in ,

Work Life Balance: Manfaat dan Berbagai Faktor yang Memengaruhi

work life balance word cloud - handwriting on a napkin with a cup of coffee

Work Life Balance – Pasti Grameds tidak asing dengan istilah Work Life Balance ini. Yup, saat ini banyak milenial yang berkomitmen untuk menerapkan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Lalu sebenarnya, apa sih Work Life Balance itu? Apakah sangat penting bagi kehidupan seseorang?

Yuk simak ulasan berikut ini!

https://pixabay.com/

Pengertian Work Life Balance

Work life balance ialah  bagaimana seseorang mencari keseimbangan juga kenyamanan dalam pekerjaan dan di luar pekerjaannya. Work life balance atau keseimbangan kehidupan kerja mempunyai konten yang baik dalam pekerjaan dan juga di luar pekerjaan.

Menurut Parkes dan Langford, work life balance sebagai individu yang mampu berkomitmen dalam pekerjaan, keluarga serta bertanggung jawab baik dalam kegiatan non-pekerjaan. Maka hal ini dibutuhkan adanya keseimbangan, banyak karyawan yang kesulitan dalam mengatur baik dalam bekerja maupun dalam kesehatannya sendiri.

Schermerhorn (2005) menyatakan bahwa keseimbangan kehidupan kerja merupakan kemampuan seseorang untuk menyeimbangkan antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi dan keluarganya.

Individu yang dapat menyeimbangkan perannya dengan baik, meskipun individu tersebut mempunyai tuntutan tugas dan tanggung jawab dalam  dua peran untuk baik dalam organisasi maupun di luar organisasi.

Work life balance merupakan suatu keadaan dimana individu mampu mengatur dan membagi antara tanggung jawab pekerjaan, kehidupan keluarga, serta tanggung jawab lain. Sehingga, tidak terjadi konflik antara kehidupan keluarga dengan karir pekerjaan serta adanya peningkatan motivasi, produktivitas serta loyalitas terhadap pekerjaan.

Dalam memenuhi kebutuhan karyawan, maka karyawan harus mempunyai kemampuan untuk mengatur waktu yang dibutuhkan dalam dua peran yang berbeda. Apabila kebutuhan serta tuntutan dari seorang karyawan sudah terpenuhi, dapat dikatakan bahwa karyawan tersebut mempunyai keseimbangan kehidupan kerja/ work life balance.

Work life balance melibatkan kemampuan seseorang dalam mengatur banyaknya tuntutan dalam hidup secara bersamaan, di mana seseorang dalam tingkat keterlibatannya sesuai dengan peran ganda yang dimiliki seorang karyawan.

Secara umum, work life balance berkaitan dengan waktu kerja, fleksibilitas, kesejahteraan, keluarga, demografi, migrasi, waktu luang dan lain sebagainya. Work life balance merupakan hal yang esensial karena tidak tercapainya work life balance berakibat pada rendahnya kepuasan kerja, rendahnya kebahagiaan, work life conflict dan burnout pada seseorang.

tombol beli buku

Aspek-Aspek Work Life Balance

Menurut Hudson (2005), work life balance mempunyai beberapa aspek, yaitu :

1. Time balance/ keseimbangan waktu

Hal ini menyangkut jumlah waktu yang diberikan untuk bekerja serta peran di luar pekerjaan. Misalnya, seorang karyawan di samping bekerja juga membutuhkan waktu untuk rekreasi, berkumpul bersama teman serta menyediakan waktu untuk keluarga.

2. Involvement balance/ keseimbangan keterlibatan

Hal ini tentang keterlibatan tingkat psikologis atau komitmen untuk bekerja dan di luar pekerjaan. Keseimbangan yang melibatkan individu dalam diri individu seperti tingkat stress, sedangkan keterlibatan individu dalam bekerja dan dalam kehidupan pribadinya.

