in

23 Karya Puisi Chairil Anwar yang Begitu Populer Penuh Akan Makna

Sumber: Kompas.com

Contoh puisi Chairil Anwar – Nama Chairil Anwar mungkin sudah tak asing bagi kita. Chairil Anwar sendiri adalah seorang penyair legenda di Indonesia. Ia bahkan sudah melahirkan sebanyak 96 karya dan 70 puisi. Setiap karya yang dihasilkan oleh Chairil Anwar selalu penuh akan makna.
Salah satu karya Chairil Anwar yang begitu fenomenal adalah puisi dengan judul “Aku” yang di dalamnya terdapat suatu kalimat “Aku ini binatang jalang”. Bahkan dari karya tersebut menjadikan Chairil Anwar mendapatkan julukan “Si Binatang Jalang” dari pada temannya.

Biografi Singkat Chairil Anwar

Chairil Anwar adalah seorang penyair Angkatan ’45 yang lebih banyak dikenal dengan karya puisi yang berjudul “Aku”. Seperti yang dijelaskan jika adanya puisi tersebut menjadikan Chairil Anwar mendapatkan julukan ‘Si Binatang Jalang’.

Chairil Anwar banyak menghasilkan karya puisi dengan berbagai macam tema. Mulai dari puisi dengan tema kematian, individualisme hingga puisi dengan tema ekstesialisme sudah dihasilkan oleh Chairil Anwar.

Semua karya dari Chairil Anwar sudah dikompilasikan dalam bentuk tiga buku. Di mana ketiga buku tersebut adalah Deru Campur Debu yang rilis pada tahun 1949. Lalu ada buku dengan judul Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus yang dirilis pada tahun 1949 dan buku dengan judul Tiga Menguak Takdir yang merupakan kumpulan puisi bersama Asrul Sani dan Rivai Apin yang dirilis pada tahun 1950. Perlu diketahui juga jika buku tersebut juga sudah diterjemahkan dalam bentuk bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol.

Anwar adalah seorang penyair yang lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 2006. Ia adalah putra dari mantan Bupati Indragiri Riau. Selain itu, Chairil Anwar juga masih memiliki keluarga Sutan Syahrir. Yang mana Sutan Syahrir adalah seorang Perdana Menteri pertama di Indonesia.

Chairil Anwar mengenyam Pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang selanjutnya di MULO namun tak sampai tamat. Meski memiliki latar belakang Pendidikan yang cukup terbatas, namun Chairil Anwar memiliki kemampuan untuk menguasai tiga Bahasa sekaligus yaitu Bahasa Inggris, Belanda dan Bahasa Jerman.

Awal mula Chairil Anwar mengenal dunia sastra adalah ketika ia memasuki usia 19 tahun. Akan tetapi, meski dirinya memiliki banyak karya yang sudah dibuat, tetapi nama Chairil Anwar mulai dikenal adalah ketika tulisannya dimuat pada Majalah Nisan di tahun 1942.

Seiring berjalannya waktu, Chairil Anwar menciptakan berbagai macam karya yang sampai saat ini masih terus dikenal. Misalnya seperti karya puisi dengan judul “Aku” dan “Krawang Bekasi”.
Bisa dibilang jika Wanita adalah dunia kedua bagi Chairil Anwar dan sastra tetap menjadi yang pertama bagi dirinya. Dalam kehidupannya, nenek merupakan orang terdekat dalam kehidupan Chairil Anwar.

Dalam perjalanan hidupnya, Chairil Anwar memang pernah menjalin hubungan dengan banyak Wanita. Namun hanya nama Hapsah yang pernah dinikahi oleh Chairil Anwar meskipun hubungan rumah tangga mereka tak berlangsung dalam waktu lama.

Perceraian dalam hubungan rumah tangga sang penyair puisi “Aku” tak lain karena gaya hidup dari Chairil Anwar yang tak berubah. Bahkan, ketika Chairil Anwar sudah memiliki istri dan seorang anak. Pernikahan Chairil Anwar dan Hapsah dikaruniai seorang putri Bernama Evawani Chairil Anwar yang saat ini memilih profesi sebagai seorang notaris.

Chairil Anwar meninggal dunia memasuki usia yang belum genap 27 tahun. Meski ada beberapa versi yang menyebabkan kematiannya. Namun penyakit TBC yang paling pasti menyebabkan Chairil Anwar meninggal dunia.

Meski kehidupan Chairil Anwar terbilang cukup singkat, tetapi karya dari Chairil Anwar bisa terus melekat bagi dunia sastra Indonesia. Karya Chairil Anwar sudah diterjemahkan dalam Bahasa asing seperti terjemahan dalam Bahasa Inggris, Jerman, dan Spanyol.

Perlu diketahui juga jika sebagai bentuk penghormatan dibangunlah patung dada Chairil Anwar di Kawasan Jakarta dan hari dimana dirinya meninggal dunia diperingati sebagai Hari Chairil Anwar oleh para pengagumnya.

Beberapa Karya Puisi Karya Chairil Anwar

Setelah mempelajari tentang biografi singkat dari Chairil Anwar. Berikutnya kita akan belajar tentang apa saja karya sastra puisi yang pernah dibuat oleh Chairil Anwar. Ada banyak sekali karya puisi yang dihasilkan olehnya seperti puisi dengan judul “Aku”.

Berikut ini adalah beberapa contoh puisi Chairil Anwar yang begitu popular.

1. Aku

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

https://www.gramedia.com/products/aku-cover-baru-2019?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/aku-cover-baru-2019?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

2. Sendiri

Sendiri

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

3. Sia-sia

Sia-Sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawaku karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

4. Krawang-Bekasi

Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.

5. Penghidupan

Penghidupan

Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.

6. Tak Sepadan

Tak Sepadan

Aku kira,
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.
Dikutuk sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

https://www.gramedia.com/products/seri-tempo-chairil-anwar-2022?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/seri-tempo-chairil-anwar-2022?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

7. Suara Malam

Suara Malam

Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”*
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barang kali ini diam kaku saja
Dengan ketenangan selama bersatu
Mengatasi suka dan duka
Kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
Jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada
Dan sekali akan menghadap cahaya.
Ya Allah! Badanku terbakar – segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

8. Nisan

Nisan

Untuk nenekanda,
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta.

9. Ajakan

Ajakan

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahagia
Tak acuh apa-apa
Gembira girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.

10. Pelarian

Pelarian

I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa di sini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.
Hancur-luluh sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja!”
Tak kuasa …terengkam
Ia dicengkam malam.

11. Lagu Biasa

Lagu Biasa

Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.
Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari
Ketika orkes memulai “Ave Maria”
Kuseret ia ke sana.

12. Hukum

Hukum

Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul.
Banyak menangkis pukul.
Bungkuk jalannya – Lesu
Pucat mukanya – Lesu
Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa
Melecut supaya terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti!

13. Taman

Taman

Taman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja
Satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
Halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
Dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
Aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia.

14. Rumahku

Rumahku

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

Buku Saku Tempo: Chairil Anwar

https://www.gramedia.com/products/buku-saku-tempo-chairil-anwar?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

15. Kesabaran

Kesabaran

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu
Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli
Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba

16. Kenangan

Kenangan

Untuk Karinah Moordjono,
Kadang
Di antara jeriji itu itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! Tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu itu saja
Jiwa bertanya; Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia.

17. Bercerai

Bercerai

Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Benar belum puas serah-menyerah
Darah masih berbusah-busah.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Kita musti bercerai
Biar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai
Dua benua bakal bentur-membentur.
Merah kesumba jadi putih kapur.
Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambur.

18. Kesabaran

Kesabaran

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu
Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli
Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba

19. Kawanku dan Aku

Kawanku dan Aku

Kepada L.K. Bohang,
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut.
Hujan mengucur badan.
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti.

20. Dendam

Dendam

Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencari
Diri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak tampak.

21. Cerita

Cerita

Kepada Darmawidjaya,
Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya.
Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat
Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju.
Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat.
Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat.

22. Sajak Putih

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah.

23. Merdeka

Merdeka

Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah kumamah
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.

Itulah beberapa karya sastra puisi Chairil Anwar penuh akan makna yang bisa Anda baca selengkapnya di atas. Lalu, apakah kamu tertarik untuk menulis puisi?

Jika kamu ingin mencari buku tentang puisi, maka bisa mendapatkannya di Gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Hendrik Nuryanto

Baca juga:

Buku & Quotes Yang Lainnya

1. Buku 2. Quotes dan Kata Bijak Lainnya

 



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by M. Hardi