Agama Islam Sejarah

Strategi Dakwah Walisongo di Nusantara

Strategi Dakwah Wali Songo – Pernahkah Grameds mendengar istilah Wali Songo? Wali Songo merupakan sembilan wali yang berdakwah menyebarkan agama Islam. Menurut KBBI, Wali memiliki arti sebagai orang saleh (suci) atau penyebar agama.

strategi dakwah walisongo

https://www.jejaksiber.com/

Pada masa itu, masyarakat Indonesia masih banyak yang menganut agama Hindu, Buddha, animisme, dan dinamisme. Wali Songo hadir dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Strategi dakwah yang digunakan oleh Walisongo memiliki berbagai macam ragam. Dimulai dari bidang pendidikan, adat istiadat, dan juga kesenian. Seluruh strategi dakwah Walisongo tersebut dilakukan secara perlahan-lahan sembari melakukan pendekatan dan penyesuaian kepada masyarakat.

Lantas, bagaimana strategi dakwah Walisongo dalam melakukan dakwah? Mari simak penjelasannya dalam artikel berikut ini!

1. Sunan Gresik

strategi dakwah walisongo

islamic-center.or.id

Sunan Gresik atau yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Banyak orang yang mengatakan bahwa Sunan Gresik merupakan orang pertama yang menyebarkan Islam di pulau Jawa.

Asal usul dari Sunan Gresik hingga masa kini sebenarnya masih menjadi sebuah perbedatan. Berbagai sumber mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir pada awal abad ke-14 di Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.

Tak senada dengan pernyataan tersebut, Nur Amin Fatah melalui buku “Metode Dakwah Walisongo” menuliskan bahwa Sunan Gresik lahir di Arab, melakukan hijrah ke daerah Gujarat, India, berkelana ke Malaka dan setelah itu baru Sunan Gresik pergi ke pulau Jawa.

Sunan Gresik melakuakn dakwah dengan melakukan berbagai hal. Misalnya seperti berdakwah dengan melalui bidang perdagangan dan pendidikan. Pada mulanya, Sunan Gresik mulai berdagang di daerah pelabuhan. Hal ini dilakukan dengan tujuan supaya masyarakat tidak kaget terhadap ajaran Islam yang dibawanya.

Tak sekadar mengajarkan agama Islam, Sunan Gresik juga mengajarkan cara unutk bercocok tanam pada masyarakat. Seluruh strategi yang dilakukan oleh beliau ini merupakan strategi dakwah Walisongo yang damai. Sehingga masyarakat dapat menerimanya, meskipun dengan perlahan-lahan.

Saat bertempat tinggal di Desa Sawo, Gresik, Sunan Gresik membangun sebuah surau. Surau ini memiliki fungsi sebagai tempat salat. Disamping itu, surau ini juga dijadikan sebagai tempat untuk pesantren sederhana. Dengan melalui pesantren sederhana inilah, beliau menyebarkan dan mengajarkan berbagai ajaran Islam.

2. Sunan Ampel

strategi dakwah walisongo

https://regional.kompas.com/

Sunan Ampel yang memiliki nama asli Raden Muhammad Ali Rahmatullah (biasa dipanggil Raden Rahmat) di Campa pada tahun 1401. Campa merupakan salah satu kerajaan yang berlokasi di Vietnam.

DItilik dari silsilah keluarganya, beliau merupakan anak dari putri Raja Champa. Sunan Ampel adalah keponakan dari Raja Majapahit dan bibinya adalah permaisuri dari Prabu Kertawijaya atau Raden Brawijaya. Seperti yang kita diketahui, Raden Brawijaya mulai memimpin pada tahun 1447-1451.

Ada beberapa strategi dakwah Walisongo yang digunakan oleh Sunan Ampel. Salah satunya sekaligus yang paling terkenal ialah dengan lima ajaran dasar yang Sunan Ampel ajarkan.

Ajaran ini diberi nama “moh lima”. “moh” dalam bahasa Jawa berarti tidak dan “lima” memiliki arti yang sama dengan bahasa Indonesia, yakni angka lima. Ajaran Moh limo terdiri dari moh main (tidak bermain judi), moh ngombe (tidak minum/mabuk), moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang), dan moh madon (tidak melakukan zina).

3. Sunan Bonang

strategi dakwah walisongo

https://regional.kompas.com/

Sunan Bonang atau yang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim lahir di Surabaya pada 1465 M. Beliau lahir dan tumbuh di dalam asuhan keluarga dengan golongan ningrat dan sangat agamis.

Strategi dakwah Walisongo yang dilakukan oleh Sunan Bonang ialah dengan melakukan pendekatan melalui akulturasi budaya. Beliau mempunyai keterampilan pada bidang sastra dan seni. Hal ini menjadikan orang-orang memberikan julukan kepada Sunan Bonang, yakni seniman yang mengajarkan Islam.

Alat musik yang digunakan sebagai media dakwah, yaitu seperangkat gamelan. Berdasarkan pada beberapa sumber, nama Sunan Bonang berasal dari nama salah satu alat gamelan yang beliau ciptakan. Gamelan merupakan alat musik tradisional dari suku Jawa yang terbuat dari bahan kuningan dan pemukulnya terbuat dari kayu.

Gamelan memiliki bentuk lingkaran serta memiliki sebuah tonjolan di bagian tengahnya. Saat gamelan dimainkan dengan cara dipukul, akan menghasilkan bunyi yang merdu.

Permainan musik gamelan yang dilakukan oleh Sunan Bonang memperoleh banyak perhatian dari masyarakat. Hal tersebut dibuktikan saat beliau memainkan alat musik gamelan, masyarakat sekitar selalu berdatangan untuk menonton. Masyarakat daerah Tuban pada masa itu memang terkenal kental dengan budaya Jawanya.

Agama yang dianut oleh masyarakat Tuban pada masa itu adalah Budha dan Hindu. Strategi dakwah Walisongo ini merupakan salah satu strategi yang tepat untuk mendapatkan hati mereka.

4. Sunan Drajat

strategi dakwah walisongo

https://regional.kompas.com/

Sunan Drajat atau yang memiliki nama asli Raden Qasim lahir pada tahun 1470 M di Ampeldenta, Surabaya. Sunan Drajat merupakan putra yang paling muda dari pasangan Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila. Sunan Drajat merupakan adik dari Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang juga dikenal sebagai Sunan Bonang.

Sunan Drajat mempunyai beberapa nama lain, seperti Raden Syarifuddin, Masaikh Munat, Sunan Mayang Madu, Pangeran Kadrajat, dan Maulana Hasyim.

Pada tahun 1484, Sunan Drajat diberikan sebuah gelar oleh Raden Patah dari Demak. Gelar tersebut ialah Sunan Mayang Madu. Selain memberikan gelar, Raden Patah juga memberikan hal lain, yakni tanah perdikan.

Serupa dengan Sunan Ampel, Sunan Drajat juga mempunyai 7 ajaran dasar pada masa dakwahnya. Diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Memangun resep tyasing sasama (membuat senang hati orang lain)
  2. Jroning suka kudu eling lan waspada (dalam keadaan gembira, hendaknya tetap mengingat Tuhan serta selalu waspada).
  3. Laksitaning subrata tan nyipa marang pringga bayaning lampah (dalam mencapai cita-cita luhur, jangan menghiraukan segala halangan dan rintangan).
  4. Meper hardaning pancadriya (senantiasa berjuang untuk menekan hawa nafsu duniawi)
  5. Heneng-Hening-Henung (dalam diam akan dicapai keheningan dan dalam hening akan dicapai jalan kebebasan mulia).
  6. Mulya guna panca waktu (pencapaian kemuliaan lahir batin dapat dicapai dengan melakukan salat lima waktu).
  7. Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (berikan tongkat kepada orang buta, berikan makan kepada orang lapar, berikan pakaian kepada orang yang tak berpakaian, dan berikan tempat berteduh kepada orang kehujanan).

5. Sunan Kalijaga

strategi dakwah walisongo

https://regional.kompas.com/

Sunan Kalijaga atau yang memiliki nama asli Raden Said lahir pada sekitar tahun 1450 M. Sunan Kalijaga merupakan seorang putra dari Tumenggung Wilatiktam seorang Bupati yang memimpin Tuban.

Perjalanan Sunan Kalijaga untuk menjadi wali bukanlah merupakan hal yang mudah. Di masa mudanya, beliau adalah seorang bromocorah. Bromocorah adalah nama lain dari penjahat pada era tersebut. Semasa muda, beliau merupakan remaja yang nakal.

Raden Said sangat menyukai minum minuman keras dan berjudi. Selain itu, beliau juga kerap mencuri. Sunan Kalijaga juga sudah banyak melakukan berbagai perbuatan buruk.

Suatu ketika, Sunan Kalijaga memiliki keinginan untuk merampok seseorang. Kebetulan, orang yang akan ia rampok adalah Sunan Bonang. Dengan melalui pengaruh-pengaruh dari Sunan Bonang tersebutlah yang menjadikan Sunan Kalijaga bisa tergugah untuk bertaubat.

Pasca kejadian tersebut, Sunan Bonang menjadi guru spiritual dari Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga memulai dakwahnya di daerah Cirebon, tepatnya di Desa Kalijaga. Beliau memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Islam pada masyarakat Indramayu dan Pamanukan dan.

Sunan Kalijaga melakukan dakwah dengan melalui pendekatan seni dan budaya. Beliau melakukan dakwah dengan cara memainkan wayang. Beliau membuat pertunjukan dan tidak mematok harga bagi siapa saja yang ingin menonton. Strategi dakwah ini ternyata berhasil menarik perhatian dan minat dari masyarakat sekitar.

6. Sunan Muria

strategi dakwah walisongo

https://regional.kompas.com/

Sunan Muria memiliki nama asli, yakni Raden Umar Said. Sunan Muria terlibat saat ada acara pemilihan Raden Patah sebagai pemimpin perdana dari kerajaan Islam di pulau Jawa. Meskipun beliau merupakan sosok yang sangat berpengaruh di Kesultanan Demak, Sunan Muria lebih merasa senang untuk tinggal di daerah yang terpencil.

Sunan Muria senang bergaul dengan para rakyat jelata. Beliau mengajarkan berbagai jenis keterampilan pada masyarakat misalnya bercocok tanam, kesenian, hingga tata cara berdagang. Nama Sunan Muria diberikan, lantaran beliau menetap di Gunung Muria.

Gunung Muria berada di pantai utara Jawa Tengah, tepatnya di sebelah timur laut dari Kota Semarang. Gunung Muria ini termasuk ke dalam wilayah di Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, serta Kabupaten Pati.

Salah satu strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Muria ialah tradisi bancakan. Fungsi tumpeng di dalam tradisi tersebut diubah sebagai kenduri. Fungsinya untuk mengirim doa kepada leluhur dengan menggunakan doa-doa Islam.

Sunan Muria juga mengembangkan dakwah melalui bidang seni. Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh ayahnya, Sunan Kalijaga. Sunan Muria mengembangkan penulisan mengenai sekar alit atau tembang cilik.

Penulisan tersebut memiliki jenis Sinom dan Kinanthi. Tembang cilik tersebut masih populer hingga masa kini di kalangan masyarakat Jawa. Dari usia muda hingga tua mengetahui tembang ini karena diajarkan di sekolah.

7. Sunan Gunung Jati

strategi dakwah walisongo

https://regional.kompas.com/

Sunan Gunung Jati atau yang memiliki nama asli, yakni Syarif Hidayatullah merupakan seorang ulama Wali Songo yang menjadi pendakwah pada abad ke-14 M.

Sunan Gunung Jati juga merupakan Sultan Cirebon pada tahun 1479 – 1568. Sunan Gunung Jati diberi gelar sebagai Susuhunan Jati. Sunan Gunung Jati mulai berdakwah di daerah Cirebon, Jawa Barat.

Strategi dakwah yang beliau lakukan dengan melalui jalur perkawinan. Menurut sumber yang beredar, tak kurang dari 6 perempuan dipersunting oleh beliau untuk dijadikan isti. Pada mulanya, Sunan Gunung Jati menikahi Nyai Babadan yang merupakan putri dari Ki Ageng Gedeng Badadan.

Pendekatan lain yang dilakukan untuk berdakwah ialah dengan memperkuat kedudukan politik. Sekaligus memperluas hubungannya dengan tokoh yang berpengaruh di daerah Cirebon, Banten, dan Demak.

Legitimasi kekuasaan politik dan spiritual dari rakyat menjadikan Sunan Gunung Jati bisa terus melanjutkan dakwahnya dengan keyakinan penuh. Sebagai penguasa Cirebon pada masa itu, Sunan Gunung Jati berhasil mendapatkan kesejahteraan rakyat di sepanjang pesisir pantai Cirebon. Pada masa itu, wilayah pelabuhan berada di bawah kekuasaan Pajajaran yang masih tertutup.

8. Sunan Giri

https://regional.kompas.com/

Sunan Giri adalah putra Syekh Maulana Ishaq. Selain Sunan Giri, qda beberapa nama yang dikenal seperti Muhammad Ainul Yaqin, Joko Samudro, Raden Paku, dan Sultan Abdul Faqih.

Sunan Giri melakukan dakwah dengan melalui bidang pendidikan. Selain itu, beliau juga berdakwah menggunakan karya seni khusus yang beliau ciptakan. Contohnya, yakni permainan anak-anak dan tembang.

Beberapa permainan yang dibuat oleh Sunan Giri, yaitu gendi gerit, Jelungan, jamuran, dan lain sebagainya. Tembang anak-anak yang diciptakan oleh beliau adalah gula ganti, jor, padang bulan, dan cublak-cublak suweng.

9. Sunan Kudus

https://regional.kompas.com/

Sunan Kudus memiliki nama asli Ja’far Shadiq. Beliau adalah santri paling terkenal dari alumni Pesantren Ampeldenta yang didirikan oleh Sunan Ampel. Sunan Kudus berasal dari keluarga bangsawan di kerajaan Demak.

Ketika ditelisik melalui silsilah keluarga, Sunan Kudus memiliki silsilah hingga ke nasab Nabi Muhammad SAW dengan melalui jalur Husain bin Ali RA. Ayah dari Sunan Kudus, yakni Usman Haji bin Ali Murtadha merupakan saudara kandung dari Sunan Ampel.

Strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus dengan cara mendekati masyarakat. Sunan Kudus mulai menyelami serta memahami apa saja kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Oleh karena itu, Sunan Kudus mengajarkan penyempurnaan alat-alat pertukangan dalam proses dakwahnya.

Selain itu, Sunan Kudus juga mengajarkan cara untuk membuat pande besi dan kerajinan emas. Beliau juga mengajarkan mengenai cara membuat keris pusaka. Tak sekadar itu, Sunan Kudus juga mengajarkan mengenai berbagai hukum dalam agama Islam dengan tegas.

Itulah nama Wali Songo beserta dengan beragam strategi dakwahnya. Berdakwah sembari membantu masyrakat bukanlah suatu hal yang mudah. Berkat Wali Songo, ajaran Islam bisa berkembang dan besar di Indonesia hingga saat ini.

Baca juga:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien