in

Review Buku Love Letters for Mr. T Karya Sandila Ekaputri

Buku Love Letters for Mr. T merupakan karya debut wanita asal Indonesia, Sandila Ekaputri. Buku ini baru saja diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada bulan Agustus 2022. Melihat dari judulnya, pasti Anda sekilas berpikir bahwa buku ini merupakan buku yang bergenre romansa. Namun, hal ini tidak benar.

Buku ini merupakan buku pengembangan diri yang ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialami Sandila Ekaputri. Kisah tersebut bukan kisah romansa, tetapi kisah perjuangannya untuk hidup. Sandila Ekaputri didiagnosis memiliki tumor otak pada tahun 2019. Kondisi ini membuat emosinya bergejolak secara drastis. Maka itu, untuk mengekspresikan emosinya selama masa pengobatan, Sandila Ekaputri pun akhirnya menulis buku ini.

Di masa kalut akan pikiran dan perasaannya mengenai tumor otak yang dimilikinya, seseorang tiba-tiba saja mengatakan hal yang membuat pikiran Sandila terbuka. Seseorang itu berkata kepada Sandila untuk mencoba mengajak ngobrol tumornya. Setelah mendengar itu, Sandila pun kemudian menamai tumor itu dengan nama “Mr. T”.

Ya, jadi buku dengan total 96 halaman ini merupakan kumpulan surat yang ditulis oleh Sandila Ekaputri untuk Mr. T, tumor yang dimilikinya. Buku ini ditulis dengan menggunakan format seperti menulis e-mail, sesuai dengan judul buku ini. Buku ini ditulis dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda mengetahui bahwa Anda sudah tinggal bersama musuh? Dapat dibilang, terdapat dua cara untuk menangani situasi ini. Pertama, panik dan berisiko akan kalah, atau yang kedua, berusaha untuk tetap tenang dan bermain bersama musuh, sambil berharap untuk bertahan hidup.

Love Letters for Mr. T mendokumentasikan perjalanan yang terakhir. Setelah sakit kepala dan gejala aneh yang tak terhitung jumlahnya, Sandila memeriksakan kepalanya dan menemukan tumor otak langka bersembunyi di batang otaknya. Sekarang, Anda mungkin mengenali ‘objek kasih sayang’ yang disebut Mr. T.

Namun, Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana hubungan mereka akan terungkap atau mungkin merasakan dorongan untuk mengintip “surat cinta” mereka? Yuk ikuti perjalanan seperti roller coaster antara Sandila dan Mr. T dan temukan kisah kesedihan serta harapan mereka. Siapa tahu, mungkin ada cerita yang berhubungan dari hubungan kedua musuh ini, yang bisa menghibur Anda.

Beberapa Surat dalam Buku Love Letters for Mr. T

Pros & Cons

Pros
  • Premis kisah yang merupakan pengalaman nyata ini sangat menarik.
  • Pemilihan judul buku ini unik dan dapat mengecoh pembaca.
  • Kisah ini dituliskan dalam format yang menarik, yakni format penulisan surat elektronik (e-mail).
  • Buku ini dilengkapi dengan gambar ilustrasi berwarna yang digambar sendiri oleh Sandila.
  • Kisah ini dapat membuat pembaca merasakan berbagai emosi bersama dengan Sandila.
  • Banyak pesan moral yang bisa diperoleh pembaca dengan membaca kisah ini.
Cons
  • Pembaca mengharapkan lebih banyak ilustrasi yang memisahkan setiap surat, karena format penulisan ini membuat kisah ini tidak mengalir dan secara tampilan menjadi kurang menarik.

Dari: Sandila

Kepada: Mr. T

Subjek: Kejatuhan akhir

Mr. T yang terhormat,

Ingat saat pertama kali kita bertemu? Itu adalah masa yang sulit untuk dilupakan. Momen itu tak terlupakan, karena saya menemukan Anda diam-diam hidup secara bebas di otak saya (saya merasa sangat ngeri). Dan, saya juga menemukan bahwa Anda adalah satu-satunya pelakunya

yang menyebabkan saya merasa sakit kepala hingga kaki selama bertahun-tahun! Nah, Mr. T, Anda membalikkan dunia saya, dan saya pikir sudah waktunya bagi saya untuk menceritakan perjalanan yang saya alami, sampai hari saat saya akhirnya bertemu denganmu.

Saat itu adalah hari Senin pertama pada bulan Juli 2019. Saya menghabiskan waktu di pagi hari untuk bekerja dari rumah, menyelesaikan dokumen untuk meeting di daerah Kemang yang terjadwal sore nanti. Hari itu agak cerah, sebelum akhirnya dengan cepat berubah menjadi hari yang berat. Sesaat setelah saya meninggalkan rumah, selama perjalanan menggunakan taksi selama lima puluh menit dari rumah ke Kemang, yang saya rasakan hanya kesakitan.

