Agama Islam

Marah dalam Islam dan Larangannya dalam Hadits 

Marah dalam Islam dan Larangannya dalam Hadits  1
Written by Tasya Talitha

Marah dalam Islam dan Larangannya dalam Hadits  – Manusia adalah makhluk yang memiliki emosi di dalam dirinya. Ada banyak jenis emosi yang bisa mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani hidupnya dan berinteraksi dengan orang lain. Tak jarang, manusia seringkali dikuasai oleh emosinya sendiri, padahal seharusnya manusialah yang mengontrol emosi-emosi tersebut. Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia, mulai dari pilihan yang kita buat, tindakan yang kita ambil dan semua persepsi yang kita miliki terhadap sesuatu.

Ranah psikologi menjelaskan ada enam jenis emosi dasar yang ada pada manusia. Emosi gembira, sedih, takut, muak atau jijik, terkejut, dan marah. Tidak hanya di dalam dunia ilmu pengetahuan, emosi juga sudah tercantum di dalam kitab suci umat Islam, yaitu Al-quran dan juga dibahas di dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Bagaimana emosi marah di dalam agama Islam? untuk mengetahui lebih lanjut, simak pembahasan di bawah ini.

Emosi Marah

Emosi marah bisa menjadi emosi yang sangat kuat. Hal itu bisa ditandai dengan perasaan permusuhan, frustasi, atau kebencian terhadap orang lain. Hampir mirip dengan rasa takut, kemarahan juga bisa berperan dalam respons tubuh untuk melawan. Ketika sebuah ancaman menimbulkan rasa marah, tentunya manusia bisa secara otomatis menangkis bahaya tersebut untuk melindungi dirinya sendiri.

Emosi marah bisa disebabkan oleh perasaan yang terluka atau adanya perilaku yang tidak diharapkan oleh seseorang. Maka dari itu, perasaan yang dirasakan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan bisa membuat seseorang marah. Hal tersebut hanya bisa dicegah dengan mengendalikannya atau memaafkan hal tersebut.

Emosi marah ini sering terlihat dalam wajah seperti cemberut dengan mata melotot. Mengambil sikap yang tegas, atau berpaling. Berbicara kasar atau teriak, berkeringat banyak dan muka memerah. Orang yang marah juga bisa memukul, menendang atau bahkan melempar benda yang ada di sekitarnya.

kemarahan ini sebetulnya sering dianggap sebagai emosi negatif, padahal tidak selamanya begitu. Emosi marah ini bisa membantu untuk memperjelas kebutuhan seseorang dalam suatu hubungan. Selain itu emosi marah ini juga bisa memotivasi seseorang untuk mengambil sebuah tindakan atau bahkan menemukan solusi dari permasalahan yang ada.

Kemarahan menjadi emosi negatif jika berlebihan dan diungkapkan secara tidak sehat, berbahaya atau merugikan orang lain. Seperti memukul, menendang atau melempar barang-barang di sekitar yang tentunya bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Kemarahan yang tidak terkendali ini bisa saja berubah menjadi kekerasan atau bahkan pelecehan.

Konsekuensi dari emosi marah ini bisa menjangkit pada mental dan juga fisik. Jika kemarahan tidak bisa dikendalikan, maka seseorang akan kesulitan untuk mengambil keputusan yang rasional. Selain itu juga bisa berdampak pada kesehatan fisik seseorang. Beberapa penyakit yang dikaitkan dengan emosi marah yaitu penyakit jantung dan juga diabetes.

Marah berarti perasaan tidak senang, gusar atau berang. Pada bahasa Arab, kata yang memiliki makna sama, yaitu ‘gadlab’. Gadlab ini memiliki artian meluapnya darah di dalam tubuh dan disertai keinginan untuk menyiksa. Selain itu, kata gadlab ini bisa juga memiliki arti tidak terkendalinya emosi dan muncul perasaan ingin memusuhi.

Jangan Marah Hancurkan Dia dengan Prestasimu, Lawan Dia dengan Kesuksesanmu

Jangan Marah Hancurkan Dia dengan Prestasimu, Lawan Dia dengan Kesuksesanmu

Beli Buku di Gramedia
Marah dalam Islam Menurut Al-quran dan Hadits

Di dalam Al-Quran, kemarahan ditunjukan pada kisah Nabi Musa dan Nabi Yunus yang ditunjukan dalam bentuk marah yang berbeda. Hal ini tertera pada surat Al-A’raf ayat 150 yang berbunyi:

وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًاۙ قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوْنِيْ مِنْۢ بَعْدِيْۚ اَعَجِلْتُمْ اَمْرَ رَبِّكُمْۚ وَاَلْقَى الْاَلْوَاحَ وَاَخَذَ بِرَأْسِ اَخِيْهِ يَجُرُّهٗٓ اِلَيْهِ ۗقَالَ ابْنَ اُمَّ اِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوْنِيْ وَكَادُوْا يَقْتُلُوْنَنِيْۖ فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْاَعْدَاۤءَ وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ.

“Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zalim.”

Ayat ini menceritakan tentang Nabi Musa yang pulang dari bukit Thur dengan keadaan sedih dan marah. Hal ini karena ia melihat penyelewengan yang dilakukan oleh kaumnya ketika mereka ditinggal oleh Nabi Musa untuk bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itu kaumnya malah menyembah sapi dan menjadi pengikut samiri.

banner-promo-gramedia

Setelah itu, Nabi Musa menarik kepala Harun secara emosi karena beliau mengira bahwa Harun yang membiarkan penyelewengan itu terjadi. Nabi Musa mengira bahwa Harun tidak menghentikan atau mencegah hal tersebut. Dari ayat tersebut bisa dilihat ketika Nabi Musa marah, ia sampai mencengkeram rambut Harun. Namun, bisa terlihat bahwa Nabi Musa masih bisa mengendalikan amarahnya, sehingga ia masih bisa mendengarkan penjelasan dari Harun.

Selain Nabi Musa, ada juga kisah tentang Nabi Yunus ketika marah. Hal ini digambarkan pada surat Al-Anbiya ayat 87 yang berbunyi:

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Dari ayat di atas, kita bisa mengetahui bahwa Nabi Yunus marah hingga pergi meninggalkan kaumnya. Hal ini dilakukan oleh Nabi Yunus karena ia mengira bahwa kaumnya tidak menghiraukannya, maka dari itu ia pergi meninggalkan mereka. Ketika Nabi Yunus pergi, kaumnya menyadari kesalahan mereka dan akhirnya mereka kembali ke jalan yang benar. Menurut beberapa ahli tafsir, Nabi Yunus pergi karena dia tidak menerima takdir yang diberikan oleh Allah Ta’ala.

Marah yang muncul pada Nabi Yunus dan Nabi Musa ini merupakan akibat dari kemungkaran yang dilakukan oleh kaumnya. Marah yang digambarkan pada kedua ayat di atas adalah kemarahan yang berkaitan dengan agama Islam. Hal ini seolah mengisyaratkan bahwa seseorang harus bisa mengendalikan diri apabila emosi marah tersebut muncul.

Pada kisah Nabi Musa tergambar amarah yang terlampiaskan sampai ke kontak fisik. Nabi Musa saat itu sampai mencengkram kepala Harun. Menggambarkan bahwa seseorang ketika marah bisa saja tidak terkendali hingga melakukan kontak fisik dan bisa saja membahayakan seseorang. Sedangkan pada Nabi Yunus digambarkan marah yang justru membuatnya berpaling.

Nabi Yunus seolah tidak peduli kepada kaumnya yang sudah munkar. Cara pelampiasan amarah yang dilakukan Nabi Yunus pada ayat tersebut merupakan sebuah bentuk protes, tetapi tanpa adanya perlawanan kontak fisik. Ada banyak sekali manusia yang marah dan terkadang dia justru tidak peduli lagi karena benar-benar dalam keadan marah.

Di dalam hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ada yang menjelaskan tentang larangan marah. Seperti yang sudah diketahui, emosi marah ini bisa melahirkan kekuatan fisik yang besar. Kekuatan tersebut bahkan bisa menguasai hati dan pikiran manusia. Emosi marah yang muncul bisa juga melahirkan nafsu yang besar dan merusak akal sehat. Berikut adalah hadits tentang larangan marah yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ia berkata: Wahai Rasulullah, sampaikanlah suatu perkataan kepadaku dan ringkaslah mudah-mudahan aku memahaminya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:  Jangan marah. Lalu aku mengulanginya berkali-kali, semuanya dibalas Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan sabda, Jangan marah!” (HR. Ahmad)

Kumpulan Hadits Pilihan Bukhari Muslim

Kumpulan Hadits Pilihan Bukhari Muslim

Beli Buku di Gramedia
Cara Mengendalikan Amarah Sesuai Petunjuk Rasulullah

Emosi marah memang tidak dapat dihilangkan dalam diri manusia. Hal ini adalah sebuah naluriah manusia. Menurut Al-Ghazali, ada dua cara mengendalikan amarah. Yang pertama adalah tidak menuruti amarah, kecuali hanya pada persoalan yang tidak dilarang dalam agama dan tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Latihan ini bisa dilakukan dengan memaksakan diri sendiri dan melakukannya terus menerus sampai seseorang itu mengampuni dirinya sendiri. Dengan begitu manusia harus melatih atau melemahkan potensi amarah dalam dirinya sehingga, ketika emosi marah itu muncul, tidak akan terlalu berlebihan dan tidak sampai menyakiti orang lain.

Yang kedua adalah latihan dengan merenungkan bahwa manusia semuanya akan berakhir di dalam kubur. Dengan selalu merenungkan hal itu, manusia akan menjadi lebih zuhud di dunia. Ada baiknya kita selalu menyibukan pikiran dan hati kita dengan hal-hal yang positif, sehingga emosi marah sudah tidak punya tempat lagi di hati kita. Di dalam Al-Quran juga dijelaskan bahwa menahan amarah lebih baik dibandingkan membalasnya. Hal ini terdapat dalam surat An-nahl ayat 126-127 yang berbunyi:

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ

“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

“Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”

Selain itu, beberapa hadits juga ada yang menjelaskan bagaimana meredam amarah. Hal yang bisa dilakukan dalam diam sehingga tidak keluar kata-kata yang tidak disukai oleh Allah Ta’ala yang bisa menyakiti hati orang lain. Hadits yang menyatakan untuk diam berbunyi:

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

banner-promo-gramedia

“Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Jika diam saja tidak cukup untuk meredakan amarah di dalam diri, maka cobalah untuk berganti posisi. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Hadits tersebut berbunyi:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula, maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud)

Selain diam dan berganti posisi, ada baiknya untuk coba mengambil air wudhu. Air wudhu selain berfungsi untuk membersihkan diri juga memiliki manfaat untuk membersihkan hati. Ketika mengambil air wudhu, bisa saja kita lupa dengan hal-hal buruk yang ingin kita lakukan ketika sedang marah. Emosi marah merupakan sifat setan, setan berasal dari api. Untuk meredakan api hendaknya basuh dengan air, yaitu air wudhu. Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu daud)

Jawaban Pertanyaan Rumit dalam Islam

Jawaban Pertanyaan Rumit dalam Islam

Beli Buku di Gramedia
Selain dari kajian agama Islam, menurut kajian psikologis ada beberapa cara untuk menghindari amarah atau mengontrol emosi marah di dalam diri, yaitu:

  • Berpikir sebelum berbicara. Hal ini tentunya bisa jadi salah satu cara untuk mengendalikan diri ketika ada rasa marah di dalam diri. Sebelum berbicara ada baiknya untuk diam dan berpikir sejenak, apakah kata-kata itu tidak akan membuat orang lain sakit hati atau membuat diri sendiri menyesal.
  • Ketika diri sudah lebih tenang, kamu bisa mengekspresikan emosi marah tersebut. Perlu diingat jangan sampai menyakiti siapapun ketika mengekspresikan emosi marah itu.
  • Keluar ruangan. Hal ini tentunya untuk menghindari perdebatan yang tidak akan ada habisnya. Selain itu kamu juga bisa mencoba kegiatan seperti jalan-jalan, olahraga dan melakukan hobi yang disenangi.
  • Ambil waktu sejenak. Bagi orang dewasa sebetulnya hal ini harus bisa dilakukan. Coba berlatih setiap kali dilanda rasa marah, untuk tunggu waktu sejenak. Sehingga ketika mengekspresikan amarah tidak menggebu-gebu. Waktu istirahat sejenak sangat diperlukan supaya perasaan lebih nyaman dan amarah bisa mereda.
  • Identifikasi solusi yang memungkinkan. ketika sedang marah, sebetulnya tidak selalu negatif. Ada kalanya justru bisa memunculkan solusi yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah.
  • Jangan menyimpan dendam. Manusia mungkin sering menyimpan dendam sehingga ketika marah semuanya akan terluapkan begitu saja sehingga kata-kata atau perbuatan yang dilakukan bisa menyakiti orang lain dan membuat penyesalan pada diri sendiri. Ketika membenci suatu hal atau seseorang, kita kerap menyimpan dendam pada hal tersebut. Cobalah untuk tidak menyimpan dendam.
  • Cobalah untuk menggunakan humor ketika melepaskan ketegangan yang ada. Hal ini tentunya bisa meringankan dan meredakan ketegangan. Dengan menggunakan humor bisa membantu kita untuk menghadapi apa yang membuat kita marah. Namun, jangan gunakan sarkasme, hindari hal itu. Sarkasme tentunya juga bisa menyakiti perasaan dan membuat keadaan bisa menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Itulah pembahasan mengenai “Marah dalam Islam dan Larangannya dalam Hadits”. Apabila Grameds ingin menambah wawasan lebih mengenai larangan marah dalam Islam, kalian bisa membaca buku di bawah ini.

La Taghdab (Jangan Marah): Seni Berdamai dengan Sakit Hati & Terapi untuk Mengatasi Emosi

La Taghdab (Jangan Marah): Seni Berdamai dengan Sakit Hati & Terapi untuk Mengatasi Emosi

Beli Buku di Gramedia
Buku ini mengajarkan kita untuk berdamai dengan sakit hati. Sebagaimana yang disampaikan dalam hadits nabi, bahwa janganlah marah. Kita harus bisa mengelola amarah yang ada di dalam diri kita. Selain itu, di dalam buku ini juga terdapat terapi untuk mengatasi emosi.

Untuk anak-anak, bisa diberikan buku pengenalan hadits kepada anak-anak yang berupa komik sehingga belajar hadits bagi anak-anak menjadi lebih menyenangkan dan mudah diingat.

Yuk, Belajar Hadits

Yuk, Belajar Hadits



Beli Buku di Gramedia

Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas senantiasa menghadirkan buku-buku dengan kualitas terbaik yang tentunya bermanfaat bagi kalian. Untuk mendapatkan referensi buku menarik lainnya, kalian bisa kunjungi https://www.gramedia.com/.

Penulis : Zarqa Khalifa

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien