in

Review Buku Pale Blue Dot: Titik Biru Pucat Itu Rumah Kita

Buku Pale Blue Dot ditulis oleh Carl Sagan, seorang astronom asal Amerika Serikat, dan selebritas intelektual yang suka mempopulerkan sains. Buku ini menjadi buku terakhir yang ditulis oleh Carl Sagan, ketika ia berjuang melawan penyakitnya, dan tutup usia di tahun 1996.

Pale Blue Dot atau titik biru pucat merupakan sebuah foto planet Bumi yang diambil oleh wahana antariksa Voyager sesaat setelah menyelesaikan misi utamanya, atas permintaan Carl Sagan melalui NASA. Foto ini diambil dengan jarak 6 miliar kilometer dari bumi, pada tanggal 14 Februari 1990, dan menjadi satu dari bagian rangkaian foto anggota tata surya.

Carl Sagan kemudian memberikan nama kepada foto tersebut. Ia menyebutnya sebagai “Pale Blue Dot” atau titik biru pucat. Melalui foto itu, Sagan menunjukkan bahwa bumi sangat lah kecil, hanya sebesar titik yang berada di tengah luasnya area tata surya dan semesta.

Carl Sagan menulis buku ini pada tahun 1994. Meski begitu, buku ini masih relevan dengan kehidupan masyarakat pada saat ini, karena Sagan menuliskan topik-topik yang menjadi isu berkepanjangan dalam kehidupan umat manusia.

Jika anda ingin membaca buku ini, tidak perlu khawatir anda tidak akan mengerti makna dari buku ini. Sebab, meskipun ditulis oleh Carl Sagan yang memiliki sudut pandang seorang astronom dan berpendidikan tinggi, Sagan menulis buku Pale Blue Dot ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

Carl Sagan menulis buku ini untuk menyampaikan pesan yang mendalam kepada kita, para penduduk bumi. Pesan tersebut ingin memberitahu sekaligus mengingatkan para pembacanya bahwa meskipun kita tinggal di tempat yang sangat kecil dibandingkan luasnya semesta, kita bisa memaknainya dengan besar.

Sebab, pemaknaan akan sesuatu bergantung pada sudut pandang. Bumi tempat di mana kita hidup ini merupakan tempat yang spesial, karena merupakan satu-satunya planet yang dapat ditinggali makhluk hidup. Bumi itu sangat besar bagi kita.

Tapi, sering kali manusia terlena dengan kebesaran yang mereka maknai sendiri. Begitu banyaknya pertumpahan darah dari peperangan, hasil dari keputusan sejumlah orang pemimpin yang ingin berkuasa.

Begitu banyaknya orang-orang yang tersakiti akibat perbuatan sejumlah orang lainnya yang dipenuhi amarah dan kebencian. Begitu banyaknya orang-orang yang menderita akibat keserakahan sejumlah orang lainnya.

Padahal, segala kekuasaan dan kejayaan yang mereka dapat tidak akan bertahan lama. Begitu miris ketika mengetahui sejumlah orang yang tinggal di suatu sudut titik yang sama, bisa mengorbankan sejumlah orang di suatu sudut lainnya.

Manusia tidak sadar, pada akhirnya bumi hanya lah sebuah titik di luasnya alam semesta, dan kita bagaikan debu yang berada di dalamnya. Melalui buku ini, Carl Sagan ingin menegur dan menyadarkan kita bahwa banyak hal buruk yang manusia lakukan.

Dengan itu, Sagan dalam buku ini juga ingin mengingatkan kita untuk melakukan yang terbaik bagi Bumi, planet spesial yang kita tempati melalui perbuatan baik kepada sesama. Hal ini sebagai wujud dari upaya kita untuk merawat, menjaga, melestarikan, dan mencintai Bumi.

Sebab, Bumi adalah rumah kita, dan Bumi adalah kita.

 

Profil Penulis Pale Blue Dot – Carl Sagan

Know Your Scientist: Carl Sagan

Sumber foto: futurism.com

Carl Edward Sagan atau yang dikenal dengan nama Carl Sagan, lahir pada tanggal 9 November 1934, di Brooklyn, New York, Amerika.

Carl Sagan menempuh pendidikan tinggi jurusan Fisika di Chicago University, dan berhasil lulus mendapatkan gelar sarjana di tahun 1955. Tidak cukup sampai di situ, Sagan melanjutkan studinya di jurusan yang sama untuk mendapatkan gelar master pada tahun 1956.

Setelah itu, Carl Sagan masih melanjutkan studinya lagi di Chicago University, untuk memperoleh gelar doktor di jurusan astronomi dan astrofisika. Tentunya, ia berhasil mendapatkan gelar tersebut pada tahun 1960.

Setelah mendapatkan 3 gelar tersebut, Carl Sagan bekerja sebagai tenaga pengajar di Harvard University. Ia bekerja di sana selama 8 tahun, hingga tahun 1968. Sagan kemudian pindah untuk mengajar di Cornell University, dan akhirnya diangkat menjadi profesor pemimpin laboratorium pada tahun 1971.

Carl Sagan merupakan seorang yang gemar untuk membagikan pengetahuan. Maka itu, ia sering ikut untuk berkontribusi pada sejumlah misi luar angkasa tak berawak, yang tugasnya menjelajahi tata surya.

Sagan berkontribusi dengan mengajukan beberapa gagasan dan pendapat untuk misi luar angkasa. Beberapa di antaranya adalah gagasan mengenai pengiriman pesan universal yang mungkin dapat diterima makhluk lain yang tinggal di luar angkasa, dan pendapat bahwa kemungkinan terdapat laut atau danau di Titan dan Europa, bulan milik planet Saturnus dan Jupiter.

Sagan juga terlibat dalam sejumlah misi antariksa bersama NASA, antara lain misi Apollo, Voyager, Viking, dan Galileo. Sagan sangat antusias untuk mendukung segala upaya mencari kehidupan cerdas lain di luar angkasa. Hal ini kemudian dapat membawanya menjadi pemimpin redaktur jurnal Icarus, yakni jurnal yang berfokus pada penelitian tentang planet, selama 12 tahun lamanya.

Carl Sagan sering menyampaikan gagasan-gagasan mengenai kosmos, bahkan kepada orang yang awam akan hal tersebut. Meski begitu, para pendengarnya dapat mengerti, karena Sagan menyampaikannya dengan baik dan mudah dipahami.

Bermodal dari kelihaiannya dalam menyampaikan gagasan, Carl Sagan bersama istrinya mulai berkarya dengan menulis buku pertamanya yang berjudul “Cosmos”, yang terbit pada tahun 1980. Narasi Cosmos juga dibuat dalam bentuk episode versi televisi, dengan total 13 episode yang dinarasikan sendiri oleh Carl Sagan.

Karya buku Carl Sagan cukup banyak. Sesuai dengan minatnya, sebagian dari karyanya bertema sains populer. Beberapa contoh buku dengan tema tersebut adalah The Cosmic Connection, Broca’s Brain, dan The Dragons of Eden.

Salah satu buku Sagan yang sukses adalah sekuel dari Cosmos yang berjudul Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space. Buku ini berhasil mendapatkan dinobatkan The New York Times sebagai buku terkemuka pada tahun 1995.

Salah satu karya dengan tema lain yang meraup kesuksesan adalah novel karyanya yang berjudul Contact. Novel ini berhasil menjadi buku best seller dan juga diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar pada tahun 1997, yang menjadi pemenang Penghargaan Hugo.

Carl Sagan tutup usia pada tanggal 20 Desember 1996, di usia 62 tahun, akibat mengidap penyakit myelodysplasia. Meski sudah tiada, nama Carl Sagan terus bergaung menceritakan sejarah hidupnya

Film Contact menjadi salah satu karya yang didedikasikan kepada Sagan setelah kematiannya. Penghormatan atas Sagan yang lain, yaitu nama Carl Sagan dipakai untuk menamai suatu asteroid, dan juga lokasi pendaratan pesawat luar angkasa tanpa awak, Mars Pathfinder.

 

Sinopsis Pale Blue Dot

Carl Sagan bertamasya menjelajahi ruang dan waktu. Dalam perjalannya, umat manusia diajak untuk menembus area baru, yakni garis depan antariksa yang baru.

Manusia berhasil menjelajah dunia baru dengan perjalanan ke antariksa, dengan mengendarai pesawat luar angkasa yang dipenuhi awak maupun tanpa awak. Terdapat sejumlah perjalanan lain untuk terus menyusuri antariksa, baik yang sudah dilakukan, maupun yang masih dalam perencanaan.

Dalam perjalanan yang telah dilakukan, akhirnya manusia dapat mengetahui seberapa besar dunia tempat tinggalnya. Pada tahun 1980, dalam misi perjalanan antariksa Voyager, foto penampakan bumi berhasil didapatkan. Bumi yang merupakan tempat tinggal kita, tidak lebih dari sebuah titik biru pucat di tengah luasnya semesta.

Bumi bagaikan setitik debu yang melayang di antara milyaran objek yang ada di angkasa. Dari sudut pandang tersebut, pastinya Bumi terlihat tidak spesial. Namun, satu-satunya spesies yang dapat menjadikan Bumi spesial hanya lah kita, manusia.

Sebab, Bumi yang hanya setitik ini, tempat tinggal kita, dan Bumi adalah kita. Tempat yang mengawali kehidupan kita, tempat di mana kita membuat memori sebagai manusia, dan tempat untuk menikmati proses kehidupan.

Seluruh orang yang kita cintai, seluruh orang yang kita kenal, hidup di Bumi. Seluruh suka dan duka yang kita alami, ribuan ideologi, agama, dan doktrin ekonomi terjadi di sana. Setiap penjelajah dan pemburu, setiap penjelajah dan orang pengecut, setiap pembangun dan pemusnah peradaban, setiap raja dan rakyatnya, setiap pasangan muda yang dipenuhi cinta, setiap ibu dan ayah, beserta anaknya yang penuh harapan.

Setiap penemu, setiap guru yang mengajarkan tentang moral, setiap politisi yang suka korup, setiap selebriti, setiap pemimpin yang besar, setiap orang yang berdosa dan suci, yang ada dalam sejarah spesies manusia, tinggal di Bumi.

Di dalam setitik debu biru pucat yang melayang di angkasa, yang disinari oleh cahaya matahari. Bumi bagaikan panggung yang sangat kecil dalam arena yang sangat luas. Namun, Bumi akan menyimpan segala hal yang ada dan terjadi di dalamnya untuk selamanya.

Renungkanlah tentang pertumpahan darah hasil keputusan para pemimpin, demi menuntun mereka menuju kejayaan dan kekuasaan yang sementara, dilakukan di bagian kecil dari satu titik.

Renungkanlah kekejaman luar biasa yang dilakukan kepada orang-orang di suatu sudut di titik ini, oleh sejumlah orang yang ada di salah satu sudut lainnya di titik ini. Betapa sering terjadi konflik dan salah paham terjadi di antara mereka.

Pikirkan betapa mereka semangat untuk saling menyakiti, bahkan membunuh. Betapa besarnya kebencian yang ada di antara mereka. Kepercayaan kita akan pentingnya diri kita, keyakinan bahwa diri kita adalah spesial di dunia ini, tidak berarti apa pun di titik biru pucat ini.

Planet kita hanya setitik debu di tengah gelapnya semesta. Dalam kebingungan yang kita alami, di tengah jagat raya yang sangat luas ini, tidak ada petunjuk yang menyatakan bahwa akan datang pertolongan yang dapat menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

Hingga saat ini, sejauh yang kita ketahui, hanya planet Bumi yang dapat mendukung kelangsungan kehidupan. Tidak ada tempat lain yang dapat dijadikan tempat tinggal, setidaknya dalam waktu sementara ini.

Entah suka atau tidak, Bumi adalah satu-satunya pilihan kediaman kita. Hal ini menegaskan kewajiban kita, yakni kita harus bersikap baik kepada sesama, sebagai bagian dari upaya menjaga dan melestarikan setitik biru pucat. Satu-satunya rumah yang kita ketahui.

Mari tetap merasa penasaran. Manusia perlu untuk melanjutkan keinginannya untuk mengeksplor dunia lain di luar Bumi yang ditempati. Dunia lain yang ada dalam area tata surya atau di luarnya.

Hal ini perlu dilakukan bukan untuk pengetahuan semata, tapi sebagai upaya menjaga manusia dari kepunahan. Demi melestarikan umat manusia beserta keturunannya dalam jangka panjang.

 

Kelebihan Pale Blue Dot

Meskipun buku Pale Blue Dot ini menceritakan gambaran bumi hasil dari sudut pandang Sagan sebagai seorang astronom, Sagan dapat menyampaikannya dengan jelas.

Sagan menggunakan bahasa yang umum dan mudah dimengerti, sehingga para pembacanya dapat menangkap makna dari tiap-tiap cerita. Hal ini juga membuat buku ini menjadi menyenangkan untuk dibaca.

Walaupun buku ini ditulis tahun 1994, isi dari buku ini masih relevan dengan saar ini. Banyak hal-hal bermakna yang dapat dipelajari dalam buku ini. Dalam buku Pale Blue Dot ini, Carl Sagan menuliskan banyak hal-hal yang penting untuk diingat oleh seluruh manusia, yakni untuk menghindari diri dari kesombongan dan keserakahan. Sebab pada akhirnya, kita hanya setitik debu dibandingkan dengan luasnya semesta.

Sagan dengan buku ini ingin membuka pikiran pembacanya dan mengajarkan akan pentingnya berbuat baik kepada sesama manusia. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk kepentingan bersama, yakni untuk menjaga kelangsungan kehidupan kita di Bumi ini.

 

Kekurangan Pale Blue Dot

Inti dari pesan yang disampaikan dalam buku ini cukup sederhana, yakni bahwa alam semesta itu besar, dan jika bumi saja hanya sebesar setitik debu yang melayang, berarti begitu kecilnya diri kita yang tinggal di titik tersebut. Maka itu, kita harus sadar diri untuk tidak menganggap diri kita besar dan menekan sesama kita.

Namun, Carl Sagan menulis buku ini dengan narasi yang cukup panjang dan repetitif. Hal ini memungkinkan para pembacanya untuk merasa bosan karena membahas hal yang terus diulang.

Meskipun buku Pale Blue Dot ini mengajarkan tentang hal umum dalam kehidupan manusia, buku ini ditulis dengan latar belakang hasil misi antariksa dan dalam sudut pandang astronom. Tentunya, dalam buku ini terdapat sejumlah istilah-istilah sains. Hal ini menjadikan buku Pale Blue Dot ini bukan bacaan yang ringan.

Pesan Moral Pale Blue Dot

Coba untuk melihat diri kita melalui sudut pandang lain. Seperti Bumi tempat tinggal kita yang kita anggap sungguh besar dan luas, ternyata dalam sudut pandang semesta, tidak lebih dari setitik debu yang melayang di angkasa.

Bagaikan suatu ungkapan, di atas langit masih ada langit. Jangan terlena dengan hal-hal yang dapat dinikmati secara semata, kekuasaan, kejayaan, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut adalah fana. Pantas kah mengorbankan segalanya demi mendapatkan kesenangan semata?

Sebagai sesama makhluk hidup yang tinggal di dalam setitik biru pucat di luasnya semesta, ada baiknya kita untuk saling bersikap baik. Mari mencintai sesama sebagai wujud menjaga dan merawat tempat tinggal kita.

Sebab, tidak ada tempat tinggal lain yang dapat kita pilih ketika sewaktu-waktu Bumi ini sampai di ujung masa. Ini menjelaskan, tidak ada pilihan lain bagi kita selain melestarikan setitik biru pucat ini.

Bagi kamu yang ingin mengetahui lebih jelas tentang gambaran Bumi tempat tinggal kita, buku ini cocok untuk kamu baca. Buku Pale Blue Dot karya Carl Sagan ini bisa kamu dapatkan di www.gramedia.com.

Written by Gabriel