Setiap lima belas menit, saya akan mengalami rasa sakit yang tak tertahankan di seluruh kepala saya. Rasanya seperti sesuatu yang tajam menekan dan menusuk otakku hingga ke bagian belakang kepalaku. Rasa sakit itu menyerang dengan lebih cepat, rasanya mirip dengan kontraksi. Aku memejamkan mata, memegang lenganku, berharap rasa sakitnya akan hilang.

Saya merasa sangat haus, jadi saya meminta sopir untuk membuat berhenti sebentar di toko terdekat. Saya melangkah keluar dari mobil, masuk ke toko, dan dengan cepat mengambil sebotol air, lalu mengantri di depan kasir. Dalam hitungan detik, segalanya menjadi kacau begitu cepat! Saya berdiri di sana dan melihat tubuh saya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Penglihatan saya juga mulai memudar.

Momen itu sangat menakutkan; itu adalah hal terakhir yang saya inginkan untuk terjadi, yakni menemukan diri saya jatuh turun ke lantai! Jadi saya memutuskan untuk segera mengembalikan botol air itu dan berjalan kembali ke kendaraan. Saya ingat saya memiliki waktu yang paling tidak menyenangkan selama siang itu.

Saya pun menunjukkan slide presentasi saya, berbicara dengan jelas, dan berharap saya bisa menuntaskan meeting itu. Dan saya perhatikan bahwa saya terus menyentuh dan mengusap bagian belakang kepala saya selama seluruh sesi. Akhirnya, setelah pertemuan itu selesai, saya langsung menelepon dan membuat janji dengan ahli saraf di rumah sakit dekat rumah. Saya meminta tolong kepada rekan saya, Pianky, untuk menelepon taksi untuk saya.

Pada titik ini, saya hampir tidak bisa berjalan. Jadi, Pianky memegang dan membawa saya ke taksi. Saya memberi tahu pengemudi bahwa saya akan berbaring di kursi belakang dan bertanya apakah dia bisa mengemudi ke rumah sakit dengan cepat. Mataku terpejam, kepalaku berat, dan rasanya tubuhku siap untuk didisfungsikan.

Segala hal tampak berputar-putar dengan kekacauan. Tiba-tiba, saya mendengar suara detak jantung. “Pak, sepertinya lampu hazard Anda menyala? Aku bisa mendengar suaranya di belakang sini. Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyaku. “Ya, Bu. Saya sengaja menyalakannya supaya kita bisa meminta jalan, supaya lebih cepat melalui kemacetan jalan raya,” jawabnya.

“Pastikan saja kamu mengemudi dengan aman, ya. Oh, dan um, begitu kita tiba di rumah sakit, tolong turunkan saya di UGD saja, ya, Pak.” Saya kemudian segera menelpon ibu saya untuk memberitahunya bahwa saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Begitu saya tiba di lobi UGD, sopir taksi saya membantu memegang saya dan menempatkan saya di kursi roda.

Dari situ, segala hal mulai menjadi kabur. Saya dirawat di rumah sakit malam itu, dijadwalkan

untuk melakukan pemindaian MRI pada hari berikutnya, dan akan menerima diagnosis lusa. Lalu, sisanya adalah awal dari cerita kami. Kisah menghadapi dan hidup bersamamu, sebuah penyakit otak.

Dari: Sandila

Kepada: Mr. T

Subjek: Tornado dari ujung kepala sampai ujung kaki

Mr. T yang terhormat,

Saya telah mengalami beberapa gejala yang menyakitkan untuk setidaknya lima tahun. Beberapa hari baik-baik saja, beberapa hari yang lain lebih tidak terkendali. Ini dimulai dengan serangkaian sakit kepala dan nyeri leher. Tapi, Anda tahu, saya pikir mungkin itu dari stres karena pekerjaan, dari duduk di kursi terlalu lama, atau karena terlalu banyak minum kopi.

Jadi saya membiarkannya, dan sering kali mengonsumsi obat biasa. Lalu suatu pagi, saya bangun dengan perasaan yang sangat pusing dan disorientasi, Pak T. Mata saya harus ditutup

kembali karena segala sesuatunya tampak berputar tanpa henti. Bola mata saya berputar, tubuh saya bergoyang, dan muncul suara mendengung yang lucu di telinga.

Saya ingat, saya pernah berpikir bahwa, “Ini pasti bagaimana rasanya vertigo.” Ada juga hari-hari di mana saya sepertinya kehilangan keseimbangan. Saya tersandung di lantai atau jadi sering menabrak dinding. Dua diagnosa mandiri yang saya lakukan, yakni entah sesuatu benar-benar salah dengan keseimbangan saya, atau saya sedang mengalami kekacauan yang parah!

Kelebihan Buku Love Letters for Mr. T

Kelebihan buku Love Letters for Mr. T yang pertama, terletak pada keseluruhan pengalaman yang dialami Sandila Ekaputri ini. Mulai dari di mana Ia akhirnya menamai penyakit tumor dengan sebutan Mr. T, lalu mengajaknya mengobrol. Pengalaman ini menjadi sebuah kisah yang sangat menarik.

Kemudian, pemilihan judul untuk buku ini menjadikan buku ini menjadi tidak tertebak. Jika melihat dari judulnya, orang akan terkecoh untuk menganggap buku ini merupakan buku bergenre romansa mengenai penggemar rahasia. Hal ini menjadi suatu hal yang unik dan mengejutkan.

Kemudian, Sandila Ekaputri menuliskan buku ini dalam format surat elektronik atau e-mail. Format ini menarik, karena menjadi sesuai dengan judul buku ini, surat-surat cinta untuk Mr. T. Buku Love Letters for Mr. T ini juga menyajikan ilustrasi yang digambar sendiri oleh Sandila. Ilustrasi ini tentunya menjadikan buku ini semakin menarik secara visual.

Seluruh surat yang ditulis Sandila Ekaputri untuk Mr. T ini dituliskan secara positif. Surat ini bukan untuk mengungkapkan keluhan, tetapi mengekspresikan secara indah perasaan Sandila kepada Mr. T. Kisah yang pahit, tetapi menghangatkan hati. Sandila Ekaputri mampu mengemas setiap ceritanya dengan cara yang positif, bahkan ia juga menyelipkan beberapa kalimat jenaka juga dalam buku ini.

Buku yang hanya memiliki 96 halaman ini dapat membuat pembaca merasakan berbagai emosi bersama dengan Sandila. Buku ini juga tentunya memberikan banyak pesan moral bagi para pembaca, yang terkait dengan bagaimana cara memandang hidup dengan lebih positif, dan menghargai keadaan saat ini. Secara lebih lanjut, buku ini dapat membuat pembaca merefleksikan hidupnya, dan mengubah cara pandangnya.

Kekurangan Buku Love Letters for Mr. T

Seperti yang telah dijelaskan di atas, format penulisan buku Love Letters for Mr. T ini memang menarik dengan dikemas seperti format menulis surat elektronik. Namun, format ini juga membuat kisah ini tidak mengalir dan secara tampilan menjadi kurang menarik jika dibandingkan dengan format penulisan narasi seperti buku pada umumnya. Jadi, pembaca menyarankan lebih baik lagi jika Sandila memberikan lebih banyak ilustrasi gambar yang memisahkan setiap suratnya.

Pesan Moral Buku Love Letters for Mr. T

Melalui buku Love Letters for Mr. T, kita dapat meneladani sosok Sandila Ekaputri yang bisa memandang sisi positif dari keterpurukannya. Meskipun ia mengakui bahwa ia merasa sangat menderita, tetapi reaksi yang diberikannya adalah baik. Alih-alih mengeluh, ia mencoba untuk berkomunikasi. Sandila tidak menyalahkan keadaan, dan fokus kepada hal yang baik, yakni keinginan untuk sembuh.

Kemudian, melalui kisah Sandila juga, kita dapat mengetahui bahwa hal-hal paling kecil pun dapat memberikan perubahan yang bisa jadi besar dalam kehidupan kita sendiri maupun orang lain. Contonya, seperti seseorang yang memberitahu Sandila untuk mencoba mengajak ngobrol tumornya, masih bisa karaoke dengan teman dan keluarganya, dan keinginan untuk makan kwetiau di luar rumah sakit.

Hal-hal kecil yang mungkin kita anggap biasa di kehidupan sehari-hari, ternyata bisa menjadi besar jika kita tak bisa mendapatkannya. Maka dari itu, hendaknya kita selalu menghargai dan mensyukuri apa pun yang masih boleh kita lakukan dan dapatkan pada saat ini. Selain itu, kita juga hendaknya dapat selalu berbuat baik kepada sesama.

Sekian artikel ulasan buku Love Letters for Mr. T karya Sandila Ekaputri. Bagi Anda yang penasaran akan perjuangan Sandila dalam menghadapi Mr. T, kalian bisa mendapatkan buku ini hanya di Gramedia.com. Selamat membaca!

Rating: 3.5

Written by Gabriel