in

Review Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh merupakan novel fiksi ilmiah yang ditulis oleh Dee Lestari, seorang penyanyi sekaligus novelis ternama Indonesia. Novel Supernova ini diterbitkan pertama kali pada tanggal 16 Februari 2001. Novel ini menjadi novel pertama yang mengawali enam seri novel Supernova.

Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh adalah novel yang berhasil membawa nama Dee Lestari dikenal sebagai novelis. Novel Supernova ini sangat sensasional, dan penjualannya sangat tinggi. Dalam waktu 35 hari saja, novel Supernova habis terjual sebanyak 12.000 eksemplar. Hingga saat ini, diketahui novel Supernova yang pertama telah terjual lebih dari 75.000 eksemplar.

Novel Supernova juga diterjemahkan ke dalam bahasa asing, yaitu Bahasa Inggris pada Maret 2002. Tak disangka-sangka, karir kepenulisan Dee Lestari bisa selancar karirnya sebagai seorang penyanyi, dan karya tulisnya diakui bahkan diberi penghargaan.

Novel Supernova pernah masuk ke dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA) yang diselenggarakan QB World Books. Dee Lestari melalui novel Supernova berhasil bersaing bersama para sastrawan ternama seperti Danarto melalui karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Goenawan Muhammad, Sutardji Calzoum Bachri melalui karya Hujan Menulis Ayam, Dorothea Rosa Herliany melalui Kill The Radio, dan Hamsad Rangkuti melalui karya Sampah Bulan Desember. Novel Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh juga membawa Dee Lestari mendapatkan penghargaan dengan masuk ke dalam 5 Besar Khatulistiwa Literary Award 2001.

Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh mengisahkan tentang dua sejoli, Dimas dan Reuben yang menunaikan janji mereka untuk berkarya bersama. Mereka berdua kemudian mulai menulis roman yang diberi tajuk Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Paralel dengan kisah yang ditulis Dimas dan Reuben, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta yang terlarang dijalin oleh Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka menjadi gambaran nyata dinamika yang terjadi antara tokoh Kesatria dan Putri dalam roman yang ditulis Dimas dan Reuben.

Adapun tokoh ketiga yang bernama Bintang Jatuh, direpresentasikan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva. Diva diketahui memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas. Tanpa ada seorang pun yang dapat mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci yang menentukan gambaran kehidupan nyata antara Ferre, Rana, dan Diva. Juga, dengan kisah fiksi yang ditulis oleh Dimas dan Reuben dalam suatu dimensi kehidupan yang sama.

Profil Dee Lestari – Penulis Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Sumber foto: pop.grid.id

Dewi Lestari Simangunsong atau yang kerap dipanggil dengan nama Dee Lestari merupakan wanita kelahiran 20 Januari 1976. Dee Lestari merupakan seorang penyanyi, penulis lagu, dan novelis yang namanya sudah populer di Indonesia.

Dee Lestari merupakan anak keempat dari lima bersaudara, buah hati dari pasangan Yohan Simangunsong dan alm. Tiurlan br Siagian. Nampaknya bakat seni memang mengalir dalam darah kepada seluruh anggota keluarga Simangunsong. Sebab, tiga saudara perempuan Dee juga aktif menggeluti bidang seni.

Dee Lestari merupakan alumni SMA Negeri 2 Bandung dan alumni Universitas Parahyangan, Bandung, mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Sejak kecil, Dee diketahui telah akrab dengan dunia musik.

Ayahnya yang merupakan seorang anggota TNI diketahui pintar bermain piano, meski belajar secara mandiri. Dee dikenal sebagai seorang penyanyi. Pada bulan Mei 1994, Dee Lestari bersama dengan Rida Farida dan Indah Sita Nursanti membentuk grup vokal bernama Rida Sita Dewi (RSD), ia juga pernah menjadi penyanyi latar untuk Iwa K, Chrisye, dan Java Jive.

Trio RSD ini kemudian meluncurkan album pertamanya yang berjudul Antara Kita pada tahun 1995. Kemudian dilanjutkan dengan album kedua yang bertajuk Bertiga, yang dirilis pada 1997. Trio RSD kemudian tergabung di dalam naungan Sony Music Indonesia, dan merilis album bertajuk Satu pada tahun 1999. Karir Dewi Lestari sebagai seorang penyanyi dapat dibilang cukup sukses membawa namanya dikenal masyarakat Indonesia.

Ditambah lagi, pada tahun 2003 Dee Lestari menikah dengan penyanyi R&B ternama, Marcell Siahaan. Melalui pernikahan tersebut, pada tahun 2004, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Keenan Avalokita Kirana. Namun, pernikahan mereka tidak bertahan terlalu lama. Dee Lestari menggugat cerai Marcell Siahaan pada tahun 2008.

Dee Lestari kemudian menikah lagi pada akhir tahun 2008 dengan seorang pakar penyembuhan holistik yang bernama Reza Gunawan. Mereka menikah di Sydney, Australia, dan dari hasil pernikahan ini mereka dikaruniai anak perempuan yang bernama Atisha Prajna Tiara.

Nama Dee Lestari mulai dikenal sebagai seorang novelis ketika ia menerbitkan novel yang berjudul Supernova pada tahun 2001. Sebelum Supernova diterbitkan, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Dee memang suka menulis.

Padahal, karya tulis Dee Lestari pernah dimuat oleh beberapa media. Contohnya, salah satu cerpennya yang bertajuk “Sikat Gigi” pernah dimuat di buletin seni Jendela Newsletter, yang merupakan media asal Bandung yang berbasis budaya independen dan eksklusif untuk kalangan sendiri. Selain itu, pada tahun 1993 juga Dee sempat mengirimkan tulisannya yang berjudul “Ekspresi” ke Majalah Gadis, yang pada saat itu sedang mengadakan lomba menulis. Dee Lestari berhasil mendapat gelar sebagai juara pertama dalam lomba itu.

Novel Supernova : Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh, yang menjadi debutan Dee Lestari sebagai seorang penulis pertama kali diterbitkan pada 16 Februari 2001. Novel Supernova ini sangat sensasional dan populer. Dalam waktu 35 hari saja, novel Supernova habis terjual sebanyak 12.000 eksemplar. Hingga saat ini, diketahui novel Supernova yang pertama telah terjual lebih dari 75.000 eksemplar.

Pada bulan Maret 2020, Novel Supernova juga diterjemahkan ke dalam bahasa asing, yaitu Bahasa Inggris dan menembus pasar internasional. Dalam menerjemahkan karyanya itu, Dee Lestari bekerja bersama Harry Aveling, seorang ahli penerjemah karya sastra.

Setelah sukses dengan novel debutnya, Dee Lestari kembali menerbitkan novel lanjutan Supernova, yakni Supernova 2: Akar. Novel ini resmi diterbitkan pada tanggal 16 Oktober 2002. Novel Supernova 2 ini sempat mengundang kontroversi, karena dessin sampul novel ini menggunakan lambang aksara suci yang dianggap melecehkan umat Hindu. Pada akhirnya, disepakati untuk mengganti desain sampul buku Supernova 2 pada cetakan berikutnya.

Pada bulan Januari 2005, kembali merilis novel ketiga dari seri novel Supernova, yakni Supernova 3: Petir. Kisah yang diceritakan dalam novel ini masih berhubungan dengan dua novel sebelumnya, hanya saja terdapat sejumlah 4 tokoh baru dalam novel ini.

Cukup lama jeda waktu Dee untuk menghasilkan karya lagi. Selama 3 tahun dari tanggal terbit novel terakhirnya, Dee Lestari baru menerbitkan novel terbarunya yang berjudul “Rectoverso” pada bulan Agustus 2008. Tema yang diusung dalam novel ini adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi.

Pada bulan Agustus 2009, Dee Lestari menerbitkan novel Perahu Kertas. Novel Perahu Kertas ini sangat populer di masyarakat luas, bahkan sudah berhasil diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar.

Pada tahun 2012, Dee Lestari kembali merilis novel keempat dari seri novel Supernova yang bertajuk Supernova 4: Partikel dengan tokoh utama Zarah. Diikuti pada bulan Oktober 2014, novel lanjutan dari seri novel Supernova yang berjudul Supernova 5: Gelombang diterbitkan. Pada tanggal 26 Februari 2016, Dee Lestari berhasil menyelesaikan seri novel Supernova dengan merilis Supernova 6: Intelegensi Embun Pagi (IEP).

Sejumlah karya yang pernah ditulis Dee Lestari dalam genre fiksi, yaitu Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (2001), Supernova 2: Akar (2002), Supernova 3: Petir (2004), Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade (2006), Rectoverso (2008), Perahu Kertas (2009), Madre (2011), Supernova 4: Partikel (2012), Supernova 5: Gelombang (2014), Supernova 6: Intelegensi Embun Pagi (2016), Kepingan Supernova (2017), Aroma Karsa (2018), Rapijali 1: Mencari (2021), Rapijali 2: Menjadi (2021), Rapijali 3: Kembali (2021). Ada juga karya Dee Lestari yang masuk ke dalam genre non fiksi, yaitu Di Balik Tirai Aroma Karsa (2019) dan Rantai Tak Putus (2020).

Dee Lestari telah mendapatkan berbagai pengakuan dalam bentuk penghargaan sebagai penulis, seperti contohnya masuk ke dalam 5 Besar Khatulistiwa Literary Award 2001 untuk novel pertamanya, Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh (Khatulistiwa Literary Award 2001). Mendapatkan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2006 untuk karya Filosofi Kopi sebagai karya sastra terbaik, penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Pendidikan & Kebudayaan Indonesia.

Selain itu, ia juga pernah memperoleh penghargaan Anugerah Pembaca Indonesia 2015 dalam kategori “Buku Fiksi Terfavorit” melalui bukunya yang berjudul Supernova 5: Gelombang oleh Festival Pembaca Indonesia, pada tahun 2015. Juga, mendapat IKAPI Awards tahun 2016 dalam kategori “Book of The Year 2016”, untuk bukunya yang berjudul Supernova 6: Intelegensi Embun Pagi, yang diberikan oleh Indonesia International Book Fair 2016.

Sinopsis Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Reuben merupakan seorang berdarah campuran Indonesia dan Yahudi, serta merupakan mahasiswa di Johns Hopkins School of Medicine. Pada tahun 1991, ia bertemu dengan Dimas. Dimas adalah seorang mahasiswa George Washington University yang berasal dari keluarga Indonesia kaya yang tinggal di Washington, D.C.

Hubungan Reuben dan Dimas menjadi semakin dekat, terutama setelah Reuben mencoba alkohol untuk pertama kalinya, dan efek alkohol itu mulai membuatnya mengungkapkan refleksi mengenai sifat dan watak alam semesta. Sepuluh tahun kemudian, Reuben dan Dimas telah resmi menjalin hubungan romantis sebagai pasangan gay yang menetap di daerah selatan Jakarta. Melalui pengetahuan Reuben mengenai watak alam semesta dan Dimas yang memiliki keahlian sebagai seorang penulis, mereka berdua kemudian menulis sebuah cerita fiksi romansa yang memiliki 3 tokoh, Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Ferre atau yang akrab dipanggil Re merupakan seorang managing director di sebuah perusahaan ternama. Ferre merupakan seorang yang berpenampilan tampan dan memiliki karisma yang tinggi. Namun, ia merasa kurang menjalani hidupnya sendiri. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan Rana, satu-satunya jurnalis yang ia izinkan untuk mewawancarainya.

Pertemuannya dengan Rana membuat Re teringat pada satu cerita anak-anak yang berjudul “Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh”. Cerita itu mengisahkan tentang seorang Kesatria yang jatuh cinta kepada seorang Putri dan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Namun, sang Kesatria dikalahkan oleh Bintang Jatuh yang mendapatkan sang Putri.

Re membayangkan dirinya sebagai tokoh Kesatria dan Rana sebagai Putri. Di sisi lain, Rana adalah perempuan yang jenuh akan kewajibannya untuk mengikuti tradisi dan aturan. Termasuk ketika disandingkan dengan suaminya yang setia, taat, dan berasal dari keluarga ternama, yaitu Arwin. Rana tidak merasa memiliki hubungan yang spesial dengan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

Kisah kemudian beralih menceritakan Diva Anastasia atau si “Bintang Jatuh”. Diva merupakan seorang peragawati yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang pelacur kelas atas. Diva dikenal sebagai wanita bermulut pedas yang selalu mengkritik klien dan orang-orang yang ia anggap tak menikmati hidup sebagaimana mestinya.

Meski begitu, Diva juga merupakan seseorang yang sangat memperhatikan hal-hal kecil. Ia bahkan mengubah hidup sopir pribadinya, Pak Ahmad, dengan membiayai istrinya dan kebutuhan anak-anaknya. Diva diketahui hanya memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Gio, seorang keturunan Tionghoa, Indonesia, dan Portugis yang kerap melakukan perjalanan keliling dunia.

Ferre dan Rana saling jatuh cinta. Namun, dikarenakan Rana sudah menikah, mereka harus menjalani hubungan itu secara diam-diam. Mereka bersembunyi dari Arwin, kolega-kolega Rana, juga media. Rasa cinta mereka nampaknya begitu kuat, sehingga mereka tak dapat membendung keinginan untuk bertemu dan bersama.

Pada suatu hari, Arwin mendapatkan informasi dari temannya bahwa istrinya selingkuh dengan Ferre. Hati Arwin pastinya hancur. Namun, ia tak pernah menunjukkan bahwa dirinya marah atau merubah sikapnya kepada Rana. Arwin tetap bersyukur memiliki Rana sebagai istrinya, tetapi ia juga sedih, karena merasa dirinya tak mampu membahagiakan Rana.

Kelebihan Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Premis cerita dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh ini menarik dengan menggabungkan kisah romansa, sains, dan sastra. Plot novel ini memungkinkan para pembaca untuk menambah pengetahuan mengenai hal-hal tersebut, karena menyelipkan berbagai teori di dalam ceritanya.

Cara Dee Lestari dalam menggabungkan unsur sains dengan kehidupan nyata sangat memukau. Dee Lestari mampu menggabungkan kedua hal yang jarang bertemu dalam kisah fiksi itu dengan baik, melalui permainan diksi dan konflik para tokoh yang ada di cerita ini.

Tokoh-tokoh yang dibuat Dee Lestari untuk memainkan peran di dalam cerita ini dinilai berani dan menarik. Dee Lestari mampu membuat tokoh yang tidak biasa, yang mungkin biasa dianggap menyimpang oleh masyarakat, tapi memiliki di sisi lain memiliki keunggulan dan kebaikan.

Gaya bercerita Dee Lestari dinilai sangat baik. Gaya bercerita Dee mampu membuat para pembaca tertarik untuk mengikuti terus cerita dalam novel ini.

Kekurangan Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Oleh karena novel ini menyelipkan sains ke dalam ceritanya, tentunya akan didapatkan sejumlah istilah sains. Istilah-istilah ini membuat para pembaca yang asing atau awam dengan dunia sains cukup merasa kesulitan untuk membaca cerita ini.

Cerita ini mengangkat hubungan yang menyimpang dari norma yang ada di masyarakat. Maka dari itu, buku ini tidak cocok dibaca oleh mereka yang menentang atau sensitif terhadap penyimpangan seksual.

Pesan Moral Novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Semua hal yang ada di hidup ini adalah relatif. Semua hal tidak bisa selamanya dianggap buruk atau baik. Semua hal dapat dinilai berbeda, bergantung kepada perspektif manusia yang menilainya.

Takdir bukan lah suatu hal yang pasti akan terjadi, yang telah direncanakan Sang Pencipta dan dunia. Manusia memiliki andil dalam menentukan takdirnya sendiri. Bukan seperti memilih, melainkan dengan melakukan usaha untuk tidak membiarkan dunia menentukan hidupnya.

Terkadang, kita kerap berusaha dengan keras untuk mempertahankan suatu hal. Suatu hal yang sudah dimiliki, tapi dijaga dengan begitu ketatnya. Sesungguhnya, menjaga suatu hal yang sudah menjadi milik kita sebaiknya dilakukan secukupnya saja, karena jika digenggam begitu erat pada akhirnya akan hilang juga.

Kerap kali kita menilai kebenaran hanya dari satu sudut pandang saja. Hal itu tidak dapat dinilai sebagai kebenaran, karena kebenaran yang utuh hanya bisa didapatkan jika melihat dari seluruh sudut pandang.

Bagi anda yang ingin membaca novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh karya Dee Lestari ini, kalian bisa mendapatkannya hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel