in

Rukun Jual Beli Dalam Islam dan Syaratnya

Rukun jual beli dalam Islam tentu harus diketahui oleh masyarakat secara umum. Tujuannya adalah agar transaksi semakin mudah dan sesuai dengan anjuran agama. Sebab, sektor perekonomian tersebut saat ini semakin meningkat pesat terutama dalam bidang bisnis digital.

Agama Islam sudah menunjukkan hukum setiap kegiatan untuk mengarahkan umatnya agar lebih terarah dan menjalankan sesuai syariat yang sudah ditentukan. Hal ini juga termasuk dalam perihal kegiatan jual beli karena cukup penting untuk menjamin keabsahannya, berikut ulasannya:

1. Pengertian Rukun Jual Beli dalam Islam

Rukun merupakan suatu hal penting yang harus dipenuhi sebelum melakukan jual beli. Hal ini karena akan menentukan tingkat keabsahannya. Meskipun hanya tertinggal satu poin saja maka akan beresiko membatalkan akadnya, apalagi pada masa modern ini yaitu dengan sistem online.

Dewasa ini sebagian besar masyarakat dalam melakukan transaksi kurang memperhatikan terkait dengan batasan syariat, sehingga seringkali melanggar ketentuan. Hal ini seringkali dilakukan untuk mendapatkan keuntungan berlipat ganda bahkan ada yang menggunakan cara kurang baik.

2. Pengertian Jual Beli dalam Islam

Jual beli sendiri adalah pertukaran suatu barang karena memiliki nilai dengan uang atau alat pembayaran lain yang diakui pada suatu daerah tertentu. Transaksi ini ditujukan agar mendapatkan produk lainnya guna memenuhi kebutuhan baik bersifat primer maupun sekunder.

Kata tersebut sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu al bay yang berarti jual beli, sedangkan secara harfiah didefinisikan sebagai pertukaran atau mubadalah. Sebutan ini digunakan untuk menyebutkan penjual maupun pembeli sebagai penentu keabsahan dari transaksinya.

 

3. Rukun Jual Beli dalam Islam

Jual beli menjadi salah satu sektor perekonomian yang memiliki peran penting untuk menjalankan roda kehidupan masyarakat baik secara konvensional maupun sistem digital. Hal ini bisa dilakukan apabila memenuhi syarat dan rukun sesuai peraturan terbaru:

Peraturan jual beli dalam Islam sudah diatur dengan jelas, namun seiring perkembangan zaman  saat akan melakukannya perlu adanya pengkajian ulang dari sumber terpercaya agar transaksi yang dilakukan sah. Secara umum terdapat beberapa rukunnya berikut ulasannya:

  • Barang atau jasa yang akan diperjual belikan.
  • Pihak penjual dan pembeli yang melakukan transaksi.
  • Harga dapat diukur dengan nilai uang atau alat pembayaran lain yang berlaku disuatu daerah.
  • Serah terima atau ijab qobul.

4. Syarat Jual Beli dalam Islam

Sebelum melakukan jual beli ada beberapa hal yang perlu dipenuhi agar transaksi yang dilakukan bisa mendapatkan feedback saling menguntungkan. Sebaiknya hindari perkara yang masih sama jika belum terdapat fatwa penguat, berikut ulasannya:

  • Terkait dengan Aqidain

Dalam hal ini timbul larangan yang menyebutkan bahwa jual beli tidak diperbolehkan dilakukan oleh orang tidak berakal. Kegiatan tersebut dapat menimbulkan kerugian antara satu atau kedua belah pihak. Oleh karenanya syarat pertama adalah penjual dan pembeli adalah orang berakal.

 

  • Terkait Objek pada Jual Beli Konvensional
  1. Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat.
  2. Keberadaan barang harus nampak.
  3. Dimiliki sendiri oleh penjual.
  4. Dilarang menjual barang yang bukan dimiliki oleh penjual secara utuh.
  5. Diserahkan langsung saat akad.

 

  • Terkait Shighat

Jual beli sendiri harus dilaksanakan tanpa adanya paksaan sehingga kedua belah pihak rela menjalankannya. Hal ini berdasarkan kaidah muamalah yaitu an taradin minkum (suka sama suka atau saling memiliki kerelaan) guna menghindari kekecewaan nantinya.

gramedia back to kampus

 

  • Terkait dengan Nilai Tukar
  1. Harus suci (bukan barang najis).
  2. Ada manfaatnya.
  3. Dapat dipindahkan/ serah terima.
  4. Dimiliki sendiri atau yang mewakilinya.
  5. Diketahui oleh penjual dan pembeli.

 

  • Syarat Jual Beli Online
  1. Penjual harus melampirkan foto produk.
  2. Menyertakan spesifikasi secara lengkap.
  3. Menyediakan garansi jika ada kecacatan.

 

5. Pendapat Ulama Tentang Syarat Jual Beli dalam Islam

Secara istilah jual beli adalah transaksi tukar menukar barang dengan konsekuensi beralihnya kepemilikan yang dapat terlaksana karena adanya akad. Hal tersebut bisa termasuk perbuatan maupun ucapan.

Sedangkan menurut Sheikh Taqiyuddin Al-Husny menjelaskan bahawa transaksi jual beli adalah pertukaran harta dengan harta untuk keperluan tasharruf (pengelolaan). Agar sah maka harus disertai lafadz ijab qobul. Berdasarkan penjelasan tersebut, berikut beberapa syaratnya:

 

  • Adanya Penjual dan Pembeli

Dalam hal ini ada syarat dan ketentuan baik untuk penjual maupun pembeli yaitu berakal, bukan anak kecil serta ahli dalam bidang tersebut. hal ini untuk meminimalisir terjadinya penipuan serta kerugian baik dari satu atau kedua belah pihak.

 

  • Adanya Barang dan Harga

Saat membeli barang tentu harus ada transparansi harga serta spesifikasinya. Secara umum syarat dari produk yang dijual adalah harus suci, tidak berupa najis atau haram. Selain itu juga harus melik sendiri dana tidak sedang terikat akad dengan orang lain.

 

  • Adanya Lafadz Ijab

Menurut para ulama syarat ini menjadi poin paling utama yang harus ada saat akad jual beli. Lafadz serah terima sendiri tidak ada aturan baku, hanya saja sesuai dengan kebiasaan masyarakat pada suatu lingkungan.

 

6. Jual Beli yang Terlarang dalam Islam

Jual beli dapat dilarang dalam agama jika dapat merugikan atau melanggar rukun dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Bahkan jika tetap Anda laksanakan maka bisa mengakibatkan keharaman pada hasilnya. Oleh karenanya agar dapat menghindarinya. Allah SWT berfirman:

Adapun transaksi dapat dilarang karena beberapa hal misalnya haram zatnya, haram selain zatnya, dan tidak lengkap akadnya yaitu ketika rukun serta syaratnya ada kekurangan. Terakhir adalah terjadinya ta’alluq. Agar lebih jelas simak ulasan berikut:

 

  • Riba

Kegiatan ini diartikan sebagai pengambil kelebihan saat melakukan transaksi jual beli dengan tata cara tertentu misalnya saja pembayaran sistem mencicil. Riba sendiri terbagi menjadi 4 golongan yaitu fadl, nasiah, qardh, dan jahiliyah.

 

  • Gharar

Berasal dari istilah Arab yaitu al-khathir  yang artinya pertaruhan. Lebih lengkapnya gharar yaitu transaksi yang mengandung ketidakjelasan. Hal tersebut berlaku baik dari pihak pembeli maupun penjual sehingga membuka peluang besar terjadinya penipuan atau mengakibatkan kerugian.

 



  • Maisir Unsur

Merupakan bentuk permainan yang mengandung unsur taruhan dengan disepakati bahwa pemenang akan mendapatkan hasilnya secara keseluruhan atau sesuai aturan. Jenis-jenis maisir yang harus dihindari seperti mengadu nasib dengan undian, bertaruh menggunakan uang. Allah SWT berfirman:

  • Tadlis

Hal ini dapat terjadi ketika salah satu pihak menyembunyikan sesuatu yang berkaitan dengan transaksi tersebut dari pihak lain sehingga menimbulkan keuntungan pribadi. Tadlis dibagi menjadi 4 yaitu berdasarkan kuantitas, kualitas, harga, serta barang. Allah SWT berfirman:

  • Ghabn

Definisi dari ghabn adalah penjual menaikkan harga di atas rata-rata pasar yang tidak diketahui oleh pembeli. Kegiatan ini terbagi menjadi dua yaitu perbedaan biaya tidak terlalu jauh serta lebih tinggi. Biasanya terjadi saat adanya kelangkaan dan tentunya membuat kondisi semakin sulit.

 

  • Ba’i Najasy

Kegiatan ini dilakukan dengan cara memanipulasi dengan menciptakan penawaran palsu untuk meningkatkan omset penjualan. Ba’i Najasy termasuk dalam kategori penipuan sehingga menjadikannya dilarang karena merugikan pihak pembeli.

 

  • Risywah

Risywah adalah perbuatan membeli sesuatu yang bukan haknya kepada pihak lain atau lebih dikenal dengan istilah suap. Menurut pendapat para ulama sistem tersebut termasuk ke dalam dosa besar, karena sudah termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 188 yang berbunyi:

  • Ikhtikar

Jenis ini adalah manipulasi penawaran barang yang sedang langka di pasaran dengan biaya sangat tinggi. Umumnya mereka akan menimbun sehingga stok untuk umum menipis. Sebagai contoh yang terjadi saat awal masa pandemi yaitu masker dan hand sanitizer dibanderol sangat tinggi.

 

  • Ikrah

Sistem ikrah yaitu dengan memaksa seseorang untuk melakukan suatu hal. Tindakan tersebut bisa mengakibatkan seseorang menjadi terpojok dan akhirnya menuruti segala perintah dari perlakuan baik dengan imbalan atau secara cuma-cuma.

 

  • Ta’alluq


Hal ini berkaitan dengan berlakunya akad pertama dan tergantung akad kedua, tentunya akan menimbulkan tidak terpenuhinya rukun jual beli yaitu objek. Oleh karenanya ta’alluq menjadi dilarang untuk dilakukan karena dapat membawa dampak buruk kedepannya.

 

  • Ba’i al-mudtarr

Transaksi ini identik dengan kondisi kepepet sehingga tidak menutup kemungkinan oleh orang lain dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan misalnya harga dibawah pasaran. Hal ini tentu masih sering terjadi di masyarakat pada umumnya.

 

7. Landasan Hukum Jual Beli dalam Islam

Islam merupakan agama yang sudah mencakup segala aspek kehidupan manusia agar bisa menjadi pedoman sehingga bisa memperoleh kebahagiaan hidup diakhirat kelak. Salah satunya yaitu dalam bidang perdagangan untuk menjalankan roda perekonomian.

Kebolehan Nya sudah diatur dalam Al-Quran maupun Al-Hadits sehingga bisa menjalankannya sesuai dengan aturan yang berlaku saat ini. tujuan utamanya agar transaksi seperti ini bisa menguntungkan kedua belah pihak tanpa harus menjatuhkan orang lain.

  • Dalil Al-Quran

Al-Quran merupakan sumber hukum pertama dalam agama Islam dengan berbagai penjelasan mengenai beberapa hal vital, termasuk jual beli. Ada beberapa ayat yang membahas terkait bidang ini, berikut ulasannya:

  • Hadits Nabi

 

8. Jenis-jenis Jual Beli dalam Islam

Sebagai makhluk ekonomi masyarakat dituntut memenuhi kebutuhan hidup dengan berbagai cara. Salah satu bidangnya adalah berdagang, hal ini karena Rasulullah dahulunya merupakan seorang pedagang yang dikenal dengan sebutan al-Amin karena kejujurannya. Berikut jenis-jenisnya:

  • Berdasarkan Keberadaannya

Barang menjadi poin penting yang menentukan tingkat keabsahan dari sebuah transaksi jual beli baik dalam bentuk nyata maupun berupa bentuk lainnya. Oleh sebab itu perlu mengetahui terkait hal tersebut agar dapat mengetahui hukumnya secara lebih terperinci. Simak ulasan di bawah ini:

A. Jual Beli yang Diperbolehkan

Salah satu pembahasan pokok dalam Islam adalah terkait dengan jual beli. Sejak zaman dahulu bidang tersebut mendapatkan perhatian khusus terutama pada masa modern ini. Kemajuan perkembangan zaman tentu harus diimbangi dengan ilmu agama yang kuat. berikut rinciannya:

 

  • Ainun Hadirah (Barang ada di Tempat Ijab Qabul)

Saat melakukan proses ini barang harus ada di tempat. Adapun hukum transaksinya adalah sah dan tidak bergantung pada proses yang dijalani oleh penjual dan pembeli dengan catatan harus adanya akad kesepakatan serta aspek sosial dan kejujuran. Hal tersebut berdasarkan pedoma berikut:

  • Ainun Mausufun dfi Al Dziman

Jual beli ini yaitu barang tidak di tempat namun spesifikasi dan keberadaan dapat dijamin sehingga akad jenis ini diperbolehkan. Sebagai contoh yaitu akad untuk membeli rumah namun mengadakan kesepakatan pada apartemen atau kantor Anda namun hindari adanya pelanggaran.

 

  • Ainun Ghaib

Perkembangan dunia modern dapat menjadi latar belakang dari transaksi ini yaitu spesifikasi dan wujud barang tidak berada di tempat akad. Sebagai contoh Anda membeli baju di ecommerce, dengan demikian meskipun tidak melakukan pertemuan secara langsung maka tetap dianggap sah.

 

B. Jual Beli yang Dilarang

Akad jual beli yang dilarang dalam Islam adalah adanya rukun yang tidak terpenuhi dan memungkinkan merugikan salah satu atau kedua belah pihak. hal ini dapat berkaitan dengan pelanggaran syariat, jika tetap dilakukan maka dapat membuat hasilnya dihukumi haram.

Adapun transaksi jual beli tersebut misalnya karena terdapat unsur atau zat haram di dalamnya misalnya saja daging babi, khamr, darah, bangkai, serta yang belum jelas jenis serta spesifikasi produknya. Apabila hal ini terjadi maka akadnya tidak sah sehingga Anda perlu menghindarinya.

 

C. Berdasarkan Perbandingan Harga Jual Beli

Saat ini jual beli semakin berkembang dengan berbagai macam sistem serta cara pengambilan keuntungan. Hal ini juga akan mempengaruhi terkait dengan keabsahannya, karena ditakutkan adanya riba sehingga bisa merugikan pihak pembeli.

Dalam pembahasan ini terbagi menjadi 3 jenis yaitu murabahah (jual beli dengan untung), tauliyah (harga modal), dan muwadha’ah (harga rugi). Tentunya dalam setiap modelnya terdapat aturan tersendiri yang harus dipenuhi agar prosesnya dapat dijalankan dan sesuai syariat.

 

D. Berdasarkan Objek yang Diperjualbelikan

Melaksanakan transaksi jual beli memerlukan objek yang dibeli maupun alat tukar dengan begitu kedua belah pihak bisa mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut. hal ini berkaitan dengan perkembangan zaman serta teknologi sehingga dapat berpengaruh terkait perubahannya.

Berdasarkan objeknya jual beli dibagi menjadi 3 bagian yaitu mutlaq, sharf (mata uang), dan muqayyadah (barter). Kegiatan ini bisa dianggap sah apabila memenuhi ketentuan serta syarat yang diberlakukan dalam suatu wilayah untuk enunjang kelancarannya.

 

E. Berdasarkan Waktu Penyerahan

Kebutuhan manusia sendiri semakin beragam untuk itu dalam hal ini terbagi menjadi 4 bagian juga yaitu ba’i thaman ajil (mencicil), salam (pesan), istishna (pesan), dan istijrar. Terdapat aturan baku saat menjalankan hal tersebut tujuannya adalah untuk menghindari hal yang diharamkan.

Salah satu sistem yang saat ini masih menjadi pertimbangan adalah mencicil karena ada beberapa pihak yang menggunakan bunga pada setiap pembayarannya. Oleh sebab itu sebelum melakukannya harus mengetahui hukum serta tata cara sesuai syariat agama Islam.

 

F. Jual Beli Online

Perkembangan teknologi saat ini melatar belakangi perubahan kegiatan jual beli masyarakat yang saat ini lebih berbasis online. Berdasarkan penjelasan dari Dr. Oni Sahroni dalam bukunya Fiqih Muamalah Kontemporer, transaksi tersebut diperbolehkan asalkan semua rukun terpenuhi.

Kebolehan atas jual beli online juga didasarkan atas standar syariah internasional AAOIFI dan fatwa DSN MUI yang membahas terkait dengan ijarah serta kaidah-kaidah fiqih muamalah. Dalam hal ini Islam memberi kemudahan untuk para pengikutnya mencari penghidupan halal.

Demikian penjelasan mengenai Rukun jual beli dalam Islam perlu Anda ketahui untuk menghindari terjadinya kecurangan antara satu pihak dengan lainnya. Apabila segala sesuatu dilakukan berdasarkan hukum yang berlaku maka bisa mendapatkan keuntungan berlimpah dan barokah. Namun, pastikan juga menjauhi beberapa hal yang tidak boleh diperjualbelikan dalam Islam.

 

 

Rekomendasi Buku Islami

Berikut adalah rekomendasi buku agama Islam dari Gramedia

Kumpulan Kisah Islami Penuh Hikmah

Kumpulan Kisah Islami Penuh Hikmah

Parenting Islami

Parenting Islami

secangkir kopi berpikir positif islami

Secangkir Kopi Berpikir Positif Islami

Ensiklopedi Akhlak Rasulullah

Ensiklopedi Akhlak Rasulullah

Muslim Daily

Muslim Daily

Ishmatul Anbiya`: Misi Tanpa Salah Para Pembawa Risalah

Ishmatul Anbiya`: Misi Tanpa Salah Para Pembawa Risalah

Hidup Minimalis Ala Rasulullah

Hidup Minimalis Ala Rasulullah

Fiqih Untuk Pemula: Sebuah Pedoman Belajar Fiqih Dalam Kehid

Fiqih Untuk Pemula: Sebuah Pedoman Belajar Fiqih Dalam Kehid

 

Artikel Terkait Islami

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Nandy