Teori

Teori Piaget: Tahapan Perkembangan Kognitif

Written by Laeli Nur Azizah

Apakah Grameds pernah mendengar teori Piaget? Jadi, di dalam bahasa anak-anak, kemampuan kognitif anak masih membatasi mereka untuk bisa memahami konsep-konsep tertentu yang mudah dipahami oleh orang-orang dewasa. Sehingga, mereka tetap bisa melakukan kesalahan yang sama secara berulang dan kadang kala membuat orang tua merasa frustasi. Hal itu bukan berarti si kecil adalah anak yang nakal dan tidak pandai ya. Mereka hanya memerlukan waktu untuk bisa mengembangkan kemampuan kognitif mereka seiring dengan bertambahnya usia. Ada sebuah teori yang menjelaskan mengenai perkembangan kognitif di masa anak-anak, yakni teori Piaget yang dikemukakan oleh Jean Piaget.

Siapakah Jean Piaget?

Jean Piaget ini merupakan seorang psikolog yang berasal dari Swiss dan sudah berkontribusi besar terhadap pemahaman mengenai perkembangan kognitif anak. Ia lahir pada tahun 1896 dan pada awalnya Ia dilatih sebagai seorang ahli biologi dan filsuf. Walaupun terkenal dengan karyanya sebagai seorang psikolog, namun Ia juga berhasil menerbitkan beberapa penelitian yang membahas tentang burung pipit dan moluska.

Piaget sangat memperhatikan bahwa anak-anak di usia tertentu cenderung memberikan jenis jawaban salah yang sama. Dari pengamatan dan juga wawancara lanjutan dengan anak-anak mengenai kesalahan tersebut, Ia mengembangkan sebuah teori yang diberi nama Teori Piaget, yakni tentang bagaimana proses kognitif anak berkembang.

Salah satu implikasi yang paling penting dari karyanya itu adalah bahwa anak-anak tidak dilahirkan dengan proses kognitif yang sama seperti orang-orang dewasa. Proses kognitif anak mempunyai karakteristiknya sendiri, yakni:

1. Bisa berkembang dari waktu ke waktu.
2. Bisa berkembang dalam menanggapi lingkungan.
3. Diperbarui dengan paparan informasi baru.

Tahapan Perkembangan Kognitif Berdasarkan Teori Piaget

Perkembangan kognitif anak ini biasanya akan mengacu pada tahapan kemampuan anak dalam mendapatkan makna dan juga pengetahuan, mulai dari pengalaman dan informasi yang mereka peroleh. Singkat kata, perkembangan motorik tersebut berhubungan dengan proses mengingat pengambilan keputusan dan juga pemecahan masalah.

Jika berbicara tentang perkembangan kognitif anak, ada beberapa teori yang perlu dipahami, salah satunya adalah teori Piaget. Teori yang satu ini fokus pada anak-anak, mulai dari lahir sampai dengan dewasa dan menjelaskan mengenai tahapan perkembangan, termasuk moral, bahasa, memori, pikiran, dan lainnya. Lalu seperti apa tahapannya?

Melansir dari lama Ikatan Dokter Indonesia atau IDAI, menurut Jean Piaget, awal masa remaja akan terjadi transformasi kognitif yang besar menuju cara berpikir yang lebih konseptual, abstrak, dan juga berorientasi ke masa depan. Pada usia remaja, anak-anak akan mulai menunjukkan minat dan kemampuannya di bidang seni, tulisan, musik, olahraga, dan keagamaan.

Teori perkembangan kognitif Jean Piaget ini menunjukkan bahwa kecerdasan akan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Perkembangan kognitif anak tak hanya tentang mendapatkan pengetahuan, anak juga harus mengembangkan atau membangun mental mereka. Lalu, seperti apa sih tahapan teori Piaget dalam perkembangan kognitif anak?

1. Tahap Sensorimotor (Usia 0 Hingga 2 Tahun)

Di masa awal kehidupan bayi sejak mereka lahir sampai usianya 2 tahun, mereka akan menggunakan indera dan juga gerakan tubuh untuk bisa memahami dunia yang ada disekitarnya. Itulah sebabnya pada tahapan ini dikenal sebagai tahapan sensorimotor.

Menurut Piaget yang dilansir dari WebMD, bayi hanya bisa menyadari apa yang ada di hadapan mereka. Dimana mereka akan fokus pada apa yang mereka lihat, apa yang mereka lakukan, dan interaksi fisik dengan lingkungan yang ada di dekat mereka. Bayi bisa menggunakan panca indera penglihatan, penciuman, sentuhan, rasa, dan juga pendengaran untuk menjelajahi lingkungan dan tubuh mereka.

Metode komunikasi pertama pada bayi yang baru saja lahir adalah melalui tindakan refleks dasar seperti menghisap, menggelengkan kepala, dan mengayunkan lengan. Di masa-masa tersebut, bayi sudah mulai mengumpulkan informasi dasar dan belajar cara membedakan antara orang, tekstur, objek, dan pemandangan. Selama tahapan ini, anak-anak juga akan mulai memahami konsep sebab dan akibat.

Mereka akan mulai mengingat bahwa tindakan tertentu akan mempunyai hasil tertentu dan menggunakannya untuk merencanakan tindakan mereka sebelumnya. Antara usia 7 dan juga 9 bulan, bayi mulai menyadari bahwa suatu benda ada walaupun mereka tidak bisa melihatnya lagi. Hal itu merupakan tanda bahwa memori mereka sedang berkembang. Setelah bayi mulai bisa merangkak, berdiri, dan kemudian berjalan, peningkatan mobilitas fisik mereka akan mengarah pada perkembangan kognitif yang lebih banyak.

2. Tahap Praoperasional (Usia 2 Hingga 7 Tahun)

Selama tahap ini, anak-anak bisa memikirkan berbagai macam hal secara simbolis. Penggunaan bahasa mereka akan menjadi lebih dewasa. Selain itu, mereka juga mengembangkan memori dan imajinasi yang memungkinkan mereka untuk memahami perbedaan antara masa lalu dan masa depan. Namun pemikiran mereka ini didasarkan pada intuisi dan masih belum sepenuhnya logis.

Mereka belum bisa memahami konsep yang lebih kompleks seperti misalnya konsep waktu, sebab dan akibat, serta perbandingan. Melansir dari Medical News Today, ada lima perilaku utama yang ditunjukkan oleh anak-anak selama tahap ini, antara lain:

a. Imitasi

Pada tahap ini, anak-anak akan meniru tindakan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, dan orang-orang yang ada disekitarnya.

b. Permainan Simbolik

Disini, anak-anak akan mulai memberikan karakteristik ataupun simbol pada objek. Mereka bisa memproyeksikan properti dari satu objek ke objek yang lainnya. Contohnya, mereka berpura-pura dan menganggap tongkat adalah sebuah pedang.

c. Menggambar

Imitasi dan permainan simbolik ini adalah sebuah elemen penting dari menggambar. Hal tersebut akan dimulai dalam bentuk coretan dan berkembang menjadi representasi objek dan orang yang lebih akurat.

d. Pencitraan Mental

Anak-anak sudah mulai bisa memvisualisasikan berbagai macam hal dalam pikiran mereka. Umumnya, mereka akan lebih sering menanyakan nama dari banyak objek yang ditemui.

e. Menjelaskan Peristiwa Secara Verbal

Perilaku ini akan menunjukkan bahwa anak-anak sudah bisa menggunakan kata-kata untuk menggambarkan suatu peristiwa, orang, atau berbagai hal lainnya dari masa lalu.

Selain itu, pada tahapan ini, aktivitas kognitif anak akan dimulai dengan cara memahami realitas dengan simbol. Cara berpikir anak di tahapan ini bersifat tidak sistematis, tidak logis, dan tidak konsisten. Hal tersebut ditandai dengan ciri-ciri berikut ini:

a. Transductive Reasoning

Ini adalah cara berpikir yang bukan deduktif atau induktif tidak logis. Dimana anak-anak akan menghubungkan dua hal yang tidak berkaitan namun seolah berkaitan. Misalnya saja, anak-anak akan menganggap awan yang berwarna putih sudah dicat oleh seseorang dengan menggunakan warna putih.

b. Ketidakjelasan Sebab Akibat

Ciri berikutnya adalah anak-anak mengenal hubungan sebab dan akibat secara tidak logis. Misalnya saja, anak mengatakan, Saya belum tidur siang, jadi sekarang hari belum sore.

c. Animisme

Anak-anak menganggap bahwa semua benda itu hidup seperti mereka. Misalnya saja boneka, mobil-mobilan, dan lainnya. Sehingga mereka menganggap bahwa mereka bisa berbicara dan berpikir sebagaimana dirinya.

d. Artificialism

Ini adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungannya dibuat oleh manusia. Misalnya saja hujan merupakan seseorang yang sedang naik ke atas langit dan menuangkan air.

e. Perceptually Bound

Yakni anak-anak akan menilai sesuatu berdasarkan dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Misalnya saja, anak-anak akan menganggap bahwa gunung adalah benda segitiga pipih seperti penggaris.

f. Mental Experiment

Disini anak-anak akan mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari masalah yang mereka hadapi. Misalnya saja, anak-anak akan menuangkan air dari satu wadah ke wadah yang lainnya untuk mengetahui kapasitas wada tersebut.

g. Centration

Anak-anak akan memusatkan perhatian mereka kepada sesuatu ciri yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lainnya. Misalnya saja, saat membandingkan dua box, anak akan menganggap bahwa box yang lebih tinggi adalah box yang lebih besar, tanpa memperhatikan panjang dan lebar dari box tersebut.

h. Egosentrisme

Anak-anak akan melihat dunia lingkungannya berdasarkan sudut pandang dan kehendak mereka. Misalnya saja, saat bermain petak umpet, seorang anak akan mengira bahwa mereka tidak bisa melihat dirinya sendiri saat mereka menunduk di belakang sofa. Sehingga mereka tidak bisa melihatnya. Meskipun sebenarnya orang lain bisa melihat bagian atas kepala ataupun bagian tubuh lainnya. Contoh lainnya yaitu saat anak menginginkan hujan, saat hujan turun, maka mereka akan berpikir bahwa merekalah yang menyebabkan hujan turun.

3. Tahap Operasional Konkret (Usia 7 Hingga 11 Tahun)

Pada tahapan ini, anak-anak sudah berusia SD dan pra remaja, di usia 7 sampai 11 tahun, mereka akan menunjukkan penalaran yang lebih logis dan konkret. Mereka bisa memahami bahwa peristiwa tidak selalu berkaitan dengan mereka dan bahwa orang lain juga mempunyai sudut pandang yang berbeda. Akan tetapi, mereka belum bisa melakukan hal yang sama untuk konsep abstrak atau hipotesis.

4. Tahap Operasional Formal (Usia 12 Tahun ke Atas)

Pada tahap akhir di masa perkembangan kognitif, anak-anak sudah bisa menggunakan simbol-simbol yang berkaitan dengan konsep abstrak, seperti sains dan aljabar. Mereka juga bisa memikirkan berbagai macam hal dengan cara yang sistematis, mempertimbangkan kemungkinan, dan menghasilkan teori. Tahapan ini dikenal sebagai penalaran hipotesis-deduktif yang mana merupakan bagian dari tahap operasional formal.

Seseorang yang memiliki keterampilan ini bisa membayangkan berbagai macam solusi dan hasil potensial dalam situasi tertentu. Misalnya saja, seorang anak pada tahap operasional formal sudah bisa memikirkan banyak cara untuk memecahkan suatu masalah. Lalu, memilih opsi terbaik berdasarkan logis atau tidaknya kemungkinan tersebut.

Fungsi Kognitif

Kecerdasan kognitif juga memiliki fungsinya loh. Dimana fungsi dari kecerdasan kognitif yang bisa menjadikan seseorang mudah untuk bergaul. Lalu, apa saja fungsi-fungsinya seseorang bisa dikatakan mempunyai kecerdasan kognitif? Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

1. Merasakan dan Mengenali

Dengan adanya kecerdasan kognitif, pastinya seseorang bisa melakukan identifikasi terhadap suatu objek, baik itu di dalam ataupun di luar dirinya. Misalnya saja, mereka bisa membedakan antara yang pahit dan manis, putih dan hitam, besar dan kecil, jeruk dan apel, dan masih banyak lagi. Secara lebih mendalam, kecerdasan kognitif ini bekerja secara efektif untuk mengenali perasaan seseorang. Pastinya, kecerdasan kognitif yang mengenali diri seperti ini tidak bisa diperoleh secara cuma-cuma seperti contoh di atas. Sebab, diperlukan pemahaman lebih terhadap suatu hal yang terjadi. Misalnya mengolah nilai dan membagikannya kepada orang lain.

2. Kemampuan Mengolah Bahasa

Saat merasakan dan mengenali sudah dilakukan, maka tahap berikutnya adalah tentang bagaimana cara mengolah bahasa. Kecerdasan kognitif ini akan memberikan kemampuan secara otomatis terhadap apa yang dibicarakan. Pastinya akan menyesuaikan konteks pembicaraan dan orang yang diajak bicara. Kemampuan mengolah bahasa yang diperoleh dari pengenalan lebih jauh bisa menghindarkan dari keburukan. Baik berupa ucapan yang baik dan tidak merugikan orang lain. Itulah fungsi secara sosial menghargai dan menghormati orang lain.

3. Fungsi Eksekutif

Berikutnya, kecerdasan kognitif bisa membantu seseorang dalam merencanakan sesuatu dan melaksanakannya. Kecerdasan kognitif ini berfungsi untuk merancang ide dan gagasan yang akan dilakukan. Kemampuan merancang, merencanakan, dan melakukan perencanaan umumnya dilakukan oleh guru. Guru akan merancang ide-ide dan juga gagasan ilmu pengetahuan yang akan ditransfer kepada siswanya. Kerja kecerdasan kognitif ini berfungsi secara eksekutor handal dalam perencanaan dan pelaksanaan.

4. Memori dan Daya Ingat

Adanya kecerdasan kognitif di dalam proses belajar mengajar memiliki fungsi untuk mengikat ilmu pengetahuan. Kecerdasan kognitif yang baik akan membuat daya ingat atau memori menjadi lebih mudah memahami ilmu pengetahuan. Berikutnya, ilmu pengetahuan tersebut akan disimpan di dalam otak supaya sewaktu-waktu diperlukan, bisa digunakan dengan baik. Oleh karena itu, suatu informasi ataupun ilmu pengetahuan bisa digunakan secara bermanfaat oleh yang memilikinya.

5. Perhatian

Saat otak seseorang sudah terisi dengan memori atau daya ingat, hal itu akan membuat seseorang perhatian terhadap suatu ilmu pengetahuan. Perhatian kecil terhadap bidang ilmu tertentu adalah kerja kecerdasan kognitif. Memori informasi atau ilmu pengetahuan bisa mengarahkan seseorang pada hal-hal tertentu. Misalnya saja, para lulusan sarjana, mulai dari S1, S2, S3, yang secara otomatis mempunyai sensitivitas terhadap bidang ilmu yang mereka pelajari. Mereka akan lebih sensitif terhadap hal-hal yang ada di bidang ilmu pengetahuan yang sesuai dengan minat dan juga perhatiannya.

Pendekatan Kognitif

Pendekatan kognitif ini adalah suatu istilah yang menyatakan bahwa melalui tingkah laku lah seseorang akan mengalami proses mental yang nantinya dapat meningkatkan kemampuan membandingkan, menilai, dan menanggapi stimulus sebelum terjadinya reaksi. Pendekatan ini akan memberikan penekanan terhadap isi pikiran manusia supaya manusia itu memperoleh pengalaman, standar moral, pemahaman, dan lain sebagainya. Semakin seseorang bertambah usia, maka mereka akan memiliki lebih banyak pengalaman dan pemahaman terkait kehidupan.

Jadi, inti dari pendekatan kognitif ini adalah melihat perkembangan tingkah laku seseorang. Semakin cerdas dalam menganalisis, menilai, dan menyimpulkan, maka kemampuan mereka akan semakin berkembang.

Demikian penjelasan mengenai teori Piaget dan beberapa tahapan yang ada di dalamnya. Dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa teori perkembangan kognitif Piaget ini adalah teori konstruktivis kognitif yang menjelaskan bahwa anak-anak akan terus berinteraksi dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Hasil dari interaksi tersebut akan menghasilkan sebuah hal yang bernama skema atau skemata.

Skema ini adalah jenis-jenis pengetahuan yang mempunyai fungsi untuk membantu seorang individu dalam melakukan interpretasi dan memahami lingkungan yang ada di sekitarnya. Sifat utama dari skema ini yaitu skema akan terus bermodifikasi, dinamis, bergerak, dan berkelanjutan atau tidak bisa berhenti di satu titik saja. Nah, agar skema tersebut dapat terus bergerak sesuai dengan sifat yang dimiliki, maka skema tersebut harus dibantu dengan dua proses penting yang bernama asimilasi dan akomodasi.



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien