in

Experiential Learning: Metode Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Design Students Working In CAD/3D Printing Lab Together

Dalam proses pembelajaran atau pelatihan, siswa atau peserta didik kerap kali diberikan kesempatan untuk menerapkan teori yang telah dipelajarinya melalui kegiatan tertentu, untuk menciptakan pengalaman belajar. Misalnya, pada saat masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, kita kerap kali diberikan tugas berupa praktik yang berdasar pada konsep atau teori tertentu, dan ketika duduk di bangku perguruan tinggi, sebagian besar universitas memberikan tugas wajib bagi para mahasiswanya untuk melakukan kerja magang.

Contoh-contoh di atas merupakan salah satu bukti diterapkannya experiential learning di dalam sistem pendidikan di Indonesia secara tidak langsung. Experiential learning sendiri didefinisikan sebagai proses belajar yang pengetahuannya diperoleh dari sebuah bentuk pengalaman, yang menggabungkan pemahaman dengan kegiatan yang dilakukan. Pada metode experiential learning ini, media pembelajaran yang digunakan adalah pengalaman tiap-tiap individu yang menjalankannya.

Metode experiential learning sendiri kerap kali dipilih sebagai salah satu metode belajar yang paling efektif, karena metode experiential learning memungkinkan para peserta didik untuk belajar dengan memenuhi seluruh aspek penting dalam proses pembelajaran, yakni kognitif, afektif, dan emosi. Terpenuhinya seluruh aspek penting dalam proses pembelajaran ini kemudian dapat membuat pemahaman yang lebih mendalam bagi para peserta didik yang melakukannya.

Agar kalian bisa lebih memahami mengenai experiential learning , artikel ini akan menguraikan lebih dalam mengenai pengertian experiential learning, karakteristik experiential learning, tahap-tahap pembelajaran pada metode experiential learning, kelebihan dan kekurangan metode experiential learning, dan langkah-langkah melakukan experiential learning. Simak penjelasannya di bawah ini.

Pengertian Experiential Learning

 

[algolia_carousel]

Metode experiential learning merupakan metode pembelajaran melalui pembentukan pengalaman peserta didik. Metode experiential learning memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mencapai keberhasilan dengan memberi kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan pengalaman apa yang akan mereka fokuskan, keterampilan apa yang ingin mereka tingkatkan, dan dari situ, bagaimana mereka membuat suatu konsep dari pengalaman yang telah mereka alami itu.

Experiential learning ini merupakan sebuah proses pembelajaran, proses melakukan perubahan yang memanfaatkan pengalaman sebagai media pembelajaran atau belajar. Experiential learning fokus pada proses belajar yang dilakukan tiap-tiap individu. Experiential learning merupakan proses pembelajaran yang dilakukan dengan menempuh proses refleksi, dan juga menempuh suatu proses pembuatan makna dari pengalaman nyata.

Experiential learning sebagai sebuah metode belajar dapat membantu pendidik dalam menghubungkan isi materi pembelajaran dengan keadaan yang ada di dunia nyata, sehingga dari pengalaman nyata yang dilakukan para siswa, mereka dapat mengingat dan memahami lebih dalam pembelajaran yang mereka dapat dalam proses pendidikan, dan akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Experiential learning adalah metode pembelajaran yang fokus dan berpusat pada pengalaman yang akan dialami dan dipelajari sendiri oleh peserta didik. Dengan terlibatnya mereka secara langsung dalam proses belajar, lalu mereka akan mengonstruksikan sendiri seluruh pengalaman yang mereka alami menjadi suatu pengetahuan. Model pembelajaran experiential learning ini dikembangkan oleh David Kolb, seorang pendidik kebangsaan Amerika, pada sekitar awal 1980-an.

David Kolb (1984), mendefinisikan experiential learning sebagai sebuah model pembelajaran yang holistik, di mana seseorang belajar, berkembang, dan bertumbuh. Penggunaan istilah experiential learning sendiri dimaksudkan untuk menekankan bahwa pengalaman (experience) memiliki peran penting dalam proses pembelajaran, dan hal ini menjadi pembeda antara experiential learning dengan model pembelajaran lainnya, seperti teori pembelajaran kognitif atau behaviorisme.

David Allen Kolb atau lebih dikenal dengan julukan A. Kolb menyatakan bahwa belajar sebagai proses yang mana pengetahuan diciptakan melalui adanya perubahan dalam berbagai bentuk pengalaman. Pengetahuan diciptakan oleh kombinasi antara pemahaman dan pengalaman yang ditransformasikan.

Istilah experiential dalam model ini digunakan untuk membedakan antara teori belajar kognitif yang lebih menekankan pada aspek kognitif dan cenderung mengabaikan aspek afektif. Dan juga seperti teori belajar behaviorisme yang cenderung tidak memberikan kesempatan pengalaman subjektif untuk berperan dalam proses belajar.

Terdapat beberapa ahli lain yang juga mendefinisikan experiential learning. Cohen Walker (1993) mendefinisikan experiential learning sebagai pengalaman yang menjadi fondasi dari stimulus dalam proses belajar. Proses pembelajaran secara aktif ini membentuk sebuah konstruk dari pengalaman mereka sendiri.

Menurut Cohen Walker, belajar merupakan proses yang holistik, yang mana pembelajaran dikonstruksi secara kultural dan sosial, dan proses belajar dipengaruhi oleh konteks sosial dan emosional dari sumber pembelajaran terjadi. Pengalaman seseorang di dunia nyata akan terbawa ke dalam lingkungan belajar, dan antara diri individu dengan lingkungan sosial atau fisik harus selalu diperhatikan.

Yamazaki & Kayez (2004) menyatakan bahwa experiential learning menekankan totalitas dalam proses belajar manusia. Pengalaman menjadi fondasi yang membentuk empat tahap pembelajaran yaitu merasakan, merefleksikan, memikirkan, dan melakukan. Pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning menekankan bahwa pengalaman memiliki peran utama dalam proses belajar.

Association for Experiential Education (AEE), mendefinisikan experiential learning sebagai sebuah falsafah dan metode dimana pendidik memotivasi peserta didik dengan terlibat secara langsung, dan upaya meningkatkan pengetahuan dilakukan dengan berfokus pada refleksi, serta meningkatkan keterampilan. Menurut Beard & Wilson (2006) , experiential learning merupakan proses membuat rasa dari terlibat dalam aktivitas antara dunia dalam lingkungan belajar dan dunia luar lingkungan belajar.

Jadi, terjadi interaksi antara pembelajaran itu sendiri dengan lingkungan luar yang nyata, yang akhirnya menimbulkan suatu pembelajaran yang bermakna. Dalam metode experiential learning ini, fasilitator atau pendidik akan membantu untuk membuat suatu lingkungan pembelajaran yang bisa meningkatkan pengalaman belajar peserta didik.

Savicki (2008) menyatakan bahwa metode experiential learning memiliki peran penting dalam meningkatkan kompetensi dan sensitivitas antar budaya. Proses belajar menerima informasi secara lebih kritis dan dapat menyerap kompetensi lain yang berbeda dengan kompetensi yang memang telah dimiliki sebelumnya. Pada akhirnya, hal ini akan menghasilkan proses belajar yang sangat kuat dan positif.

Menurut Wahyuni (2008), experiential learning merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk memperoleh sesuatu berdasarkan pengalaman yang mengalami perubahan secara terus menerus, guna meningkatkan efektivitas dari hasil belajar itu sendiri. Huda (2013: 172) mengemukakan bahwa metode experiential learning berfokus pada dua pendekatan yang saling terkait satu sama lain dalam menciptakan pemahaman atas sebuah pengalaman, yakni konseptualisasi abstrak dan pengalaman konkret, serta dua pendekatan dalam menciptakan perubahan pengalaman, yakni observasi reflektif dan eksperimen aktif.

Mel Silberman (2014: 10) menyatakan bahwa metode experiential learning merupakan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan nyata yang memungkinkan mereka dapat mengalami hal yang sedang mereka pelajar, dan menjadi kesempatan bagi mereka untuk merefleksikan kegiatan tersebut. Jadi, experiential learning terbentuk dari kegiatan yang dilakukan peserta didik, yang terkait topik pembelajaran, dan refleksi atas kegiatan yang telah mereka lakukan.

Fathurrohman (2015: 129) mengemukakan bahwa experiential learning merupakan proses pembelajaran, sebuah proses perubahan yang memanfaatkan pengalaman sebagai media pembelajaran, jadi belajar bukan hanya dari materi yang sumbernya dari buku atau dari pendidik saja. Fathurrohman (2015: 130) menjelaskan lebih lanjut bahwa pengalaman belajar akan menjadi sangat efektif, jika menggunakan semua roda belajar, dari mengatur tujuan, melakukan observasi dan percobaan, memeriksa kembali, dan merencanakan tindakan.

Metode experiential learning sendiri menjadi salah satu metode belajar yang paling efektif, karena metode experiential learning memungkinkan para peserta didik untuk belajar dengan memenuhi seluruh aspek penting dalam proses pembelajaran, yakni kognitif, afektif, dan emosi. Terpenuhinya seluruh aspek penting dalam proses pembelajaran ini kemudian dapat membuat pemahaman yang lebih mendalam bagi para peserta didik yang melakukannya.

Karakteristik Experiential Learning 

Fathurrohman (2015: 130) menjelaskan bahwa experiential learning terbentuk dari tiga aspek, yakni pengetahuan yang memuat informasi, konsep, dan fakta, aktivitas yang merupakan penerapan dalam sebuah tindakan, dan refleksi yang merupakan proses menganalisa dampak dari tindakan terhadap perkembangan individu. Ketiga aspek tersebut memiliki peran penting dan menjadi distribusi penting dalam mencapai tujuan pembelajaran.

David A. Kolb dalam Fathurrohman (2015: 129) menjelaskan bahwa experiential learning memiliki enam karakteristik utama, yakni:

  1. Belajar merupakan proses yang holistik, yang bukan merupakan hasil dari kognisi saja.
  2. Belajar merupakan sebuah proses kontinu atau berulang yang didasarkan pada pengalaman.
  3. Belajar yang paling baik dimaknai sebagai sebuah proses dan bukan terkait dengan hasil yang diperoleh.
  4. Belajar melibatkan hubungan antara manusia dan lingkungan.
  5. Belajar merupakan proses menciptakan pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil dari hubungan antara pengetahuan pribadi dan pengetahuan sosial.
  6. Belajar membutuhkan resolusi sejumlah konflik antara berbagai gaya yang berlawanan secara dialektis dari adaptasi terhadap dunia.

Tahap-Tahap Pembelajaran pada Experiential Learning 

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2015: 225) mengemukakan ada 4 tahap pembelajaran dalam metode experiential learning, yakni:

[algolia_carousel page=2]

1. Tahap Pengalaman Nyata (Concrete Experience)

Tahap ini merupakan tahap belajar melalui berbagai pengalaman yang konkrit, juga peka terhadap situasi. Pada tahap ini, peserta didik belum mempunyai kesadaran mengenai hakikat dari suatu pengalaman atau peristiwa. Peserta didik hanya akan merasakan pengalaman tersebut, belum memahaminya, serta belum bisa menjelaskan tentang alasan mengapa dan bagaimana peristiwa itu dapat terjadi.

2. Tahap Observasi Refleksi (Reflective Observation)

Tahap ini merupakan tahap untuk melakukan observasi sebelum membuat suatu keputusan, mengamati lingkungan dari berbagai perspektif yang berbeda, dan melihat berbagai hal untuk mendapatkan suatu makna. Pada tahap ini, peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukan observasi secara aktif terhadap kejadian yang mereka alami. Mulai dengan mencari jawaban dengan merefleksikan peristiwa yang terjadi di sekitarnya, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan pertanyaan mengapa dan bagaimana peristiwa itu dapat terjadi.

3. Tahap Konseptualisasi (Abstract Conceptualization)

Tahap konseptualisasi merupakan tahap melakukan analisa logis dari sejumlah gagasan, dan melakukan tindakan yang sesuai dengan pemahaman atas sebuah situasi. Pada tahap ini, peserta didik akan diberi kebebasan untuk melakukan observasi yang dilanjutkan dengan merumuskan atau konseptualisasi hasil pengamatan.

4. Tahap Implementasi atau Eksperimen (Active Experimentation)

Tahap ini akan menguji kemampuan peserta didik untuk melakukan berbagai hal dengan orang lain, dan melakukan tindakan yang berdasar pada sebuah peristiwa, termasuk mengambil risiko. Implikasi tersebut yang diambil dari sejumlah konsep kemudian dijadikan sebagai sebuah pegangan dalam menghadapi berbagai pengalaman baru. Pada tahap ini, peserta didik sudah mampu untuk mengaplikasikan konsep, teori, atau aturan yang dipelajarinya ke dalam dunia nyata. Dengan kata lain, peserta didik mampu mempraktekkan pengalaman yang ia dapatkan.

Berdasarkan keempat tahap experiential learning, agar proses belajar menjadi efektif, peserta didik dituntut untuk memiliki 4 kemampuan, yaitu:

  1. Dalam tahap concrete experience, peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk merasakan, yakni peserta didik mampu melibatkan diri secara penuh dalam pengalaman.
  1. Dalam tahap reflection observation, peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk mengamati, karena pada tahap ini peserta didik akan melakukan observasi dan merefleksikan pengalaman dari berbagai segi.
  1. Dalam tahap abstract conceptualization, peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk berpikir, karena peserta didik akan menciptakan sejumlah konsep yang mengintegrasi hasil observasinya menjadi sebuah teori.
  1. Dalam tahap active experimentation, peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk melakukan, yakni peserta didik mampu menggunakan konsep atau teori untuk memecahkan berbagai masalah dan mengambil sebuah keputusan.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Experiential Learning 

Setiap metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sama halnya dengan metode experiential learning. David Kolb dalam Mel Silberman (2014: 43) mengemukakan kelebihan dan kekurangan dalam proses penerapan metode experiential learning. Berikut penjelasannya.

1. Kelebihan metode experiential learning

Hasil yang dapat dirasakan dari penerapan metode experiential learning, yakni bahwa pembelajaran melalui pengalaman menjadi lebih efektif dengan tercapainya tujuan secara optimal.

2. Kekurangan metode experiential learning

Kekurangan metode experiential learning sesuai dengan penjelasan Kolb, bahwa cakupan teori ini masih terlalu luas, dan mungkin tidak mudah untuk dipahami.

Lebih lanjut, Fathurrohman (2015: 138) mengemukakan bahwa experiential learning memiliki kelebihan bagi individu, yaitu:

  • Meningkatkan dan menumbuhkan kemampuan seseorang untuk mengatasi situasi buruk.
  • Meningkatkan dan menumbuhkan komitmen dan tanggung jawab.
  • Meningkatkan kesadaran dan rasa percaya diri.
  • Meningkatkan kemampuan menyusun perencanaan, memecahkan masalah, dan berkomunikasi.
  • Mengembangkan kemampuan fisik, ketangkasan, dan koordinasi.

Fathurrohman juga menjelaskan bahwa experiential learning memiliki kelebihan bagi kerja sama dalam kelompok, yakni:

  • Meningkatkan pemahaman dan rasa empati antar anggota kelompok.
  • Meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
  • Meningkatkan dan mengembangkan ketergantungan antar anggota kelompok.
  • Mengidentifikasi dan memanfaatkan kepemimpinan dan kemampuan tersembunyi.

Langkah-Langkah Melakukan Experiential Learning 

Hamalik (2001: 213) mengemukakan 3 langkah dalam metode pembelajaran experiential learning, yakni:

1. Kegiatan Persiapan 

  • Pendidik merumuskan sebuah rencana pengalaman pembelajaran yang memiliki target tertentu dan bersifat terbuka atau open minded.
  • Pendidik memberikan motivasi dan rangsangan kepada peserta didik.

2. Kegiatan Inti (Eksplorasi dan Elaborasi)

  • Para peserta didik bekerja secara individu atau ditempatkan dalam sebuah kelompok, lalu mereka akan belajar dari pengalaman yang mereka alami.
  • Para peserta didik ditempatkan pada berbagai situasi nyata, artinya para peserta didik mampu memecahkan masalah yang nyata terjadi, bukan dalam peristiwa lain atau pengganti.
  • Peserta didik aktif terlibat dalam pengalaman yang ada, lalu mereka akan membuat sebuah keputusan, dan menerima konsekuensi atas keputusan yang mereka buat.

3. Kegiatan Penutup

Pada kegiatan yang terakhir ini, seluruh peserta didik akan menceritakan kembali pengalaman mereka yang terkait dengan teori atau hal yang menjadi materi pembelajaran, untuk memperluas pengalaman dan pemahaman pembelajaran peserta didik

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa metode experiential learning menekankan pada peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran, agar memberikan dampak baik pada hasil belajar yang akan diperoleh. Proses belajar terjadi dengan sistem para peserta didik secara mandiri melihat dan merefleksikan dari pengalaman yang mereka alami.

Nah, itu dia Grameds penjelasan mengenai experiential learning. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dengan menambah wawasan kalian mengenai salah satu metode pembelajaran melalui pengalaman, yakni experiential learning.

Bagi kalian yang ingin memperluas pengetahuan mengenai metode pembelajaran, kalian bisa memperoleh informasi melalui membaca berbagai referensi dari internet, atau membaca buku yang hanya bisa kalian dapatkan di www.gramedia.com atau aplikasi Gramedia Digital. Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap untuk memberikan informasi terlengkap bagi kalian yang ingin belajar.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Gabriel