Business

Sistem Barter : Pengertian, Syarat, Jenis, Faktor, Kelebihan, Kekurangan

Barter
Written by Hendrik

Sebelum adanya uang sebagai alat transaksi, manusia zaman dulu melakukan transaksi dengan menukar barang yang dimiliki dengan barang yang dibutuhkan. Kegiatan itu lebih dikenal dengan kegiatan barter. Nah, supaya mengetahui lebih lanjut tentang pengertian barter hingga lain sebagainya, maka kamu bisa simak artikel ini, Grameds.

Dr. Nyoman Suartha Revitalisasi Pasar Tradisional Bali

 

Pengertian Barter

Barterpixabay

Sistem barter berkaitan dengan perkembangan uang. Dimana sistem barter menjadi awal mula dari adanya uang sebagai alat tukar dan alat transaksi jual beli manusia. Barter dilakukan pada saat orang belum menemukan uang. Akan tetapi, pada saat ini juga ada barter, hanya saja tidak sebanyak waktu zaman dahulu.

Meskipun pada zaman modern saat ini barter sudah mulai hilang karena adanya uang di setiap negara, tetapi ternyata sistem barter masih menjadi bagian dari tradisi di suatu wilayah atau negara. Banyak penyebab orang melakukan barter, seperti apa yang kita inginkan mungkin sama-sama dibutuhkan oleh kedua orang barter tersebut.

Meskipun bisa menggunakan uang, tetapi terkadang seseorang membutuhkan untuk barter karena nilai barang tersebut yang tidak mau dijual dengan uang. Banyak alasan kenapa melakukan barter, seperti bisa jadi karena barang tersebut terlalu bersejarah buat dia.

Barter bisa dilakukan pada saat di pasar otomotif, misalnya barter mobil dengan mobil yang lain dengan harganya sama atau bahkan lebih tetapi nambah uang kalau harganya mobil yang ditukar melebihi harga mobil yang satunya.

Adapun yang dimaksud dengan barter adalah kegiatan tukar-menukar barang yang terjadi antara dua pihak tanpa perantaraan alat tukar yakni uang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), barter adalah perdagangan dengan saling bertukar barang.

Manusia tidak akan cukup dengan apa yang dia usahakan sendiri, itu artinya manusia memerlukan keinginannya kepada usaha manusia lainnya.

Manusia selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk mendapatkan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, maka mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya.

Alhasil, manusia melakukan barter yaitu barang ditukar dengan barang. Pada saat masa itu, kemudian timbul benda-benda yang selalu dipakai dalam pertukaran. Adapun kesulitan yang dialami oleh manusia dalam barter adalah kesulitan mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan.

Kesulitan dalam barter itu telah mendorong manusia untuk menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran dengan menetapkan benda-benda tertentu sebagai alat tukar. Akhirnya, manusia menciptakan nilai tukar barang dengan uang.

Uang tersebut bentuknya bermacam-macam ada yang koin dan ada yang berbentuk emas, perak atau bahkan kertas. Sampai dengan saat ini, kegiatan barter masih digunakan ketika terjadi kondisi krisis ekonomi di mana nilai mata uang mengalami devaluasi akibat hiperinflasi.

Salah satu kelemahan sistem barter adalah tidak memiliki standar nilai yang jelas, tetapi karena barter dilakukan oleh dua belah pihak yang saling membutuhkan, maka komoditi barang yang dianggap nilainya seimbang diterima oleh kedua belah pihak yang telah sepakat.

Pada zaman modern seperti sekarang ini meskipun sistem barter tidak sesering terlihat seperti pada zaman dahulu, tetapi saat ini sistem barter masih bisa ditemukan di lingkungan sekitar. Sistem tukar tambah yang ada saat ini pun berakar dari sistem barter di mana sang pembeli dan penjual harus menukar barang mereka.

Sebagai contoh sistem barter yang ada saat ini adalah ketika Budi ingin membeli sepatu futsal milik Sandi, tetapi Budi tidak memiliki cukup uang, sehingga menawarkan tas ransel favoritnya untuk dijadikan alat tukar. Sandi pun menerimanya karena Sandi juga menyukai tas ransel Budi. Jadi, selama mereka melakukan transaksi itu, maka tidak ada yang dirugikan.

Selamatkan Pasar Tradisional Herman Malano Selamatkan Pasar Tradisional

Syarat-syarat Terjadinya Barter

BarterDunia Pendidikan

Supaya sistem barter bisa terlaksana dengan baik antara dua orang atau lebih yang saling membutuhkan, maka harus terdapat syarat-syarat penting yang harus dipenuhi. Berikut syarat-syarat terjadinya barter yaitu:

1. Orang yang diajak bertukar

Syarat yang pertama dalam pelaksanaan sistem barter adalah harus ada orang atau sekelompok orang yang mau untuk diajak untuk bertukar barang.

2. Rasa saling membutuhkan

Ada orang yang diajak bertukar barang, harus memiliki rasa kebutuhan akan barang yang akan ditukarkan tersebut. Oleh karena itu, orang tersebut harus memiliki rasa saling membutuhkan satu sama lain.

3. Nilai barang yang sama

Suatu barang yang akan ditukar harus mempunyai nilai barang yang sama. Apabila barang tersebut ada ketimpangan nilai antara barang satu dengan barang yang lain, maka salah satu pihak akan merasa rugi.

4. Terdapat barang yang dibutuhkan

Setelah menemui orang yang mau diajak bertukar barang maka mereka harus memiliki barang yang dibutuhkan oleh pihak lain. Sebab itulah tujuan dari sistem barter yaitu mendapatkan barang yang dibutuhkan dari pihak lain melalui pertukaran barang.

Jenis-jenis Barter

Barterpixabay

Barter itu sendiri ternyata memiliki beberapa jenis. Berikut terdapat jenis-jenis barter yang masih berlaku hingga saat ini, yaitu:

1. Barter Langsung

Barter langsung memungkinkan kedua belah pihak antara pemberi dengan penerima melakukan kegiatan menukar barang secara langsung. Tanpa melalui perantara barter karena bertemu dengan orang yang membutuhkan barang tersebut secara langsung

2. Barter Alih

Barter alih merupakan momen saat suatu negara menerima barang hasil kegiatan barter namun negara penerima hasil barter tidak bisa memanfaatkan hasil barter dengan baik. Akhirnya, hasil barter tersebut dialihkan ke negara lain yang bisa memanfaatkannya.

3. Barter Imbal Beli

Barter imbal beli memerlukan kerjasama saat ingin membeli barang atau jasa yang sedang dibutuhkan. Kerja sama tersebut tentu saja merupakan kerjasama yang saling menguntungkan.

Kelemahan Sistem Barter

Dalam perjalanannya, sistem barter menemui banyak kendala. Selain kesulitan dalam menentukan kadar nilai barang, masih banyak lagi kelemahan dari sistem barter yang menjadikannya perlahan ditinggalkan oleh masyarakat. Adapun kelemahan dari barter, antara lain:

1. Sulit Menyimpan Barang atau Komoditas

Kelemahan dari sistem barter ini adalah kesulitan untuk menyimpan komoditas yang dimiliki sampai menemukan orang yang sama-sama mau untuk bertukar atas barang tersebut.

Apabila barang atau komoditas menjadi rusak sebelum dapat ditukar maka tentu saja akan mendapatkan rugi. Terutama pada barang atau komoditas sayur-sayuran, buah-buahan, dan daging ternak.

2. Sulit Menentukan Kadar Nilai Barang

Adanya perbedaan jenis barang atau komoditas yang hendak ditukarkan, tentu saja kadar nilai barangnya juga berbeda. Namun, pada kala itu, manusia juga sulit dalam menentukan kadar nilai barang karena minimnya pengetahuan.

Misalnya, 15 buah jeruk seharusnya memiliki nilai yang sama dengan berapa satu kilogram gandum, tetapi orang-orang belum dapat menentukan standar tersebut sehingga mereka asal-asalan menukarnya.

3. Sulit Dalam Bertransaksi

Kelemahan dari sistem barter ini adalah ketika hendak bertransaksi, harus ada dua belah pihak yang memiliki barang yang dibutuhkan satu sama lain. Contohnya, ada seseorang yang memiliki gandum, dirinya hendak menukarkan gandum tersebut dengan buah semangka.

Hal itu berarti, dirinya harus mencari seseorang yang mempunyai buah semangka yang sekaligus tengah membutuhkan gandum. Apabila ternyata pemilik semangka tidak menginginkan gandum tersebut, maka transaksi barter menjadi batal.

4. Alat Tukar Sulit Untuk Dipecah

Contohnya apabila terdapat seseorang yang memiliki seekor ayam dan ingin menukarkannya dengan sebuah meja. Sementara seekor ayam tersebut hanya bernilai sama dengan separuh meja saja. Maka pemilik meja akan kesulitan untuk memecah atau membagi meja tersebut menjadi nilai yang sesuai.

5. Alat Tukar Sulit Untuk Dibawa

Terutama pada barang yang memiliki jumlah banyak atau ukuran besar maka pemilik barang tersebut akan kesulitan dalam membawa hartanya kesana-kemari. Belum lagi, harus menemukan orang yang mau setuju untuk menukarkan barangnya tersebut.

Kelebihan Sistem Barter

Meskipun barter memiliki banyak kendala yang bisa merugikan satu atau bahkan semua pihak tetapi ternyata sistem barter ini juga memiliki kelebihan. Biasanya, kelebihan dari sistem barter memiliki keterkaitan dengan interaksi sosial antara pihak-pihaknya. Berikut adalah uraian dari kelebihan sistem barter:

1. Dapat Mengenal Satu Sama Lain

Hal tersebut karena ketika hendak melangsungkan upaya barter, pasti akan didahului dengan komunikasi berupa percakapan dan negosiasi. Dalam interaksi sosial tersebut nantinya antar pihak akan mengenal satu sama lain hingga akhirnya dapat menjalin hubungan baik. Oleh karena itu, sistem barter yang masih dijadikan tradisi di suatu wilayah dapat menjadi alat pemersatu antar warganya, meskipun mereka telah mengenal alat tukar uang.

2. Sikap Toleransi Terhadap Sesama

Sistem barter ini, nantinya pihak yang bersangkutan akan memiliki sikap toleransi dan keinginan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Tanpa adanya orang yang merasa rugi karena ingin menolong tersebut.

Faktor yang Mempengaruhi Eksistensi Pasar Barter Wulandoni

Dengan bertahannya proses tukar-menukar barang dalam pasar barter ini bukan karena kebetulan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh lima hal pokok, salah satunya adalah adat istiadat. Berikut faktor yang mempengaruhi eksistensi pasar barter yaitu:

1. Adat

Faktor utama yang pertama yang mempengaruhi eksistensi pasar barter di Kecamatan Wulandoni adalah adanya adat istiadat dan budaya setempat. Perlu diketahui bahwa adat itu juga dapat berupa larangan, sehingga dalam adat di Kecamatan Wulandoni ini adalah adanya larangan bagi penduduk pedalaman untuk menenun sarung dan menangkap ikan paus selain orang Lamalera.

Aturan adat yang satu ini telah ada secara turun-temurun hingga menyebabkan masyarakat setempat akan mengalami ketergantungan kebutuhan antara masyarakat pesisir dengan masyarakat pegunungan. Apabila aturan adat tersebut dilanggar, maka dipercaya akan mendatangkan kutukan dan kesialan.

Ahmad Arif Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan

2. Tema dan Koteklema (Perahu dan Ikan Paus)

Dalam bahasa Lamaholot, tena adalah perahu khusus penangkap ikan paus, sementara koteklema adalah ikan paus jenis Sperm Wheel.

Pada daerah ini, ikan paus dianggap sebagai komoditas utama dalam barter dan sangat keramat karena diyakini sebagai jelmaan leluhur. Oleh karena itu, terdapat tradisi penangkapan ikan paus menggunakan alat tradisional.

3. Prewo (Langganan)

Dalam bahasa Lamaholot, prewo adalah upaya langganan antar sesama pihak yang menerapkan sistem barter. Transaksi antar prewo menggunakan sistem barter lebih disukai daripada menggunakan uang karena didasarkan pada rasa kepercayaan satu sama lain.

Antar prewo akan saling mengunjungi terlebih dahulu dan membicarakan apa yang mereka butuhkan satu sama lain, kemudian membuat perjanjian untuk bertemu di pasar barter ini.

4. Kondisi Geografis

Daerah Wulandoni ini memiliki daerah pesisir yang terletak di selatan pulau Lembata dan banyaknya bukit-bukit tinggi. Sehingga dapat diidentifikasikan bahwa daerah ini memiliki kondisi geografis berupa pesisir dan pegunungan.

Dari perbedaan mata pencaharian dan komoditas yang dimiliki, tentu saja akan membuat masyarakat akan saling bergantung satu sama lain guna memenuhi kebutuhan yakni dengan melaksanakan kebiasaan barter antara hasil laut dengan hasil kebun.

5. Pertumbuhan dan Perkembangan Daerah

Faktor terakhir yang menyebabkan pasar barter masih bertahan di daerah Wulandoni ini adalah lambannya pertumbuhan dan perkembangan di daerah Nusa Tenggara Timur. Bahkan, di daerah Wulandoni masih banyak daerah yang belum tersentuh listrik, sinyal hingga akses jalan kendaraan.

Dari adanya ketertinggalan tersebut tentu saja berpengaruh besar terhadap penggunaan dan peredaran uang, sehingga budaya barter masih dianggap sistem yang paling menguntungkan bagi masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhannya.

Contoh Barter Yang Masih Ada Sampai Saat Ini

Pasar Barter di Kecamatan Wulandoni Nusa Tenggara Timur

BarterMedia NTT

Pesatnya perkembangan IPTEK dan tingginya pertumbuhan pasar modern tidak membuat keberadaan pasar barter di Kecamatan Wulandoni, Nusa Tenggara Timur ini tergerus zaman begitu saja. Bahkan keberadaan pasar-pasar tradisional justru menjadi roda perekonomian rakyat setempat, karena mereka menggantungkan hidupnya melalui kegiatan berdagang.

Walaupun pada saat ini, pasar-pasar tradisional yang ada di Indonesia telah habis karena munculnya pasar modern, tentu saja hal itu tidak mempengaruhi pasar barter ini. Tradisi barter dalam pasar masih dipertahankan oleh masyarakat Kecamatan Wulandoni yang berada di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Awal mula Kasus Pasar Barter di Kecamatan Wulandoni Nusa Tenggara Timur dalam Perspektif Geografi Ekonomi adalah ketika masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1870. Pada tahun 1870 tersebut, para penjajah Belanda menghukum orang-orang yang tidak membayar pajak dengan mengerjakan jalan penghubung antar kampung.

Atas adanya perintah tersebut membuat orang-orang di wilayah tersebut yang dihukum seolah berada di penderitaan yang sama dan saling membutuhkan, hingga akhirnya mereka saling tukar-menukar bekal yang dibawa ketika tengah bekerja membangun jalan penghubung tersebut.

Dari situasi itulah terjadi cikal bakal adanya pasar barter adalah ditandai dengan peristiwa saling menukar bekal antara orang pesisir dan orang gunung yang kala itu sama-sama bekerja untuk membangun jalan. Mereka sepakat bahwa setiap seminggu sekali, orang gunung yang hendak turun untuk bekerja harus membawa hasil kebun, sementara orang pesisir akan membawa hasil laut berupa ikan, yang kemudian saling ditukarkan.

Dari kesepakatan itulah yang pada akhirnya membentuk pasar barter dan dilaksanakan setiap hari Rabu di Desa Leworaja. Yang uniknya, pada pasar barter ini, proses barter dan tawar-menawarnya mulai dilaksanakan ketika mandor pasar meniupkan sempritan atau bunyi lonceng sebagai tanda pasar barter telah dimulai.

Setelah terdengar tiupan sempritan maka pembeli atau pedagang akan berlomba-lomba menuju satu sama lain untuk menawarkan barang atau komoditas yang hendak dijadikan objek sistem barter. Apabila orang pesisir membawa komoditas berupa jenis ikan, maka orang gunung akan membawa komoditas berupa hasil kebun.

Terdapat peraturan khusus dalam pasar barter ini yakni pembelian komoditas pertanian dengan uang diperbolehkan sebelum terdengar suara peluit. Selain itu, peserta yang kedapatan melanggar aturan akan disita barang-barangnya. Dalam pasar barter ini juga menggunakan sistem monga untuk menentukan nilai tukar barangnya.

Monga berasal dari kata bunga yang berarti memilah-milah dalam kelompok kecil. Misalnya, mereka akan membagi-bagi garam atau kapur sirih dalam bagian-bagian kecil supaya dapat ditukar dengan suatu komoditas. Hal tersebut juga diterapkan dalam komoditas buah-buahan dan ikan.

Demikian pembahasan tentang pengertian barter hingga kelemahan dan kelebihannya. Jika kamu ingin mencari berbagai macam buku tentang pasar tradisional, maka bisa mendapatkannya di gramedia.com.

Sebagai #SahabatTanpaBatas kami selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Yufi Cantika Sukma Ilahiah

About the author

Hendrik

Saya Hendrik Nuryanto dan biasa dipanggil dengan nama Hendrik. Salah satu hobi saya adalah menulis berbagai macam tema, seperti teknologi, hingga rumus-rumus beserta soalnya.