in

Review Buku “The Art of Loving”, Memaknai Hakikat Cinta

Detail  Buku “The Art of Loving”:

Judul: The Art of Loving

Genre: Psikologi

Penulis: Erich Fromm

Penerjemah: Andi Kristiawan

Bahasa: Indonesia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2 Maret 2020

Jumlah Halaman: 188 halaman

Berat Buku: 0.15 Kg

Lebar Buku: 13.5 Cm

Panjang Buku: 20 Cm

ISBN: 9786020304083 

Harga Buku: Rp 55.000

the art of loving

Sinopsis Buku “The Art of Loving”:

THE ART OF LOVING Manusia di zaman ini harus jujur bahwa “dahaga akan cinta” itu nyata terjadi dan dialami. Sudah berapa ribu kali Anda mendengarkan lagu-lagu “murahan” tentang cinta? Sudah berapa ratus kali Anda menonton film cinta—entah itu berakhir bahagia atau tragis? Tema tentang cinta seakan tak pernah habis-habisnya dieksploitasi untuk memenuhi rasa dahaga itu. 

 

The Art of Loving—buku fenomenal karya Erich Fromm yang telah diterjemahkan ke 42 bahasa—meyakinkan pembacanya bahwa semua upaya demi meraih cinta akan gagal jika seseorang tidak terlebih dulu mengembangkan seluruh kepribadiannya; bahwa pemenuhan cinta seseorang hanya dapat diraih dengan kemampuan untuk mencintai orang lain, dengan kerendahan dan keteguhan hati, serta keyakinan dan kedisiplinan. 

 

Dalam karya klasiknya ini, Fromm membongkar seluruh aspek cinta, tidak hanya asmara, yang kerap diwarnai pengertian keliru dan ekspektasi tinggi, tetapi juga cinta orangtua, anak, dan sesame; cinta erotis; cinta diri; dan cinta Allah. The Art of Loving ditandai dengan penolakan untuk menyerah pada kegundahan, sebagai usaha nyata untuk mencari makna kehidupan dalam era modern yang penuh keterasingan. Bagi Fromm, cinta adalah “satu-satunya jawaban yang waras dan memuaskan terhadap masalah eksistensi manusia.”

the art of loving

Penulis Buku “The Art of Loving”:

Erich Fromm, 

Erich Fromm lahir di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret 1990. Setelah memperoleh gelar doktor dari Heidelberg pada tahun 1922, ia belajar psikoanalisis di Munich dan di Institut Psikoanalisis yang terkenal di Berlin.Pada tahun 1933, ia pindah ke Amerika Serikat dan mengajar di Institut Psikoanalisis di Chicago dan berlatih secara pribadi di New York.Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Karl Marx, terutama  yang pertama,  Economic and Philosophical Manuscript, yang ditulis pada tahun 19 Fromm memandang Marx sebagai pemikir yang lebih ulung daripada Freud dan menggunakan psikoanalisa, terutama untuk mengisi celah celah pemikiran Marx.

 

Erich Fromm memutuskan untuk mengembangkan keinginannya untuk memahami suatu kodrat dan juga sumber dari tingkah laku irasional. Erich Fromm menduga hal tersebut merupakan pengaruh dari kekuatan dari sosio-ekonomis, politis, dan historis yang secara besar besaran yang memberikan pengaruh pada kodrat kepribadian manusia. Erich Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan dari penulis Karl Marx, terutama pada karyanya yang pertama yaitu “The Economic and Philosophic Manuscripts” yang ditulis oleh Karl Marx di tahun 1944, diman Erich Fromm membandingkan ide-ide dari Freud dan Marx dan menyelidiki suatu kontradiksi-kontradiksinya dan melakukan percobaan yang sintesis dari hal tersebut. Erich Fromm memandang penulis Karl Marx sebagai pemikir yang lebih ulung daripada Freud dan menggunakan sebuah psikoanalisa, terutama untuk pengisian celah dari pemikiran Marx. di tahun 1959, Erich Fromm menulis suatu analisis yang sangat kritis bahkan pada polemis tentang kepribadian dari penulis Freud dan pengaruhnya, sebaliknya berbeda dengan kata-kata pujian yang diberikannya kepada penulis Karl Marx di tahun 1961. 

the art of loving

Meskipun Fromm dapat disebut sebagai seorang teoritikus kepribadian Marxian, ia sendiri lebih suka disebut humanis dialektik. Tulisan-tulisan Erich Fromm dipengaruhi pada pengetahuannya yang luas tentang suatu sejarah, sosiologi, kesusastraan, dan juga filsafat. Tema dasar dari dasar semua tulisan Erich Fromm adalah suatu individu yang merasa kesepian dan terisolir karena mereka dipisahkan atau dipisahkan dari alam dan  orang-orang lain. Dimana Keadaan isolasi ini tidak ditemukan dalam semua spesies binatang, dan itu adalah situasi dari ciri khas umat manusia. Dimana dalam bukunya yang berjudul “Escape from Freedom” di tahun 1941, Erich Fromm mengembangkan suatu tesis tentang manusia yang menjadi semakin bebas dari abad ke abad, maka mereka juga semakin merasa kesepian. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebebasan menjadi keadaan yang memiliki nilai negatif dari mana manusia melarikan diri. jawaban dari suatu kebebasan yang pertama merupakan semangat cinta dan juga kerjasama yang menghasilkan manusia yang mengembangkan masyarakat yang lebih baik lagi dan yang kedua adalah ketika manusia merasa aman dengan tunduk pada penguasa yang kemudian menjadi menyesuaikan diri dengan masyarakat lain.

 

Dalam buku-buku Erich Fromm berikutnya di tahun 1947, 1955, 1964, dikatakan bahwa setiap dari masyarakat yang telah diciptakan manusia, entah itu berupa feodalisme, kapitalisme, fasisme, sosialisme, dan komunisme, semuanya menunjukkan suatu usaha manusia untuk memecahkan kontradiksi dasar manusia. Kontradiksi yang dimaksud disini merupakan suatu individu yang dan bukan saja  merupakan bagian tetapi juga sekaligus terpisah dari alam itu sendiri, merupakan sosok binatang sekaligus manusia. Sebagai binatang, orang memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik tertentu yang harus dipuaskan. Sebagai manusia, individu memiliki kesadaran pada diri, pikiran dan daya khayal. Pengalaman-pengalaman khas dari manusia meliputi elemen perasaan lemah lembut, cinta, perasaan kasihan, sikap-sikap perhatian, tanggung jawab, identitas, integritas, bisa terluka, transendensi, dan kebebasan, nilai-nilai dan juga norma-norma. Kemudian teori dari Erich Fromm mengenai watak dari masyarakat mengakui asumsi transmisi kebudayaan dalam hal membentuk kepribadian akan tipikal atau kepribadian kolektif. Namun Erich Fromm juga mencoba menjelaskan fungsi-fungsi  sosio-historik dari banyak tipe kepribadian tersebut yang menghubungkan dari kebudayaan tipikal dari suatu kebudayaan objektif yang dihadapi oleh suatu masyarakat. Untuk merumuskan hubungan tersebut secara efektif dan juga suatu masyarakat perlu menerjemahkannya ke dalam unsur-unsur watak atau traits dari individual masing-masing

the art of loving

Review Buku “The Art of Loving”:

 

Buku “The Art of Loving” ini pertama kali terbit pada tahun 1956 ditulis oleh penulis psikoanalisa dan filsuf sosial Erich Fromm, dimana didalam buku ini Erich Fromm akan mengmbangkan pandangan perspeltif  tentang sifat manusia dan cinta dimana pada zaman ini kebanyakan manusia  haus akan cinta, perasaan dikasihi oleh manusia lain yang menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia saat ini. Dimana saat ini kita dibuktikan oleh suatu keadaan dimana kita akan sudan banyak mendengarkan lagu-lagu tentang cinta, baik itu cinta yang indah maupun yang pahit dan menyakitkan sama halnya dengan film, dimana keadaan ini menyadarkan kita bahwa sosok manusia selalu diekloityasi dan dhujani dengan percintaan untuk memenuhi perasaan haus akan cinta tersebut. buku karya Erich Fromm akan membahas tentang hal-hal akan cinta dan manusia tersebut, dimana buku ini sudah telah diterjemahkan kedalam 28 bahasa dan juga merupakan  salah satu buku yang mendapatkan penghargaan “internasional bestseller”. 

 

Buku “The Art of Love” ini akan membahas tentang “hakikat cinta” dalam semua aspek  yang akan dibalut dengan aspek psikologi masyarakat zaman modern. karena hal tersebut buku ini juga akan termasuk dalam salah satu buku referensi utama psikologi ketika ingin membahas sesuatu yang bertema tentang cinta. buku ini juga mampu membuat kita pembacanya menyadari bahwa cinta yang baik adalah cinta sahabat, dimana  cinta yang mampu mengenal diri sendiri, cinta yang berpengetahuan, cinta yang mampu untuk berkolaborasi dan berkontribusi dengan cinta yang lain di kehidupan ini. Maka dari itu penulis buku ini Erich Fromm bersisik keras bahwa “cinta adalah jawaban yang paling waras dan memuaskan terhadap masalah eksistensi manusia”.  

the art of loving

Di dalam buku ini juga Erich Fromm akan menggambarkan bahwa cinta juga merupakan seni yang patut untuk dimengerti dan dipelajari oleh kita pembacanya dan juga merupakan tindakan untuk mengatasi masalah akan keterpisahan antara manusia, Karena dalam masalah cinta kebanyakan orang pertama-tama melihatnya sebagai persoalan dicintai dibandingkan mencintai atau kemampuan mencintai. Kedua, karena sikap aneh masyarakat sekarang dalam persoalan cinta yaitu adanya anggapan bahwa cinta adalah persoalan objek bukan persoalan kemampuan. 

 

Maka, buku ini dapat menjelaskan kedua persoalan tersebut dengan memulai mengulas tentang hakikat cinta tersebut sendiri yang  dimulai dari  teori tentang eksistensi manusia, selanjutnya akan penjabaran obyek-objek dari cinta yang berbeda yang ada pada manusia seperti banyak cinta lainnya juga (cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotic, cinta diri  atau Tuhan, dan kehancuran makna dari hakikat cinta itu sendir dalam masyarakat). isi dalam buku “The Art of Love” ini tidak akan mengendalikan pemahaman tentang cinta, namun akan mengklasifikasikannya berdasarkan dari objek yang akan mempunyai arti yang berbeda-beda. ha-hal selanjutnya dalam buku ini adalah ketika Erich Fromm memasukan beberapa pendapat akan tokoh tokoh besar mengenai pandangannya terhadap cinta seperti tokoh Jalaludin Rumi, Spinoza dan juga tokoh-tokoh lainnya. Jadi tidak hanya pemikiran dan teori dari Erich Fromm yang ada di dalam isi buku “The Art of Love” ini.

the art of loving

Nah, itulah review buku karya Erich Fromm dengan karyanya yaitu The Art of Love Grameds. Seperti yang dapat dilihat dari review buku diatas pada buku The Art of Love ini akan berisikan pembahasan tentang “hakikat cinta” dalam semua aspek  yang akan dibalut dengan aspek psikologi masyarakat zaman modern. karena hal tersebut buku ini juga akan termasuk dalam salah satu buku referensi utama psikologi ketika ingin membahas sesuatu yang bertema tentang cinta. buku ini juga mampu membuat kita pembacanya menyadari bahwa cinta yang baik adalah cinta sahabat, dimana  cinta yang mampu mengenal diri sendiri, cinta yang berpengetahuan, cinta yang mampu untuk berkolaborasi dan berkontribusi dengan cinta yang lain di kehidupan ini. Maka dari itu penulis buku ini Erich Fromm bersisik keras bahwa cinta adalah jawaban yang paling waras dan memuaskan terhadap masalah eksistensi manusia”.

 

Jika Grameds ingin mencari informasi lebih dalam mengenai buku The Art of Love karya Erich Fromm ini maupun buku-buku bergenre Psikologi, kalian dapat membaca berbagai buku yang ada di Gramedia yang pastinya mudah dipahami dan kaya akan informasi. 

 

Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas akan selalu membantu Grameds. 

Semoga bermanfaat!

Written by Chelsea