in

Uang Panai: Pengertian, Fakta, dan Tradisi Uang Panai di Indonesia

Pexels.com

Uang Panai – Indonesia memiliki beragam suku dengan kebudayaannya masing-masing. Salah satu budaya yang banyak menarik mata ialah adanya perayaan pernikahan yang beragam. Mulai dari suku Jawa hingga Bugis, perayaan pernikahan memiliki adat yang berbeda serta sudah ada ciri khasnya masing-masing, seperti adat memberikan uang panai.

Dari sekian banyak adat pernikahan di Indonesia, pernikahan yang sesuai dengan adat Bugis dari Makasar memiliki budaya yang cukup menarik terkait pesta serta mahar atau sering disebut dengan uang panai. Tidak hanya itu, uang panai dari pernikahan adat Bugis pun cukup terkenal karena mahal.

Tapi sebenarnya apa sih panai itu? Simak penjelasan tentang uang panai lebih lanjut berikut ini ya!

Apa Itu Uang Panai?

Menurut seorang sosiolog asal Indonesia, Rahmat Muhammad, uang panai adalah suatu lambang atau bentuk dari penghormatan suku Bugis asal Makasar kepada seorang perempuan. Secara spesifik, bentuk penghormatan tersebut diberikan oleh calon suami kepada calon istrinya.

Uang panai atau panaik juga dapat diartikan sebagai wujud dari keseriusan seorang pria, ketika ia akan melamar seorang perempuan. Uang panai dapat pula diartikan sebagai uang belanja.

Uang panai sejak dahulu, berlaku sebagai mahar ketika seorang pria ingin melamar perempuan pilihannya yang berasal dari suku Bugis, Makasar di Sulawesi Selatan dan masih berlaku hingga sekarang. Akan tetapi, karena nominal uang panai cukup besar seringkali uang panai ini menjadi beban bagi laki-laki untuk melamar seorang perempuan.

Uang panai yang harus dibayarkan oleh calon mempelai pria bergantung pada kelasnya, sesuai dengan strata dari calon istri. Strata tersebut dipatok dari kecantikan, pendidikan, keturunan bangsawan hingga pekerjaan sang perempuan.

Ketika seorang perempuan Bugis memiliki pendidikan sarjana misalnya, maka harga uang panai yang harus dibayarkan pun akan lebih mahal dibandingkan perempuan Bugis yang memiliki pendidikan SMA, semakin tinggi pendidikan dari calon istri, maka semakin tinggi pula uang panai yang harus dibayarkan.

Apabila perempuan Bugis lulusan SMA akan menikah, maka uang panai yang harus dibayarkan adalah Rp 50 juta, sedangkan untuk sarjana S1, uang panai diperkirakan bisa mencapai Rp 75 juta atau bahkan hingga Rp 100 juta. Perempuan Bugis yang memiliki keturunan bangsawan pun akan mendapatkan uang panai yang besar dan bahkan bisa mencapai miliaran rupiah.

Selain dari pendidikan, kecantikan dan keturunannya uang panai pun dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti apakah perempuan tersebut sudah berhaji atau belum. Meskipun dipatok dengan nominal fantastis, uang panai masih bisa didiskusikan oleh kedua keluarga dari calon mempelai.

Kenapa Uang Panai Mahal?

Nominal uang panai yang mahal menjadi pertanyaan banyak pihak. Nominal uang panai yang fantastis ini tentunya tidak dipatok sembarangan. Sebab, nominal uang panai telah dipatok sejak dahulu kala.

Menurut seorang budayawan asal Sulawesi Selatan yaitu Nurhayati Rahman, pada zaman dahulu, banyak orang tua yang ingin melihat keseriusan dari seorang pria ketika ia melamar anak perempuanya. Oleh karena itu, uang panai dipatok dengan harga yang mahal untuk melihat sebesar apa upaya dari laki-laki untuk menikahi perempuan pujaan hatinya.

Mahalnya uang panai dinilai akan membuat calon mempelai pria berusaha untuk mempertahankan pernikahannya kelak. Sebab, laki-laki yang akan menikah dengan perempuan Bugis telah mengetahui betapa sulitnya bagi mereka untuk menikahi perempuan pujaannya.

Menurut budayawan Nurhayati Rahman, mahalnya uang panai akan membuat pihak suami berpikir berkali-kali ketika ia ingin menceraikan istrinya. Sebab sebelum menjadi suami dari istrinya, ia telah banyak berkorban demi menikahi istrinya.

Selain memberikan dampak positif, uang panai yang mahal pun dapat menyebabkan dampak negatif. Karena nilainya sangat mahal, banyak pasangan kekasih yang terkendala ketika akan menikah. Maka dari itu, pasangan kekasih tersebut memilih jalan pintas dan memutuskan untuk kawin lari atau disebut pula dengan silariang.

Akan tetapi, silariang ini merupakan kejadian yang sangat memalukan bagi orang Bugis. Sebab silariang berhubungan dengan siri atau aib yang akan menjadi beban untuk keluarga sepanjang hidup.

Selain itu, dalam tradisi suku Bugis, silariang juga memiliki hubungan identik dengan kematian. Namun, mati yang dimaksud bukanlah dicari kemudian dibunuh, tetapi bermakna dipaoppangi tana atau ditutup dengan tanah atau ditelungkupi.

Jadi, ketika sepasang kekasih yang nekat melakukan silariang, maka mereka dianggap telah mati dan tidak ada negosiasi seumur hidup. Bahkan, menurut budayawan Sulawesi Selatan, ada beberapa generasi yang tidak diterima oleh keluarga selamanya. Ketika melakukan silariang, maka sepasang kekasih pun memutuskan untuk pergi dari rumah, merantau serta membuang dirinya.

Fakta-Fakta Mengenai Uang Panai

Uang Panai
Pixabay.com/Zefy

Berikut adalah beberapa fakta mengenai uang panai, yang menjadi salah satu tradisi penting yang masih berlaku hingga saat ini.

1. Sebagai Simbol Pengharaan Pada Perempuan

Uang panai atau panaik merupakan simbol pemberian penghargaan kepada calon istri yang diberikan oleh laki-laki yang ingin meminangnya. Secara filosofis, tradisi pemberian uang panai memiliki tujuan untuk melihat kesungguhan dan kerja keras dari calon suami untuk meminang calon istrinya. Umumnya, pihak laki-laki akan memberi uang panai sebagai bentuk tanggungan biaya pesta untuk pernikahan sekaligus sebagai bekal untuk kehidupan sang istri di masa depan.

2. Nominal Uang Panai Ditentukan Pihak Keluarga Perempuan

Nominal uang panai berkaitan erat dengan martabat atau harga diri dari keluarga perempuan. Dalam bahasa Bugis, hal tersebut dikenal dengan istilah sirri. Maka dari itu, jumlah uang panai akan ditentukan oleh pihak keluarga perempuan. Biasanya, kedua keluarga mempelai akan berdiskusi terkait besaran uang panai yang harus dibayar oleh calon suami.

3. Semakin Tinggi Status Sosial Calon Istri, Maka Uang Panainya Semakin Mahal

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa besaran uang panai ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satunya ialah status sosial calon istri, seperti apakah perempuan tersebut memiliki keturunan bangsawan? Memiliki gelar di bidang pendidikan dan lain sebagainya.

Seorang perempuan yang memiliki gelar Andi, artinya ia adalah sosok keturunan bansgawan dan uang panai yang harus dibayarkan ketika ingin menikah memiliki nominal yang besar.

4. Bisa Dibayarkan dengan Properti

Meskipun namanya uang panai, akan tetapi panaik bisa dibayarkan oleh calon suami dengan menggunakan properti yang ia miliki, seperti tanah, sawah maupun rumah. Akan tetapi properti tersebut, hanya berfungsi sebagai penggenap dari uang panai saja.

Artinya, calon mempelai pria tetap perlu memberikan panaik dan bentuk uang karena tujuan utama dari memberikan uang panai adalah untuk menggelar pesta pernikahan. Sementara itu, properti dapat menjadi uang panai yang dimanfaatkan oleh pasangan suami istri kelak sebagai biaya hidup atau investasi setelah menikah.

5. Nominal Uang Panai Tidak Harus Bernilai Fantastis

Meskipun nominal uang panai selalu terkesan besar dan fantastis, tetapi jumlah uang panai yang harus diberikan oleh mempelai pria tidaklah mutlak. Artinya, jumlah uang panai dapat dinegosiasikan oleh kedua belah pihak keluarga.

Ada beberapa tipe keluarga yang enggan memberatkan calon mempelai pria yang akan meminang anak perempuannya. Oleh karena itu, pihak keluarga memberikan kelonggaran pada calon mempelai pria dan memperbolehkan calon mempelai pria untuk membayar uang panai sesuai dengan kesanggupannya.

6. Sebagai Salah Satu Ajang Adu Gengsi

Dalam perkembangannya, tujuan pemberian uang panai sebagai bentuk keseriusan seorang laki-laki ketika akan meminang perempuan idamannya pun berubah dan bergeser makna. Sebab di masa kini, uang panai justru menjadi ajang adu gengsi.

Semakin besar nominal uang panai yang diberikan, maka keluarga tersebut akan mendapatkan citra baik di mata masyarakat. Oleh karena itu, uang panai menjadi ajang adu gengsi, sehingga calon mempelai pria pun memaksakan diri untuk memberikan uang panai dengan jumlah yang besar, demi memenuhi tuntutan dan ekspektasi beberapa pihak.

7. Uang Panai Menjadi Penghambat Sepasang Kekasih Untuk Menikah

Uang panai adalah syarat seorang laki-laki untuk dapat menikah dengan perempuan pilihannya, sehingga tak jarang uang panai pun menjadi batu sandungan atau penghambat bagi sepasang kekasih atau seseorang untuk menikah. Terkadang, ada pihak keluarga yang memberikan syarat uang panai yang besar.

Jika hal itu terjadi, maka calon mempelai pun merasa kesulitan untuk memenuhi uang panai dan merasa tidak direstui. Tak jarang, karena merasa kesulitan untuk menikah banyak pasangan kekasih yang memilih untuk kawin lari.

8. Menjadi Salah Satu Cara Untuk Menolak Lamaran Seseorang

Besaran nominal uang panai yang diminta oleh pihak perempuan, bisa menjadi salah satu tanda penolakan pada laki-laki yang melamarnya. Pihak perempuan bisa dengan sengaja menaikan nilai uang panai dengan tinggi, hingga mencapai jumlah yang tidak bisa dipenuhi oleh pihak laki-laki sebagai bentuk penolakan secara halus.

Uang Panai

Karena pergeseran makna, uang panai atau mahar pun menjadi dipatok lebih tinggi untuk memenuhi standar yang ada di masyarakat. Namun, seberapa pentingkah memberikan mahar atau uang panai ketika seseorang akan menikah? Bagi Grameds yang akan segera menikah dan pusing karena urusan mahar atau uang panai, Grameds bisa membaca buku yang ditulis oleh Abu Salman Farhan Al atsary yang berjudul “Menikah untuk Bahagia: Sebuah Mahar Cinta” penulis menjelaskan, bahwa wajar ketika pasangan kekasih yang ingin menikah merasa menemui banyak masalah. Jika tertarik membaca lebih lanjut isi buku ini, Grameds bisa membelinya di Gramedia.com ya!

Tradisi Mahar Pernikahan yang Dikenal Mahal di Indonesia

Selain tradisi uang panai bagi suku Bugis di Makasar yang sudah dikenal dengan uang panai termahal atau mahar pernikahan termahal, Indonesia memiliki beragam tradisi mahar pernikahan yang mahal lainnya. Daerah atau suku Indonesia yang berbeda, maka nominal mahar pernikahannya pun berbeda-beda. Berikut penjelasannya.

1. Adat Sasak

Adat sasak merupakan salah satu tradisi pemberian mahar pernikahan yang berlaku di Indonesia, tepatnya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Apabila dibandingkan dengan uang panai bagi suku Bugis di Makasar, mahar yang diberlakukan oleh suku Sasak ini tidak terlalu mahal.

Meskipun tidak terlalau mahal, tetapi cara menghitung jumlah mahar yang harus diberikan dinilai cukup rumit. Hal ini dikarenakan jumlah mahar dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti jarak rumah, tingkat pendidikan calon mempelai serta pekerjaan yang dimiliki oleh calon mempelai.

Hadirnya pengaturan perhitungan mahar bagi suku Sasak ini, membuat beberapa laki-laki Sasak membuat para pria lebih memilih untuk menikah dengan gadis yang berada sekampung dengannya. Karena, biaya mahar akan lebih murah jika rumah pasangan lebih dekat. Apabila berada dalam satu kampung, biaya mahar setara dengan Rp.500.000.

Akan tetapi, jika calon mempelai perempuan tinggal di desa lain maka mahar yang ditetapkan pun menjadi tinggi hingga mencapai Rp 50 juta. Ditambah, jika perempuan tersebut memiliki latar belakang yang baik seperti berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang mapan, maka nilai mahar pun akan berlipat.

Seperti halnya uang panai, nilai mahar yang ditetapkan oleh suku Sasak ini tidak kaku dan boleh dinegosiasikan. Tradisi mahar ini juga cukup unik, karena ada skenario yang harus dilakukan oleh pasangan sebelum menikah.

Sebelum melaksanakan pernikahan, pihak pria akan menculik calon istrinya. Kemudian keluarga pria akan datang ke rumah calon istri untuk mengataka, bahwa anaknya berada di rumah mereka. Saat kunjungan tersebutlah, maka negosiasi mengenai mahar terjadi.

2. Adat Aceh

Tradisi mahar di Aceh bernama mayam. Seperti halnya pemberian mahar, pihak pria harus memberikan sejumlah mayam tersebut kepada pihak perempuan. Mayam seringkali dianggap sebagai mahar dari pernikahan di Aceh yang berupa emas. Sebagai emas kawin, biasanya pihak pria perlu memberikan mayam sebesar 25 hingga 50 mayam emas.

Apabila dikonversikan ke dalam gram, maka satu mayam dapat bernilai 3,33 gram emas. Besaran nominal mayam pun bergantung pada harga emas yang seringkali meningkat setiap tahun, sehingga ketika harga emas meningkat maka mayam pun akan lebih mahal.

Jika harga untuk mayam sekitar Rp 1,8 juta, maka pihak pria harus menyediakan dana untuk membayar mayam sekitar Rp 27 juta atau bahkan mencapai Rp 90 juta.

3. Adat Padang Pariaman

Di daerah Padang Pariaman, Sumatera Barat, pemberian mahar dalam pernikahan cukup berbeda. Karena pihak perempuan lah yang harus memberikan mahar pada pihak laki-laki. Mahar disebut sebagai japuik dan dalam proses memberikannya maka calon mempelai perempuan harus menjemput calon mempelai pria. Ketika proses penjemputan tersebutlah, maka japuik yang dibawa oleh calon mempelai perempuan harus diberikan.

Jenis japuik yang diberikan pun tidak melulu harus uang, tetapi juga bisa berbentuk barang dan jumlah japuik harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga. Sama halnya dengan mahar adat lain, jumlah japuik juga ditentukan oleh beberapa faktor salah satunya adalah status adat dari calon suami. Semakin tinggi status adat dari calon suami, maka semakin tinggi pula japuik yang harus diberikan.

4. Adat Banjar

Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan harus memberikan jujuran atau mahar kepada calon istri sebelum pernikahan dilaksanakan. Jujuran atau mahar, bisa berwujud uang maupun emas. Seperti halnya tradisi mahar di Indonesia lainnya, jumlah jujuran ditentukan oleh beberapa faktor seperti tingkat pendidikan calon istri. Jujuran diberikan oleh pria, sebagai bentuk keseriusan dari calon suami ketika akan menikah.

Rekomendasi Buku Terkait

1. Tata Rias, Busana, dan Adat Pernikahan Sunda

Uang Panai

Setiap daerah atau suku memiliki adat pernikahan yang berbeda, mulai dari pesta pernikahan hingga menata rias calon pengantin. Buku Tata Rias, Busana, dan Adat Pernikahan Sunda – Salamina berisi tentang tata rias pengantin hingga tata cara pernikahan Sunda yang dikemas dengan unik pada setiap halamannya. Buku ini sangat pas untuk kamu yang ingin menikah dengan adat Sunda.

2. Tata Rias Pengantin Adat Pernikahan Gaya Yogyakarta Klasik Corak Puteri

Uang Panai

Budaya Indonesia sangatlah banyak, termasuk budaya pernikahan pada setiap daerahnya, tetapi seiring dengan perkembangan zaman terkadang budaya pernikahan melenceng dari nilai kebudayaan leluhur. Buku Tata Rias Pengantin & Adat Pernikahan Gaya Yogyakarta Klasik – CORAK PUTERI bisa dijadikan referensi agar pernikahan dengan budaya Yogyakarta tetap mengikuti pakem yang sudah ada.

Itulah penjelasan mengenai uang panai, serta beberapa tradisi mahar yang ada di Indonesia dan masih berlaku hingga sekarang. Selain tradisi mahar, pernikahan di Indonesia pun diwarnai oleh beragam tradisi yang unik serta berbeda. Mulai dari pakaian, cara menggelar pernikahan atau pesta dan lain sebagainya.

Jika Grameds ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pernikahan-pernikahan yang diadakan oleh berbagai suku di Indonesia dan keberagaman tradisinya, Grameds bisa mengulik lebih dalam dengan membaca buku terkait yang tersedia di Gramedia.com. Temukan berbagai macam buku kesukaan dan jadikan hidupmu #LebihDenganMembaca.

Sebagai #SahabatTanpaBatas, Gramedia selalu menyediakan beragam buku menarik dan original untuk Grameds. Jadi tunggu apa lagi? Segera beli dan miliki bukunya sekarang juga.



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ananda