in

Review Buku Filosofi Hujan

Buku Filosofi Hujan ditulis oleh Muhshonah Mujahidah atau yang sering dipanggil dengan nama Hasna, seorang penulis wanita asal Sleman, Yogyakarta. Filosofi Hujan ini merupakan buku kumpulan prosa yang dipersembahkan bagi siapa saja yang ingin mengetahui nilai di balik turunnya hujan.

Buku Filosofi Hujan diterbitkan pada tanggal 4 Oktober 2021, dan menjadi buku kedua yang ditulis oleh Muhshonah Mujahidah. Buku pertama yang ditulis Hasna berjudul Gerimis Jatuh yang terbit pada tahun 2017. Buku Gerimis Jatuh merupakan buku kumpulan prosa juga dengan tema yang serupa dengan buku Filosofi Hujan, yakni mengenai makna di balik tetesan air dari langit.

Muhshonah Mujahidah melalui buku Filosofi Hujan ini ingin menyampaikan bahwa hujan yang kerap kali dianggap sebagai peristiwa alam yang akan terus datang dan berlalu begitu saja, di baliknya memiliki banyak kisah, perenungan, dan pemahaman yang dapat membuka dan menyegarkan pikiran akan kehidupan. Filosofi Hujan dituliskan Hasna sebagai bentuk nyata dari rasa syukur atas apa yang telah Sang Pencipta beri selama ia hidup di dunia ini.

Hujan diciptakan oleh Sang Pencipta bukan semata-mata sebagai peristiwa alami saja, melainkan diciptakan bersama dengan hikmah yang dapat dipelajari oleh manusia yang mendalaminya. Menurut Hasna, dengan mengetahui dan memahami filosofi dalam setiap kejadian yang ada dalam kehidupan merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

Buku Filosofi Hujan ini adalah buku yang dikemas secara sangat sederhana dan singkat, dengan total hanya seratus dua puluh halaman saja. Buku ini dibagi menjadi dua bagian atau bab yang memuat topik utama, yang kemudian dibagi lagi menjadi tujuh belas dan delapan belas sub-bab. Buku Filosofi Hujan ini berhasil meraih kesuksesan dengan menjadi salah satu buku yang masuk ke dalam kategori buku best seller.

tombol beli buku

Profil Muhshonah Mujahidah – Penulis Buku Filosofi Hujan

Muhshonah Mujahidah atau yang sering dipanggil Hasna, dilahirkan di Sleman, Yogyakarta. Hasna mendapatkan kesempatan untuk menjalani studi tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di sebuah sekolah asrama yang berlokasi di Jawa Timur. Maka itu, akhirnya Hasna mengambil kesempatan tersebut dan pergi dari kota asalnya, Yogyakarta.

Setelah lulus tingkat sekolah menengah atas pada tahun 2013, Muhshonah Mujahidah kembali ke kota kelahirannya untuk melanjutkan studi perguruan tinggi di salah satu universitas negeri yang ada di Yogyakarta. Kecintaan Hasna kepada menulis sudah dimulai sejak dirinya berada di bangku sekolah dasar.

Bagi Hasna, menulis merupakan salah satu cara untuk berbagi dan memberi. Hasna membuat sejumlah karya yang dinilai menarik dan berhasil dimuat ke sejumlah media. Muhshonah Mujahidah dapat dikatakan sebagai penulis yang handal, dengan dibuktikan pencapaiannya mendapatkan prestasi dari hasil karya tulisannya.

Karir kepenulisannya pun melejit dengan karyanya yang berhasil diterbitkan. Buku pertamanya yang terbit berjudul Gerimis Jatuh, yang diterbitkan pada tahun 2017. Buku Gerimis Jatuh merupakan buku kumpulan prosa yang memaparkan cerita cerita fiksi yang terinspirasi dari kisah persahabatan, pengalaman pribadi, dan perjalanan rasa dalam hati yang dikemas secara sederhana.

tombol beli buku

Sinopsis Buku Filosofi Hujan

Segala yang terjadi dalam hidup ini bukan merupakan kebetulan semata. Ada kekuatan Mahadigdaya di balik setiap kejadian yang telah mengatur segalanya. Kekuatan itu yang memungkinkan segala hal terjadi walau terlihat tak mungkin, dan memampukan segala hal dilakukan meski terlihat tidak mampu.

Kekuatan itu adalah kekuatan dari Tuhan Yang Maha. Hidup ini pada dasarnya ingin mengajarkan kita untuk memaknai segala sesuatunya. Termasuk makna dari segala peristiwa alam, seperti tetesan dari langit yang menghujam dan membasahi bumi. Ada hikmah tersendiri dan cerita di balik datangnya hujan, setiap tetes airnya.

Setiap tetes hujan mengandung cerita, entah dari mana ia bermula. Dari laut, dari sungai, dari danau, atau pun dari tanah. Perjalanan yang ditempuh tetesan air hujan bukan lah perjalanan yang singkat. Perjalanan setetes air hujan menjadi bentuk penghambaan setetes air pada Sang Pencipta.

Perjalanan setetes hujan menjadi sekelumit rahasia Sang Pencipta tentang alam semesta yang merupakan tempat tinggal kita. Tentang makna dari keikhlasan, rasa syukur, dan kesabaran. Hujan tetap jatuh meski tidak diinginkan, sering dicaci, dan dibenci.

Hujan tetap menjadi sebuah berkat yang dari tubuh kecilnya memberikan manfaat bagi makhluk hidup dan alam semesta yang menerimanya, meski ia sering mendapatkan umpatan dari sejumlah orang yang mengutuk ketika ia hadir. Hujan bagaikan kesabaran dari setetes air yang tidak pernah marah kepada matahari, yang telah memisahkannya dari lautan.

Hujan hanya memahami bahwa tugas yang diberikan kepadanya oleh Sang Pencipta adalah untuk jatuh. Maka itu, hujan selalu jatuh dan tidak pernah sekali pun menghindar meski banyak orang tidak mengharapkan kehadirannya.

Hujan tidak tahu apa-apa, tidak tahu tentang banyaknya kata makian yang dilontarkan tentangnya, tidak mengetahui seberapa sering ia dikutuk karena kehadirannya, dan tidak mengenal rasa sakit hati atas perkataan tersebut. Sebab, hujan hanya setetes air yang jatuh secara bersamaan dengan tetesan air lainnya.

Hujan juga dapat membawa kenangan tersendiri bagi beberapa orang. Terutama bagi mereka yang kerap kali meneteskan air matanya bersamaan ketika langit meneteskan air ke dasar tanah tempat mereka berpijak. Mereka yang sering merasa sakit dan diuji hatinya.

Hujan tidak disukai, karena sifatnya yang tidak terduga dan tidak ada yang pernah tahu kapan saatnya ia akan datang. Hujan kerap kali dianggap sebagai sebuah kesialan yang datang dan menjadi penghambat dan pengacau kegiatan yang telah direncanakan oleh manusia sedemikian rupa.

Namun, hujan juga kadang disukai, karena menyelimuti memori dan perasaan yang bergejolak di dalam hati. Hujan kerap kali dirindukan oleh mereka yang sedang jatuh cinta, mereka yang tidak berani untuk menyatakan rasa cintanya, dan mereka sedang patah hati.

Hujan lebih jujur dari siapa pun yang ada di dunia ini. Hujan menjadi senyawa paling jujur untuk menumbuhkan benih perasaan yang bernama kerinduan. Jika kita menggenggam benih itu secara kuat, maka benih itu akan luput. Satu hal yang perlu kita lakukan hanya menengadahkan wajah ke atas, ke hadapan langit berwarna abu-abu dan menunggu tetesan air yang menyentuh wajah kita dengan lembut dengan segala kejuurannya.

Kita, manusia, tidak akan pernah mengetahui seberapa lama hujan akan turun, kapan ia akan datang, dan kapan ia akan berhenti. Terkadang, hujan memang bisa sangat mengejutkan dengan kehadirannya yang tiba-tiba, tanpa rencana dan tanpa memberi kabar. Lalu, seseorang mungkin akan terjebak di dalam kederasan hujan, dan akhirnya ia ikut larut meneteskan air matanya bersamaan dengan tetesan air lainnya yang turun dari langit.

Hujan dapat dianggap sebagai sebuah pupuk yang menyegarkan jiwa yang gersang bagi sejumlah orang yang sedang merasa bahagia. Hujan bagaikan pemberi semangat untuk terus merekahkan tubuhnya dan berkembang. Hujan bagi orang yang sedang merasa bahagia bagaikan bunga yang mekar di pagi hari, yang memiliki wangi semerbak dan menyenangkan hati.

Hujan bagi mereka yang sedang jatuh cinta dan dimabuk asmara bagaikan untaian rekah wangi sedap malam. Namun, hujan bagi mereka yang sedang sakit dan diuji perasaannya bagaikan pompa untuk mendorong air mata kesedihan. Hujan akan memaksa meluapkan volume air mata dari kedua pelupuk matanya.

tombol beli buku

Kelebihan Buku Filosofi Hujan

Muhshonah Mujahidah menuliskan buku ini dengan kata-kata yang sungguh indah dan memiliki makna yang mendalam. Hasna menuliskan sejumlah tiga puluh lima cerita pendek yang terinspirasi dari pengalaman pribadi, kisah cinta, kisah persahabatan, dan ungkapan rasa yang diceritakan dengan sangat sederhana.

Muhshonah Mujahidah dalam buku Filosofi Hujan mengangkat cerita dari berbagai topik, seperti tentang keimanan, alam semesta, cinta, persahabatan, politik, dan lain sebagainya. Hal ini menjadikan banyak sekali makna yang dapat dipelajari dan menjadi inspirasi bagi para pembaca melalui membaca setiap cerita yang dituliskan Hasna dalam buku Filosofi Hujan ini.

Buku Filosofi Hujan ini dituliskan Muhshonah Mujahidah menggunakan gaya bahasa yang indah tapi mudah dimengerti. Buku Filosofi Hujan ini juga dibagi menjadi sejumlah sub-bab yang setiap bagiannya hanya berjumlah dua sampai empat halaman saja, sehingga buku ini termasuk ke dalam kategori buku yang ringan untuk dibaca. Oleh karena cerita yang berbeda pada setiap bagian sub-bab juga, buku ini dapat dibaca menyesuaikan dengan keadaan dan keinginan para pembaca saja, tidak harus dibaca dalam sekali duduk.

Kekurangan Buku Filosofi Hujan

Oleh karena buku Filosofi Hujan ini merupakan buku kumpulan prosa dengan format sejumlah cerita yang berbeda-beda, buku ini mungkin bisa dianggap kurang menarik bagi mereka yang mengharapkan cerita berkelanjutan tentang hujan. Sebagai buku kumpulan prosa, buku ini juga tentunya mengandung banyak kata-kata atau kalimat kiasan, yang mungkin tidak dapat dimengerti artinya bagi sebagian pembaca.

Pesan Moral Buku Filosofi Hujan

Hujan bukan hanya sekedar peristiwa alam di mana jutaan tetes air jatuh secara bersamaan ke bumi. Filosofi dari datangnya hujan menuturkan banyak kebaikan, tentang rencana Sang Pencipta, sebagai bentuk nyata berkat yang melestarikan kehidupan semua makhluk yang ada di bumi, dan sebagai peristiwa bermakna yang mengingatkan memori dan membangkitkan perasaan manusia.

“Hujan hanya butuh jatuh, memberi, lalu kemudian pergi. Hanya itu.”

Hasna menuliskan kutipan ini dengan penjelasan di salah satu cerita bahwa hujan memahami tugas yang diberikan Sang Pencipta untuk hanya jatuh saja ke bumi. Penggambaran ini bagaikan pengingat bagi kita untuk dapat meneladani hujan.

Terkadang, hidup manusia terlalu kompleks dengan berbagai kejadian, perasaan, emosi, dan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi diri manusia. Ketika sibuk dengan hal-hal duniawi tersebut, kadang kita lupa akan tugas kita yang diberikan Sang Pencipta. Terlepas dari kepercayaan yang berbeda-beda, kita mengetahui bahwa kita memiliki tugas yang sama dalam menjalani hidup ini, yakni berbuat baik.

Dalam lubuk hati kita yang terdalam, pastinya setiap pribadi sudah mengetahui hal itu. Namun, kita sering sekali melupakannya, melupakan tugas paling penting yang juga sangat sederhana. Maka itu, ada baiknya kita meneladan hujan yang memahami dan menjalankan tugasnya meski banyak orang yang menentangnya.

Kebanyakan manusia tidak bisa menyadari kesalahannya sendiri, dan malah menyalahkan keadaan di sekitarnya. Seperti contohnya menyalahkan hujan dan Sang Pencipta yang menurunkan hujan, karena hujan tersebut menyebabkan banjir. Padahal, pada dasarnya hujan tidak akan menyebabkan bencana ketika terdapat lahan yang cukup untuk menyerapnya.

Padahal, yang menyebabkan banjir dapat terjadi adalah kelakuan manusia sendiri. Manusia yang terlalu serakah memenuhi lahan lapang, manusia yang tidak menjaga lingkungannya sehingga saluran-saluran air tersumbat. Manusia perlu menyelidiki lebih dalam untuk menyadari dan memahami bahwa manusia manusia memiliki andil dalam menentukan hal yang akan terjadi kepada mereka, yang merupakan hasil dari peristiwa alam yang diberikan Sang Pencipta.

Bagi kalian yang ingin membaca dan memiliki buku Filosofi Hujan karya Muhshonah Mujahidah, kalian bisa mendapatkannya di www.gramedia.com.

tombol beli buku

Written by Gabriel