3. Satisfaction balance/keseimbangan kepuasan

Tentang tingkat kepuasan dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan. Kepuasan yang dirasakan, bahwa individu mempunyai kenyamanan dalam keterlibatan di dalam pekerjaannya maupun dalam kehidupan diri individu tersebut.

Selain itu, terdapat aspek-aspek work life balance yang lain sebagai berikut.

  1. Waktu; perbandingan antara waktu yang dihabiskan untuk bekerja dan waktu yang digunakan untuk aktivitas lain.
  2. Perilaku; perbandingan antara perilaku individu dalam bekerja serta aspek kehidupan yang lain.
  3. Ketegangan; ketegangan yang dialami baik dalam pekerjaan maupun aspek kehidupan yang lain dapat menimbulkan konflik peran dalam diri individu.
  4. Energi; perbandingan antara energi yang digunakan individu untuk menyelesaikan pekerjaannya serta energi yang digunakan dalam aspek kehidupan selain karier.

Dimensi Pembentuk Work Life Balance

Sementara itu, menurut Fisher dkk (2009), work life balance mempunyai 4 dimensi pembentuk sebagai berikut.

1. WIPL/Work Interference With Personal Life

Dimensi ini mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat mengganggu kehidupan pribadi individu. Contohnya bekerja dapat membuat seseorang sulit mengatur waktu untuk kehidupan pribadinya.

2. PLIW/Personal Life Interference With Work.

Dimensi ini tentang sejauh mana kehidupan pribadi individu mengganggu kehidupan pekerjaannya. Contohnya, apabila individu mempunyai masalah di dalam kehidupan pribadinya hal ini dapat mengganggu kinerja individu saat bekerja.

3. PLEW/Personal Life Enchancement Of Work

Tentang sejauh mana kehidupan pribadi seseorang dapat meningkatkan performa individu dalam dunia kerja. Contoh, apabila individu merasa senang dikarenakan kehidupan pribadinya menyenangkan maka hal ini dapat membuat suasana hati individu saat bekerja menjadi menyenangkan.

4. WEPL/Work Enchancement Of Personal Life

Dimensi yang mengacu sejauh mana pekerjaan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi individu. Seperti, keterampilan yang diperoleh individu saat bekerja. Memungkinkan indvidu untuk memanfaatkan keterampilan-keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

tombol beli buku

Manfaat Work Life Balance

Ada beberapa manfaat yang dapat dirasakan setelah mencapai keseimbangan, seperti berikut ini.

1. Kerja semakin produktif

Dengan adanya keseimbangan, dapat memanfaatkan waktu bekerja agar lebih produktif. Semakin lama bekerja, konsentrasi juga akan menurun sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas kerja juga. Dengan pola kerja dan aktivitas yang baik, maka penggunaan energi akan semakin efektif sesuai dengan kebutuhan.

2. Semakin bahagia

Waktu bekerja akan berpengaruh sesuai dengan target atau tujuan yang akan dicapai. Sehingga dapat mengatur waktu bekerja dengan baik, tentunya hasil yang akan tercapai sesuai yang diinginkan serta berdampak pada kebahagiaan diri sendiri setelah semua pekerjaan selesai. Rasa puas pada diri sendiri akan memberikan dampak positif bagi tubuh.

3. Kreativitas akan meningkat

Kreativitas akan meningkat ketika mempunyai hidup yang seimbang, ide-die kreatif akan bermunculan karena tidak terpaku pada pekerjaan secara terus-menerus.

4. Hubungan menjadi lebih baik

Apabila telah mempunyai work life balance, maka hubungan dengan orang-orang sekitar akan lebih baik. Tidak ada gunanya meraih kesuksesan di tempat kerja, apabila di rumah bertengkar dengan pasangan karena kurangnya waktu untuk bersama. Tidak ada seorang pun yang berhasil tanpa adanya dukungan orang lain. Orang tua, rekan kerja, atasan, pasangan, teman, semuanya merupakan faktor penopang kesuksesan. Oleh karena itu, lakukan yang terbaik dalam menciptakan keseimbangan dalam semua aspek kehidupan.

Selain itu, tidak dapat dipungkiri banyak juga faktor yang mengakibatkan seseorang sulit mempunyai kehidupan yang seimbang. Berikut ini beberapa efek yang akan terjadi jika tidak adanya work life balance.

  • Terlalu larut dalam pekerjaan tanpa henti sehingga dapat menunda waktu makan serta mengakibatkan masalah pada pencernaan. Saat ini banyak orang yang mengalami masalah pencernaan akut karena stres dan beban kerja di kantor yang berlebihan
  • Menghindari pekerjaan kantor secara terus-menerus berisiko menurunkan kinerja di kantor serta memberikan penilaian negatif pada atasan. Hal ini mengakibatkan karier yang tidak beranjak serta pendapatan tidak bisa maksimal
  • Terlalu fokus pada pekerjaan dan impian yang sempurna sehingga dapat merusak hubungan kerja antarkaryawan. Tingkah laku terhadap karyawan/rekan kerja yang terlalu menuntut membuat karyawan lain juga merasa kurang nyaman dan akhirnya menghadapi stres yang sama.

tombol beli buku

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Work Life Balance

Menurut Schabracq, dkk (2013) ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan kehidupan kerja (work life balance) seseorang, yaitu :

  1. Karakteristik kepribadian, berpengaruh terhadap kehidupan kerja dan di luar kerja. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara tipe attachment yang didapatkan individu ketika masih kecil dengan work life balance. Selain itu, individu yang mempunyai secure attachment cenderung mengalami positive spillover dibandingkan individu yang mempunyai insecure attachment.
  2. Karakteristik keluarga, salah satu aspek penting yang dapat menentukan ada tidaknya konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Seperti konflik  di dalam keluarga dapat memengaruhi work life balance.
  3. Karakteristik pekerjaan, meliputi pola kerja, beban kerja, serta jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja dapat memicu adanya konflik, baik konflik dalam pekerjaan maupun konflik dalam kehidupan pribadi.
  4. Sikap, merupakan evaluasi terhadap berbagai aspek dalam dunia sosial. Di mana dalam sikap tersebut ada komponen seperti pengetahuan, perasaan-perasaan dan kecenderungan untuk bertindak. Sikap dari masing-masing individu merupakan salah satu faktor yang memengaruhi work life balance.

Sedangkan menurut Ahmad (1996), faktor yang memengaruhi work life balance adalah sebagai berikut.

  1. Waktu, tentang cakupan banyaknya waktu yang dihabiskan ditempat kerja atau lama waktu berada di tempat kerja.
  2. Jadwal atau serangkaian rencana kegiatan yang dimiliki karyawan di luar maupun di dalam lingkup pekerjaan untuk diselesaikan.
  3. Kelelahan, kondisi di mana berkurangnya kapasitas yang dimiliki seseorang untuk bekerja dan mengurangi efisiensi prestasi kerja dengan disertai perasaan letih.

Faktor Pendorong Work Life Balance

Selain di atas, menurut Utami dan Yuniarti (2010) ada beberapa faktor pendorong work life balance.

  1. Nilai comfort, kenyamanan akan membuat seseorang lebih memahami dengan apa yang dilakukannya setiap hari serta membuat seseorang dapat mengatasi konflik yang terjadi. Misalnya, pegawai dapat mengatur ruangan kerja atau meja kerja sehingga akan membuat nyaman pegawai dalam menyelesaikan pekerjaannya.
  2. Nilai religious, dengan meyakini kepada Tuhan seseorang akan mampu melakukan refleksi diri serta menerima apapun kondisinya. Misalnya, sebelum melakukan suatu pekerjaan pegawai dapat melakukan ibadah seperti doa, shalat, atau lain sebagainya.
  3. Nilai achievement, di mana seseorang dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk membantu serta menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan fleksibel. Misalnya, pegawai dapat mengatur jadwal kerja dari pemahaman manajemen waktunya sehingga waktunya kerja dapat diselesaikan dengan fleksibel dan cepat.

tombol beli buku

Strategi Menciptakan Work Life Balance

Menurut Singh dan Khanna, ada sepuluh strategi dalam menciptakan work life bakance seperti berikut.

  1. Jam kerja yang fleksibel, menyediakan penyusunan waktu yang fleksibel serta dapat dikonsultasikan bagi seluruh karyawan.
  2. Kerja paruh waktu, menyediakan lebih banyak kerja paruh waktu dengan jam atau shift yang lebih sedikit atau penyusunan pembagian kerja untuk seluruh karyawan.
  3. Jam kerja yang masuk akal, mengurangi lama waktu kerja yang berlebihan.
  4. Akses untuk penanganan anak, meningkatkan akses untuk penanganan anak dengan fasilitas penanganan anak di kantor bagi yang membutuhkan fasilitas tersebut.
  5. Penyusunan pekerjaan yang fleksibel, menyediakan fleksibilitas yang lebih baik dalam penyusunan pekerjaan untuk menyesuaikan kondisi personal karyawan termasuk menyediakan waktu penuh untuk anggota keluarga.
  6. Cuti harian, mengizinkan karyawan untuk meminta serta mengambil cuti dalam waktu harian.
  7. Mobilitas pekerjaan, menyediakan mobilitas yang lebih baik untuk karyawan dapat berpindah dari rumah sakit, tempat kerja dan layanan kesehatan untuk menemukan penyusunan pekerjaan yang lebih sesuai.
  8. Keamanan dan kesejahteraan, meningkatkan keamanan, kesejahteraan, serta rasa hormat untuk seluruh karyawan di tempat kerja .
  9. Akses telepon, memastikan seluruh karyawan dapat menerima telepon atau pesan mendadak dari keluarga mereka di tempat kerja serta mendapatkan akses telepon untuk tetap dapat menghubungi keluarga mereka selama jam kerja.

Fisher (2006) jugamengemukakan bahwa terdapat lima strategi dalam membentuk work life balance, antara lain:

1. Alternating

Strategi yang dilakukan oleh seseorang dengan menyusun kegiatan alternatif, seperti melakukan relaksasi di tengah-tengah pekerjaan yang padat.

2. Outsourcing

Strategi yang dilakukan oleh seseorang dapat mewakili beberapa pekerjaan yang bersifat sampingan atau menjadi prioritas kedua tetapi tidak lupa dengan pekerjaan wajibnya.

3. Bundling 

Strategi yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan aktivitas secara bersamaan, sebagai contoh menemani anak belajar sambil mengerjakan tugas-tugas kantor.

4. Tecflexing 

Strategi yang dilakukan oleh seseorang dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan sehingga waktu yang digunakan dapat lebih fleksibel

5. Simplifying

Strategi yang dilakukan oleh seseorang dalam mengurangi beberapa pekerjaan yang kira-kira kurang diperlukan, serta didasari pada kebutuhan, nilai ekonomi, dan keuntungan yang akan diperoleh individu

tombol beli buku

Tips Untuk Mencapai Work Life Balance

Berikut ini beberapa tips mencapai work life balance lainnya yang bisa Grameds coba.

1. Mengatur jam kerja

Bekerja dengan cepat agar selesai tepat waktu juga penting untuk mengatur waktu antara pekerjaan dan kehidupan. Sehingga dapat melakukan pencatatan pekerjaan satu per satu agar tidak ada pekerjan yang terlewat. Agar nantinya dapat menyelesaikan semua pekerjaan di kantor tepat waktu tanpa harus melakukan kerja tambahan.

2. Melakukan olahraga dengan teratur

Dengan berolahraga maka akan menjaga keseimbangan tubuh. Meskipun sudah seharian bekerja, luangkan waktu untuk berolahraga agar tetap menjaga kebugaran.

3. Mengonsumsi makanan yang bergizi

Jangan lupa untuk makan dan minum yang sehat, karena membutuhkan tenaga untuk mengerjakan tugas-tugas di kantor. Dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, akan memberikan tenaga yang baik untuk tubuh sehingga dapat bekerja leih efektif.

4. Melakukan penolakan yang tidak perlu

Hal ini berlaku di tempat kerja, dapat menolak tugas-tugas yang tidak termasuk dalam job description. Apabila di rumah, dapat menghindari undangan yang tidak terlalu penting apabila keluarga lebih membutuhkan perhatian.

5. Membagi waktu dengan prioritas

Dalam melakukan kegiatan sehari-hari usahakan bekerja saat jam kerja, bermain serta berkumpul dengan keluarga di rumah, dan beristirahat saat jam istirahat. Selain itu, hindari membawa pekerjaan kantor ke rumah dan begitupun sebaliknya menggunakan jam kantor untuk mengurus hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

tombol beli buku

Cara Menerapkan Work Life Balance di Masa Pandemi

Tidak bisa dipungkiri, banyak dari beberapa orang yang merasa suntuk kerja di rumah. Memang awalnya kita merasa senang WFH karena waktu yang fleksibel, namun setelah dijalankan ternyata WFH tidak berjalan seperti yang dibayangkan.

Beberapa dari kita justru sulit mengatur waktu kerja dan akhirnya bekerja tanpa peduli waktu. Selain sulit mengatur waktu, juga akan sulit mengatur fokus karena banyaknya distraksi yang datang dari sekitar.

Ada beberapa cara menciptakan work life balance di masa pandemi, yaitu sebagai berikut :

1. Membuat jadwal kegiatan

Untuk mempermudah bekerja dari rumah, dapat membuat jadwal serta berkomitmen terhadap jadwal yang sudah dibuat. Rencanakan tiap jam kerja sehingga bisa fokus serta mengurangi gangguan dari luar. Selain itu juga dapat menjadwalkan hobi, makan serta tidur.

2. Membuat workspace tersendiri di rumah

Agar seolah-olah berada di kantor, maka cobalah untuk membuat workspace tersendiri di rumah yang bersifat normal. Tempatkan meja dan kursi kerja yang nyaman layaknya di kantor. Dengan seperti itu, maka bisa membuat lebih fokus dan tidak mudah terdistraksi.

3. Berani katakan “tidak”

Apabila ada atasan atau rekan kerja yang meminta urusan pekerjaan di luar jam kerja, cobalah untuk bisa menolaknya. Dengan memberi alasan yang jelas, perlahan serta tetap sopan. Bekerja di luar jam kerja selama WFH dapat mengganggu work life balance.

4. Hirup udara segar setelah bekerja

Setelah menyelesaikan pekerjaan, tidak ada salahnya keluar sejenak untuk menghirup udara segar. Tidak perlu jauh-jauh, cukup di teras atau balkon rumah untuk sedikit melepas dari penatnya memandang layar laptop.

5. Komunikasikan perasaan dan kondisi

Banyak para pekerja yang merasa lebih stress selama WFH karena jam kerja yang bertambah atau lelah menjalani meeting online. Oleh sebab itu, untuk mencegah burn out cobalah mengomunikasikan apa yang dirasakan kepada keluarga terdekat, rekan kerja ataupun atasan. Sehingga orang terdekat akan tahu apabila sedang mengalami kesulitan maupun kelelahan dalam bekerja dari rumah.

tombol beli buku

Nah, itulah penjelasan mengenai pengertian, aspek, manfaat, juga faktor-faktor yang memengaruhi work life balance. Semoga bermanfaat, ya.

Jika Grameds masih membutuhkan referensi untuk memahami tentang segala sesuatu terkait work life balance, maka kamu bisa mengunjungi koleksi buku Gramedia di http://gramedia.com. Sebab, sebagai #SahabatTanpaBatas, kami akan selalu berusaha memberikan informasi terbaik dan terlengkap.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Penulis: Rosyda Fauziyah

Baca Juga!

Written by Rifda Arum