Agama Islam

Hadist Tentang menuntut Ilmu Untuk Meningkatkan Semangat Belajar

hadist tentang menuntut ilmu
Written by M. Hardi

Hadist tentang menuntut ilmu – Agama Islam diturunkan sebagai kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berilmu saja. Itulah sebabnya Allah SWT dan Rasulullah SAW mewajibkan manusia agar tidak pernah berhenti belajar selama hidupnya melalui Al-Qur’an, Sunnah, maupun Hadist tentang menuntut ilmu.

Nabi shallallahu alaihi wasallam pun diutus Allah untuk memperbaiki kehidupan manusia melalui ilmu dan pengetahuan. Beliau menunjukkan bahwa orang-orang yang berilmu serta beriman kepada Allah dapat membentuk akhlak yang baik, sehingga bisa mengasihi serta menyayangi alam semesta ini.

Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, mungkin Grameds sering menjumpai orang yang memanfaatkan ilmunya untuk sesuatu yang tidak baik. Mereka adalah golongan manusia dengan akhlak buruk yang dapat merugikan manusia dan makhluk hidup lain di sekitarnya.

Fenomena seperti ini dapat muncul karena adanya ketidakseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu agama (akhlak). Seperti yang diungkapkan Abu Zakariya An Anbari rahimahullah:

علم بلا أدب كنار بلا حطب، و أدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi hal. 10)

Manusia yang memiliki pengetahuan luas tapi tidak disertai dengan ilmu agama sama sekali, cenderung melakukan tindakan yang merusak bumi dan sesama manusia. Itulah mengapa, Ilmu agama, adab dan akhlak yang baik harus diajarkan sedari kecil.

Hadist Tentang Menuntut Ilmu

hadist tentang menuntut ilmu

Sumber: Unsplash

Menuntut ilmu sebenarnya merupakan usaha seseorang untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi sebab salah satu tujuan dasarnya adalah menunjukkan jalan kebenaran supaya manusia terhindar dari kebodohan.

Agama Islam memberikan perintah menuntut ilmu kepada laki-laki dan perempuan, tidak ada perbedaan diantara keduanya karena menuntut ilmu memiliki nilai ibadah. Seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW:

لِاَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ اٰيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ

“Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (maupun petang) kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu tahun”.

Dalam hadist lain, Nabi bersabda:

مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَتّٰى يَرْجِعَ. (رواه الترمذى)

“Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali.” (HR. Tirmidzi).

Kedua hadist di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu memiliki kedudukan yang tinggi jika dilihat dari segi ibadah. Sebab, biar bagaimanapun, ibadah yang tidak didasari dengan ilmu akan menjadi sia-sia. Syaikh Ibnu Ruslan pun menyatakan:

.وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ اَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ

“Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadah) tanpa dilandasi ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.

Seperti yang dijelaskan dalam buku Ilmu Hadits karangan Munzier Suparta. Dalam buku ini kamu akan menemukan penjelasan tentang berbagai hadits yang dapat dijadikan acuan.

https://www.gramedia.com/products/ilmu-hadits?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Keutamaan Menuntut Ilmu Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Begitu pentingnya ilmu bagi manusia, sehingga Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW pun menyebutkan beberapa keutamaan ilmu dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya:

Ilmu Sebagai Tanda Kebaikan Allah SWT

Allah memberi kemudahan kepada manusia untuk memahami serta mempelajari ilmu agar manusia paham bahwa Dia telah menghendaki kebaikan bagi dirinya dan membimbingnya pada hal-hal yang Dia ridhai.

Dengan ilmu, kehidupan seseorang akan menjadi lebih berarti, masa depannya lebih cerah, dan dia pun bisa meraih kenikmatan yang tidak pernah dirasakan di dunia. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang agamanya.” (Muttafaq Alaihi dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu anhuma)

Pada kesempatan lainnya, Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عز وجل خَلَقَ خَلْقَهُ في ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عليهم من نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ من ذلك النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ

“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.” (HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no:2642, Ibnu Hibban (6169),Al-Hakim dalam mustadrak (1/84), dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash. Disahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3/1076).

Ilmu Sebagai Penyelamat dari Laknat Allah SWT

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذِكْرُ اللَّهِ وما وَالَاهُ وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّم

“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau yang belajar.” (HR.Tirmidzi (2322), Ibnu Majah (4112), dihasankan Al-Albani dalam sahih al-jami’,no(1609))

Ilmu Adalah Jalan Menuju Surga

Disebutkan dari hadist Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dalam sahih Muslim, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim:2699)

Hadist ini menjelaskan bahwa ketika seorang manusia keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka ia akan menjadi alasan dia masuk ke dalam surga. Dengan catatan, kamu harus mempelajari ilmu dengan penuh keikhlasan.

Dengan begitu, kamu akan lebih mudah untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang halal dan yang haram; mana yang haq dan mana yang batil; dan kamu akan terdorong untuk mengamalkan ilmu yang telah kamu pelajari. Hal inilah yang menjadikan seorang manusia menjadi seorang hamba yang diridhai Allah SWT karena telah mengikuti bimbingan Rasul-Nya dan surga merupakan balasan dari Allah bagi hamba yang diridhai-Nya.

Ilmu Lebih Utama Dari Ibadah

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

فضل العلم أحب إلي من فضل العبادة و خير دينكم الورع

“Keutamaan ilmu lebih aku sukai dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah bersikap wara’.” (HR.Al-Hakim, Al-Bazzar, At-Thayalisi, dari Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu Anhu. Disahihkan Al-Albani dalam sahih al-jami’:4214)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda:

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” (HR.Abu Dawud (3641), Ibnu Majah (223), dari hadits Abu Darda’ Radhiallahu Anhu).

Inti dari kedua hadist ini adalah ilmu lebih utama dibandingkan dengan ibadah lainnya, seperti puasa sunnah, shalat sunnah, maupun dan sebagainya. Selain itu, ilmu juga menjadi bagian dari ibadah yang paling mulia.

Dalam buku Yuk, Belajar Hadits karangan Dian K. & Aan Wulandari, Grameds bisa membaca 30 kisah yang berisi pelajaran dari hadits-hadits nabi yang lainnya.

https://www.gramedia.com/products/yuk-belajar-hadits?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Kedudukan Orang-Orang yang Menuntut Ilmu

Jika dibandingkan, kedudukan orang-orang yang berilmu sangat jauh dengan orang yang tidak berilmu, baik dari segi nilai atau derajatnya. Seperti firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar dan Al-Mujadalah:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ. (الزمر:۹)

Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar/39: 9)

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ. (المجادلة: ۱۱)

Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujãdalah/58: 11)

Kedua ayat di atas menerangkan tingginya derajat dan nilai orang yang berilmu. Dengan berbekal ilmu, manusia akan bisa mendapatkan semua kebaikan dan kedudukan yang mulia. Meskipun ada kemungkinan suatu hari pandangan manusia pada ilmu atau pemilik ilmu “kabur” atau bergeser karena satu dan lain hal. Akan tetapi, ketika muncul bahaya yang sangat hebat, manusia akan kembali belajar dan mencari tahu untuk mengatasinya.

Tak hanya itu, Rasulullah juga menjelaskan lebih jauh tentang kedudukan orang yang berilmu:

وعن أِبي أِمامة رِضى اِلله عِنو أِن رِسول اِلله صِلى اِلله عِليو وِسلم قِالَ فَِِِضِْلُِ اِلِْعَِالَِِِ عَِِلَِىِ الِْعَِابِِدِِكَِِِفَِضِْلِِى عِلَِى أَِِدِْنَِاكُِمِْ ثُِ قَِِالَِ رَِِسُِولُِ اِللهِِ إِ نِ اِللهَِ وَِِمَِلَِ كَِِِِتَِوُِ وَِِأَِىِْل اِل سِمَِاوَِاتِِ وَِِالْاَِرِْضَِِ حَِتَِّّ اِلنِّمِْلَِةَِ فِِِِ حِِِجِْرِِىَِا وَِِ حَِِ تِّ اِلُِوِْتِِ لِيُِصَِلِّوِْنَِ عَِِلَِى مُِِعَِلِّمِِى اِلن اسِِ اِلَِْيْ رَِِِ (رواه اِلترمذى)

dari Abi Amamah ra. Bahwa Rasulullah saw. Bersabda keutamaan orang yang berilmu atas orang yang beribadah bagaikan keutamaan diriku atas kalian semua, kemudian Rasulullah saw. Bersabda “sesungguhnya Allah dan para malaikatnya serta seluruh penghuni langit dan bumi sampai semut diliangnya dan ikan-ikan sungguh bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia” (H.R.. Turmudzi)

Pahala Orang Berilmu Tidak Akan Pernah Terputus

Begitu pentingnya ilmu bagi manusia hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam pun menyebutnya sebagai pahala yang tidak akan pernah terputus meskipun telah meninggal:

إِذَا مَاتَ اِبنُِ اَِدَمَِ اِنْ قَطَعَ عَِنْوُ عَِمَلُوُ إِِ لا مِِنْ ثَِلََثَةٍ :ِ إِِ لا مِِنْ صَِدَقَةٍ اََِرِيَةٍ، أَِوْ عِِلْمٍ يِ نُْتَ فَعُ بِِوِ، أَِوْ وَِلَدٍ صَِالِحٍ يَِدْعُو لَِوُِ (رواه اِلترمذى)

“Apabila anak adam telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan“ (H.R. at-Turmudzi).

Semua hadist yang telah disebutkan di atas menerangkan dengan jelas keutamaan ilmu bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Terutama ilmu yang memberikan manfaat bagi manusia lainnya.

Syarat yang Harus Dipenuhi Untuk Menuntut Ilmu

hadist tentang menuntut ilmu

Sumber: Unsplash

Menurut Imam Al-Zarnuji, sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib menyebutkan bahwa syarat untuk menuntut ilmu ada 6, yaitu:

Cerdas

Syarat paling awal yang harus kamu penuhi untuk menuntut ilmu adalah memiliki kecerdasan. Sebab, seperti yang dikatakan oleh Imam Ghazali, orang yang pintar itu tahu bahwa dirinya tidak tahu mengenai sesuatu dan karena itulah dia mempelajarinya.

Dalam hal ini, cerdas yang dimaksud bukan tingkat kepintaran seseorang, tetapi lebih tepatnya tidak gila. Artinya, kamu harus waras dan sadar. Bisa membedakan hitam dengan putih, angka satu dan dua.

Rakus (Hirsun)

Rakus memang identik dengan sifat buruk, tetapi dalam menuntut ilmu rakus juga diperlukan. Untuk sesuatu yang positif, rakus bisa juga diartikan sebagai kemauan serta semangat yang kuat.

Dengan kata lain, rakus menuntut ilmu sama dengan tidak pantang menyerah walaupun harus menjumpai berbagai kesulitan serta penderitaan selama proses belajar atau mencari ilmu. Lebih dari itu, sepanjang hidupnya dia juga tidak akan berhenti mencari ilmu yang baru.

Sabar

Selain pantang menyerah saat menemui berbagai rintangan, seseorang yang menuntut ilmu juga harus bersabar melewati setiap prosesnya. Sabar di sini juga bisa diartikan sebagai tabah dalam menghadapi cobaan atau menerima jika ada hal-hal yang tidak mengenakan.

Oleh karena itu, Grameds harus selalu menyerahkan diri kepada Allah SWT. Dengan catatan, kamu juga perlu memberikan usaha terbaik untuk memperbaiki keadaan sulit yang sedang dihadapi.

Modal/bekal

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim mulai dari lahir sampai hari terakhirnya di dunia. Ilmu di sini tidak hanya didapatkan dari pendidikan formal, tetapi juga pendidikan non formal.

Sayangnya, untuk mendapatkan ilmu juga dibutuhkan modal atau bekal yang tidak sedikit. Baik dalam bentuk uang, tenaga, waktu, maupun pikiran. Makanya, beberapa orang yang kurang berada memutuskan untuk berhenti sekolah dengan alasan biaya.

Namun, hal itu hanya sebagian kecilnya saja, sebab mayoritas masyarakat yang kurang mampu justru akan berusaha sekuat tenaga untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Dengan semua kekurangannya, mereka tetap mampu menyelesaikan pendidikan.

Hal ini membuktikan bahwa Allah pasti akan mencukupkan rezeki setiap orang yang sedang menuntut ilmu, seperti yang pernah dijanjikan oleh Rasulullah SAW. Di sisi lain, ini juga menunjukkan kekuatan keyakinan itu nyata.

Dengan demikian, seberat apapun kondisimu saat ini, teruslah berusaha dan yakin pada kekuasaan serta pertolongan Allah SWT, dan terus mencari jalan lain yang bisa kamu gunakan untuk menuntut ilmu.

Petunjuk Guru

Tidak sedikit orang yang tersesat saat menuntut ilmu karena tidak mendapatkan petunjuk dari seorang guru. Di era teknologi seperti sekarang, kamu memang bisa belajar banyak hal seorang diri karena sumber ilmu ada di mana-mana. Namun, pastikan kamu punya seorang guru yang bisa memberi nasihat dan tuntunan.

Waktu yang Panjang

Karena ilmu sendiri amat sangat luas atau bahkan tidak ada akhirnya, maka tentu butuh waktu panjang untuk mempelajarinya, seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat”. Misalnya, jika kamu ingin menjadi dosen, maka kamu harus lulus dari SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi terlebih dulu yang kurang lebih membutuhkan waktu sampai 16 tahun.

Kewajiban Mengamalkan Ilmu

Sebaik-baiknya ilmu adalah yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Jadi, selain wajib menuntut ilmu, kamu juga wajib membagikannya kepada orang-orang di sekitarmu. Jadilah pembimbing bagi mereka yang sedang menuntut ilmu.

Dengan melakukan hal tersebut kamu dapat menjadi contoh dan tauladan bagi mereka. Siapa tahu, orang yang kamu bimbing akan mengikuti jejakmu. Nabi Muhammad SAW memberikan ancaman kepada umatnya yang tidak menyebarkan ilmunya dalam sebuah hadist:

مَِنِْ عَِِلِِمَِ عِِِلِْمًِا فَِِكَِتمَِوُِ أَِِلَِْْمَِوُِ اِللهَِ يِ وَِِْمَِ اِلِْقِِياَِمَِةِِ بَِِلجَِامِِ مِِِنِْ نَِِارٍِ (رواه اِبو دِاوود,الترمذي ,ِابنِ ما وَ,ابن حِبان وِحاكم)

“Barangsiapa mengetahui sebuah informasi (ilmu) dan menyimpannya (tidak mengamalkan), Maka Allah akan mengikatnya dengan ikatan api neraka”. (H.R Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban dan hakim)

Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmu juga tidak akan memiliki apapun selain gambaran dari ilmu itu sendiri serta tidak ada makna dan hakikat di dalamnya. Pada hakikatnya, ilmu memang harus disebarkan agar tidak hilang.

Jika Grameds tidak percaya, coba tuliskan apa yang telah kamu pelajari dalam blog atau media sosial. Tidak perlu memikirkan berapa banyak orang yang akan membacanya, tulis saja apa yang kamu dapatkan selama belajar. Dengan cara ini, kamu lebih mudah mengingat setiap ilmu yang kamu dapatkan.

Sebaliknya, jika kamu tidak melakukan apapun setelah mendapatkan ilmu, lambat laun dia akan hilang dan menyisakan sedikit gambaran sebagai bukti bahwa kamu memang pernah mempelajari ilmu tersebut.

Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah juz 2, ayat 44:

اَتَأْ مُِرُوْنَ اِلن اسَ بِِاالْبِ وَِتَ نْسَوْنَ أَِنْ فُسَكُم وَِاَنْ تُمْ تِتْ لُوِْنَ اِكِتَابَ أَِفَلََ تَِ عْقِلُوْن (سورة اِلبقره)

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berfikir” (Q.S. Al-baqoroh , 2 )

Dalam ayat ini sangat jelas perintah Allah tentang mengamalkan ilmu. Orang berilmu yang mengajarkan orang lain tanpa melakukan apa yang diajarkannya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Apalagi jika tidak menyebarkan dan tidak mengamalkan ilmunya.

Seperti yang diuraikan oleh Syaikh DR. Mahmud Ath-Thahhan dalam bukunya yang berjudul Mustahalahul Hadits: Panduan Lengkap & Praktis Belajar Dasar-Dasar Ilmu Hadits.

https://www.gramedia.com/products/mustahalahul-hadits-panduan-lengkappraktis-belajar-dasar-ha?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Setelah kamu membaca penjelasan hadist tentang menuntut ilmu di atas, paling tidak kamu dapat memahami mengapa belajar itu sangat penting. Semoga semangat belajar Grameds tidak pernah surut sampai kapanpun, ya!

Ingin mencari buku tentang Islam? Nggak usah bingung, kamu bisa berbagai macam buku tentang Islam di Gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Gilang

Baca juga:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien