999), Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri (1982-1987). Sejumlah karya Romo Mangun juga sudah ada yang berhasil diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, yakni The Weaverbirds dan Durga/ Umay.

Selain novel, Romo Mangun juga menerbitkan banyak esai, di antaranya Sastra dan Religiositas (1982), Esei-Esei Orang Republik (1987), Tumbal: Kumpulan Tulisan Tentang Kebudayaan, Perikemanusiaan dan Kemasyarakatan (1994), dan Rumah Bambu (2000). Selain itu, Romo Mangun juga menerbitkan berbagai karya sastra lainnya, seperti Puntung-Puntung Roro Mendut (1978), Fisika Bangunan (1980), Pemasyarakatan Susastra Dipandang Dari Sudut Budaya (1986), Putri Duyung Yang Mendamba: Renungan Filsafat Hidup Manusia Modern, Ragawidya (1986), Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa (1987), Wastu Citra, Buku Arsitektur (1988), Menuju Indonesia Serba Baru (1998), Menuju Republik Indonesia Serikat (1998), Gerundelan Orang Republik (1995), Gereja Diaspora (1999), dan Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia (1999).

Sinopsis Novel Lusi Lindri

Pros & Cons

Pros
  • Buku ini merupakan novel sejarah yang memantau dan menyajikan dengan cermat, data dan fakta historis Kerajaan Mataram pada abad 17, dan Sunan Mangkurat I, serta zaman itu yang penuh dengan peristiwa dramatis.
  • Menyajikan kisah yang penuh dengan pesan tentang hal-hal paling kecil dalam kehidupan ningrat dan rakyat.
  • Alur kisah ini dapat membuat pembaca merasa penasaran akan kelanjutan ceritanya.
  • Dalam menuliskan kisah ini, Romo Mangun menggunakan gaya bahasa yang indah, dengan menggunakan kata-kata kiasan yang kaya makna.
  • Romo Mangun mengajak pembaca untuk ikut berpikir dan merasakan seperti apa yang dialami oleh para tokoh yang digambarkan.
  • Pembaca dapat mempelajari banyak kosakata baru melalui kisah ini.
  • Kisah ini membuat pembaca bertanya-tanya dan penasaran dengan fakta-fakta yang tidak ditemukan dalam buku pelajaran sejarah ketika sekolah.
  • Kisah ini dipenuhi oleh intrik dan susah untuk ditebak.

Cons
  • Novel Lusi Lindri ini dinilai kurang dieksplor oleh Romo Mangun, karena memberikan kesan hanya sebagai pelengkap cerita kedua kisah sebelumnya.
  • Penjelasan setiap narasinya terlalu detail sehingga membuat jenuh.
  • Pada novel Lusi Lindri ini juga didapatkan adegan eksplisit atau dewasa yang membuat novel ini dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang sudah berusia 18 tahun ke atas.

Tokoh utama novel ini bernama Lusi Lindri, ia adalah anak perempuan dari Genduk Duku. Lusi Lindri, tetap lebih senang dengan kehidupan istana dan ibu kota, walaupun keluarganya sudah muak. Lusi Lindri memiliki paras yang manis dan tubuh yang terbilang kekar untuk standar masyarakat Jawa pada saat itu. Ia juga memiliki perangai yang terlihat pemberani. Berkat penampilannya itu, Lusi Lindri menjadi kesukaan keraton, bahkan ia juga disukai ibu ratu.

Lusi Lindri kemudian dipilih oleh ibu Suri menjadi salah satu anggota dari Pasukan Trinisat Kenya, yakni pasukan elit pengawal pribadi Susuhunan Mangkurat I. Sejak menjadi anggota pasukan itu, Lusi Lindri mengalami hidup yang paling rahasia di balik dinding-dinding istana. Ditambah lagi, Lusi Lindri menjadi istri perwira mata-mata Mataram di Batavia, yang menjadi pusat VOC.

Oleh karena itu, Lusi Lindri mengetahui banyak hal, bahkan dapat dikatakan terlalu banyak. Dan semakin lama, nurani Lusi Lindri semakin terusik, karena ia melihat kezaliman junjungannya. Tekadnya sudah bulat, tidak ada pilihan lain. Bagi Lusi, lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman dengan bergelimang harta.

Ia kemudian memulai gerakan pemberontakan di wilayah-wilayah yang sekarang disebut Bagelen, Magelang, dan Gunung Kidul. Lusi Lindri memberontak melawan raja lalim itu. Berawal dari gadis tengil kesukaan warga puri, Lusi Lindri berubah menjadi gadis penarik hati yang suka berontak. Mulai dari ia digunakan sebagai mata-mata dan alat dalam intrik rumit politik keraton, sampai menjadi pelarian dan kembali menjadi rakyat biasa, Lusi Lindri menjadi kisah paling dalam di kehidupan keraton.

Kelebihan Novel Lusi Lindri

Novel Lusi Lindri ini merupakan novel sejarah yang memantau dan menyajikan dengan cermat, data dan fakta historis Kerajaan Mataram pada abad 17, dan Sunan Mangkurat I, serta zaman itu yang penuh dengan peristiwa dramatis. Ini adalah kisah yang penuh dengan pesan tentang hal-hal paling kecil dalam kehidupan ningrat dan rakyat. Ini juga menjadi kisah yang menyajikan sindiran bagi kaum penguasa yang zalim dalam melaksanakan tugasnya.

Buku Lusi Lindri ini dinilai lebih dinamis dari dua buku pendahulunya, yakni Roro Mendut dan Genduk Duku. Dikatakan lebih dinamis, karena tidak didominasi oleh unsur percintaan, tetapi lebih banyak menyajikan dunia kemiliteran dan spionase yang membuat buku ini menjadi lebih menarik. Alur kisah ini dapat membuat pembaca merasa penasaran akan kelanjutan ceritanya.

Dalam menuliskan kisah ini, Romo Mangun menggunakan gaya bahasa yang indah, dengan menggunakan kata-kata kiasan yang kaya makna. Ia mampu menyajikan adegan-adegan eksplisit dengan halus, sehingga memberikan kesan yang indah. Penggunaan gaya bahas ini juga dinilai tak berlebihan dan mudah untuk dimengerti.

Melalui buku ini, Romo Mangun mengajak pembaca untuk ikut berpikir dan merasakan seperti apa yang dialami oleh para tokoh yang digambarkan. Mulai dari bagaimana perjuangan dan kegigihan mereka, menghadapi keadaan yang membatasi mereka, dan memandang berdasarkan kebiasaan dan kepercayaan yang memengaruhi cara bertindak dan nasib setiap tokoh. Tokoh-tokoh dalam kisah ini dapat menarik hati pembaca.

Melalui buku Lusi Lindri ini juga, pembaca dapat mempelajari banyak kosakata baru. Selain kosakata baru, kisah ini membuat pembaca bertanya-tanya dan penasaran dengan fakta-fakta yang tidak ditemukan dalam buku pelajaran sejarah ketika sekolah. Kisah ini dipenuhi oleh intrik dan susah untuk ditebak. Ini adalah buku yang direkomendasikan bagi para perempuan pada masa ini, juga kepada para pria yang ingin mempelajari perjuangan perempuan yang jarang dilihat.

Kekurangan Novel Lusi Lindri

Novel Lusi Lindri ini dinilai kurang dieksplor oleh Romo Mangun, karena memberikan kesan hanya sebagai pelengkap cerita kedua kisah sebelumnya. Sebab, beberapa pembaca menemukan bahwa meskipun Lusi dikatakan sebagai tokoh utamanya, tetapi pembaca merasa bahwa yang menjadi tokoh utama pada kisah ini adalah si pangeran jibus yang sekarang bergelar mangkurat. Selain itu, pembaca merasa bahwa penjelasan setiap narasinya terlalu detail sehingga membuat jenuh. Pada novel Lusi Lindri ini juga didapatkan adegan eksplisit atau dewasa yang membuat novel ini dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang sudah berusia 18 tahun ke atas.

Pesan Moral Novel Lusi Lindri

Melalui novel Lusi Lindri ini, kita dapat meneladani sosok Lusi yang berani untuk mengikuti hati nuraninya. Ia melihat sesuatu yang tidak baik yang dilakukan dalam sistem pemerintahan, dan meskipun itu terkait dengan pekerjaannya, ia mau melakukan hal yang menurutnya benar. Ia rela mengorbankan pekerjaannya demi menegakkan keadilan.

Nah, itu dia Grameds ulasan novel Lusi Lindri karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Bagi kalian yang penasaran akan kisah perjuangan Lusi Lindri, kalian bisa mendapatkan novel ini hanya di Gramedia.com. Selamat membaca!

Rating: 4.00

Written by Gabriel