in

Review Novel Fantasteen Gone Karya Dini Ocktarina

Novel Fantasteen Gone ditulis oleh Dini Ocktarina dan diterbitkan pertama kali pada tahun 2012. Novel Fantasteen Gone sempat diterbitkan ulang pada tahun 2018. Novel ini termasuk ke dalam novel yang sangat singkat, karena hanya memiliki total 187 halaman saja.

Novel Fantasteen Gone mengisahkan tentang seorang gadis bernama Sheryl beserta teman-temannya yang mengunjungi Kota Yogyakarta untuk karya wisata. Ketika mereka sampai di penginapan, kejadian aneh terus terjadi menyambut kedatangan mereka. Kejadian yang ganjil itu menyelimuti tujuh remaja yang berasal dari Bandung itu.

Suatu ketika, satu dari antara mereka menghilang di taman belakang penginapan tersebut secara tiba-tiba. Mereka dengan sigap langsung sibuk mencarinya. Tanpa diduga, empat orang di antara mereka terperangkap ke masa lalu, termasuk juga Sheryl.

Sheryl dan temannya yang lain tak menduga jika mereka terjebak dalam sebuah permainan. Permainan yang berada di dimensi yang lain, penampilan rupawan Tian telah membuat seorang gadis misterius bernama Wily mengaguminya. Sulit dipercaya karena Wily memiliki kemiripan dengan Sheryl.

Petualangan pada malam itu mendatangkan berbagai kejutan kepada mereka. Apakah keberanian Sheryl dapat membawa Tian kembali? Siapa sosok Wily yang sebenarnya? Apakah Sheryl, Tian, dan yang lainnya bisa kembali ke masa sekarang?

Sinopsis Novel Fantasteen Gone

Kisah ini diawali dengan siswa SMP Cahaya yang akan mengikuti karya wisata ke Yogyakarta. Mereka menempuh perjalanan cukup lama, karena mereka berangkat dari Kota Bandung. Sesaat setelah mereka sampai di Magelang, tempat tujuan mereka, semua siswa SMP itu langsung berseru kegirangan.

Sheryl, Icha, Ipang, Lulu, Sigit, Isti, dan Tian kemudian mengunjungi candi Borobudur yang menjadi destinasi utama yang harus mereka kunjungi. Setelah mereka sudah puas mengelilingi Candi Borobudur, mereka melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi Candi Prambanan.

Setibanya mereka di Candi Prambanan, mereka langsung mengunjungi tempat yang menjual salak pondoh. Setelah itu, mereka melanjutkan kembali perjalanan untuk menuju ke tempat istirahat, yakni penginapan Bhadra. Akhirnya, mereka sampai juga di penginapan itu.

Penginapan tersebut terlihat luas, tetapi sangat sepi. Di setiap kamar, terdapat satu meja dan dua kursi dan tertata rapi. Mereka melanjutkan aktivitas untuk beristirahat sebentar dan beres-beres, setelah itu lanjut dengan makan malam.

Sheryl sempat kembali ke kamarnya ketika jam makan malam sudah selesai, untuk mengambil ponsel miliknya. Namun, ketika Sheryl pergi ke kamar sendiri itu, ia mengalami kejadian yang cukup menakutkan. Ia seperti mendengar suara bisikan, entah dari mana asalnya.

Sheryl merasa takut dan langsung bergegas keluar dari kamar itu. Teman-teman Sheryl yang melihatnya keluar dari kamar dengan ketakutan langsung menanyakan apa yang terjadi. Tanpa Sheryl sadari ada sosok wanita separuh baya yang menatap dirinya dengan dingin. Selain itu, Sheryl juga melihat keranjang bayi yang terletak di samping cermin besar.

Sheryl dan teman-temannya pun kembali ke kamarnya. Saat itu adalah jadwal mereka untuk bersih-bersih dan istirahat. Di kamar Sheryl, yang sedang kebagian giliran untuk mansi adalah Isti. Saat Isti berada di kamar mandi itu, ia tiba-tiba menjerit.

Isti menceritakan kepada teman-temannya bahwa pada saat ia ingin mengambil air, dia merasa ada sesuatu yang menyangkut pada pergelangan tangannya. Ketika ia melihatnya, ternyata ada sosok kepala berambut yang mengapung muncul ke permukaan. Mereka semua mulai merasakan ada yang ganjil dari penginapan itu.

Bagaimana tidak, dalam waktu beberapa jam saja, mereka sudah mengalami kejadian aneh dan menyeramkan secara beruntun. Kejadian ini seakan menandakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi, yang harus diungkap mengenai penginapan Bhadra tersebut.

Suatu ketika, Icha dan Sigit ingin membeli bakso, dan teman-teman yang lain juga ikut menitip kepada mereka. Tidak lama kemudian Sheryl dan teman-temannya memutuskan untuk jalan-jalan ke Malioboro. Setelah tiba saatnya untuk pulang, Sheryl dan Icha menempuh perjalanan pulang menggunakan becak.

Mereka berdua tentunya mengobrol dengan tukang becak itu. Dalam perbincangan mereka, tukang becak itu sempat menyinggung tentang penginapan Bhadra, tetapi ia tidak menceritakan dengan lengkap, karena tukang becak itu melihat sosok bayang putih yang melintas. Ia sontak berhenti membicarakan tentang penginapan Bhadra.

Setelah mereka berkumpul kembali di penginapan, Sigit tiba-tiba bertanya kepada Ipang tentang keberadaan Tian. Menurut Ipang, Tian pergi ke taman belakang pada pukul tujuh tadi. Sigit terkejut karena Tian sudah pergi sangat lama. Sekarang sudah pukul setengah sebelas.

Sigit langsung mencoba menghubungi Sheryl untuk menanyakannya juga tentang keberadaan Tian. Ternyata Sheryl juga tidak pergi bersama dengan Tian. Lalu, mereka pun mencari Tian ke taman belakang. Sesampainya di sana, mereka mendapati bahwa mereka berada di tempat yang sepi, bukan berada di penginapan itu.

Sheryl langsung menangis melihat keadaan sekitarnya itu. Keadaan yang tidak normal, lampu-lampu juga tiba-tiba mati. Selain itu, teman-teman yang lain juga menghilang begitu saja. Teman Sheryl yang tersisa hanya Isti saja.

Tak lama kemudian, semuanya mulai berubah lagi. Sheryl tiba-tiba sudah duduk di kursi teras depan yang ada di penginapan. Sementara itu, Ipang dan Isti masih terjebak di dunia yang tak dikenal itu. Mereka berdua mencoba memproses segalanya. Tak lama kemudian, Ipang dan Isti menemukan Tian.

Mereka sontak mencoba berbicara kepada Tian, tetapi Tian tu tidak menanggapi apa-apa. Di saat itu juga, Ipang dan Isti terpisah. Ipang mencoba meraba benda di sekitarnya, karena keadaan gelap total. Ipang kemudian bertemu lagi dengan Tian, tetapi Tian kali ini bisa menanggapinya, layaknya Tian yang ia kenal. Di sisi yang lain, Isti juga bertemu dengan Tian di dekat gorden putih lalu. Isti langsung menepuk punggung Tian, tetapi pada saat yang bersamaan, Ipang memanggil Isti.

Isti langsung menoleh ke arah Ipang dan melihat bahwa ada Tian yang lain di sisi Ipang. Kejadian itu sangat membuat Sheryl bingung. Sheryl kemudian berusaha menemui Fahri dan Faza yang sebelumnya pernah bilang bahwa taman belakang itu angker.

Setelah menemui mereka, Sheryl menceritakan segala kejadian yang dialaminya kepada Fahri dan Faza. Selepas memahami cerita Sheryl, Fahri dan Faza, serta temannya yang lain langsung bergegas meninggalkan kamar mereka dan pergi menuju taman belakang. Tanpa mereka sadari, ada sosok bayangan hitam yang melintas sambil tersenyum, seolah menunjukkan bahwa ia bangga akan keberanian anak-anak itu.

Keanehan demi keanehan terus terjadi menghantui mereka. Orang-orang di sekitar juga tampak aneh. Sheryl bersama teman-temannya berulang kali terperangkap di dunia yang tidak mereka kenal. Dunia yang tampak seperti ada di dimensi yang lain.

Dunia yang ternyata merupakan masa lalu. Sheryl dan temannya yang lain tak menduga jika mereka terjebak dalam sebuah permainan. Permainan yang dibuat oleh gadis misterius bernama Wily, yang kagum akan penampilan rupawan Tian. Sulit dipercaya, karena Wily memiliki sejumlah kemiripan dengan Sheryl.

Petualangan pada malam itu mendatangkan banyak kejutan kepada mereka. Apakah keberanian Sheryl dan teman-temannya dapat membawa Tian kembali? Siapa sebenarnya sosok Wily? Apakah Sheryl, Tian, dan yang lainnya bisa kembali ke masa sekarang?

Kelebihan Novel Fantasteen Gone

Dini Ocktarina menuliskan cerita Fantasteen Gone ini dengan begitu mengalir, sehingga para pembaca mampu hanyut dalam kisah yang menegangkan dan menyeramkan. Ditambah lagi, gaya bahasa yang Dini gunakan juga gaya bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.

Kisah ini bukan hanya kisah petualangan remaja yang dipenuhi ketegangan dan teka-teki saja. Dibalik kisah tersebut, terdapat makna yang mendalam yang dapat menjadi pelajaran bagi para pembaca.

Dini Ocktarina juga mampu membangun karakter tokoh yang kuat, dan perwatakannya mudah untuk dimengerti. Tokoh-tokoh tersebut juga semakin memperkuat alur cerita ini yang sangat menegangkan.

Kekurangan Novel Fantasteen Gone

Sejumlah pembaca mendapati alur yang kisah ini cukup lambat. Selain itu, akhir cerita dinilai kurang masuk akal dan anti klimaks. Namun, cerita ini tetap menarik, karena setiap lembarnya dipenuhi ketegangan.

Pesan Moral Novel Fantasteen Gone

Hendaknya kita selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan segala sesuatu. Hal ini dilakukan supaya segala hal yang kita lakukan tidak merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.

Kita juga hendaknya selalu bisa mengendalikan diri kita sendiri, mengendalikan emosi kita. Selain itu, jangan mudah percaya kepada orang lain, karena kita tidak pernah tau jika orang memiliki niat yang buruk. Lebih baik selalu berjaga-jaga.

Jangan pernah memaksakan kehendak atau keinginan kita kepada orang lain. Sebab, tentunya dengan begitu kita sangat egois. Selain itu, kita juga melanggar hak orang lain untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

Bagi kalian yang penasaran akan kelanjutan kisah Sherly dan teman-temannya, kalian bisa mendapatkan novel Fantasteen Gone karya Dini Ocktarina ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel