in

Contoh Puisi Untuk Ayah Dan Cara Membuatnya

Puisi Untuk Ayah – Apakah Grameds menyukai puisi? Tepat sekali, puisi adalah salah satu bentuk syair atau kata-kata indah yang bisa menunjukan kasih sayang untuk orang yang terkasih. Salah satunya puisi untuk ayah yang cocok Grameds berikan saat hari ayah atau menunjukkan cinta dan kasih kepada sang ayah kapan saja. Selain indah puisi juga memiliki manfaat dan fungsi bagi emosi dan ekspresi seseorang.

Jika Grameds ingin mencoba berekspresi dengan puisi, maka bisa simak penjelasan tentang puisi untuk ayah berikut ini, mulai dari mengenal apa itu puisi, contoh puisi untuk ayah dan puisi-puisi karya sastrawan Indonesia tentang ayah:

Mengenal Puisi

Mengenal Puisi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah jenis sastra yang bahasanya dibatasi oleh irama, mantra, pantun, dan susunan baris dan klausa. Puisi biasanya berisi ungkapan perasaan, pengalaman, dan kesan penulisnya, yang ditulis dengan bahasa yang baik agar berima dan mudah dibaca.

Beberapa  ahli di bidang sastra  menjelaskan pentingnya puisi. Salah satunya adalah H.B.Jassin yang mengungkapkan bahwa puisi adalah  karya sastra yang diucapkan secara emosional dan mengandung gagasan, pemikiran, dan reaksi terhadap  hal atau peristiwa tertentu.

Smaldi juga menyatakan bahwa puisi adalah  karya sastra yang menggunakan bahasa yang diringkas, dirangkum, dan diberi irama nada sehingga  memiliki makna kiasan atau imajinatif. James Reeves juga memperkenalkan pentingnya puisi. Menurut James, puisi adalah ekspresi linguistik yang  kaya dan menarik.

Selain Smaldi, HB Jassin, dan James Reeves, pakar sastra lainnya, Harman Waryo, mengatakan bahwa puisi adalah  karya sastra yang secara imajinatif mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair, bahasa dalam struktur fisik, mengklaim terstruktur tergantung pada kekuatan di dalam strukturnya.

Dari pandangan ahli dan KBBI, dapat simpulkan bahwa puisi adalah karya sastra yang berisi tentang reaksi dan pendapat penyair tentang berbagai hal. Ide-ide penyair  kemudian diungkapkan dalam bahasa yang halus, dengan  struktur internal dan fisik khas penyair.

Pikiran penyair ditulis dalam berbagai kata-kata indah untuk memikat  pembaca. Pada dasarnya, karya puisi ini memiliki nilai estetika tersendiri yang berbeda-beda dari setiap penyairnya. Jadi penyair biasanya memiliki karakteristik karya atau caranya sendiri dalam menulis karya puisi, mulai darinya bahasa, tema, sudut pandang, dan sebagainya.

Saat menulis puisi, kita perlu merumuskan ide, judul, dan sebagainya. Ada dua jenis  puisi umum, yakni puisi kuno dan puisi modern. Jenis puisi kuno berupa Pantun, Puisi, Tulliven, Mantra, Gurindam. Jenis puisi modern muncul dalam bentuk puisi naratif, puisi liris, dan puisi deskriptif. Dalam praktiknya, puisi modern ini biasa disebut dengan istilah sajak bebas karena bentuk atau strukturnya yang tidak terikat dengan rima atau jumlah baris layaknya pantun.

Puisi kuno, atau mantra, adalah jenis puisi yang dibuat berdasarkan kepercayaan animisme, biasanya dikutip dalam  ritual budaya dan menggunakan kata-kata yang dapat membangkitkan efek suara magis. Pantun adalah jenis puisi kuno, dengan setiap baris terdiri dari empat baris, dua baris sampiran, dan dua baris isi.  Konsep dasarnya, pantun terdiri dari 4 baris atau lebih sampiran dan isinya dan selalu datar, yakni dua baris adalah sampiran dan dua baris isi.

Puisi memiliki rangkaian empat syair dan sajak, yang isinya menceritakan sebuah kisah. Gurindam adalah jenis puisi kuno yang terdiri dari dua baris dengan ritme yang  sama, dengan isi di baris pertama dan penyebabnya di baris kedua.

Efeknya disertakan dari puisi modern, atau puisi naratif, adalah puisi yang digunakan untuk menceritakan sebuah kisah yang dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni epik, roman, dan balada. Jenis  puisi modern yang kedua adalah puisi liris yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran penyair, dan jenis puisi modern yang terakhir  adalah puisi deskriptif, yaitu puisi yang mengungkapkan pendapat dan kesan penyair.

Contoh Puisi Untuk Ayah

contoh puisi untuk ayah

Setelah mengetahui tentang puisi di atas, Grameds juga bisa menggunakan referensi contoh puisi untuk ayah berikut ini:

1. Teladan Jiwaku

Ayah

Kamu yang terbaik

Seseorang yang selalu berbicara tentang apa adanya

Salah Ya Salah

Keterbukaanmu lebih dari sekedar ayah

Aku lahir dari tulang rusukmu

gramedia digital

gramedia digital

Berlangganan Gramedia Digital

Baca SEMUA koleksi buku, novel terbaru, majalah dan koran yang ada di Gramedia Digital SEPUASNYA. Konten dapat diakses melalui 2 perangkat yang berbeda.

Rp. 89.000 / Bulan

gramedia digital

Aku bertumbuh sekarang Belajar Dari sikapmu

Dan ketegasan dirimu

Bekas lukanya terlihat seperti ini

Disiplin dari waktu ke waktu

Tolong beritahu aku

Betapa pentingnya waktu

Penting juga untuk menghukum yang salah

Terlepas darimu aku belajar menjadi ayah yang mandiri

Dengan selalu mengingat semua nasehat yang kamu berikan

Terlahir dengan kejahatan dari lubuk hatiku

Maaf ayah, aku tahu rasanya menjadi pria dewasa yang harus bekerja untuk masa depan

Bertemulah besok

Jangan tersesat

2. Rindu Hujan

Setetes demi setetes Air surgawi membasuh wajahku. Tanah basah dan kering. Biji-bijian pecah ketika menyentuh tanah. Setiap tetes mengandung kerinduan yang tersembunyi. Aku tidak bisa menghentikan kerinduanku untuk menjadi lebih buruk dan lebih buruk. Aku ingin menuangkannya segera, atau katakan saja. Mataku melayang ke masa laluku.  Dimana aku melompat ke punggungmu yang kuat tanpa ragu-ragu. Di mana meminta mainan dengan suara keras

Atau hanya merengek untuk membeli permen lolipop. Senyum dalam fantasi. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana bentuk garis tegas rahangmu yang menjadikan engkau semakin tampan.  Masih pula ku rekam suara tegas namun penuh kasih.  Begitu pula dengan kekarnya tanganmu yang lincah menggendongku atau sekedar menaikkan ku pada kursi tinggi.  Aku mengingat kembali kecup bibirmu di pipiku.  Terasa hangat hingga hatiku bergetar.

Aku selalu tertawa ketika kumis tipis menghiasi hidungmu

Dan mulutmu menyentuh pipiku.  Membuat aku tertawa. Aku ingat membelai tanganku di antara rambutku

Bawa aku ke alam mimpi. aku juga ingat pelukan hangatmu memeluk semua kesedihanku. Ketika saya jatuh, saya melihat sinar kekhawatiran di mata saya. Dengan lembut Anda mengucapkan kata-kata yang membuat saya lebih kuat. Kamu mengirim pesan melalui semua kata. Kamu bilang aku tidak bisa menjadi  cengeng. Kau bilang aku harus menjadi anak yang kuat. Ini semua membuatku lebih kuat, bahkan jika kamu terlihat liar.

Ayah …

Aku memiliki kerinduan untuk ribuan tetes hujan. Jangan khawatir, aku baik-baik saja di sini. Kamu tidak perlu khawatir, aku selalu di sini dan tertawa. Ayah, aku mempercayaimu dengan kerinduan untuk hujan yang bermanfaat ini.

Hubungi ayah kalian segera  untuk  berbagi cerita atau berita. Setidaknya dapat mendengar suaranya, bahkan jika kamu jauh darinya. Rekam tawamu.

Aku tahu ketika kita berbicara di telepon

Matamu bersinar dan senyummu selalu bersinar. Karena aku sama.

Ayah … Rindu ini diantara derasnya hujan.  Semoga tetesnya menyampaikan padamu.

Ayah…

Sayangku sebanyak tetes hujan ini.  Tak terhitung.

Ayah…

Aku sayang ayah.

3. Ayah Tinggal Di Sini, Di Hatiku

Sudah lama ayahku meninggalkanku

Aku merasa kamu masih  disini

Ini mimpi karena kamu selalu dalam tidurku

Tahukah kamu bahwa mimpi-mimpi ini selalu mengingatkanku ketika kamu masih di sini?

Bawa aku bersamamu setiap hari

Aku ingat saat engkau mengusap kepalaku

Saya ingat ketika engkau memukulku ketika aku sedang bercanda

Tolong beritahu saya jika apa yang saya lakukan  salah

Berikan saran untuk membantuku menjadi anak yang baik

Selalu memberikan apa yang aku minta

Sekarang semuanya tinggal kenangan, kenangan terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku.

Tapi percayalah, hatimu selalu di hatiku

Kau jauh dari alam makmur ini, tapi hatimu  ada di hati orang-orang yang mencintaimu ayah

4. Dimanakah Cinta?

Ayah

Tolong dengarkan satu kata dari hatiku

Dengarkan tangisan hatiku

Dengarkan laguku

Apa yang aku ciptakan untukmu

Ayah

Aku merindukanmu

Aku merindukan keberadaanmu

Aku merindukan cintamu

Aku rindu pelukanmu yang menghangatkan kesedihanku

Ayah

Sekarang kamu jauh dariku

Dimana kamu jatuh cinta

Apa yang saya rasakan

Apakah saya tidak berguna

Ayah

Temani jiwaku yang kesepian

Tuhan mendekat untuk menguatkan semangatku sampai akhir

Aku memberimu diri yang lemah ini

Hati-hati, menjadilah lebih kuat

Contoh Puisi Untuk Ayah Karya Sastrawan Indonesia

Contoh Puisi Untuk Ayah Karya Sastrawan Indonesia

Selain contoh puisi untuk ayah diatas, Grameds bisa menggunakan referensi puisi tentang ayah karya sastrawan-sastrawan Indonesia yang terkenal seperti berikut ini:

BACA JUGA: 7 Sastrawan Puisi Terkenal Asal Nusantara

1. Seorang Ayah Yang Bijak ( Karya Edijushanan)

Seorang ayah yang bijak

mendongeng untuk anak-anaknya

mengantar tidur malam: Adalah

suami-istri yang miskin, hidup

dengan kemiskinannya.

Setiap hari yang suami pergi

ke sungai mencari ikan, dan

yang istri pergi ke hutan

mencari kayu bakar. Sore harinya

yang suami pulang dengan membawa

ikan banyak. Di tengah jalan, di

sebuah kampung, ikannya yang besar-

besar dijualnya. Lalu dibelikan

setengah liter beras.

Yang istri pulang dari hutan

dengan membawa seikat besar dan

seikat kecil kayu bakar; yang

ikatan besar dijualnya di warung kopi.

Lalu dibelikan setengah liter beras.

Dalam mengakhiri dongengnya sang ayah

bertanya kepada anak-anaknya: “Tahukah

kalian apa makna cerita itu?” Tidak ada

jawaban; anak-anaknya sudah tidur semua.

Pertanyaan itu kembali berputar di benak

sang ayah: itukah hidup?

Ah untunglah anak-anak sudah tidur

semua. Mereka tak memikirkan pertanyaan itu,

pikirnya. Lalu ia mengepulkan asap rokok kawung;

bergulung-gulung melingkar-lingkar. Ia tersenyum,

seperti menemukan yang semua: hidup itu lingkaran?

Sumber: Horison (Desember, 1976)

2. Di Kuburan Ayah ( Karya Slamet Sukirnanto)

Berteduh pohon kamboja berkembang

Tinggalmu yang kekal

Tak kenal lagi senyummu

Memikat hatiku

Ketika masih kanak.

Bukan segunduk tanah

Kupuja. Kerna diharamkan agama

Adalah hidupmu

Mengenang di kalbu!

(1963)

3. Buat H.J. dan P.G (Karya Goenawan Mohamad)

Seperti sebuah makam yang tenang:

dua leli paskah

disematkan

pada mawar hitam.

Seperti kelebat jam yang datang:

kupu-kupu putih

melenyapkan putih

ke loteng lengang.

Seperti sebuah bel yang riang,

kabar itu datang ke ruang

telah kuketok kawat,

“Bapak, saya agak tiba terlambat.”

Maka aku berbisik hati-hati

kepada malaikat yang tiba pagi,

“Hari ini aku

belum ingin mati.”

“Sebab anakku

akan terbang kemari

dari rumahnya yang jauh

di sebuah negeri yang teduh.”

Lalu kutunjukkan potretmu: 1985

ketika kau senyum

pada stang sepeda

di depan rumpun asalea.

Dan malaikat itu tertawa.

Adakah yang lebih sakral, anakku,

pada potret-potret lama

kecuali tempat yang kita kenal

saat-saat yang tak pernah baka?

(1990)

4. Tuhan dan Ayahku (Karya Nersalya Renata)

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.

ia selalu mencari tuhan-tuhan lain.

tuhan yang bisa mengabulkan permohonannya

dalam semalam. tuhan yang tak perlu dirayu

dengan doa-doa.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.

ia terus mencari. tuhan yang bisa menjaganya

dan memakmurkannya dalam sekejap.

tuhan yang melindunginya dari segala niat buruk

orang-orang berhati buruk.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.

ia menemukan tuhan yang lain. tuhan yang bisa

disematkan di jari manisnya. tuhan yang ditanam

di pojok-pojok rumah. tuhan yang dapat dilarutkan

dalam minuman dan dicampur dalam makanan

untuk mengarahkan hati dan pikiran

sesuai keinginannya.

tuhan yang bisa menumbuhkan pohon uang.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku. ia bosan

berdoa. perjalanan doa menjadi nyata terlalu lama.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.

ia menemukan tuhan yang lain.

seluruh keinginannya terwujud

dalam waktu singkat. aman. makmur. tanpa pesaing.

tanpa pengacau. tak ada yang membangkang.

semua jalan lancar. tak ada jalan buntu.

tak ada kemacetan. kharismanya berkilau.

senyumnya semakin lebar. ia tidur sangat nyenyak.

tanpa doa. tuhan yang baru tak perlu doa.

tak perlu ia jenguk lima kali sehari.

ia mimpi begitu indah.

mimpi menyembunyikan ibu di balik pohon.

lalu ia terbang bersama bidadari.

Jakarta, 2008

5. Ayah Dan Burung-burung (Karya Radial Tanjung Banua)

Aku terbayang ayah yang melangkah di pematang

sawah kenangan. Sesekali langkahnya tertegun

ngungun bersama embun. Kadang ayah

bagai orang-orangan dari jerami

di tengah menguning padi. Kusentakkan tali rindu

di antara kami. Maka tersintaklah ayah

bersama riuh burung-burung yang berlepasan

tak kembali lagi.

Yogyakarta, 2011

6. Setiap Ayah (Karya Alex R. Nainggolan)

di tubuh setiap ayah

akan ada jalan pulang

rumah yang bagai selimut

dari kepala yang kusut

telah ku gali-gali

tangis yang kecut

dan terduduk di sudut

segala sesal yang sampai sekarang

hanya tertunduk

maka aku ingat ayah

setiap percakapan

yang abai kutafsirkan

lalu ayah mengerubung

di setiap hari

bahkan bertahun setelah dirinya pergi

di mata setiap ayah

selalu ada kegembiraan

meski hanya sebentar

bertemu

atau percakapan yang biasa saja

dengan anaknya

(2016)

7. Asu (Karya Joko Pinurbo)

Di jalan kecil menuju kuburan Ayah di atas bukit

saya berpapasan dengan anjing besar

yang melaju dari arah yang saya tuju.

Matanya merah. Tatapannya yang kidal

membuat saya mundur beberapa jengkal.

Gawat. Sebulan terakhir ini sudah banyak orang

menjadi korban gigit anjing gila.

Mereka diserang demam berkepanjangan

bahkan ada yang sampai kesurupan.

Di saat yang membahayakan itu saya teringat Ayah.

Dulu saya sering menemani Ayah menulis.

Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul

mesin ketiknya dan mengumpat, “Asu!”

Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran,

Ayah tersenyum senang dan berseru, “Asu!”

Saat bertemu temannya di jalan,

Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar asu.

Pernah saya bertanya, “Asu itu apa, Yah?”

“Asu itu anjing yang baik hati,” jawab Ayah.

Kemudian ganti saya ditanya,

“Coba, menurut kamu, asu itu apa?”

“Asu itu anjing yang suka minum susu,” jawab saya.

Sementara saya melangkah mundur,

anjing itu maju terus dengan nyalang.

Demi Ayah, saya ucapkan salam, “Selamat sore, asu.”

Ia kaget. Saya ulangi salam saya, “Selamat sore, su!”

Anjing itu pun minggir, menyilakan saya lanjut jalan.

Dari belakang sana terdengar teriakan,

“Tolong, tolong! Anjing, anjing!”

(2011)

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Buku & Quotes Yang Lainnya

1. Buku 2. Quotes dan Kata Bijak Lainnya

Nah, itulah penjelasan tentang puisi untuk ayah. Jika Grameds membutuhkan referensi lebih banyak tentang puisi, maka bisa kunjungi koleksi buku Gramedia di www.gramedia.com, seperti berikut ini: selamat belajar. #SahabatTanpabatas.

Ibu Nusantara, Ayah Semesta - Finalis Puisi Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012
Ibu Nusantara, Ayah Semesta – Finalis Puisi Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012

tombol beli buku

Cinta untuk ayah, bapak, papi, papa
Cinta untuk ayah, bapak, papi, papa

tombol beli buku

Terima Kasih Bapak
Terima Kasih Bapak

tombol beli buku

 

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Wida Kurniasih