in

Review Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

Review Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja – Bagi kalian yang seringkali merasa hidup kalian tidak baik-baik saja, sering merasa kecewa karena patah hati dan kehilangan, ingin mencoba melepaskan yang telah pergi, dan sulit untuk mencintai diri sendiri, buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja ini ditulis untuk kalian baca.

Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja merupakan buku seri ketiga yang menutup seri buku “Jika Kita Tak Pernah…”, yang ditulis oleh novelis ternama Indonesia, Alvi Syahrin.

Pada buku sebelumnya, Alvi Syahrin sudah membahas topik yang berbeda. Pada buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Alvi Syahrin membahas tentang kekhawatiran akan masa depan yang akan datang. Pada buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Alvi Syahrin membahas mengenai makna cinta yang lebih luas, dan hal yang lebih penting daripada cinta.

Dalam buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja, Alvi Syahrin akan membahas tentang bagaimana cara untuk mencintai diri sendiri, ketika diri ini kerap kali melakukan kesalahan bodoh secara berulang kali dan tanpa henti.

Alvi Syahrin memaparkan bahwa akan sulit bagi seseorang yang sering melakukan kesalahan untuk dapat mencintai dirinya sendiri dan juga orang lain. Sebab, kesalahan tersebut selalu dianggap sebagai kekurangan yang tidak bisa diterima dengan baik.

Layaknya buku seri sebelumnya, buku ini memuat cerita yang singkat, tapi bermakna. Ketebalan buku ini hanya 208 halaman, yang dibagi menjadi 4 bab dan 45 sub-bab.

4 bab yang menjadi poin utama yang ingin disampaikan penulis, yaitu “Patah Hati, Pengkhianatan, Kehilangan”, “Letting Go: Melepaskan”, “Kebahagiaan yang Telah Lama Hilang”, dan “Self-love”. Keempat bab ini menjadi poin utama yang merupakan gambaran atas tahapan yang sering kita lalui di kehidupan yang kita jalani.

Melalui buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja, Alvi Syahrin ingin memberikan pesan kepada para pembaca, bahwa tidak apa melakukan kesalahan, tidak apa jika kalian merasa tidak baik-baik saja, karena hidup memang tidak akan selalu baik-baik saja.

Menjalani hidup bagaikan seni mencintai, termasuk juga mencintai diri sendiri dengan segala ketidaksempurnaan yang kamu miliki. Alvi Syahrin melalui buku ini ingin mengajak para pembaca untuk mengenal lebih dalam akan arti kecewa, dan agar dapat bahagia demi mencintai diri sendiri.

Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja yang ditulis oleh Alvi Syahrin ini akan membawa para pembaca membuka pandangan untuk melihat dunia yang baru. Dunia yang di dalamnya penuh dengan masalah, tapi pada akhirnya masalah tersebut pasti mampu untuk dilalui.

Maka itu, buku ini pantas untuk masuk ke dalam bagian buku pengembangan diri. Sebab, melalui buku ini, para pembaca dapat banyak belajar untuk mengatasi masalah kehidupan dan belajar dari situ untuk dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

tombol beli buku

Profil Alvi Syahrin – Penulis Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

Alvi Syahrin

Sumber foto: smedian.com

Alvi Syahrin merupakan seorang novelis pria kelahiran Ambon, pada tanggal 20 Januari 1992. Meski berasal dari Ambon, saat ini Alvi Syahrin menetap di Kota Surabaya untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Alvi Syahrin mengambil jurusan Teknik Informatika, jurusan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan karir kepenulisannya. Pilihan tersebut ia buat dengan latar belakang hobinya ketika masih kecil, yakni bermain dengan robot-robotan.

Namun, hobi menulis sudah dimilikinya sejak Alvi Syahrin juga masih kecil. Proses menulis kreatifnya diawali karena Alvi tidak ingin melupakan imajinasi masa kecilnya. Dari situ ia mulai mencoba untuk menuliskan catatan imajinasinya.

Pada awalnya, Alvi rajin untuk menulis lirik lagu saja, tetapi kemudian ia mulai merambah ke menulis cerita pendek yang mayoritasnya memiliki genre fantasi. Alvi juga pernah merambah ke genre cerita horor. Namun, ia merasa lebih tertarik kepada genre fantasi, karena daya tarik masa kecilnya yang suka berimajinasi.

Alasan Alvi Syahrin ingin menjadi seorang penulis adalah ia ingin membantu dan memberikan manfaat bagi banyak orang yang membacanya, melalui tulisannya. Didasarkan pada alasan tersebut, Alvi kemudian menekuni dunia kepenulisan.

Novel pertama yang diterbitkan Alvi Syahrin memiliki judul “Dilema”, yang ia buat karena tertarik untuk mengikuti lomba menulis buku outline pada tahun 2013. Novel Dilema ini kemudian berhasil membawa Alvi menjadi salah satu pemenang dalam lomba tersebut.

Bermula dari kemenangannya itu, Alvi semakin produktif untuk menulis hingga saat ini. Berbagai karyanya bahkan meraih kesuksesan dengan menjadi buku best-seller. Beberapa contoh karyanya yang lain, yakni Insecurity Is My Middle Name, Swiss: Little Snow in Zurich, Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja, dan Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa.

tombol beli buku

Sinopsis Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

Bagian pertama, patah hati, pengkhianatan, dan kehilangan. Perpisahan merupakan awal dan akhir perjalanan. Perpisahan merupakan akhir dari hubungan yang telah dijalin, dibangun, yang didasarkan rasa cinta, saling memahami, selalu mendampingi, dan saling menyakiti.

Ketika sedang berlayar, ada kalanya badai terlalu besar, ombak terlalu tinggi, dan malam terlalu gelap. Saat itu tiba, kamu berpikir untuk lompat saja dari perahu dan meninggalkan pelayaran.

Saat kamu akhirnya memutuskan untuk melakukannya, kamu masih menginginkan dia untuk melarangmu melompat, mencoba meraih tanganmu, meneriakkan namamu. Namun, yang dilakukannya adalah membiarkanmu begitu saja.

Pada saat itu, kamu akan merasa terjebak di tengah lautan, dengan ditemani badai yang masih berlangsung dan ombak tinggi yang terus membuatmu terombang-ambing. Dia yang ada di perahu, menjauh meninggalkanmu begitu saja.

Ketika keadaan sudah mereda, kamu melihat sebuah pulau yang dapat kamu jangkau. Kamu akan berenang dengan lelah dan kepayahan, terus berenang, mencoba meraih tempat baru itu sendirian.

Memang, beberapa hal dalam hidup ini perlu diperjuangkan seorang diri. Setelah kamu sampai, kamu akan memulai perjalanan baru. Perjalanan kisah cinta yang baru, yang terjadi di antara kamu dan dirimu sendiri.

Bagian kedua, letting go atau melepaskan. Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu tidak hanya sekedar kamu bisa mengucapkan “aku sudah melepaskannya, aku sudah berdamai dengan masa lalu dan rasa sakit yang aku rasakan”.

Tidak akan pernah semudah itu. Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu adalah menerima dan merasakan rasa sakit yang merupakan konsekuensi atas kesalahan yang kamu lakukan di masa lalu.

Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu merupakan proses yang mana membuat kamu terus merasa sakit sambil terus berdoa, agar rasa sakit ini segera hilang. Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu merupakan proses memperbaiki kesalahan yang kamu buat di masa lalu, meskipun kamu masih merasa sakit.

Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu adalah segala upaya yang kamu lakukan, yang diiringi dengan rasa sakit berkepanjangan. Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu adalah saat dimana kamu dapat menerima bahwa rasa sakit itu memang perlu dirasakan.

Bagian ketiga, kebahagiaan yang telah lama hilang. Sesungguhnya, tujuan hidup bukanlah kebahagiaan. Namun, itu juga bukan berarti kita menutup semua jalan untuk dapat merasa bahagia.

Bahagia memang memiliki risiko, layaknya semua hal yang ada dan dapat terjadi di dunia ini memang memiliki risiko. Cari dan berusaha untuk meraih hal baik yang kamu inginkan.

Dengan sebuah catatan, pada prosesnya, kamu tidak akan fokus kepada hasil yang akan membuatmu merasa bahagia. Sebab, jika kamu terus mengejar kebahagiaan, hal-hal yang kamu lakukan nampaknya tidak masuk akal.

Menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup bagaikan mendaki sebuah gunung tanpa pernah merasa lelah, makan begitu banyak makanan tanpa pernah merasa kenyang, dan minum begitu banyak air tanpa harus pergi buang air kecil. Jadi, jangan jadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir.

Bagian keempat, self-love. Bagaimana caranya aku dapat mencintai diriku sendiri jika kerap kali aku melakukan kesalahan yang sama terus menerus? Bagaimana aku dapat menerima kekuranganku yang sangat buruk? Bagaimana aku bisa mencintai diriku sendiri jika aku saja tak menyukai diriku sendiri?

Terdapat jawaban sederhana jika kamu sekedar ingin menjawab seluruh pertanyaan itu saja. Jawabannya adalah lakukanlah pembenaran atas segala kesalahanmu, toh semua manusia juga memiliki kekurangan dan sering berbuat salah.

Namun, hal itu tidak akan bermakna pada akhirnya. Cara terbaik untuk dapat mencintai dirimu sendiri adalah dengan menerima dan memahami mengapa kamu diciptakan di dunia ini.

Mengapa kekurangan diciptakan? Agar kamu bisa mengembangkan diri dan belajar meningkatkannya. Mengapa aku terus berbuat salah? Karena kamu belum belajar dari masa lalumu.

Saat kamu sudah menerima semuanya, kamu akan menyadari bahwa kekurangan dan kesalahanmu bukan sebuah keterbatasan, melainkan pijakan yang akan membantumu menjadi lebih tinggi, menjadi lebih baik. Asalkan, kamu tahu bagaimana cara untuk naik ke pijakan tersebut dan berusaha untuk menaiki pijakan itu.

Kelebihan Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

Alvi Syahrin menuliskan buku ini secara runtut dan rapi, dengan dimulai memaparkan pembukaan yang berupa masalah, lalu dilanjutkan dengan pemaparan pencarian solusi atas permasalahan tersebut, dan pada akhirnya ditutup dengan penerimaan.? Cara bercerita Alvi ini dapat membuat para pembacanya memahami secara jelas keadaan yang digambarkannya.

Layaknya buku sebelumnya yang ditulis oleh Alvi, buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik saja menyuguhkan cerita yang sangat singkat, tapi to the point. Hal ini membuat para pembaca tidak memerlukan waktu yang lama untuk membacanya, mudah untuk mengerti, dan mampu mendapatkan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Alvi Syahrin kembali berhasil menghadirkan kehangatan dan ketenangan melalui tulisannya. Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja ini dinilai para pembaca sebagai ‘teman’ yang dapat memvalidasi perasaan para pembaca, dapat mengerti perasaan tersebut, dan mengingatkan bahwa perasaan negatif yang sedang kamu rasakan adalah hal yang normal, karena memang hidup tidak akan selalu baik-baik saja.

Gaya bahasa yang digunakan Alvi Syahrin dalam menuliskan buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja adalah gaya bahasa yang santai layaknya sedang bercerita kepada seorang teman. Melalui gaya bahasa seperti ini, Alvi mampu menarik para pembacanya untuk menghayati tiap-tiap cerita yang diibaratkan seperti curhatan dari seorang teman yang dapat menjadi pelajaran bagi para pembaca.

Banyak sekali pelajaran dan pesan moral yang bisa pembaca dapatkan dalam buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja ini. Alvi melalui buku ini mengajak para pembaca untuk bisa berdamai dengan masa lalu, mengenali lebih dalam akan arti kekecewaan, dan pada akhirnya mampu mencintai diri sendiri.

tombol beli buku

Kekurangan Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

Dalam buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja, gaya penuturan Alvi Syahrin dinilai sedikit berbeda dibandingkan kedua buku sebelumnya, Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa dan Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta. Gaya penuturan Alvi pada buku ini dinilai menjadi terlalu singkat.

Memang Alvi menyampaikan ceritanya secara to the point, tapi penuturan dalam buku ini dinilai terlalu singkat sehingga membuat para pembaca kurang bisa mendalami secara emosional masing-masing ceritanya.

Layaknya kedua buku sebelumnya, Alvi Syahrin kerap kali mengaitkan dan memberikan solusi berdasarkan pengajaran agama yang spesifik. Hal ini membuat kesan solusi tersebut tidak universal karena tidak semua pembaca memiliki keyakinan dan kepercayaan yang sama dengan yang dituliskan oleh Alvi dalam buku ini.

Pesan Moral Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja

“Tidak ada hujan yang tak pernah mereda, tak ada banjir yang tak pernah surut, semuanya nanti akan berlalu juga.”

Tidak apa jika kita tak pernah merasa baik-baik saja, karena hidup memang diciptakan sedemikian rupa, seperti sebuah jalan yang ada naik dan turun, indah dan menyeramkan, serta terang dan gelap. Hidup juga tidak selalu baik-baik saja.

Pada akhirnya, semua itu akan berlalu. Kekecewaanmu akan hilang, rasa sakit hati akan mereda, rasa sedihmu akan lenyap. Akhirnya, kamu mampu mengatasi semuanya, kamu pun dapat bertemu dengan kebahagiaan, kamu mampu mencintai diri sendiri, termasuk kekurangan yang kamu miliki.

We all are not okay, and that’s okay, but it’s not okay if we’re not trying to be okay.”

Kutipan ini ingin mengingatkan kita bahwa tidak apa jika kita tak merasa baik-baik saja, tidak apa jika kita merasa sedih, patah hati, kecewa, marah, dan lain sebagainya. Namun, kesalahan yang sering dilakukan oleh kita adalah cukup sampai menerima perasaan itu saja.

Menerima perasaan memang adalah hal yang baik, tapi tidak cukup sampai di sana saja. Setelah menerima perasaan negatif, kita perlu berusaha untuk belajar dari penyebab perasaan tersebut muncul, dan berusaha untuk menjadi baik-baik saja.

“Sesungguhnya yang menghancurkanku adalah ekspektasiku sendiri, bukan mereka.”

Kutipan ini ingin mengingatkan kita untuk selalu sadar, bahwa kerap kali kita menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan, tetapi sesungguhnya yang salah adalah diri kita sendiri. Kita selalu menaruh harapan yang tinggi, membuat sebuah ekspektasi dengan imajinasi kita sendiri.

Padahal kita juga sadar, kita tidak bisa mengontrol keadaan dan tidak bisa mengendalikan perbuatan orang lain. Jadi, jika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi yang telah kita konstruk, sesungguhnya yang salah adalah dirimu sendiri. Sebab, kamu terlalu larut dalam imajinasi yang kamu buat sendiri.

Bagi kalian yang ingin membaca dan memiliki buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja karya Alvi Syahrin ini, kalian bisa mendapatkannya di www.gramedia.com.

tombol beli buku

Written by Gabriel